Translate

Rabu, 20 Agustus 2025

ALLAH PENGASIH MEMULIHKAN KEHIDUPAN BERGEREJA

Bab 4 ALLAH Pengasih Memulihkan Kehidupan Bergereja

(kitab: Roma 8:28)

Tujuan Pembelajaran 

1. Menjelaskan alasan gereja membutuhkan pembaharuan. 

2. Menjabarkan berbagai cara yang dipakai Allah dalam membaharui gereja. 

3. Membuat kolase cerita para laki-laki dan perempuan yang berperan dalam pembaharuan gereja 

4. Mempresentasikan mengenai perubahan-perubahan yang terjadi dalam gereja masa kini.


Gereja adalah lembaga yang berdiri sebagai perkumpulan orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Lembaga ini berdiri pada hari Pentakosta, yaitu hari yang ke-50 setelah Tuhan Yesus naik ke surga. Namun orang-orang Kristen yang sudah ditebus oleh Yesus adalah manusia yang lemah dan tetap berulang kali jatuh ke dalam dosa. Karena itulah, kita bisa melihat bagaimana Gereja berulang kali mengalami masalah: pertengkaran dan perpecahan, kelemahan dalam tanggung jawab, korupsi, kesalahan dalam pengajaran, kelesuan dalam hidup persekutuannya, dll.

            Pembahasan ini memberikan penekanan pada Allah yang membaharui gereja demi keberlangsungan gereja dalam dunia ini. Dalam membahas topik ini dikaji bagaimana Allah membaharui gereja dan bahwa Allah melakukan pembaharuan melalui berbagai cara yang terkadang juga manusia sukar untuk memahaminya. Peristiwa reformasi merupakan salah satu peristiwa penting dimana Allah Pengasih membaharui kehidupan gereja. Hingga saat ini, Allah terus bekerja membaharui gerejanya melalui orang-orang yang dipilih-Nya.

            Pembahasan materi ini memberikan pencerahan bagi remaja SMA kelas XII untuk memahami persoalan-persoalan yang dihadapi gereja sebagai lembaga maupun sebagai persekutuan orang percaya. Mempelajari materi ini memotivasi siswa SMA untuk bersikap kristis terhadap gereja dan memahami bahwa gereja membutuhkan pembaharuan supaya dapat menjalankan misinya di dunia ini.


Reformasi

            Reformasi adalah sebuah peristiwa yang dimulai pada abad ke XVI ketika Martin Luther memakukan 95 dalilnnya yang berisi kritik terhadap ajaran Gereja pada waktu itu. Luther mengkritik pemahaman bahwa orang bisa membeli keselamatanya dengan memberi surat keselamatannya atau membeli relikui-relikui orang kudus.

            Menurut Luther, hanya imanlah yang menyelamatkan kita (Rm. 3:28 “Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat. Karena itu, kita berpendapat, bahwa manusia dibenarkan melalui iman, terlepas dari perbuatan-perbuatan berdasarkan Hukum Taurat.”) 

            Luther memperkenalkan istilah “evangelisch” (dalam bahasa Jerman) yang berarti “injili” yang artinya “kembali kepada Injil”. Dengan kata ini, Luther bermaksud menyatakan bahwa ajarannya didasarkan pada Alkitab, bukan pada tradisi.


            Perubahan yang dilakukan oleh Luther lebih menyentuh pada ajaran Gereja, seperti soal pengampunan dosa, jumlah sakramen, pernikahan para rohaniwan, dll. Luther berprinsip, “Apa yang tidak dilarang di Alkitab, berarti tidak apa-apa.”

            Reformasi Luther dilanjutkan oleh Yohanes Calvin, seorang teolog dari Prancis yang berkiprah terutama di Swiss. Calvin merombak model kepemimpinan gereja yang bersifat keuskupan, yang masih dipertahankan oleh Luther. Bagi Calvin, pendeta adalah seorang penatua yang diberikan tugas khusus untuk memberitakan firman dan melayankan sakramen baptisan dan perjamuan kudus. Ada lagi sebuah tugas lain dari pendeta, yaitu menjadi guru yang mengajar jemaat supaya bertumbuh pemahaman imannya dan pengetahuannya tentang iman Kristen. 

            Reformasi Calvin melangkah lebih jauh daripada Luther. Calvin menyatakan bahwa pendeta sama kedudukannya dengan penatua dan diaken. Yang membedakannya ialah, pendeta ditahbiskan untuk pelayanan pemberitaan firman dan sakramen baptisan dan perjamuan kudus. Patungpatung yang didiamkan oleh Luther, dibuang sama sekali oleh Calvin. Ruang kebaktian menjadi kosong, selain meja perjamuan dan sebuah Alkitab yang terbuka di atasnya, sebagai lambang bahwa Alkitab terbuka dan boleh dibaca semua orang.


            Calvin juga sangat menekankan pengajaran iman Kristen. Di Jenewa, setiap hari Rabu malam, Calvin mengajarkan bagian-bagian dari Alkitab. Progamnya ini banyak menarik perhatian orang dan mereka selalu hadir di kegiatan itu.

            Berbeda dengan Luther, Calvin berpendapat, apa yang tidak disebutkan di Alkitab, berarti tidak perlu diadakan dan dilakukan oleh gereja. Itulah sebabnya, kebaktian gereja-gereja Calvinis di masa lalu hanya diiringi piano atau organ saja. 

            Yang menarik dari gerakan Reformasi ini adalah semboyan yang dilahirkan oleh para reformator, yaitu “ecclesia reformata, ecclesia semper reformanda”, yang berarti, “gereja yang telah diperbaruia adalah gereja yang terus-menerus diperbarui.” Artinya, para reformator sadar bahwa di kemudian hari, pembaruan gereja harus terus terjadi untuk menjawab tantangantantangan zaman yang juga terus berubah. 

            Reformasi Luther dan Calvin dianggap kurang radikal. Karena itulah muncul tokoh seperti Ulrich Zwingli yang membuang semua patung orang suci dari ruang gereja serta membuat kebaktian menjadi sangat sederhana. Perjamuan Kudus, menurut Zwingli, hanyalah sekadar peringatan tentang kematian Yesus. Yesus tidak hadir di dalam peristiwa itu. Ini berbeda dengan pemahaman Gereja Katolik, ajaran Luther maupun Calvin yang menyatakan bahwa Yesus hadir dalam roti dan anggur, ataupun hadir secara rohani seperti kata Calvin. 

            Reformasi yang dilakukan oleh Luther mendapatkan dukungan dari para pangeran dan raja-raja di seluruh Eropa Barat yang sudah lama muak dengan campur tangan paus di dalam perpolitikan di Eropa.


Penganiayaan atas Kaum Radikal.

            Kelompok Mennonit dan kaum Anabaptis lainnya banyak mengalami penindasan dan penganiayaan karena ajarannya yang menuntut orang-orang Kristen yang mau bergabung ke dalamnya untuk dibaptiskan ulang. Tragisnya, penganiayaan ini umumnya dilakukan oleh orang-orang Kristen sendiri, yaitu Katolik maupun Protestan lainnya, khususnya oleh para pengikut Zwingli dan kemudian Calvin.

            Orang-orang Mennonit dan Anabaptis dikejar-kejar dan diperangi, terutama sejak tahun 1525 hingga 1660. Dasar penganiayaan ini adalah hukum yang ditetapkan oleh Kaisar Theodius I dan Yustinianus I terhadap kaum Donatis yang mengajarkan baptisan ulang. Hukum itu menyatakan, mereka yang melakukan baptisan ulang harus dihukum mati. Puluhan ribu orang Anabaptis disiksa dan dibunuh di berbagai wilayah Eropa. Akibatnya, banyak orang Anabaptis kemudian pindah ke Amerika Utara.

            Pada tahun 1648, diadakan Perjanjian Perdamaian Westfalia antara orang Katolik dan Protestan. Namun orang-orang Mennonite tidak ikut di dalamnya. Akibatnya, mereka terus dianiaya di Eropa, jauh setelah perjanjian itu ditandatangani.

            Kaum Annabaptis dan Mennonit dianiaya habis-habisan, namun kita melihat tangan Tuhan terus memimpim mereka dan menyelamatkan mereka. Hingga kini ajaran pasifis mereka sering menjadi suara hati nurani mereka yang percaya bahwa perang tidak akan menghasilkan apa-apa selain kehancuran semua pihak. Tuhan tidak menginginkan manusia berperang.


Allah Menggunakan Berbagai cara Dalam membaharui Gereja            

            Perang Petani Jerman (German Peasants' War) yang terjadi pada tahun 1524-1525. Thomas Müntzer adalah salah satu tokoh radikal penting dalam gerakan ini. Perang Petani Jerman adalah pemberontakan massa yang luas di Eropa Tengah, dipicu oleh ketidakpuasan para petani terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang opresif. Mereka menderita akibat pajak yang tinggi, kewajiban feodal yang berat, dan hilangnya hak-hak tradisional.

            Ketika Reformasi Protestan dimulai oleh Martin Luther, ide-ide baru tentang kebebasan beragama dan perlawanan terhadap otoritas gereja dan penguasa feodal menyebar luas. Hal ini memberikan dasar teologis bagi para petani untuk menuntut perubahan.

            Perang Petani Jerman adalah pemberontakan massa yang luas di Eropa Tengah, dipicu oleh ketidakpuasan para petani terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang opresif. Mereka menderita akibat pajak yang tinggi, kewajiban feodal yang berat, dan hilangnya hak-hak tradisional.

            Ketika Reformasi Protestan dimulai oleh Martin Luther, ide-ide baru tentang kebebasan beragama dan perlawanan terhadap otoritas gereja dan penguasa feodal menyebar luas. Hal ini memberikan dasar teologis bagi para petani untuk menuntut perubahan.

            Meskipun ide-ide Reformasi awalnya memicu gerakan ini, Martin Luther menentang keras pemberontakan petani. Luther percaya bahwa otoritas penguasa harus dihormati dan kekerasan tidak dibenarkan. Ia khawatir gerakan petani yang radikal akan merusak kredibilitas Reformasi.

            Dalam tulisannya, Luther bahkan menyerukan kepada para pangeran dan bangsawan untuk "menghancurkan, membunuh, dan mencekik" para petani yang memberontak. Sikap Luther ini membuatnya kehilangan dukungan dari banyak petani yang merasa dikhianati.

            Pada akhirnya, pemberontakan ini berhasil ditumpas secara brutal oleh pasukan gabungan para pangeran dan bangsawan Jerman. Perlawanan para petani yang tidak terorganisir dengan baik tidak sebanding dengan kekuatan militer penguasa. Sekitar 100.000 hingga 300.000 petani tewas dalam pertempuran.

            Thomas Müntzer ditangkap setelah kekalahan pasukannya dalam Pertempuran Frankenhausen. Ia disiksa, dipaksa untuk mengakui pandangannya yang salah, dan akhirnya dieksekusi pada tahun 1525. Kekalahan ini tidak hanya mengakhiri pemberontakan, tetapi juga memperburuk kondisi para petani yang tersisa.



            Perang Petani Jerman (1524-1525) dan pemberontakan Anabaptis di Münster (1534-1535) yang dipimpin oleh Anabaptis radikal yang percaya pada penggunaan kekerasan untuk mendirikan "kerajaan Allah di bumi," sangat mengguncang Menno Simons. Pemimpin seperti Thomas Müntzer dalam Perang Petani Jerman adalah contoh ekstrem dari faksi Anabaptis yang menggunakan kekerasan. Keterlibatan saudaranya sendiri dalam gerakan Anabaptis radikal yang kemudian terbunuh, sangat memengaruhi pandangannya.

            Berbeda dengan Thomas Müntzer, Menno Simons meyakini bahwa kekerasan dan perlawanan bersenjata tidak sesuai dengan ajaran Kristen. Ia melihat kehancuran yang ditimbulkan oleh Perang Petani dan pemberontakan Münster dan menyimpulkan bahwa kekerasan bukanlah jalan yang benar.

