BAB XI Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya
Kejadian 1:1-31 I Raja-raja 17-19, 21 II Raja-raja 1-2
Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti Kelas X
Tujuan Pembelajaran :
- Mengakui keajaiban kuasa Allah sebagai Pencipta alam semeta dan segenap isinya.
- Mengakui keindahan alam ciptaan Tuhan.
- Menyadari bahwa keindahan alam harus dijaga dengan baik.
- Menilai peran diri sendiri, masyarakat dan pemerintah dalam menjaga keindahan alam di lingkungan lokal dan regional.
Keindahan Alam Indonesia
Indonesia sungguh istimewa karena letak geografisnya membuat negara kita kaya dengan berbagai hal yang unik. Misalnya, tumbuh-tumbuhan yang khas untuk Indonesia dan binatang-binatang yang hanya dapat ditemukan di Indonesia. Belum terhitung kekayaan bumi dalam bentuk batu bara, minyak bumi, emas, perak, nikel, dan lain-lain. Hutan dengan hasil yang khas, dan hasil laut dengan aneka binatang laut yang dapat dimakan untuk meningkatkan protein. Pernahkah kalian mensyukuri kekayaan alam yang dimiliki oleh negara kita tercinta, Indonesia?
Di manakah kalian tinggal? Apakah di Pulau Jawa, Bali, atau Lombok? Tiga pulau ini dianggap istimewa karena dalam penilaian The 15 Best Islands in the World dari majalah Internasional Travel and Leisure, Pulau Jawa, Bali, dan Lombok masing-masing menempati urutan pertama, kedua, dan ketiga dari 15 pulau terindah yang ada di dunia dan layak dijadikan tujuan wisata. (travel.kompas.com, 2018). Pemilihan dilakukan oleh pembaca, yaitu mereka yang berwisata ke berbagai tempat di dunia. Sudah patutlah kita bangga akan hal ini, bukan?
Apa artinya bahwa ketiga pulau di Indonesia ini menempati rangking 1 sampai dengan 3 sebagai pemenangnya? Ini adalah bentuk pengakuan dunia terhadap keindahan ketiga pulau ini. Keindahan Pulau Jawa dapat diikuti berdasarkan tulisan berikut.
“Jawa dengan populasi 140 juta orang, baru pertama kali muncul dalam daftar. Dibanggakan dengan kebudayaan kuno, pemandangan indah, dan UNESCO World Heritage seperti Candi Borobudur. Pulau ini juga menawarkan modernitas dengan hotel bintang 5 yang berlimpah. Air terjun, gunung berapi, taman nasional dan pantai pasir putih bisa menjadi tempat pelarian wisatawan dari keramaian,” puji Travel and Leisure (travel.kompas.com, 2018).
Foto di atas menunjukkan keindahan yang ditemukan di daerah Nusa Tenggara Timur. Gambar tersebut menunjukkan komodo sebagai satwa langka yang hanya ada di Indonesia, yaitu di Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Gili Motang. Ketiga pulau tersebut dijadikan Kawasan Taman Nasional Komodo karena merupakan habitat asli satwa komodo. Komodo adalah satwa liar yang hidup di alam terbuka. Komodo termasuk salah satu binatang purba yang masih bertahan sejak ratusan juta tahun yang lalu. Tidak banyak jumlah binatang purba yang masih dapat ditemukan pada masa kini, yaitu di abad ke-21. Komodo acapkali digambarkan sebagai kerabat dari dinosaurus atau binatang raksasa lainnya.
Kini Pulau Rinca, yang dihuni sekitar 1500 komodo, sedang ditutup dan tidak menerima wisatawan karena sedang dilakukan pembangunan hotel dan daerah wisata (travel.tempo.co, 2020). Wajar apabila terjadi penolakan dari masyarakat karena kkawatir bahwa habitat komodo dan keindahan alam di sekitarnya akan rusak. Sejauh ini, pembangunan direncanakan dengan baik dengan membatasi area yang dijadikan daerah wisata, yaitu hanya di Pulau Rinca. Gubernur Nusa Tenggara Timur, Laiskodat, yang semula menentang pembangunan ini akhirnya setuju karena dengan penataan yang baik, justru komodo dan alam di sekitar kawasan ini akan terlindungi. Selain juga ada pemasukan finansial bagi pemerintah daerah (merdeka.com, 2020).
