Translate

Minggu, 21 September 2025

KEADILAN SEBAGAI DASAR DEMOKRASI DAN HAM (KAJIAN KRITIS TERHADAP SIKAP GEREJA)

Bab VI 

KEADILAN SEBAGAI DASAR DEMOKRASI DAN HAM (KAJIAN KRITIS TERHADAP SIKAP GEREJA)

(Injil Matius 22:37-40, 5:21-24)

Pendidikan AgamaKristen dan Budhi Pekerti Kelas XII

Tujuan Pembelajaran:

  1. Menganalisis kasus pelanggaran terhadap hak asasi manusia serta memberikan penilaian kritis atasnya sebagai remaja Kristen.
  2. Siswa menjelaskan tugas gereja dalam mewujudkan demokrasi dan HAM. Siswa mewawancarai pendeta di gereja masing-masing tentang peran gereja dalam demokrasi dan hak asasi manusia
  3. Menjelaskan kaitan antara keadilan dengan demokrasi dan HAM
  4. Menulis kajian terhadap 1 orang tokoh dunia dan 1 orang tokoh Indonesia yang memperjuangkan demokrasi dan HAM.
  5. Membuat refleksi pribadi berkaitan dengan demokrasi dan HAM
  6. Membuat slogan sebagai tekad untuk menggunakan hak pilihnya secara bertanggungjawab: memilih partai politik dan pemimpin lainnya yang memiliki integritas.


Pengantar

                Pelajaran ini merupakan bagian yang amat penting ketika kita membahas mengenai Demokrasi dan HAM. Judul materi ini bisa menimbulkan salah tafsir karena tertulis kajian kritis terhadap sikap gereja. Masih banyak orang yang anti pati terhadap kritikan yang ditujukan pada gereja seolah-olah gereja adalah lembaga “suci” yang tak mungkin melakukan penyimpangan ataupun kesalahan dalam menjalankan fungsinya. Jangan lupa bahwa gereja berada di dunia dan bergumul bersama dunia, oleh karena itu gereja dapat saja keliru dalam menerapkan aturan maupun tanggung jawab sosial kemasyarakatan. Salah satu tugas penting gereja adalah mendidik umatnya termasuk mendidik dalam hal bersikap sebagai orang kristen, khususnya dalam menjalankan tanggung jawab sebagai warga negara dan warga gereja. Peran orang kristen sebagai warga negara adalah menjalankan tugas dan kewajibannya termasuk dalam bidang demokrasi dan HAM. Dalam menjalankan perannya itu, acuan orang kristen adalah Alkitab yang berisi ajaran iman Kristen.

                Remaja SMA perlu dibekali dengan prinsip-prinsip iman kristen khususnya keadilan menurut Alkitab yang berkaitan dengan demokrasi dan HAM. Bahwa keadilan merupakan dasar penting bagi terwujudnya demokrasi dan HAM. Pelaksanaan demokrasi dan HAM adalah dalam rangka mewujudkan keadilan bagi semua orang tanpa kecuali. Keadilan bagi semua orang Indonesia dari berbagai latar belakang agama, suku, budaya, kelas sosial dan lain-lain. Dengan demikian, mereka merasa terpanggil untuk pro aktif dalam mewujudkan demokrasi dan HAM. 


Makna Keadilan Menurut Alkitab

                Allah adalah pelindung orang miskin, orang asing, janda, dan anak yatim. Hakikat keadilan juga bisa berarti “pembebasan,” “kemenangan,” “pembenaran,” atau “kemakmuran”, keadilan adalah bagian dari tujuan Allah dalam penebusan. Keadilan, kebenaran dan shalom Allah selalu berada bersama-sama. Shalom termasuk “keutuhan,” atau segala sesuatu yang membuat kesejahteraan, keamanan rakyat, dan, khususnya, restorasi hubungan yang telah rusak. Keadilan, oleh karena itu, adalah tentang memperbaiki hubungan yang rusak baik dengan orang lain dan struktur - pengadilan dan hukuman, uang dan ekonomi, tanah dan sumber daya, dan lainnya.

                Dalam Alkitab shalom adalah keadilan yang berkaitan dengan hubungan dan peran sosial. Kita bisa membayangkan bagaimana reformasi sistem peradilan pidana kita dapat didasarkan pada “keadilan restoratif” daripada sekadar retribusi. Hubungan majikan-karyawan bisa dibawa ke ide shalom juga sehingga seharusnya tidak ada eksploitasi dalam hubungan kerja. Dengan demikian, terwujudlah keadilan. 

                Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Allah itu adil. Ayat-ayat berikut ini menunjukkan kebenaran tersebut: Mazmur 145:17: “Tuhan itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. Zefanya 3:5: “Tetapi Tuhan adil di tengah-tengahnya, tidak berbuat kelaliman. Pagi demi pagi Ia member hukum-Nya; itu tidak pernah ketinggalan pada waktu fajar. Tetapi orang lalim tidak kenal malu!”. Dari berbagai pemaparan tersebut di atas, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa adil berarti bertindak dengan benar sesuai dengan standar kebenaran atau ketetapan hukum yang berlaku. Allah itu adil. Artinya, Allah akan selalu berlaku benar sesuai dengan prinsip kebenaran-Nya. Dia tak akan pernah melanggar ketetapan-ketetapan hukum yang telah dibuat-Nya.

                Keadilan Allah dapat kita rasakan dalam berbagai cara, antara lain: 

  • Allah mencintai kebenaran dan menolak kejahatan, Allah mencintai mereka yang taat dan setia pada jalan-Nya.
  • Allah menghukum orang-orang yang tidak hidup dalam jalan-Nya, mereka yang tidak taat pada perintah-Nya. Menghukum tidak berarti Allah adalah Allah penghukum, Ia menghukum karena keadilan-Nya. keadilan Allah dinyatakan dengan menjatuhkan hukuman atas setiap pelanggaran dan dosa. Dia tidak akan membiarkan pelanggaran dan dosa berlalu begitu saja dari hadapan-Nya. Dia akan mengganjarnya dengan hukuman.
  • Allah memberikan tempat bagi mereka yang taat dan setia pada perintah-Nya. Semua yang dilakukan oleh manusia tidak luput dari penilaian Allah. Jika setiap kejahatan memperoleh ganjaran atau hukuman, maka setiap kebaikan dan pekerjaan baik yang kita lakukan dihargai oleh-Nya.

                Demikianlah, keadilan Allah nyata dalam setiap tindakan-Nya. Dia mencintai kebenaran, tetapi membenci kejahatan. Dia mengganjar setiap dosa dengan hukuman, tetapi menghargai setiap kebajikan dengan pahala. Dia bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran yang telah Dia tetapkan. Tak ada kecurangan sama sekali dalam diri-Nya. Keadilan Allah menjadi amat nyata melalui kedatangan Yesus Kristus yang telah menebus dan mempermaikan manusia dengan Allah. Dalam keadilan-Nya, Allah mengirim Yesus Kristus untuk merestorasi hubungan manusia dengan-Nya. Anugerah keselamatan merupakan bukti keadilan Allah bagi umat-Nya. Dasar dari keadilan Allah adalah kasih dan pengampunan begitupun seharusnya dilakukan oleh umat-Nya.


Orang Beriman Terpanggil Untuk Mewujudkan Keadilan dan Kebenaran

                Ketika Allah bertanya kepada Salomo apakah yang ia minta dari-Nya, maka Salomo meminta hikmat sebagai hadiah dari Allah. Sebagai seorang raja, Salomo sadar bahwa hikmat dibutuhkan bukan hanya sebagai bekal untuk memimpin rakyatnya, namun terutama supaya ia dapat membuat keputusan yang adil dan benar. Tidak mudah bagi manusia untuk memiliki kemampuan bertindak benar dan adil jika Tuhan tidak memberikan hikmat-Nya. Allah memenuhi permintaannya, hikmat Allah pun dianugrahkan bagi Salomo, memiliki hikmat dari Allah membuat Salomo mampu mengambil keputusan adil dan benar. Hal itu terbukti ketika orang membawa kepadanya dua orang perempuan yang memperebutkan bayi, Salomo mampu mengambil keputusan yang adil benar, dengan hikmat yang berasal dari Tuhan, ia tahu manakah diantara dua orang perempuan itu yang merupakan ibu dari bayi yang sedang diperebutkan.

Keadilan, Demokrasi dan HAM

                Beberapa prinsip mendasar yang dapat menghubungkan keadilan, demokrasi dan HAM adalah sebagai berikut:

  • Pengakuan terhadap kesetaraan, bahwa semua orang sama harkat dan martabatnya. Kesetaraan akan mendorong lahirnya kerjasama yang erat antar warga masyarakat dan mempunyai itikad baik secara fungsional dan profesional. Prinsip inilah yang membedakan demokrasi dengan sistemsistem yang lain. Sekaligus kesetaraan ini, semua orang sama di hadapan hukumn, semua orang berhak memperoleh apa yang menjadi haknya.
  • Kemerdekaan dan kebebasan (freedom). Prinsip inilah yang seringkali menjadi momok bagi demokrasi sendiri. Banyak orang cenderung menyalahgunakan kekuasaan sebagai alat untuk menindas sesama serta merampas kemerdekaan dan hak-hak asasinya. Berbeda dengan Salomo yang dipimpin oleh hikmat Allah sehingga ia memimpin dengan adil dan bijaksana.
  • Ketiga, prinsip kesadaran terhadap adanya kemajemukan dalam masyarakat. Penghargaan terhadap keberagaman menjadi penopang bagi terwujudnya keadilan, demokrasi dan HAM. Pada masa kini pergerakan manusia dari berbagai belahan dunia amat tinggi sehingga dalam satu negara hidup berbagai bangsa, suku bangsa, budaya maupun agama. Keberagaman ini dapat melahirkan konflik, namun potensi konflik dan perpecahan dapat diminimalisir oleh adanya kesadaran terhadap keberagaman manusia. Sekaligus memupuk penghargaan terhadap sesame manusia sebagai makluk mulia ciptaan Allah.
  • Prinsip kebebasan menyatakan pendapat dan penegakan HAM. Jadi, keadilan akan menopang kebebasan tiap orang untuk memilih pemimpin yang baik dan benar serta mengemukakan pendapat demi kesejahteraan bersama.
  • Integritas. Kesesuaian antara kata dengan perbuatan, antara cara dengan pencapaian pencapaian . Cara yang benar jujur dan adil akan menghasilkan buah yang baik. Tujuan yang baik tentu ditempuh dengan cara-cara yang baik dan rasional. Implikasinya adalah politik yang mengandalkan moral dan hati nurani.
  • Demokrasi dan HAM akan menjamin pemenuhan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.


Memandang HAM sebagai Tanggung Jawab Bersama : Warga Negara dan Warga Gereja

                Indonesia memiliki lembaran-lembaran hitam dalam sejarah berkaitan dengan demokrasi dan HAM. Ada berbagai peristiwa konflik dan kekerasan dimana peristiwa-peristiwa itu Peristiwa itu telah menorehkan lembaran hitam dalam perjalanan HAM di Indonesia. Ada banyak kasus pelanggaran HAM yang sampai dengan saat ini belum terungkap siapa yang menjadi otak pelanggaran berat hak-hak asasi manusia, khususnya peristiwa pada bulan Mei-Juni 1998 yang diadili dan dijatuhi hukuman barulah prajurit-prajurit pelaksana di lapangan. Karena itu vonis yang diberikan pun hanya sebatas pemecatan dan hukuman penjara untuk para pelaku penembakan di Universitas Trisakti dan Semanggi. Sementara itu, siapa para pelaku pemerkosaan, penyiksaan, dan pembunuhan atas sekian ribu korban lainnya mungkin akan tetap gelap dan tidak terungkapkan. Berbagai peristiwa pelanggaran HAM yang diungkapkan dalam bahan pelajaran ini tidak bertujuan mendiskreditkan pihak mana pun. Dengan membuka peristiwa ini, generasi muda dapat belajar dari kesalahan yang pernah dilakukan oleh generasi terdahulu dan termotivasi untuk mewujudkan demokrasi dan HAM dalam kehidupannya. Hal ini perlu ditegaskan karena meskipun Indonesia telah bertumbuh menjadi Negara demokrasi namun masih ada pihak tertentu yang tidak ingin berbagai peristiwa pelanggan HAM dibuka dan dipercakapkan secara terbuka. Seolah-olah percakapan terbuka akan memprovokasi rakyat untuk memandang pemerintah secara negative. Padahal dengan membuka kasus-kasus pelanggaran HAM akan memberikan pembelajaran kepada generasi muda untuk tidak mengulang hal yang sama sekaligus sebagai bentuk peringatan dan solidaritas kita bagi para korban pelanggaran HAM.


Sikap Gereja Terhadap Demokrasi dan HAM

                Dengan bekal pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, orang Kristen harus bertanya, bagaimana cara memperlakukan orang-orang yang berada di sekitarnya. Begitu pula hubungan yang ada ada dalam organisasi gerejawi? Dalam hubungan gereja dan orang Kristen dengan sesamanya yang berbeda keyakinan, apakah telah terbangun hubungan yang saling memanusiakan? Apakah gereja dan orang Kristen cenderung memperjuangkan hak-haknya semata dan tidak peduli ketika orang yang beragama lain kehilangan hakhaknya? 

            Pada skala nasional ada banyak masalah yang membelit para tenaga kerja Indonesia di luar negeri menyangkut hak asasi mereka. Ada yang meninggal disiksa majikan, ada yang diperlakukan tidak manusiawi dll. Ada juga pelecehan seksual yang dilakukan oleh pejabat gereja.

            Apa yang harus dilakukan?

                Selama masa Orde Baru bangsa kita dibiarkan menjadi bodoh, tidak bertanyatanya apakah hak asasi manusia itu, dan mengapa kita tidak memilikinya. Bangsa kita hanya diajarkan bahwa hak asasi manusia adalah konsep barat yang tidak cocok dengan bangsa Indonesia. Karena itu kepada kita hanya diingatkan akan kewajiban-kewajiban kita, bukan hak-hak kita. 

                Berkaitan dengan penegakan HAM serta tugas panggilan gereja, kitapun bertanya apakah gereja sudah melakukan tugas-tugasnya seperti yang telah dibahas di atas? Tampaknya ada beberapa pola partisipasi gereja dalam perjuangan demi keadilan dan kebenaran. Misalnya:

  1. Gereja paham bahwa ia mempunyai tugas dan panggilan yang utama dalam mendidik warga gereja dan memberikan kesaksian melalui keberpihakan pada mereka yang diperlakukan secara tidak adil. 
  2. Gereja melakukan pelayanan rohani saja karena untuk pelayanan sosial bukankah sudah ada Kementerian Sosial dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat? Penyebab utama dari pemikiran ini adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan yang jasmani, dengan tubuh manusia dan bukan jiwanya, dianggap remeh, rendah, dan duniawi.
  3. Gereja paham akan panggilannya untuk membela orang miskin dan tertindas, tapi khawatir karena jumlah orang Kristen sangat sedikit. Bagaimana kalau nanti gereja dan orang Kristen ditindas?
  4. Gereja terjebak pada praktik-praktik politik praktis. Ketika gereja aktif dalam kegiatan membela rakyat miskin, sehingga gereja malah aktif mendukung partai politik tertentu, berkampanye untuk calon-calon tertentu. Keadaan seperti ini bisa berbahaya bagi gereja. Gereja bisa menutup mata ketika pihak yang didukungnya melakukan hal-hal yang negatif, seperti korupsi, membohongi rakyat dengan janji-janji kosong, atau bahkan merampas hak-hak rakyat baik secara halus maupun terangterangan. 

                Di kalangan gereja-gereja di dunia ada tokoh-tokoh yang tampil dan memperjuangkan HAM. Misalnya, Pdt. Dr. Martin Luther King, Jr. dari Amerika Serikat, Nelson Mandela dan Uskup Desmond Tutu dari Afrika Selatan, Kim Dae Jung dari Korea Selatan yang pernah menjabat presiden negara itu. Dari Indonesia ada Dr. Yap Thiam Hien, Pdt. Rinaldy Damanik dari Poso, Sulawesi Tengah, Ibu Yosepha Alomang atau Mama Yosepha, dari Papua, Ibu Ade Rostina Sitompul dari Jakarta, Pdt. Solagratia Lummy, Dr. Mokhtar Pakpahan yang memperjuangkan hak-hak buruh/pekerja di Indonesia.

Pejuang Demokrasi dan HAM 

Foto Nelson Mande

Marthin Luther King Junior

Yap Thiem Hien

Dr. Muchtar Pakpahan


Ade Rostina Sitompul


Refleksi

                Gereja ada di dunia untuk memberitakan keadilan dan kebenaran, dalam pemberitaannya, gereja berpihak pada mereka yang tertindas. Mereka yang dimarginalkan. Gereja bukanlah gedungnya ataupun organisasinya, tetapi peran gereja dalam menegakkan keadilan dan kebenaran nyata melalui orangorang yang ada didalamnya. Artinya semua orang beriman terpanggil untuk ,mewujudkan keadilan dan kebenaran.Setiap anggota gereja, termasuk kalian sebagai remaja Kristen, harus ikut serta di dalam tugas ini. Kita semua perlu berjuang dalam pembebasan banyak orang Indonesia dari keterkungkungan dan belenggu oleh berbagai hal: kemiskinan, konsep tentang kedudukan lakilaki dan perempuan yang keliru, pemahaman yang keliru tentang seks dan seksualitas, konsep tentang kebebasan beragama dan berkeyakinan, dll. 


Sumber: 

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XII Penulis: Janse Belandina Non-Serrano ISBN: 978-602-244-702-3 (jil.3)

Tidak ada komentar:

Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya

  BAB XI Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya  Kejadian 1:1-31 I Raja-raja 17-19, 21 II Raja-raja 1-2  Pendidikan Agama Kristen dan Budi ...