            Menno Simons kemudian menjadi pemimpin gerakan Anabaptis yang menekankan pasifisme, anti-kekerasan, dan pemisahan dari dunia. Pengikutnya, yang kemudian dikenal sebagai Mennonit, menganut prinsip-prinsip ini dengan ketat, menolak untuk mengangkat senjata, bergabung dengan militer, atau berpartisipasi dalam pemerintahan.





            Kelompok Mennonit dan kaum Anabaptis lainnya banyak mengalami penindasan dan penganiayaan karena ajarannya yang menuntut orang-orang Kristen yang mau bergabung ke dalamnya untuk dibaptiskan ulang. Tragisnya, penganiayaan ini umumnya dilakukan oleh orang-orang Kristen sendiri.

            Kaum Annabaptis dan Mennonit dianiaya habis-habisan, namun kita melihat tangan Tuhan terus memimpin mereka dan menyelamatkan mereka. Hingga kini ajaran pasifis mereka sering menjadi suara hati nurani mereka yang percaya bahwa perang tidak akan menghasilkan apa-apa selain kehancuran semua pihak. Tuhan tidak menginginkan manusia berperang.


Kisah Dirk Willems di Abad ke-16

ilustrasi yang dibuat oleh Jan Luyken untuk buku Martyrs Mirror


Dirk Willems adalah seorang yang dikejar-kejar karena keyakinan agamanya. Saat ia melarikan diri dari seorang prajurit yang mengejarnya di atas danau beku, sang prajurit tiba-tiba jatuh menembus es. Alih-alih melarikan diri dan membiarkan prajurit itu tenggelam, Dirk Willems kembali dan menolongnya. Tindakan ini menunjukkan prinsip kasih dan belas kasihan tanpa batas, bahkan terhadap musuh. Namun, setelah diselamatkan, prajurit tersebut tetap menangkap Dirk Willems, yang kemudian dihukum mati karena imannya.

Kisah heroik ini menjadi salah satu contoh paling kuat dari keyakinan Anabaptis dalam kekuatan tanpa kekerasan dan pengampunan.


Reformasi di Inggris

Di Inggris terjadi pula gerakan pembaruan gereja. Pada intinya ada dua gerakan yang terjadi. Yang pertama perpisahan dari Gereja Katolik Roma dan terbentuknya Gereja Inggris dan kedua, pembaruan oleh John Knox yang terpusat di daerah Skotlandia, di bagian utara Inggris.

Gereja Inggris (Anglikan)

            Pembentukan Gereja Inggris lebih didasarkan pada masalah politik, ketika Raja Henry VIII meminta Paus mengizinkannya menceraikan istrinya, Catherine dari Aragon, yang tidak kunjung menghasilkan anak laki-laki yang bisa menjadi pewaris takhtanya. Paus tidak bersedia mengeluarkan surat pembatalan pernikahannya. Karena itu pada tahun 1534, Henry VIII memutuskan bahwa Gereja Inggris memisahkan diri dari Roma dan tidak mengakui Paus lagi sebagai pemimpin tertinggi gereja. Sebaliknya, Henry mengangkat dirinya sebagai pemimpin Gereja Inggris. Hingga sekarang, setiap raja atau ratu Inggris diakui sebagai kepala Gereja Inggris. 

Henry VIII oleh Hans Holbein Muda 


John Knox

            John Knox (1512 –1572) adalah seorang notaris, imam gereja, dan teolog di Skotlandia. Knox ikut bergabung dan kemudian memimpin pembaruan gereja di Skotlandia yang melahirkan Gereja Presbiterian Skotlandia. Presbiterian, berarti gereja itu dipimpin oleh para penatua, bukan oleh seorang uskup atau Paus. Seorang pendeta disebut sebagai “primus inter pares”. Artinya, yang pertama di antara semua yang setara.

            Karena pengaruh para reformator gereja yang lebih awal, seperti George Wishart, Knox bergabung dengan gerakan pembaruan Gereja Skotlandia. Ia terjebak dalam peristiwa-peristiwa gerejawi dan politik yang terlibat dalam pembunuhan Kardinal David Beaton pada tahun 1546 dan intervensi penguasa Maria dari Guise (baca: Gays). Knox dimasukkan ke penjara oleh tentara Prancis dan dibuang ke Inggris setelah ia dibebaskan pada tahun 1549.

            Selama di pembuangan Knox diizinkan bekerja untuk Gereja Inggris. Kedudukannya meningkat hingga ia diangkat menjadi pendeta kerajaan untuk melayani Raja Edward VI dari Inggris. Namun ketika Mary I naik takhta dan mengalahkan Edward VI, Mary I mengembalikan negaranya ke Gereja. Knox dipecat dan meninggalkan Inggris. Ia pindah ke Jenewa dan kemudian ke Frankfurt.

            Di Jenewa, Knox bertemu dengan Calvin dan menjadi muridnya. Semua hasil pelajarannya dibawanya pulang ke Skotlandia, dan di sana ia mendirikan Gereja Presbiterian Skotlandia yang menjadi gereja mayoritas.

            Kadang-kadang memang kita tidak memahami bagaimana Allah bekerja di dalam hidup kita dan gereja. Kita tidak tahu rencana-rencana-Nya dalam pembaruan Gereja. Namun seperti yang dikatakan dalam ayat yang mendasari pelajaran ini, apapun caranya, Allah selalu mempunyai cara yang tepat untuk membuat rencanaNya terwujud.


Pembaruan melalui Gereja Methodist

            John Wesley (1703 –1791) adalah seorang pendeta, teolog, dan penginjil Inggris yang memimpin gerakan kebangunan rohani di kalangan Gereja Inggris. Gerakan ini belakangan dikenal sebagai Methodisme. Kelompok ini kemudian menjadi gerakan independen yang berlanjut sampai sekarang.

            Wesley ditahbiskan menjadi pendeta Anglikan pada tahun 1728. Ia memimpin sebuah “Kelab Suci”, sebuah kelompok yang ditujukan untuk membangun kehidupan saleh. Charles, saudaranya, juga ikut membentuk kelompok itu, bersama George Whitefield sebagai salah satu angotanya.

            Wesley berusaha melakukan pelayanan di Savannah, Georgia, wilayah kekuasaan Inggris di benua Amerika, namun gagal. Ia kembali ke Inggris dan bergabung dalam sebuah kelompok agama yang dipimpin oleh orang-orang Kristen Moravia.

            Pada tanggal 24 Mei 1738, Wesley mendapatkan sebuah pengalaman istimewa yang digambarkannya sebagai peristiwa pertobatannya. Ia mengatakan bahwa secara aneh, “hatiku terasa hangat.”

            Kemudian ia meninggalkan teman-teman Moravianya dan memulai pelayanannya sendiri. Wesley mulai berkeliling dan berkhotbah di ruangruang terbuka. Wesley berkeliling di Britania Raya dan Irlandia, membentuk kelompok-kelompok Kristen kecil yang mengajarkan kemuridan dan ajaran agama. Ia mengangkat pengkhotbah-pengkhotbah keliling yang bukan pendeta untuk memelihara kelompok-kelompok ini.

            Di bawah arahannya, orang-orang memimpin berbagai perubahan sosial, seperti pembaruan penjara dan penghapusan perbudakan.

            Wesley terus menekankan pentingnya pertumbuhan rohani orang Kristen, sehingga ia kemudian dikenal sebagai pemimpin “Gerakan Kekudusan” (Holiness Movement) yang kelak melahirkan gerakan-gerakan Gereja Nazarin, Gereja Methodist, dan Methodist Bebas, Pentakostalisme dan Karismatik (Neo-Pentakostal).

            Salah satu ajarannya yang terkenal dan diakui sampai sekarang ialah bagaimana cara menafsirkan Alkitab. Menurut Wesley ada 4 dasar yang penting untuk itu, yaitu: Alkitab, Tradisi gereja, Rasio dan Pengalaman. Keempat dasar ini perlu kita perhitungkan di dalam menafsirkan ayat-ayat Alkitab, kata Wesley.

            Selama hidupnya, Wesley tidak pernah meninggalkan Gereja Inggris. Ia bahkan menjadi orang yang sangat dihormati di Britania Raya. Kelompoknya kemudian memisahkan diri setelah Wesley meninggal. Gerakan Methodisme berkembang luas di seluruh wilayah kekuasaan Britania di seluruh dunia, dan di benua Amerika, karena pekerjaan para penginjil yang sangat gigih ke berbagai tempat di dunia. Kini jumlah orang-orang Methodist di dunia diperkirakan mencapai 80 juta jiwa.

            Dari pembahasan di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa John Wesley tidak pernah menginginkan bahwa gerakan Methodisme memisahkan diri dan menjadi denominasi tersendiri. Namun beberapa orang pengikutnyalah yang kemudian memimpin gerakan itu keluar dari Gereja Inggris.

            Hasil kerja Wesley sungguh luar biasa. Meskipun ia bukan seorang teolog seperti Luther dan Calvin, apa yang dikerjakannya telah menghasilkan perubahan di kalangan Gereja Inggris. Perkembangan gereja karena partisipasi para pengkhotbah awam menjadikan gerakan ini sebuah gerakan besar di Amerika Serikat. Diperkirakan di negara itu sekarang jumlah anggota Methodist sekitar 20 juta jiwa. Gereja Methodist menjadi salah satu denominasi terbesar di Amerika Serikat. Karya Allah memang luar biasa.

Gerakan Pentakostal

            Gerakan Pentakostal adalah gerakan yang menekankan pengalaman dengan Allah melalui baptisan Roh Kudus. Nama gerakan ini diambil dari peristiwa Pentakosta, yaitu hari pencurahan Roh Kudus atas para murid Yesus yang kemudian menjadi hari lahirnya gereja. Hal ini juga digambarkan dengan peristiwa yang menyebabkan para murid bisa berbahasa roh (Lihat Kisah Pararasul 2). 

            Pentakostalisme muncul pada awal abad ke-20, di antara para pengikut Gerakan Kekudusan yang disemangati oleh kebangunan rohani dan pengharapan akan segera datangnya Yesus yang kedua kali. Orang-orang itu percaya bahwa mereka hidup di zaman akhir, dan Allah akan memulihkan karunia-karunia Roh serta penginjilan di seluruh dunia. 

            Gerakan ini dimulai di sebuah gereja di kota Azusa di wilayah Los Angeles, Amerika Serikat. Pada tahun 1900, Charles Parham, seorang penginjil dan penyembuh rohani, mulai mengajarkan bahwa bahasa Roh adalah bukti bahwa seseorang telah mengalami baptisah Roh Kudus. Bersama William J. Seymour, seorang pengkhotbah Kekudusan-Wesleyan, ia mengajarkan bahwa ini adalah karya anugerah yang ketiga. Karya anugerah yang pertama adalah lahir baru, dan yang kedua adalah pengudusan total.

            Kebangunan rohani yang diadakan selama tiga tahun di Azusa, yang didirikan oleh Seymour menghasilan penyebaran ajaran Pentkostal ke seluruh Amerika Serikat dan dunia. 

            Gerakan pentakostal mula-mula dianggap sebagai bidat, karena ajarannya yang terlalu banyak menekankan Roh Kudus, sehingga seolah-olah melupakan peranan kedua oknum Tritunggal lainnya, yaitu Allah Bapa dan Yesus Kristus. Namun di masa kini, tuduhan itu sudah semakin jauh berkurang. Banyak aliran gereja lainnya mengakui bahwa pentakostalisme ternyata banyak menyadarkan warga gereja tentang peranan Roh Kudus yang selama ini terlupakan. Modelmodel kebaktian kebangunan rohani yang dimulai oleh Gerakan Methodist, dan kemudian diikuti oleh pentakostalisme, kini juga banyak dilakukan oleh gereja-gereja lainnya. 


Gerakan Karismatik. 