Foto kedua menunjukkan keindahan Danau Kelimutu yang juga disebut sebagai Telaga Tiga Warna. Mengapa dinamakan demikian? Ada legenda yang menjelaskan perubahan warna air di danau ini, yaitu dari warna biru, berubah menjadi merah, lalu berubah lagi menjadi putih, dan perubahan ini terjadi dalam waktu yang relatif cepat. Namun, penjelasan ilmiah menyatakan bahwa keberadaan mikroorganisme di dalam danau dan perubahan suhu menyebabkan terjadinya perubahan warna air danau yang justru lebih jelas terlihat ketika kita menatapnya dari lokasi yang jauh lebih tinggi dari permukaan danau (kelimutu.id, 2020). Gambar di bawah ini menunjukkan perubahan warna air danau dari tahun ke tahun.Keunikan berikutnya adalah tentang Danau Kelimutu yang juga disebut sebagai Telaga Tiga Warna. Mengapa dinamakan demikian? Ada legenda yang menjelaskan perubahan warna air di danau ini, yaitu dari warna biru, berubah menjadi merah, lalu berubah lagi menjadi putih, dan perubahan ini terjadi dalam waktu yang relatif cepat. Namun, penjelasan ilmiah menyatakan bahwa keberadaan mikroorganisme di dalam danau dan perubahan suhu menyebabkan terjadinya perubahan warna air danau yang justru lebih jelas terlihat ketika kita menatapnya dari lokasi yang jauh lebih tinggi dari permukaan danau (kelimutu.id, 2020).
Ternyata warna air pada kawah berubah tanpa pola yang jelas, tetapi dapat dijadikan indikator dari aktivitas magma Gunung Kelimutu. Ketika warna hijau berubah menjadi putih, artinya terjadi peningkatan aktivitas magma. Para ilmuwan dari Wesleyan University, Connecticut, melakukan survei geokimia pada danau. Mereka menemukan bahwa air di setiap danau berbeda secara kimia sehingga menghasilkan warna yang bervariasi. Sungguh ajaib karya Tuhan, ya? Keindahan danau ini sudah beberapa kali diabadikan di dalam lembaran uang Rp 1.000,00 dan Rp 5.000,00 yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia.
Foto di atas memperlihatkan uang Rp 5.000,00 dengan ilustrasi Danau Kelimutu yang diterbitkan padatahun 1992.Bila kalian tinggal di pulau lainnya di luar Pulau Jawa, Bali, dan Lombok, bukan berarti bahwa pulau yang kalian tempati tidak tergolong indah. Tidak mungkin Tuhan menciptakan sesuatu yang tidak indah. Pasti indah, tetapi mungkin tidak dikunjungi wisatawan sebanyak jumlah wisatawan yang berkunjung ke Pulau Jawa, Bali, dan Lombok. Coba kita tinjau Bunaken, Danau Toba, dan Pulau Nias yang sudah sejak lama terkenal sebagai tujuan wisata bagi wisatawan dari berbagai belahan dunia. Ada taman laut di Bunaken, Sulawesi Utara. Di Sumatera Utara, ada pemandangan indah di Danau Toba dan sekitarnya yang dikelilingi dengan rumah-rumah tradisional yang unik. Pulau Nias di sebelah barat Pulau Sumatera juga sudah terkenal dengan kesempatan berselancar dan tradisi lompat batu. Selain ketiga tujuan wisata ini, kalian bisa temukan banyak lagi tujuan wisata lainnya yang mungkin pernah kalian kunjungi atau pernah lihat foto-fotonya. Misalnya ada Raja Ampat di Papua, Maluku, atau Bangka Belitung, dan lain-lain. Selain danau, taman laut, dan satwa, kita juga mengenal keindahan pantai, gunung, gletser, air terjun, hutan, gurun pasir, ngarai/canyon, dan sebagainya. Mungkin ada di antara kalian yang pernah mengunjungi lokasilokasi yang memiliki keindahan alam ini.
Dalam pelajaran Geografi mungkin kalian sudah membahas bagaimana proses terjadinya gletser, air terjun, gurun pasir, gunung berapi, canyon, dan sebagainya. Dalam pelajaran ini, kita akan merenungkan bahwa semua ciptaan Tuhan adalah baik adanya.
Dasar Teologis untuk Keajaiban dan Keindahan Ciptaan Tuhan untuk Alam Semesta
Kitab Kejadian 1:1-31 tidak menjelaskan bagaimana dunia terjadi, seperti yang mungkin diduga sebagian orang. Tidak! Ini bukanlah sebuah buku geologi. Kisah ini bertujuan untuk menceritakan kepada kita Siapa yang ada di balik semua ciptaan itu.
Kitab ini ditulis dengan maksud membantah pendapat sebagian masyarakat di masa itu bahwa matahari, bulan dan bintang adalah dewa-dewa yang harus ditakuti. Dari Kejadian 1:1-31, catatlah berapa kali muncul kata “baik” sebagai penjelasan terhadap hasil ciptaan Tuhan. Perhatikan juga bahwa penilaian “baik” diberikan setiap kali Allah selesai menciptakan, secara bertahap, hari demi hari. Sangatlah tepat bila kita sebut Tuhan sebagai Maha Pencipta. Tidak ada satu pun ciptaan Tuhan yang dianggap sebagai kegagalan.
Selain itu, kisah Kejadian ini juga ingin menunjukkan bahwa Allah bekerja secara teratur dan sistematis (Theology of Work Project, 2007). Jadi, kisah ini tidak boleh dibaca dengan cara berpikir manusia masa kini yang memiliki pemahaman yang sudah lebih maju.
Hari pertama: Allah menciptakan terang, lalu memisahkannya dari gelap. Itulah siang dan malam.
Hari kedua: Allah menciptakan cakrawala untuk memisahkan air yang ada di bawahnya dengan yang di atasnya.
Hari ketiga: Allah menciptakan kumpulan air, yaitu laut dan daratan. Tunas-tunas muda dan semua tumbuhan berbiji dan pohon yang berbiji tumbuh pada hari ini.
Hari keempat: Allah menciptakan benda-benda penerang: matahari bulan, dan bintang-bintang. Matahari menguasai siang, bulan dan bintang-bintang di malam hari.
Hari kelima: Allah menciptakan semua binatang laut yang besar, dan binatang air, burung-burung yang beterbangan di udara. Juga binatang-binatang laut yang besar, binatang yang berkeriapan di dalam air.
Hari keenam: Allah membuat bumi mengeluarkan segala jenis makhluk hidup, ternak, binatang melata, dan binatang liar. Lalu Allah menciptakan manusia.
Gambaran tentang penciptaan ini tidak masuk akal untuk manusia modern. Bagaimana mungkin terang sudah ada, sementara matahari, bulan dan bintang baru diciptakan belakangan di hari keempat? Padahal, bukankah matahari itu sumber terang? Bulan hanya ada karena adanya matahari. Bulan hanyalah memantulkan sinar matahari.
Bagaimana dengan pohon dan tanaman yang tidak berbiji? Siapakah penciptanya? Jamur, pakis, paku ekor kuda, kantong semar, tebu, ketela pohon — semuanya tidak berbiji.
Bagaimana dengan manusia? Kita tahu ada manusia yang beraneka warna. Ada yang kulitnya hitam, cokelat, kuning, putih. Kita tahu bahwa mereka yang berkulit putih menurunkan anak-anak yang berkulit putih. Begitu pula dengan yang berkulit hitam. Lalu, apakah warna kulit Adam dan Hawa? Hitam atau putih?
Jelas bahwa semua pertanyaan di atas tidak dapat kita temukan jawabannya di dalam Alkitab. Mengapa demikian? Karena Alkitab tidak bertujuan untuk menjelaskan semua itu. Akan tetapi, coba kita lihat dari urut-urutan penciptaan yang diterangkan di dalam Kitab Kejadian. Pada hari pertama hingga hari ketiga, Allah menciptakan TEMPAT untuk segala sesuatu yang akan diciptakan-Nya. Ada ruang untuk semuanya. Ada terang, ada langit, air, dan daratan.
Pada hari keempat hingga keenam, Allah menciptakan ISI dari semuanya itu. Di hari keempat ada terang dan gelap, lalu matahari, bulan dan bintang. Di hari kelima, Allah menciptakan segala binatang di udara dan di lautan dan di dalam air tawar. Akhirnya, pada hari keenam, Allah menciptakan berbagai makhluk hidup, binatang melata dan liar, lalu akhirnya manusia.
Tampak betapa sistematisnya Allah bekerja seperti yang digambarkan oleh manusia kuno sekitar 2.500 tahun yang lalu. Inti ceritanya ingin menyampaikan Allah bekerja dengan keteraturan. Ini berbeda dengan keadaan bumi yang masih kosong dan kacau-balau seperti yang digambarkan pada Kejadian 1:2, “Bumi belum berbentuk dan kosong gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” Gambaran “belum berbentuk dan kosong gelap gulita” itu dilukiskan sebagai keadaan "tohu wa-bohu "( yang diterjemahkan sebagai keadaan chaos, kacau-balau.