            Gerakan Karismatik bertumbuh dari pentakostalisme, sehingga gerakan ini juga sering disebut sebagai gerakan Karismatik. Ia muncul sebagai gerakan di kalangan gereja-gereja arus utama yang mengadopsi keyakinan dan praktik dari pentakostalisme. Yang menjadi ciri utama gerakan ini adalah penggunaan karunia-karunia roh (karismata).

            Gerakan ini dimulai di Gereja Episkopal di Amerika pada sekitar tahun 1960. Yang menarik, gerakan serupa juga terjadi di kalangan Gereja Katolik Roma pada sekitar tahun 1967.

            Di masa sebelum 1955, apabila seorang anggota jemaat atau pendeta dari gereja arus utama secara terbuka mengemukakan pandangan-pandangan yang positif terhadap ajaran pentakostal, maka ia akan memisahkan diri entah dengan suka rela atau paksaan dari gereja asal mereka.

            Namun pada tahun 1960an, ajaran-ajaran tersebut mulai diterima di kalangan gereja-gereja Protestan arus utama. Inilah yang terjadi dengan gerakan karismatik. Mereka tidak keluar, melainkan tetap tinggal di dalam gereja mereka masing-masing dan mulai diikuti warga jemaat lainnya.

            Gerakan ini semakin populer dan diterima luas khususnya oleh para pengkhotbah kebangunan rohani seperti William Branham, Oral Roberts, dan A.A. Allen. Mereka mengadakan berbagai kebaktian kebangunan rohani yang interdenominasional (terbuka terhadap aliran-aliran gereja lain).

            Ajaran dan praktik pentakostal semakin luas diterima. Gereja Episkopal Amerika menjadi gereja tradisional pertama yang merasakan pengaruh gerakan baru ini. Awal mulanya biasanya diakui terjadi pada hari Minggu, 3 April 1960, ketika Dennis J. Bennett, kepala gereja Episkopal St. Mark di Van Nuys, California, mengisahkan pengalaman pentakostalnya kepada warga jemaatnya. Ia mengulanginya pada dua minggu berikutnya, termasuk hari Minggu Paskah (17 April).

            Akibatnya, ia dipaksa mengundurkan diri dari jabatannya. Namun hal ini menyadarkan banyak warga jemaat akan munculnya gerakan Karismatik. Gerakan ini kemudian menyebar ke gereja-gereja lain. Para pendetanya mulai menerima dan mengumumkan pengalaman pentakostal mereka. Para pendeta ini mulai mengadakan pertemuan-pertemuan dengan mereka yang tertarik dan kebaktian-kebaktian penyembuhan, termasuk mendoakan dan mengurapi mereka yang sakit.

            Gerakan Karismatik Katolik dimulai pada 1967 di Universitas Duquesne, di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat. Di Indonesia, gerakan Karismatik Katolik dipimpin oleh Rm. Sugiri yang ditugasi oleh Keuskupan Agung Jakarta. Rm. Sugiri mendampinginya pada tahun 1985-1995 sambil melayani sebagai pastor di Paroki Katedral Jakarta (1996-2005).

            Bagi kalangan gereja-gereja injili di AS, gerakan ini mula-mula tidak menarik. Baru pada tahun 1985, gerakan itu masuk ke gereja-gereja injili. Perlu dicatat di sini, gereja-gereja injili di AS merujuk kepada gereja-gereja Protestan yang konservatif. Jadi istilah “injili” yang dipakai di sana tidak sama dengan apa yang dipakai oleh gereja-greja Protestan yang umumnya ada di Indonesia Timur.

            Dogma Gereja Karismatik percaya bahwa karunia-karunia (bhs. Yunani: karismata) Roh Kudus yang digambarkan di dalam Perjanjian Baru, juga tersedia bagi orang Kristen sekarang apabila mereka mengalami baptisan Roh, entah dengan penumpangan tangan atau cara lainnya. Alkitab memang menyebutkan banyak karunia Allah melalui Roh Kudus. Ada 9 karunia khusus yang didaftarkan dalam 1 Korintus 12:8-10 yang sifatnya adikodrati dan mencirikan gerakan itu, yaitu: 

1. Berkata-kata dengan hikmat 

2. Berkata-kata dengan pengetahuan 

3. Iman 

4. Karunia menyembuhkan 

5. Kuasa mengadakan mujizat 

6. Karunia bernubuat 

7. Karunia membeda-bedakan roh 

8. Kemampuan berkata-kata dengan bahasa roh, dan 

9. Kemampuan menafsirkan bahasa roh.


Perbedaan antara Pentakostalisme dan Karismatik            

            Meskipun kedua aliran ini memiliki banyak kesamaan, ada juga beberapa perbedaan di antara mereka. Banyak orang karismatik yang menjauhkan diri dari orang-orang pentakostal karena alasan budaya dan teologis.

            Yang utama adalah kecenderungan kaum pentakostal yang terlalu menekankan pada kemampuan berbahasa roh sebagai tanda pertama bahwa seseorang telah menerima baptisan Roh Kudus. Orang karismatik percaya bahwa baptisan Roh terjadi pada saat seseorang lahir baru. Sementara itu, perjumpaan dengan Roh Kudus yang berikutnya disebut dengan istilah “dipenuhi oleh Roh Kudus”. 

            Berbeda dengan orang-orang pentakostal, orang karismatik mengakui serangkaian pengalaman adikodati (mis. bernubuat, mujizat, penyembuhan, dll.) sebagai bukti bahwa seseorang dipenuhi oleh Roh Kudus. 

            Perbedaan lainnya, orang pentakostal sangat mengutamakan penginjilan dan pekerjaan misi, sebaliknya orang karismatik cenderung memandang gerakan mereka sebagai penyegaran dan pembaruan di dalam tradisi gereja mereka masing-masing.

            Di Indonesia, agak sulit membedakan gerakan pentakostal dengan gerakan karismatik, karena keduanya cenderung tercampur di dalam satu gereja. Sebuah gereja pentakostal, seperti GBI, bisa memiliki sifat-sifat yang sama dengan gerakan karismatik dengan minyak urapan, praktik penyembuhan rohani, dll. Mungkin gereja-gereja pentakosal yang sudah lebih dahulu lahir di Indonesia, seperti GPdI, Gereja Bethel Injil Sepenuh, Gereja Isa Almasih, dll. lebih mempertahankan tradisi pentakostal mereka, daripada gereja-gereja seperti Gereja Bethany Indonesia, Gereja Tiberias, dan Jemaat Kristen Indonesia, dll.



Gerakan Perempuan di dalam Gereja

            Di banyak gereja di dunia, kaum perempuan tidak banyak diberikan peran yang berarti. Padahal di gereja perdana, perempuan telah banyak berperan. Ada Priskila yang selalu mendampingi Akwila, suaminya, dalam perjalanan pemberitaan injilnya. Ada Lidia, seorang perempuan kaya, pengusaha kain ungu, yang mendanai perjalanan-perjalanan Paulus berkeliling memberitakan Injil. Ada Yunia, seorang penatua di gereja perdana. 

            Namun tak lama setelah gereja berdiri, peranan perempuan sedikit demi sedikit tergeser kembali ke belakang. Baru di abad ke-19 dan ke-20 kita menyaksikan kebangkitan kaum perempuan dalam pelayanan dan misi gereja. 

            Ann Hasseltine Judson (1789 -1826) adalah salah satu perempuan misionaris pertama dari Amerika Serikat yang melayani bersama suaminya, Adoniram Judson, di Myanmar. Di sana suaminya dituduh sebagai matamata Inggris. Sementara itu, Ann membangun tempat tinggal di dekat penjara supaya ia mudah menjenguk dan mengantarkan makanan bagi suaminya. Di masa itu, Ann banyak menulis kisah kehidupan di tempat misi dan perjuangan yang ia hadapi. Ia menceritakan kisah-kisah tragis perkawinan anak-anak, pembunuhan atas bayi-bayi perempuan dan penderitaan kaum perempuan Myanmar yang tidak punya hak apapun, kecuali apa yang diberikan suami mereka.

            Ann melahirkan tiga kali, namun semua anaknya meninggal di waktu kecil. Kesehatan Ann yang masih menyusui bayinya yang ketiga pun buruk, ditambah dengan kondisi di Myanmar yang tidak sehat. Ann meninggal pada usia 36 tahun karena cacar.

Ann “Nancy” H. Judson
            Ann menulis buku katekisme dalam bahasa Myanmar, serta menerjemahkan kitab Daniel dan Yunus ke dalam bahasa tersebut. Ia juga menjadi orang Protestan pertama ang menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Thai, ketika ia menerjemahkan Injil Matius. 

            Seorang perempuan perintis lainnya adalah Mary Mitchell Slessor (1848- 1915) yang menjadi misionaris di Nigeria. Setibnya di Nigeria, Mary belajar bahasa Efik, salah satu bahasa setempat, lalu mulai mengajar.

            Kefasihannya dalam Bahasa setempat dan kepribadiannya yang berani membuat Mary dipercaya dan segera diterima masyarakat. Mary berhasil menyebarkan Injil, mempromosikan kedudukan kaum perempuan dan perlindungan bagi anak-anak. Ia terkenal karena berhasil menghentikan kebiasaan membunuh bayi-bayi kembar, sebuah praktik yang didasarkan pada kepercayaan di Okoyong, di daerah Cross River State, Nigeria. Karyanya membuat Mary diberi gelar “Ibunda Agung” Nigeria.

 Mary Slessor bersama anak-anak. 
            Di Indonesia, salah satu tokoh pertama yang mendobrak kepemimpinan laki-laki di gereja adalah Pdt. Margareth Dharma-Angkuw (1925-2015). Ia lulus dari STT Jakarta (kini Sekolah Tinggi Filsafat dan Theologi Jakarta) pada tahun 1955, dan ditahbiskan sebagai pendeta GPIB (Gereja Protestan Indonesia di bagian Barat), menjelang akhir tahun 1950an.

            Margareth ikut mendirikan Asian Christian of Women Conference (Konferensi Perempuan Kristen Asia) yang hingga kini aktif dalam gerakan solidaritas perempuan di Asia. Ia juga pernah menjabat sebagai perempuan pertama anggota BPH-DGI (kini Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gerejagereja di Indonesia), Margareth juga aktif mempromosikan “Fellowship of the Least Coin”, gerakan doa perempuan Asia yang sambal berdoa bersama juga mengumpulkan mata uang terkecil untuk membantu program-program kemanusiaan di Asia.

            Selama bertahun-tahun Margareth melayani sebagai pendeta rumah sakit di RS PGI Cikini, untuk mendampingi para pasien dan tenaga medis di sana. Margareth meninggal pada usia yang sangat lanjut, 90 tahun. Ia menikah dengan Jahja Daniel Dharma (John Lie), yang diakui pemerintah sebagai pahlawan nasional karena jasanya dalam perang kemerdekaan. Sebuah kapal perang juga diberikan nama KRI John Lie, untuk mengenang jasa suaminya.


Rangkuman

            Gerakan pembaruan yang dulu dianggap sesat, kini terbukti mampu memberikan koreksi terhadap hal-hal yang sudah dianggap mapan dan sudah seharusnya ada di gereja. Kaum perempuan yang dulu dianggap tidak bisa apa-apa, ternyata mampu membutkikan karya bakti mereka yang luar biasa. Semua membuktikan bahwa Allah bekerja dengan berbagai cara.

            Di sini kita juga diingatkan oleh semboyan kaum reformator “ecclesia semper reformanda”, bahwa gereja Tuhan di muka bumi harus terus-menerus diperbarui. Hanya dengan pembaruan diri itulah gereja bisa bertahan dalam menghadapi berbagai tantangan dunia. Zaman terus berubah, dan Gereja akan terus ditantang untuk mampu memberikan jawaban atas pertanyaanpertanyaan yang muncul dari warga jemaat.

            Dari semua uraian di atas kita sudah melihat bahwa ada banyak sekali cara yang digunakan Allah untuk memperbarui Gerejanya. Sejak gerakan Reformasi yang dimulai oleh Luther, Calvin, dan kemudian oleh kelompokkelompok radikal seperti Anabaptisme, kemudian pembaruan di Inggris, lalu di Amerika dalam bentuk gerakan pentakostal dan karismatik, pembaruan terus terjadi.

             

Refleksi

            Dari semua uraian di atas kita sudah melihat bahwa ada banyak sekali cara yang digunakan Allah untuk memperbarui Gerejanya. Sejak gerakan Reformasi yang dimulai oleh Luther, Calvin, dan kemudian oleh kelompok-kelompok radikal seperti Anabaptisme, kemudian pembaruan di Inggris, lalu di Amerika dalam bentuk gerakan pentakostal dan karismatik, pembaruan terus terjadi. 

            Salah satu hal penting yang sering dilupakan adalah peranan perempuan dalam pelayanan gereja dan misi. Dalam bahan ini kita belajar tentang beberapa tokoh luar biasa yang merintis pekerjaan tersebut. Ann H. Judson yang melayani di Myanmar dan meninggal pada usia yang sangat muda, serta Mary Slessor yang melayani di Nigeria sampai usia yang cukup lanjut, memberikan pelananan-pelayanan yang luar biasa. Terbukti di sini, bahwa kaum perempuan sama sekali tidak kalah dibandingkan oleh laki-laki di dalam pelayan mereka di dalam gereja dan misi.

Sumber :

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SMA Kelas XII Penulis: Janse Belandina Non-Serrano

Selasa, 19 Agustus 2025

Komunikasi Keluarga

 Bab 4 Komunikasi Keluarga

Bahan Alkitab: Efesus 4:25–29; Yakobus 1:19–20

Tujuan Pembelajaran :

1. Mendesain komunikasi dalam keluarga.

2. Mendeskripsikan peran anggota keluarga dalam komunikasi.

3. Membuat kalimat ajakan untuk membangun komunikasi keluarga.

4. Menuliskan karangan singkat.


            Bagaimanakah model komunikasi yang kalian lakukan di rumah? Tentu sangat beragam. Ada yang melakukan komunikasi verbal, tidak jarang juga ada keluarga yang memiliki simbol-simbol tertentu untuk komunikasi internal mereka. Nah, bagaimana sebenarnya komunikasi tersebut bisa berjalan? Untuk menjawab hal tersebut, melalui Bab 4 ini kalian akan diajak untuk memahami komunikasi, yakni sebuah proses interaksi dan transfer informasi. Dalam komunikasi, semua yang terlibat harus ikut serta dan membuka ruang pemahaman bagi yang lain. 

            Secara umum komunikasi dibagi menjadi beberapa jenis yakni komunikasi secara verbal dan komunikasi non-verbal. Komunikasi verbal adalah komunikasi yang dilakukan secara lisan maupun tulisan. Sementara itu, komunikasi non-verbal adalah komunikasi yang disampaikan dengan simbol atau gerak tubuh seperti bahasa isyarat, juga kontak mata dan ekspresi wajah.

            Komunikasi adalah sebuah proses di antara dua orang atau lebih yang sedang berbagi pemahaman, pemikiran, juga gagasan, yang di dalamnya setiap orang saling memberi dan menerima informasi. Prosesnya, seperti telah disampaikan di atas, bisa berlangsung dengan kontak mata, gestur atau bahasa tubuh, dan berbagai model yang disepakati oleh orang-orang yang terlibat dalam komunikasi tersebut.

            LITTLE HOUSE ON THE PRAIRIE


Pada tahun 1970-an, TVRI, yang menjadi stasiun televisi satu-satunya di Indonesia kala itu, menayangkan sebuah film keluarga yang menarik. Judulnya Little House on the Prairie. Film ini menayangkan kehidupan keluarga sederhana di sebuah kampung. Di sana ada satu-satunya gereja yang juga menjadi tempat belajar formal seperti sekolah. 

Salah satu keluarga yang menjadi fokus film itu adalah keluarga Ingalls, dan salah seorang pemeran utama adalah Charles Ingalls (diperankan oleh Michael London). Mereka adalah keluarga petani sederhana, memiliki ladang dan sedikit ternak. 

Kehidupan mereka sangat terbatas dengan ruang lingkup yang juga terbatas karena mereka jauh dari kota. Namun, apa yang menarik dari keluarga ini? Mereka telah menyepakati bahwa segala hal dalam kehidupan mereka harus dipercakapkan bersama. Biasanya mereka memanfaatkan waktu bercakap di meja makan. Jika ada masalah, seluruh anggota keluarga harus memberi kontribusi pemikiran dan jalan keluar terbaik yang disepakati bersama.

Menjelang malam dan sebelum tidur, keluarga Ingalls juga akan berdoa bersama, membacakan cerita sebelum tidur, khususnya bagi adik yang paling kecil. Mereka akan membacakan Alkitab atau buku secara bergiliran dan mengakhiri dengan doa bersama Ini merupakan sebuah rutinitas yang dilandasi pada pemahaman iman yang kuat agar seluruh proses kehidupan dengan berjalan dalam komunikasi yang berkualitas.


Indonesia tentu tidak ketinggalan dengan tayangan film-film keluarga. Pada tahun yang sama (1970-an) juga ditayangkan film seri Keluarga Marlia Hardi yang juga berkisah tentang keluarga dan komunikasinya. Akhir akhir ini, generasi kalian juga berjumpa dengan film Keluarga Cemara yang menampilkan sebuah kehidupan keluarga yang sarat dengan bangunan komunikasi di dalamnya.


            Komunikasi dalam keluarga merupakan sesuatu yang sangat penting. Sebagaimana telah disampaikan di atas, komunikasi adalah transfer informasi, gagasan, dan pemahaman antara yang satu kepada yang lainnya.

            Dalam kehidupan keluarga tentu komunikasi sangat diperlukan. Interaksi dalam keluarga bisa terjalin dengan baik jika dibangun sebuah komunikasi berkualitas. Seluruh anggota keluarga membuka ruang hidupnya bagi yang lain. Ayah memahami apa yang ibu maksudkan, orang tua memahami apa yang anak-anak maksudkan, kakak memahami apa yang adik maksudkan, demikian juga sebaliknya. Apa akibatnya jika dalam keluarga tidak terjalin sikap saling memahami? Apa dampaknya jika dalam keluarga masing-masing hidup untuk dirinya sendiri? Suasana rumah tidak akan hangat. Seorang yang bernama Steven McCornack menyebutkan bahwa dalam kehidupan komunitas (termasuk keluarga dalam rumah tentunya) dibutuhkan romantic relationship, yakni sebuah relasi yang di dalamnya setiap orang membuka diri bagi yang lain (McCornack 2010, 320–329).

            Steven McCornack mengungkapkan bahwa manusia bisa terjebak dalam sikap horn effect, yakni sikap negatif yang dilekatkan pada seseorang. Pandangan ini menunjuk pada pola negatif. Seseorang diberi stigma, artinya apa pun juga yang dilakukannya sudah diberi label negatif dan buruk. Sebaliknya, McCornack menawarkan gagasan agar komunitas (termasuk keluarga di dalamnya) membangun spirit halo effect, yakni sebuah pemahaman positif yang dilekatkan pada seseorang (McCornack, 99).

            Akibatnya, semua orang membangun hidup yang baik sebab yang bersangkutan mendapat tempat dalam kehidupan yang lain. Jika halo effect dilekatkan dalam keluarga, bukan tidak mungkin keluarga menikmati sukacita dan kebahagiaan karena setiap anggota keluarga saling terbuka dengan keyakinan positif dan mendapat dukungan.


Efesus 4:25–29 dan Yakobus 1:19–20

            Surat Efesus merupakan surat khusus dari Rasul Paulus kepada jemaat (gereja) di Efesus. Mereka adalah gereja awal yang hidup dalam pergumulan, khususnya ketika mereka berhadapan dengan berbagai pengajaran. Sebagai jemaat awal, tentu mereka membutuhkan pengajaran yang berkualitas. Sementara itu, Paulus sendiri tidak bisa mengunjungi mereka secara rutin karena Paulus harus terus-menerus berkeliling ke jemaat-jemaat lain juga. Oleh karena itu, salah satu cara Paulus mengajar atau mendidik iman mereka adalah dengan mengirimkan surat. Di dalam surat-suratnya, Paulus mengajarkan tentang hidup beriman, bertutur kata yang baik, serta menunjukkan sikap hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

            Salah satu persoalan di tengah jemaat adalah tentang kehidupan keluarga. Di dalam keluarga semestinya ada kejujuran dan keterbukaan, tidak berdusta, saling menguatkan, dan saling berkomunikasi dengan baik. Dengan demikian, kehidupan keluarga terjaga dengan baik.

            Demikian juga dengan Surat Yakobus. Yakobus mengirimkan suratnya agar umat benar-benar terpelihara dengan baik. Pada bagian-bagian lain, Yakobus meminta agar umat jangan menyampaikan hal-hal yang tidak benar seperti memfitnah (Yak. 4:11–12). Sebaliknya, umat hidup dalam kebersamaan dan membangun komunitas (persekutuan) yang kuat, terutama kesediaan melakukan perbuatan baik untuk menunjukkan sikap iman (Yak. 2:14–26).

            Bagi Yakobus, kesediaan setiap orang dalam komunitas dan keluarga untuk saling membuka diri menjadi hal yang sangat penting. Keluarga dipanggil untuk saling mengungkapkan berbagai hal secara terbuka, jujur, dan saling menguatkan.


Rangkuman 

            Komunikasi keluarga harus dimulai dengan membuka ruang bagi semua anggotanya. Memberi diri dengan halo effect dan menutup ruang pada perspektif horn effect akan memberi dampak positif bagi perjalanan romantic relationship dalam kehidupan yang lebih baik.

            Keluarga yang harmonis adalah keluarga yang terus-menerus melakukan komunikasi, transfer infomasi dan gagasan, serta menyepakati model komunikasi berkualitas. 


Refleksi

"Aku telah belajar tentang komunikasi keluarga. Aku juga telah menelusuri teks Alkitab menyangkut pola komunikasi dengan menguasai diri agar tidak menyimpan amarah, bahkan mengembangkan pola komunikasi berkualitas dalam keluarga. Kini saatnya bagiku untuk menghadirkan seluruh pendalaman tersebut dalam setiap langkah yang akan aku lakukan dalam keluarga."


Sumber :

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Penulis: Mulyadi ISBN 978-602-244-708-5 (jil.2)



Orang Tua adalah Pendidik Utama

Bab 4 Orang Tua adalah Pendidik Utama

Tujuan Pembelajaran :

1. Bersyukur karena Tuhan mengatur kelahirannya melalui orang tua.

2. Mengakui bahwa orang tua adalah pendidik utama. 

3. Memahami perjuangan orang tua dalam mengasuh setiap anaknya.


Capaian Pembelajaran:

Memahami nilai-nilai iman Kristen dalam keluarga serta menjabakan peran keluarga dan orang tua sebagai pendidik utama.

Kata Kunci:

putus hubungan, rencana


Apersepsi

Apakah kalian pernah lihat iklan seperti ini?

Gambar 4.1 Iklan putus hubungan dengan anak

 
            Tuhan Pada tahun 1960-an sampai dengan tahun 1980-an cukup sering kita jumpai iklan-iklan seperti ini. Cukup sering dalam arti tiap bulan beberapa kali muncul iklan serupa di beberapa surat kabar, misalnya di surat kabar Sinar Harapan. Biasanya orang tua memasang iklan menyatakan putus hubungan dengan anaknya, dan usia anak bervariasi, mulai dari belasan tahun sampai dengan 30 tahunan.

            Namun, pernahkah kalian menemukan hal yang sebaliknya, yaitu anak yang memutuskan hubungan dengan orang tua? Hal ini terjadi baru-baru ini Gambar 4.1 Iklan putus hubungan dengan anak Apersepsi Apakah kalian pernah lihat iklan seperti ini? dan keputusan pengadilan yang jatuh pada Maret 2020 menyatakan bahwa anaklah yang bersalah.

            Kisah singkatnya, seorang anak dikuliahkan di Fakultas Kedokteran suatu universitas swasta, yang tentunya membutuhkan biaya mahal. Setelah ia lulus, ia pun menikah dengan dibiayai orangtua sebesar 750 juta di sebuah hotel mewah. Namun, orang tua tidak hadir di pernikahan itu, bahkan nama orang tua pun tidak dicantumkan dalam surat undangan pernikahannya. Yang lebih aneh, sehari setelah pernikahannya, sang anak memasang iklan menyatakan putusan hubungan dengan orang tuanya.

            Mungkin kejadian seperti ini hanya ada di kota-kota besar. Di luar itu, mungkin kejadian serupa pernah kalian temukan ketika mengetahui ada orang tua dengan anak yang masing-masing tinggal di kota atau negara yang terpisah, dan sang anak hampir tidak pernah terlihat menemui orang tuanya. Atau, mungkin saja di daerah kalian ada legenda seperti Malin Kundang yang durhaka kepada ibunya. Apakah kira-kira kalian bisa menduga mengapa terjadi pemutusan hubungan dari orang tua ke anak, dan dari anak ke orang tua? Bandingkan jawaban kalian dengan teman-teman sekelas! 


Pesan Alkitab untuk Orang Tua

Setiap orang lahir karena memiliki orang tua. Artinya, manusia sebagai ciptaan Tuhan hadir melalui keberadaan. Harap selalu diingat bahwa Tuhan adalah Maha Pencipta, karena itu apapun yang ada di dunia ini adalah milik Tuhan, termasuk setiap manusia. Walaupun secara hukum tercatat bahwa anak adalah milik orang tuanya, namun Tuhanlah yang memiliki anak (“Sungguh, semua jiwa Aku punya! Baik jiwa ayah maupun jiwa anak Aku punya!” - Yehezkiel 18:4a). Itu sebabnya semua tindakan yang dilakukan orang tua kepada anak harus diperhitungkan baik-baik, apakah memang seturut dengan kehendak Tuhan. Harus diakui, ada saja orang tua yang menganggap anak sebagai barang? Bila menguntungkan disimpan, bila tidak menguntungkan dilepaskan. Ternyata, Alkitab berisi banyak pesan kepada orang tua maupun anak. Apabila kemudian orang tua mengalami dukacita karena kelakuan anak, inipun sudah diingatkan di dalam Alkitab (“Anak yang bijak mendatangkan sukacita kepada ayahnya, tetapi anak yang bebal adalah kedukaan bagi ibunya” - Amsal 10:1). 

            Sebagai pihak yang dititipkan anak, orang tua harus memberi kesempatan kepada anak untuk bertumbuh sehingga anak menemukan apa yang Tuhan inginkan untuknya secara pribadi, bukan sekadar mengikuti keinginan orang tua. Itu sebabnya tanggung jawab mengasuh dan mendidik anak terletak pada orang tua, tidak boleh diberikan kepada orang lain, walaupun orang itu dianggap cukup terdidik, misalnya guru di sekolah.

            Dobson (2014), seorang psikolog Kristen yang mengelola Focus on the Family di California, Amerika Serikat, berpesan kepada para orang tua, khususnya ayah, bahwa hubungan orang tua dengan anak haruslah me-rupakan hubungan yang akrab dan penuh kehangatan. Anak tidak boleh ragu-ragu untuk membahas hal-hal yang membingungkan bagi mereka bersama ayah. Kesempatan untuk orang tua dalam membina kehangatan dengan anak tidaklah lama, karena saat anak memasuki usia remaja, yaitu saat menginjak bangku SMP, umumnya anak akan menjadi lebih akrab dengan teman sebaya dibandingkan dengan orang tua. Hal terindah yang dapat dilakukan orang tua bagi anak-anaknya adalah menjadi sahabat. Begitulah pesan Charlotte Priatna (2020), seorang konselor sekaligus pendiri sekolah Kristen Athalia di Jakarta.

            Sejalan dengan hal ini, ada tiga tanggung jawab orang tua bagi anakanaknya, yaitu tanggung jawab secara spiritual, emosional, dan fisik. Tanggung jawab spiritual adalah agar anak berada di jalan yang benar sehingga ia menjalani hidup yang baik ketika sudah menjadi dewasa. Setidak-tidaknya, ada dua ayat Alkitab yang dapat dijadikan rujukan untuk hal ini. “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” (Amsal 22:6) serta “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan” (Efesus 6:4).

            Ayat Alkitab tentang tanggung jawab emosional dapat ditemukan misalnya di Kolose 3:21, “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.” Kepada orang tua, Dobson (2014) berpesan agar jangan sampai orang tua melakukan hal-hal yang justru membuat anak menjadi rendah diri. Hal-hal itu misalnya, tidak menghargai usaha anak, menuntut anak untuk lebih baik dari anak-anak lain.

            Tanggung jawab fisik dapat ditemukan dari ayat berikut, “Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya, tetapi kekayaan orang berdosa disimpan bagi orang benar” (Amsal 13:22) dan “Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman” (1 Timotius 5:8).

            Dengan demikian, orang tua harus mempertimbangkan dengan sangat hati-hati, apakah mereka memiliki kemampuan yang cukup memadai untuk memiliki anak sebanyak-banyaknya. Baik itu kemampuan secara finansial, kemampuan mengasihi anak dengan utuh, dan kemampuan mendidik mereka agar terus bertumbuh secara spiritual. Dalam hal ini, kita harus mengkritisi apakah pepatah “banyak anak banyak rezeki” masih bisa diterapkan pada masa kini.

            Kini kita tahu bahwa menjadi orang tua merupakan hal yang berat. Sayangnya, belum ada sekolah untuk membekali tiap pasangan bagaimana menjadi orang tua yang baik. Meskipun ada banyak seminar untuk orang tua, belum tentu seminar itu memang membekali orang tua untuk menjadi orang tua seperti yang ditegaskan oleh Alkitab. Analisis yang dilakukan oleh Hoeve dkk. (2009) terhadap 161 hasil penelitian tentang hubungan antara perlakuan orang tua dengan kenakalan anak menemukan bahwa kenakalan anak sebagian disebabkan oleh orang tua yang menolak kehadiran anak, tidak peduli terhadap anak bahkan menunjukkan permusuhan.

            Analisis yang dilakukan oleh Pinquart (2017) terhadap 1.435 hasil penelitian tentang hubungan antara perilaku orang tua dengan masalah yang diperlihatkan oleh anak mereka menunjukkan bahwa pola asuh orang tua yang sering menghukum dan terlalu banyak memberikan aturan kepada anak serta bersikap otoriter menghasilkan anak dan remaja yang berperilaku agresif, hiperaktif, memberontak, bahkan ada juga yang mengalami gangguan kejiwaan ketika anak bertambah dewasa. Kita tidak boleh menutup mata terhadap pentingnya menjaga hubungan yang baik antara orang tua dan anak.

            Mana yang lebih berat, tugas ayah atau ibu? Tradisi sering menempatkan tugas ibu adalah di rumah, untuk mendidik serta mengasuh anak, sedangkan tugas ayah adalah di luar rumah. Ini tercermin misalnya dalam buku pelajaran di Sekolah Dasar ketika siswa disuruh memilih mana yang lebih tepat, ibu di rumah atau di kantor. Apakah pembagian tugas seperti ini dapat dibenarkan?

            Hasil penelitian memang menemukan bahwa anak-anak, baik anak laki-laki maupun perempuan, lebih dekat kepada ibunya (Koehn & Kerns, 2018). Sejumlah penelitian pada remaja di Indonesia juga menemukan hal yang serupa. Tentu hal ini tidak mengherankan karena umumnya mengasuh anak lebih dianggap lumrah bagi ibu dan bukan pada ayah. Namun, tanpa kedekatan dengan ayah, anak bisa mengalami kesulitan ketika sudah beranjak makin dewasa.

            Saat ini mulai dilakukan penelitian yang membandingkan pengaruh dari ketidakhadiran ayah dibandingkan dengan ketidakhadiran ibu: mana yang lebih memberikan pengaruh negatif bagi pertumbuhan anak. Demuth dan Brown (2004) serta Möller dkk (2016), misalnya menemukan bahwa ketidakhadiran ayah memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap kenakalan anak dibandingkan dengan ketidakhadiran ibu. Bahkan, ada satu kesaksian yang mengharukan seperti yang diceritakan oleh pendeta D. James Kennedy tentang temannya yang seorang misionaris. Misionaris ini menemukan bahwa mayoritas narapidana yang dilayaninya di suatu penjara tidak mengenal tokoh ayah dalam kehidupannya (Takooshian, 2016). Ternyata, walaupun anak hanya ‘dititipkan’ oleh Tuhan kepada orang tua, sungguh tidak mudah mengasuh dan mendidik anak agar dapat bertumbuh menjadi pribadi yang mengasihi Tuhan dan sesama. Hampir tidak mungkin untuk membiarkan orang tua menjalankan tugas sebagai pengasuh dan pendidik anak bila tidak dibekali secara memadai. Di sinilah kita dapat berharap agar gereja menggunakan kesempatan untuk membekali orang tua dengan bertanggung jawab.


Pesan Alkitab untuk Anak-anak

            Sejak kecil mungkin kita sudah belajar tentang Sepuluh Hukum Taurat, yaitu apa yang harus kita lakukan kepada Tuhan dan kepada sesama manusia. Mungkin kita juga pernah menghafal isi Sepuluh Hukum Taurat ini. Perhatikan bahwa perintah pertama yang dilakukan untuk sesama manusia adalah, “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu” (Keluaran 20: 12). Dapatkah kita katakan bahwa ini suatu kebetulan, artinya urutan penempatan tidak memegang peranan penting? Tentu tidak. Melalui orang tualah kita hadir di dunia. Melalui orang tualah kita belajar tentang berbagai hal, mulai dari belajar berjalan, belajar bicara, belajar mana yang baik dan buruk, mana yang boleh dilakukan dan mana yang harus dihindarkan. Di dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus kembali menegaskan perintah ini, “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.” (Efesus 6:1-3).


Keteladanan Orang Tua bagi Anak

            Ada satu ilustrasi yang bagus sekali tentang dua anak yang menyikapi secara berbeda kelakuan ayah mereka. Sang ayah adalah seorang pemabuk, sering memukuli istri dan anak-anak, juga sering memaki dengan kata-kata yang kotor dan tidak senonoh. Ketika ayah meninggal, dua anak ini tumbuh menjadi orang dewasa yang berbeda kelakuannya. Yang sulung menjadi pemabuk dan terlibat dalam berbagai tindakan kriminal sehingga dimasukkan ke penjara. Ketika ditanyakan mengapa begitu, ia menjawab, “Saya tidak punya teladan dalam keluarga. Ayahku memang juga pemabuk dan sering menyakiti hati ibu dan kami anak-anaknya. Sangat wajar bila saya sebagai anak sulung juga tumbuh menjadi seperti ini.” Namun, anak bungsu berbeda. Ia sukses dalam karier dan menduduki jabatan sebagai pimpinan karena memang dikenal sebagai orang yang jujur, hati-hati, dan sangat peduli kepada bawahan dan rekan kerja. Ketika ditanyakan kepadanya, mengapa ia tidak seperti ayah dan kakaknya, ia menjawab, “Ayah saya pemabuk dan sering menyakiti ibu dan kami anak-anaknya. Dia bukan ayah yang patut diteladani. Dan ini membuat saya berpikir ‘Apakah saya mau menjadi pria yang demikian? Ataukah ada pilihan lain dalam menjalani hidup dan memiliki masa depan?’ Kelakuan ayah saya mendorong saya untuk menjadi lebih baik karena tidak mau menimbulkan luka pada orang lain.”

            Anak yang mana yang menurut kalian lebih tepat untuk diteladani? Anak sulung atau anak bungsu? Tentu anak bungsu, bukan? Sayangnya, cukup banyak orang yang memilih menjadi seperti si anak sulung yang melemparkan kondisi yang dialami kepada ayah yang tidak menjadi teladan. Padahal, ada pilihan untuk menjadi lebih baik. Pilihan menjadi lebih baik ini didasari oleh kesadaran bahwa masa depan yang kita miliki ada di tangan kita; kondisi keluarga tidak perlu membuat kita hancur.

            Beberapa waktu yang lalu ada istilah ‘madesu’ yang merupakan singkatan dari masa depan suram. Istilah ini dipakai untuk menggambarkan bahwa seseorang tidak memiliki masa depan yang baik bila ia terlibat dalam berbagai tindakan kriminal, atau bila ia tidak punya bekal pendidikan, atau kekayaan yang cukup untuk membuka usaha. Namun di Kotabumi yang terletak di Lampung Utara, Sumatera Selatan, ada patung yang dinamakan Patung Madesu. Madesu disini juga merupakan singkatan, tetapi singkatan dari masa depan sukses. Kalian bisa mencari di internet bagaimana wujud patung Madesu ini. Patung ini didirikan dengan tujuan mengingatkan tiap orang, terutama kaum muda bahwa sukses bisa diraih bila kita bekerja keras bermodalkan pendidikan. Pendidikan bukan hanya dalam arti pendidikan formal yang diperoleh di bangku sekolah, tetapi juga pendidikan nonformal lainnya, termasuk pendidikan etika dan moral yang tentunya diperoleh bukan hanya di sekolah.

            Packer (1973) mengakui bahwa bila hubungan anak dan ayah tidak erat, bahkan bila ayah sering menyakiti hati anak, anak akan mengalami kesulitan untuk melihat kepada Tuhan sebagai Bapa Surgawi. Kecenderungan manusia untuk berbuat dosa menyebabkan manusia tanpa sadar melakukan hal-hal yang ternyata melukai hati Tuhan. Akan tetapi, setiap manusia tetap harus bertanggung jawab untuk apa yang telah dilakukannya karena pengadilan Allah berlaku untuk tiap manusia.

            Mereka yang memahami hal ini tentu akan berhati-hati dalam berpikir, bertindak dan berinteraksi dengan orang lain. Pengampunan Tuhan pun sempurna, berlaku bagi mereka yang mengakui dirinya berdosa di hadapan Tuhan dan sesama, “Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah” (Roma, 9:16). Allah yang digambarkan di Perjanjian Lama adalah Allah Sang Pencipta yang bertindak tegas dalam menghukum mereka yang bersalah. Untuk memberikan gambaran tentang ketegasan Allah, kita bisa lihat di Imamat 10:1-2, “Kemudian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan Tuhan api yang asing yang tidak diperintahkan-Nya kepada mereka. Maka keluarlah api dari hadapan Tuhan, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan Tuhan.”

            Allah dalam ayat-ayat Alkitab di atas adalah Allah yang menghukum apabila manusia tidak melakukan perintah-Nya. Akan tetapi, di dalam Perjanjian Baru, Allah yang sama digambarkan sebagai Allah yang dapat dihampiri oleh manusia dengan bebas tanpa rasa takut, “Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya.” (Efesus 3:12)

            Tuhan Yesus memberikan pedoman bahwa kita memandang Allah sebagai Bapa yang sangat mengasihi anak-anak-Nya. Dalam Doa Bapa Kami, kalimat pertama adalah ‘Bapa kami yang di surga’ (Matius 6:9). Hubungan sebagai seorang bapa dengan anak-anaknya inilah yang memberikan kesan kehangatan sehingga selaku pengikut Kristus kita tidak usah ragu-ragu untuk menghampiri-Nya setiap saat. Dalam hal ini Packer dengan tegas menyatakan bahwa walaupun seseorang memiliki keluarga yang hancur dan tidak harmonis, tetap ada kemungkinan untuk memiliki keluarga yang harmonis ketika ia mendapat kesempatan untuk membangun rumah tangganya.

            Menurut Packer (1973), ada tiga sikap yang bisa kita miliki terhadap Allah Bapa, tergantung dari pengalaman kita dengan ayah kita. Pertama, ketika ayah kita sudah merupakan ayah yang baik, kita akan menyatakan, “Saya sudah memiliki ayah yang baik. Ternyata, Tuhan jauh lebih baik dari ayah saya.” Kedua, “Ayah saya sangat mengecewakan, tetapi kini saya menemukan Tuhan yang tidak akan pernah mengecewakan saya.” Ketiga, “Saya tidak pernah punya pengalaman memiliki ayah. Tetapi, kini saya memiliki Tuhan sebagai Bapa yang sempurna.”

            Memang tidak ada manusia yang sempurna, tetapi ini tidak boleh menjadi halangan untuk mengenal Allah Bapa dan membina hubungan denganNya. Melalui Yesus Kristus, kita belajar bahwa hubungan Allah Bapa dengan Allah Putra adalah hubungan yang istimewa (“Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku” (Yohanes 17:23). Bahkan, sesaat setelah Yesus bangkit, kata-kata-Nya sungguh menghibur: Kata Yesus kepadanya (Maria Magdalena), “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” (Yohanes 20:17).

            Sungguh indah pesan Alkitab bagi orang tua mau pun bagi kita selaku anak. Tidakkah kita merindukan hubungan yang hangat dan akrab dengan orang tua kita? Rencana Tuhan yang indah untuk keluarga kita akan berlaku bila kita dengan sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan menaati perintahperintah-Nya. 


Rangkuman

"Melalui karya-Nya yang ajaib, Tuhan mengatur agar tiap manusia lahir di tengah keluarga melalui orang tua. Apa yang diciptakan Tuhan tidak pernah salah. Akan tetapi, untuk memahami rancangan indah-Nya bagi tiap manusia, baik orang tua maupun anak harus taat pada perintah-Nya. Orang tua diberikan kesempatan untuk mengasuh dan mendidik anak agar mengenal Tuhan dan berperilaku seperti yang Tuhan inginkan. Sebaliknya, anak pun diperintahkan untuk menghormati orang tua. Dalam hubungan mengasihi dan menghormati inilah rancangan indah Tuhan akan mulai berwujud."



Sumber:

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X Penulis: Julia Suleeman ISBN 978-602-244-465-7 (jil.1) 

Minggu, 03 Agustus 2025

Nilai-nilai Kristiani

Bab 3 Nilai-nilai Kristiani

Galatia 5: 22-23

Tujuan Pembelajaran

  1. Menjelaskan sembilan buah Roh sebagai dasar nilai-nilai Kristen.
  2. Menghayati pentingnya nilai-nilai Kristen yang mendasari perilaku pengikut Kristus.
  3. Mengidentifikasi perilaku yang tidak mencerminkan nilai Kristen.
  4. Mempraktikkan nilai-nilai Kristen dalam hidup sehari-hari.
Apersepsi
                Apakah kamu pernah bertemu dengan seseorang yang saat melihat mukanya, atau mendengarkan suaranya, atau melihat gerak-geriknya saja sudah membuat kalian menyukai orang itu? Inilah yang disebut dengan kesan pertama. Ketika kita bertemu dengan seseorang pertama kali, pasti akan muncul ke-san terhadap orang itu. Apakah kesan itu positif atau malah negatif, kesan pertama ini akan bertahan lama dalam ingatanmu dan menjadi dasar yang menentukan bagaimana seterusnya kita akan berinteraksi dengan orang itu. Bila kesan pertama positif, kita tentu menyambut gembira kesempatan untuk bertemu kembali dengan orang itu. Sebaliknya, bila kesan pertama negatif, kita cenderung menghindar atau malas bertemu lagi dengan orang itu.
            
                Ketika sudah lebih jauh mengenal seseorang, bisa saja kesan pertama ini berubah menjadi kebalikannya, yaitu dari positif menjadi negatif atau sebaliknya. Meskipun demikian beberapa penelitian menemukan bahwa pada umumnya orang terpaku pada kesan pertama. Jadi, kalau sudah memiliki kesan pertama negatif, sulit untuk mengubahnya menjadi lebih positif. 

                Kesan pertama ini yang juga dipakai oleh Nabi Samuel ketika Allah memintanya berkunjung ke rumah Isai untuk mengurapi salah satu anaknya menjadi raja Israel menggantikan Raja Saul. Masih ingat kisah ini? “Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya, “Sungguh, di hadapan Tuhan sekarang berdiri yang diurapi-Nya.” Tetapi berfirmanlah Tuhan kepada Samuel, “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” (1 Samuel 16:6-7).
 

                Dalam bab ini, kita akan belajar bagaimana sebagai murid Kristus kita belajar untuk menampilkan kesan pertama secara positif yang justru membuat orang lain ingin mengenal kita lebih jauh. Sebelumnya, mari kita bahas dahulu hubungan antara kesan pertama dan nilai. 


Hubungan antara Kesan Pertama dengan Nilai

            Apa saja dalam diri seseorang yang memengaruhi pembentukan kesan pertama pada orang lain? Di area psikologi sosial, yaitu cabang ilmu psikologi yang mengkaji bagaimana manusia berinteraksi dengan manusia lainnya, topik ini sudah cukup lama diteliti. Misalnya, pada tahun 1930, dalam edisi pertama Child Development, sebuah jurnal yang paling banyak melaporkan hasil penelitian pada anak-anak sejak mereka berusia bayi beberapa minggu, sudah ada hasil penelitian tentang bagaimana anak-anak yang berusia 27 bulan membangun pertemanan dengan anak-anak sebaya atau yang lebih tua saat mereka ada di sebuah Kelompok Bermain. Ternyata, mereka memilih berteman dengan anak sebaya atau yang lebih tua ketika mereka bisa bermain bersama, atau ketika melihat anak sebaya memiliki jenis kelamin yang sama. Artinya, penampilan anak lain di mata seorang anak berusia 27 bulan, sudah cukup mendorong anak 27 bulan ini untuk menjadikannya teman atau malah menghindarinya.

            Ada sejumlah hal yang memengaruhi munculnya kesan pertama. Namun, yang paling penting untuk diingat adalah kesan pertama yang ditangkap oleh orang lain didasari oleh bagaimana orang tersebut melihat dirinya sendiri dalam hubungan dengan orang lain. Orang yang positif dengan dirinya dan melihat orang lain secara positif, akan menimbulkan kesan pertama yang positif juga. Bagaimana orang bisa menganggap dirinya dan orang-orang lain juga positif? Di sinilah kita perlu belajar tentang nilai. Saat kita berinteraksi dengan orang lain, siapa pun orang itu, ada nilai-nilai yang orang lain tangkap dari gerak-gerik kita, yaitu nilai-nilai yang kita pelajari dari keluarga.


            Menurut Schwartz (1992), peneliti tentang nilai pada berbagai budaya, nilai adalah suatu konsep atau kepercayaan yang terkait dengan keinginan atau tingkah laku seseorang yang dalam wujudnya juga mencerminkan perasaan, tujuan yang ingin dicapai. Nilai bukan hanya satu, melainkan ada beberapa, dan saling terkait satu sama lain. Nilai yang dimiliki seseorang berbeda-beda antara orang yang satu dan yang lain, diperoleh berdasarkan pedoman tertentu, dan nilai-nilai ini saling berinteraksi mendorong terwujudnya suatu tingkah laku tertentu dari tiap orang. Jadi, apa pun wujud tingkah laku seseorang, itu mencerminkan nilai apa yang dimilikinya. 

            Nilai diartikan oleh Eka Darmaputera (2018) sebagai sesuatu yang dijunjung tinggi yang mewarnai dan menjiwai tindakan seseorang. Darmaputera adalah pendeta yang menulis banyak buku dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat umum. Secara umum, bukunya berisi pengalaman kesehariannya bergaul dengan banyak orang yang kemudian direfleksikan dengan iman Kristen. Darmaputera menekankan pentingnya setiap manusia memiliki nilai yang menjadi dasar bagaimana ia berhubungan dengan dirinya, dengan sesamanya, dan dengan Tuhan. Hal ini yang akan menggambarkan secara utuh siapa dia sebenarnya. Tentu saja sebagai pengikut Kristus kita terpanggil untuk mencerminkan nilai sesuai dengan apa yang Tuhan Yesus sudah ajarkan.


            Dalam tingkat internasional, ada nilai yang direkomendasikan untuk diberlakukan oleh tiap negara. Di dalam Deklarasi untuk Perdamaian Dunia atau disebut juga Deklarasi Etika Global, ada rumusan nilai yang harus diperjuangkan untuk mencapai perdamaian dunia bagi semua. Dalam penilaian Sholihan (2017), Deklarasi ini sangatlah penting untuk membuat dunia menjadi tempat tanpa ada konflik satu sama lain, termasuk konflik antar agama. Penganut agama harusnya keluar dari kebanggaan sebagai satu-satunya pemilik kebenaran yang paling benar, karena ini menekankan pada sikap eksklusif. Sebaliknya, tiap orang justru harus bergerak untuk menyampaikan kebenaran yang universal, artinya berlaku untuk semua, bukan hanya untuk sekelompok orang. Di dalam masyarakat dengan berbagai latar belakang budaya, agama, dan keyakinan, tidak boleh ada yang memaksakan bahwa keyakinannya adalah yang paling benar. Di dalam rumusan Deklarasi untuk Perdamaian Dunia, ada beberapa nilai yang harus diperjuangkan, yaitu nonkekerasan, menghormati kehidupan, komitmen pada budaya solidaritas dan tata ekonomi yang adil, komitmen pada budaya toleransi dan hidup yang benar, dan komitmen pada budaya persamaan hak dan kemitrasejajaran antara laki-laki dan perempuan. Sebetulnya, nilai yang diperjuangkan di dalam Deklarasi ini ada di dalam Alkitab, tetapi bila kita menyatakan itu adalah nilai-nilai Kristen, penganut agama lain akan merasa tersinggung. Mari kita lihat lebih rinci apa dasar teologis untuk nilai yang harusnya kita miliki sebagai pengikut Kristus.


Dasar Alkitab untuk Nilai Kristen

                Ada berbagai cara yang dipakai para teolog, pengkotbah, dan penulis untuk menjelaskan apa saja nilai yang diajarkan Tuhan Yesus. Misalnya, Philip Yancey (2014), penulis dari Amerika Serikat yang banyak menulis pemahaman tentang ajaran Yesus dengan gaya penulisan populer, menegaskan bahwa jika setiap orang Kristen betul-betul mempraktikkan ajaran Yesus di mana pun, di kalangan mana pun, dengan siapa pun, kita dapat mengubah dunia ini menjadi dunia yang lebih damai. Kita tidak boleh lupa bahwa apapun yang kita lakukan, pemberitaan bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan yang penuh kasih dan anugerah hendaknya melandasi dan mewarnai apa pun tingkah laku kita. Sayangnya, orang Kristen sering digambarkan sebagai orang yang mudah menghakimi sesamanya, merasa diri paling benar, munafik, bertindak seperti polisi yang memata-matai orang lain untuk memergoki saat orang melakukan kesalahan, dan memaksakan kehendak. Bila kalian setuju bahwa inilah kesan orang terhadap orang Kristen, mari kita buktikan bahwa kesan itu tidak benar. Ini ajakan Yancey dan berlaku untuk kita semua. 

                Walaupun ada banyak cara mengartikan nilai-nilai Kristen, untuk pembahasan pada bab ini, kita merujuk pada Galatia 5:22-23 yang tertulis sebagai berikut, “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Perhatikan bahwa istilah yang dipakai oleh Rasul Paulus sebagai penulis kitab Galatia ini adalah buah Roh dan bukan buah-buah Roh. Sembilan hal ini adalah suatu kesatuan yang merupakan wujud dari tingkah laku dan karakter dari mereka yang hidup dalam Kristus, artinya hidup sesuai dengan apa yang Tuhan Yesus ajarkan. Kita akan menggunakan pembahasan yang diberikan oleh Ralph Wilson untuk memahami buah Roh ini. Menurut Wilson, buah Roh ini yang sering juga dianggap sebagai karakter, sifat seseorang. Penjelasannya adalah sebagai berikut.


1. Kasih

Kasih adalah yang pertama, dan dianggap sebagai hal utama yang mendasari karakter pengikut Kristus. Kitab 1 Korintus 13: 13 menyatakan, “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” Kasih yang kita miliki adalah kasih yang sudah terlebih dulu dinyatakan oleh Tuhan kepada kita. Itu sebabnya, kasih kita harus mengikuti teladan yang ditunjukkan oleh Tuhan Yesus, yaitu kasih yang didasari oleh pengorbanan, dalam bahasa Yunaninya adalah agape. Kasih Tuhan dinyatakan dan tidak tergantung dari apakah kita akan membalas kasih-Nya atau tidak. Kasih Tuhan juga tidak berkurang walaupun kita menjauh dari-Nya. Sering dikatakan kasih Tuhan adalah kasih tak bersyarat. Sebagai manusia, kita tidak akan sanggup menyamai kasih Tuhan, tetapi setidaknya kita diperintahkan untuk mengasihi orang lain seperti yang diperintahkan Tuhan Yesus di Matius 22. Kehidupan para martir dari berbagai penjuru dunia, baik yang dicatat dan dibukukan untuk diketahui oleh orang banyak, maupun tidak, menunjukkan bahwa mereka meneladani kasih yang mereka sudah terima dari Kristus melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Tentang kasih, kita akan bahas kembali pada Bab VIII ketika kita membahas tentang Prinsip setia, adil, dan kasih.


2. Sukacita

Sukacita atau keadaan yang membuat kita senang, bahagia, diartikan sebagai kondisi yang dicari manusia. Bahkan, banyak keputusan yang dibuat berdasarkan jawaban terhadap pertanyaan ini: Apakah hal ini akan membuat saya bahagia? Hendaknya kita berhati-hati karena pada titik ekstrem inilah yang disebut dengan hedonism, yaitu menggunakan tiap usaha dan kesempatan untuk mencari dan menikmati hal-hal yang memuaskan diri sendiri. “Tidak peduli orang lain mengatakan apa, yang penting SAYA senang,” begitu kira-kira cara berpikir orang-orang yang tergolong kelompok ini. Akan tetapi, sukacita yang dituliskan di Galatia ini berbeda dengan pemahaman dan ukuran dunia tentang bahagia. Sukacita bukanlah yang kita cari-cari, melainkan ada di diri dalam kita, kita tidak lagi mencari-cari hal yang ada di luar diri kita untuk mendapatkan sukacita itu. Memang sulit menjelaskan hal ini kepada mereka yang belum pernah merasakan bagaimana memiliki sukacita karena merasakan kehadiran Tuhan. Kalian juga boleh membaca Efesus 5:19-20 dan Filipi 4:4 tentang sukacita yang pengikut Kristus rasakan ketika memuji Dia dan bersyukur untuk kasih-Nya. Hal yang sering dianggap aneh oleh orang lain adalah bahwa orang Kristen tetap memuji Tuhan dan berdoa serta bersyukur walaupun dalam keadaan yang tidak menyenangkan. Akan tetapi, untuk kita sebagai pengikut Kristus, hal itu tidaklah mengherankan, karena sukacita yang kita miliki, bukan hanya kita simpan untuk diri sendiri, melainkan kita ungkapkan. Misalnya, saat kalian sedih karena tidak ada yang mau berteman dengan kalian, kalian tetap dapat bersukacita karena Tuhan Yesus tidak akan pernah meninggalkan kalian. 


3. Damai Sejahtera  

Damai sejahtera merujuk pada keadaan utuh karena ada pemulihan, harmoni dengan keadaan sekitar. Tuhan Yesus menegaskan dalam Yohanes 14:27 bahwa “Damai se-jahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Damai tetap kita miliki dan rasakan walaupun kita berada di situasi yang menakutkan atau situasi penuh konflik. Tuhan sudah terlebih dulu mengatasi semua masalah yang sedang dan akan kita hadapi. Dunia tidak akan mengerti mengapa kita tetap tenang. Untuk kita, “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:7), tidak ada yang perlu kita takutkan karena pikiran dan perasaan kita terpusat pada Kristus dan kuasa-Nya. 


4. Kesabaran

Kesabaran adalah keadaan ketika kita dapat menanggung hinaan, ejekan, bahkan tingkah laku merendahkan dan permusuhan dari orang lain. Kesabaran barulah terlihat ketika kita berada dalam hubungan dengan orang-orang lain. Pengertian kesabaran di sini juga mencakup ketahanan atau ketekunan kita mengerjakan apa yang menjadi tugas kita sampai selesai. Seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman, kita akan semakin bertumbuh dalam kualitas kesabaran kita.


5. Kemurahan

Kemurahan adalah keadaan yang membuat kita rela berbagi dengan orang lain, menolong mereka yang butuh ditolong. Istilah lain yang dipakai untuk menyatakan kemurahan adalah kepedulian, ramah, dan tidak membalas kejahatan yang kita terima dengan kejahatan juga. Roh Kudus memampukan kita untuk semakin bertumbuh dalam kemurahan.


6. Kebaikan

Kebaikan merujuk pada keadaan ketika kita ingin membuat orang lain juga merasakan keadaan yang baik. Kita mendapatkan kebaikan dari Tuhan dan ini mendorong kita untuk membagikannya kepada orang-orang lain, sehingga mereka dapat merasakan indahnya hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Dalam Galatia 6:9-10 tertulis, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Di dalam lingkungan jemaat Tuhan, kebaikan itu harus dinyatakan. Akan tetapi di luar itu, justru kebaikan kita akan membuat orang heran, mengapa ada orang yang mau berbuat baik, bahkan kepada orang yang belum tentu dia kenal.

Berbeda dengan cara berpikir orang lain, kebaikan kita adalah karena kita ingin membagikan kebaikan yang sudah kita terima dari Tuhan, bukan karena ingin mendapatkan kebaikan dari Tuhan atau balasan kebaikan dari orang yang sudah kita tolong. Jadi kebaikan kita adalah tanpa pamrih, artinya kebaikan yang dilakukan tanpa memperhitungkan apakah kita akan diuntungkan atau tidak. Kalian bisa melihat bahwa ada banyak rumah sakit, rumah yatim piatu, dan Lembaga Swadaya Masyarakat lainnya yang didirikan karena ingin menolong mereka yang membutuhkan, umumnya yang memang hidup terlantar di jalanan. Dalam lingkungan Kristen, Compassion dan World Vision International (di Indonesia diberikan nama Wahana Visi Indonesia) banyak membantu anak-anak yang terancam putus sekolah karena tidak ada biaya dan kelompok marginal lainnya agar kualitas kehidupan mereka meningkat. Semua tindakan kebaikan ini dilakukan tanpa pamrih, tanpa memperhitungkan apa agama yang ditolong. Namun, mereka yang ditolong merasa sangat berterima kasih dan mereka juga tergerak untuk menolong yang lainnya.


7. Kesetiaan

Kesetiaan merujuk pada pengertian dapat dipercaya, dapat diandalkan, memiliki tekad untuk bertahan walaupun menghadapi kondisi yang sulit. Kita akan membahas kesetiaan ini pada Bab VIII yang membahas Prinsip setia, adil, dan kasih.


8. Kelemahlembutan

Kita belajar banyak dari kelemahlembutan yang diperlihatkan oleh Tuhan Yesus. Di dalam kelemahlembutan ada unsur rendah hati, tidak menganggap diri sendiri penting, tetapi mendahulukan kepentingan orang lain. Salah satu ayat Alkitab yang menjelaskan ini dapat ditemui di Galatia 6:1, “Saudarasaudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.” Orang yang bersalah tidak akan memperbaiki kesalahan karena dimarahi, tetapi karena ia diberi tahu dengan lemah lembut mengapa itu salah. Orang yang memberi tahu pun bukan melakukannya dengan tujuan menunjukkan dirinya lebih baik, tetapi karena ia ingin orang yang salah menjadi benar.


9. Penguasaan Diri 

Penguasaan diri merujuk pada kemampuan menahan diri dari emosi negatif dan dorongan untuk memuaskan diri. Di atas telah disinggung sedikit tentang hedonisme, yaitu merujuk pada tingkah laku yang mengutamakan kepuasan diri. Hal ini merujuk pada kualitas diri sendiri dan bukan pada sifat yang dimiliki Tuhan karena lebih berhubungan dengan kedagingan manusia. Orang yang menguasai diri adalah yang tidak terpancing untuk cepat bereaksi terhadap apa yang didengar atau diterima dari pihak di luar dirinya. 

                Alexander MacLaren (2013), seorang pengkotbah berkebangsaan Inggris, memudahkan kita memahami buah Roh sebagai suatu kesatuan. MacLaren membuat pengelompokan dari sembilan wujud ini. Ketiga pengelompokan ini adalah berdasarkan karakter yang menggambarkan Roh dalam makna yang terdalam, yaitu kasih, sukacita, dan damai sejahtera. Pengelompokan berikutnya, bagaimana ketiga hal ini diwujudkan dalam interaksi kita dengan sesama manusia, yaitu kesabaran, kemurahan, dan kebaikan. Pengelompokan ketiga adalah hal yang kita perlukan untuk menghadapi kesulitan dan mengatasi kepentingan diri sendiri, yaitu kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Secara lebih rinci, penjelasannya adalah sebagai berikut.

Kasih, Sukacita, dan Damai Sejahtera

Ketiga hal ini barulah muncul ketika kita memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan. Walaupun kita hidup sendirian tanpa di dampingi siapa pun, ketiga hal ini tetap kita rasakan tiap saat: bahwa Tuhan mengasihi kita dan kita bersukacita merasakan kasih Tuhan yang bersifat kekal sepanjang masa, tidak dipengaruhi oleh apa pun yang kita alami. Damai sejahtera ada ketika kita selalu kembali kepada Tuhan dan berada di dekat-Nya. Damai sejahtera hadir bukan karena tidak ada masalah, melainkan karena merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Itu sebabnya di mana pun dan kapan pun, kita akan memiliki damai sejahtera ini.

Kesabaran, Kemurahan, Kebaikan 

Kesabaran adalah sikap yang kita miliki saat menghadapi kesulitan, permusuhan, dan hanya timbul karena kita sudah merasakan kasih, sukacita, dan damai sejahtera-Nya. Bahkan, kesabaran dapat dianggap sebagai suatu tes, apakah betul kita memiliki kasih, sukacita dan damai sejahtera. Ke-sabaran terwujud dalam bentuk tidak mudah marah dan tersinggung serta tidak memaki atau mengeluh. Saat ada orang lain yang memusuhi kita, atau memaki kita, kita tidak perlu membalasnya supaya permusuhan dan perdebatan itu tidak menjadi berkepanjangan. Kemurahan dan kebaikan harusnya terwujud saat kita berinteraksi dengan orang lain. Tidak boleh sekali pun kita membalas dendam kepada mereka yang berbuat jahat kepada kita. Wujud yang tampak untuk kemurahan dan kebaikan adalah, apakah betul kita bermurah hati dan menolong sesama yang membutuhkan? Misalnya, apakah kita mau menolong secara finansial mereka yang mengalami kesulitan? Menurut MacLaren (2013), ini adalah suatu kebiasaan yang harus dipupuk. Bila ini kita lakukan, orang lain pun akan dapat merasakan buah dari Roh kita. 

Kesetiaan, Kelemahlembutan, dan Penguasaan diri 

Kesetiaan adalah yang kita lakukan ketika kita diminta menyelesaikan suatu tugas. Kerjakan dengan tulus sampai selesai dengan baik. Kelemahlembutan adalah tunduk pada mereka yang di atas kita. Penguasaan diri adalah hal yang bertentangan dengan kecenderungan manusia untuk memberontak dan memilih untuk membenarkan diri. Tetapi justru menjadi hal penting saat menghadapi konflik, baik dari dalam diri sendiri, maupun yang datang ketika berhadapan dengan hal di luar dirinya. 


                    Kesembilan hal ini memang tidak bisa berdiri sendiri karena saling terkait. Tingkah laku yang kita tunjukkan kepada Tuhan dan kepada sesama adalah suatu kesatuan, sama seperti di dalam Hukum Taurat. Selain ada empat perintah yang dilakukan ketika berhadapan dengan Tuhan, juga ada enam perintah yang dilakukan ketika berhadapan dengan manusia. Hal yang yang sama juga disampaikan oleh Tuhan Yesus di dalam Matius 22 tentang mengasihi Tuhan dengan sepenuhnya dan mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri. Satu hal yang perlu kita perhatikan adalah wujud buah Roh bukanlah sesuatu yang dilakukan dengan paksaan atau kepura-puraan, melainkan sebagai tingkah laku yang secara alamiah mengalir ketika kita dekat dengan Tuhan. 


Kondisi yang Tepat untuk Menghasilkan Buah

            Tuhan Yesus menyatakan, “Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.” (Matius 7:17-8). Jelaslah Yesus berpesan bahwa kita harus menjadi baik supaya dapat menghasilkan buah yang baik yang terlihat oleh orang-orang lain. Kecenderungan manusia untuk berbuat dosa harus diubah dengan cara menerima kuasa kebangkitan Kristus, sehingga kecenderungan itu diganti dengan kecenderungan melakukan yang baik. Jadi, perbuatan baik yang kita lakukan adalah buah Roh yang kita miliki karena kita mau tunduk pada perintah Tuhan Yesus. Ketika kita mengundang kuasa Roh Kudus, secara perlahan kita dimampukan untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Syarat berikutnya yang harus kita penuhi adalah percaya bahwa kita dimampukan untuk menjadi lebih baik. Perhatikan bahwa perubahan menjadi lebih baik bukanlah suatu proses yang terjadi secara kilat atau instan, tetapi perubahan yang terjadi terus-menerus. Akhir dari perubahan ini adalah ketika kita meninggalkan dunia.

            MacLaren (2013) berpesan dua hal. Pertama, kita harus melihat kesatuan dari buah Roh ini, artinya kesembilan hal ini bergerak bersama dan tidak mung-kin saling bertentangan satu dengan yang lainnya. Sebagai contoh, Polan menunjukkan kasih yang sungguh-sungguh, ia tidak akan memakimaki kawannya yang pulang bersama-sama. Karena sejak jatuh minggu lalu dan memiliki luka di lututnya, kawan ini berjalan dengan lambat. Polan tetap sabar menunggu, bahkan menyesuaikan langkahnya dengan langkah kaki kawannya. Kedua, agar kita mengutamakan hubungan dekat dengan Tuhan dengan cara memelihara hubungan itu. Sesibuk apa pun jadwal kita, tidak boleh kita lalaikan saat teduh bersama dengan Tuhan, memuji namaNya, membaca firman-Nya, dan berdoa.


Menumbuhkembangkan Nilai-nilai Kristen di Dalam Keluarga

            Keluarga adalah tempat pertama untuk seorang anak hidup mengenal orang lain di luar dirinya. Bahkan, sering dikatakan bahwa orang tua adalah guru pertama yang dimiliki anak. Orang tualah yang mengajarkan anak bagaimana menyampaikan keinginan dengan cara yang baik. Orang tua juga mengajarkan bagaimana karakter yang seharusnya dimiliki anak. Karena ada standar tentang apa yang baik, apa yang pantas dilakukan, dan apa yang tidak boleh, serta yang harus dihindarkan. Di atas telah dituliskan bahwa sejak dini seorang anak sudah menunjukkan tingkah laku dengan tujuan tertentu. Dengan demikian, keluarga menjadi tempat yang cocok untuk menanamkan nilai-nilai Kristen. 

            Ada sebuah puisi terkenal yang sering dipakai untuk mengingatkan bagaimana seharusnya orang tua mengajarkan anak tentang nilai-nilai. Puisi terkenal ini, ditulis oleh Dorothy Law Nolte, yaitu seorang penulis dan konselor berkebangsaan Amerika Serikat. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, puisi yang berjudul asli Children Learn what They Live ini berbunyi sebagai berikut: 

Bila anak-anak hidup dengan…

dikritik, mereka akan belajar untuk menghakimi

kebencian, mereka akan belajar untuk berkelahi

diejek, mereka akan belajar untuk menjadi pemalu

dipermalukan, mereka akan merasa bersalah

toleransi, mereka akan belajar untuk sabar

pemberian semangat, mereka akan belajar untuk percaya diri

dipuji, mereka akan belajar menghargai

diperlakukan adil, mereka akan belajar tentang keadilan

rasa aman, mereka akan belajar mempercayai

persetujuan, mereka akan menyukai diri mereka sendiri

penerimaan dan persahabatan, mereka akan belajar untuk mencari kasih sayang

di dunia ini 


                Seorang anak tidak akan belajar mengasihi bila ia sendiri tidak pernah menerima kasih sayang terlebih dulu dari orang-orang yang ada di lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga. Jelaslah bahwa peranan keluarga penting dalam mengajarkan nilai-nilai Kristen.

Kini pelajari petunjuk praktis tentang bagaimana menampilkan kesan yang positif bagi orang lain (Donachy, 2014). 

  1. Jadilah diri sendiri, jangan mencoba-coba meniru penampilan atau gaya bicara, gaya rambut, dan gaya-gaya lainnya dari orang lain. Orang-orang lain akan cepat menangkap bahwa ini suatu kepurapuraan.
  2. Tampilkan senyuman. Tidak ada yang menolak untuk mendapatkan senyuman dari orang lain.
  3. Ketika berbicara, tataplah mata lawan bicara kalian. Bukan dengan pandangan merendahkan atau ketakutan, tetapi dengan pandangan yang ramah.
  4. Bila memang kalian akan bertemu seseorang pada waktu yang telah ditentukan, hadirlah beberapa menit sebelumnya. Artinya, kalian menghargai waktu yang dia siapkan untuk bertemu. Kelihatannya ini adalah hal yang sepele, tetapi bila kalian muncul terlambat, orang itu akan menangkap kesan bahwa kalian tidak cukup menghargai dirinya. Tentu kalian tidak ingin menimbulkan kesan negatif padanya, bukan? 
  5. Saat melakukan percakapan, jangan berfokus pada topik menceritakan diri sendiri, kecuali memang kalian berada dalam posisi yang ditanya atau yang diminta bercerita. Percakapan yang berpusat pada diri sendiri menunjukkan bahwa pembicaranya ingin menarik perhatian orang lain pada dirinya. Janganlah mempertahankan tingkah laku seperti ini.

Rangkuman

Kesan pertama yang orang lain tangkap dari kita bisa bersifat positif atau negatif. Sebagai pengikut Kristus, kita terpanggil untuk menghasilkan kesan pertama yang positif. Hal ini hanya mungkin terjadi bila hidup kita adalah hidup yang berada di dekat-Nya. Kualitas kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri yang kita perlihatkan dalam tingkah laku kita seharihari bukan lahir karena paksaan atau ikut-ikutan orang lain, melainkan karena terlebih dulu kita mengalami kasih Tuhan yang luar biasa, yang memampukan kita untuk mengasihi orang lain juga.

 

Sumber :

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X Penulis: Julia Suleeman ISBN 978-602-244-465-7 (jil.1) 

Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya

  BAB XI Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya  Kejadian 1:1-31 I Raja-raja 17-19, 21 II Raja-raja 1-2  Pendidikan Agama Kristen dan Budi ...