Perhatikan bahwa apa yang Allah ciptakan adalah baik adanya. Ilmu pengetahuan berhasil menemukan bukti bahwa proses terjadinya gurun pasir, gunung berapi, ngarai yang istimewa seperti Grand Canyon di Amerika Serikat, mencakup periode sebanyak jutaan, bahkan miliaran tahun. Perhitungan tahun di sini adalah 365 atau 366 hari, dan satu hari terdiri atas 24 jam, satu jam terdiri atas 60 menit, dan satu menit terdiri atas 60 detik. Selain alam indah ciptaan Tuhan, minyak bumi dan berbagai mineral lainnya seperti emas dan perak juga mengalami proses pembentukan selama ratusan juta tahun sehingga kini menghasilkan benda yang dimanfaatkan untuk kepentingan manusia. Dari Perjanjian Lama, dapat kita baca bahwa pembangunan Bait Allah di masa pemerintahan Raja Salomo ternyata banyak menggunakan emas dan batu permata lainnya. Sedikitnya, ada 23 jenis batu permata yang disebutkan di Alkitab, tetapi memang agak sulit menemukan jenis permata dimaksud pada saat sekarang ini (alkitab.sabda.org, 2020).
Pada bagian pembukaan Kitab Kejadian ini juga kita menemukan penugasan yang diberikan Allah kepada manusia di bumi. Manusia diberikan tugas “penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (Kejadian 1:28b). Perintah ini seringkali dipahami seolah-olah manusia boleh melakukan apa saja. Manusia diberikan kuasa penuh untuk “menaklukkan bumi”. Akibatnya, banyak orang yang bertindak sewenangwenang atas seluruh alam ini.
Penebangan hutan terjadi di mana-mana sehingga terjadilah pemanasan bumi yang mengacaukan iklim dunia. Tambang-tambang emas, perak, tembaga, batu bara, minyak bumi, gas, semuanya dieksploitasi habis-habisan sehingga mungkin sekali dalam beberapa generasi manusia di masa yang akan datang, semua sumber bumi itu sudah semakin menipis dan bahkan musnah. Lalu, bagaimana kelanjutan hidup anak cucu kita nanti? Mungkin hanya segelintir orang saja yang masih ingat kepada mereka. Terserah mereka saja!
Makna “kuasailah dan taklukkanlah” tidaklah seperti yang sering ditafsirkan orang yang suka berbuat sewenang-wenang atas seluruh isi bumi ciptaan Allah. Tidak demikian! Penguasa yang baik tidak sekadar “menaklukkan”, melainkan memelihara apa yang telah dipercayakan kepadanya. Dengan memberikan tugas dan kepercayaan ini kepada manusia, sesungguhnya Allah telah mengajak manusia untuk bekerja bersama-sama Dia untuk memelihara dan melindungi seluruh isi alam ini, sementara pada saat yang sama kita diberikan hak untuk menikmatinya secukupnya. Kita juga dapat mengatakan bahwa Kejadian 1:28 ini adalah mandat Allah kepada manusia, mandat yang harus dipertanggungjawabkan dengan baik. Tugas pemeliharaan ini kelak akan berkali-kali kita temukan di dalam perumpamaan-perumpamaan Yesus.
Misalnya, dalam perumpamaan tentang talenta yang dititipkan seorang saudagar kepada hamba-hambanya. Ada yang menerima 5 talenta, ada yang menerima 2, dan ada yang 1. Kepercayaan yang diberikan kepada para hamba itu tidak berarti talenta itu bisa dipakai berfoya-foya, melainkan harus diusahakan supaya berkembang dan menghasilkan lebih banyak.
Bagaimana kita memahami perumpamaan dalam konteks hutan yang ditebangi dan diambil kayunya? Bukankah mestinya hutan itu dikembalikan, dipulihkan, dan ditanami kembali? Dengan demikian, hutan yang kemudian dihasilkan menjadi lebih luas dan menghasilkan oksigen untuk berbagai jenis tanaman lainnya yang bermanfaat bagi manusia dan binatang hutan. Bagaimana dengan minyak bumi dan berbagai mineral lainnya? Bagaimana kita menggunakan semua itu dengan bertanggung jawab? Bagaimana dengan kemungkinan untuk menggunakan sumber-sumber energi alternatif, misalnya sinar matahari, angin, air, gelombang laut, dan lain-lain?
Rangkuman
Tuhan menciptakan alam semesta dengan penuh keajaiban, keteraturan, dan hasilnya sungguh-sungguh indah. Manusia diberi mandat oleh Allah untuk menjadi rekan kerja Allah dalam merawat bumi dan alam sehingga memberikan hasil yang baik. Sayangnya, tidak semua menyadari bahwa sengaja ataupun tidak sengaja, tindakan mereka dalam mengolah bumi dan alam ini justru merusak keindahan alam. Sebagai generasi muda, kalian harusnya menjalankan mandat untuk merawat bumi dan alam semesta ini dengan baik sehingga bumi tetap memberikan hasil yang menguntungkan manusia sampai akhir zaman.
Sumber: KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X Penulis: Julia Suleeman ISBN 978-602-244-465-7 (jil.1)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar