Translate

Selasa, 21 April 2026

Berperan Aktif Mencegah Perusakan Alam

BAB XII Berperan Aktif Mencegah Perusakan Alam

Kejadian 2:15 Imamat 25:2-7

Tujuan Pembelajaran :

  1. Memahami pesan Alkitab untuk memelihara alam ciptaan Tuhan
  2. Mengkaji bentuk-bentuk pemeliharaan alam Indonesia yang sudah berjalan selama ini
  3. Berperan aktif dalam memelihara alam Indonesia 


Perhatikan ungkapan berikut: 

“We do not inherit the Earth from our ancestors; we borrow it from our children.” ~ Native American Proverb 

Kalau diterjemahkan secara bebas, kalimat di atas menjadi seperti ini, 

“Kita tidak mewarisi Bumi dari nenek moyang kita; kita meminjamnya dari anak-anak kita (pepatah dari Indian Amerika). 


Mari Kita Lihat Kondisi Alam Indonesia

        Dengan letak geografisnya yang unik. Indonesia menjadi negara dengan banyak keistimewaan dari sudut flora dan fauna. Untuk flora, ada tumbuhan kopi, cokelat, sampai pada aneka jenis pisang, mangga, juga anggrek yang hanya ditemukan di wilayah Indonesia. Untuk fauna, ada sejumlah satwa yang juga hanya dapat ditemukan di wilayah Indonesia, mulai dari komodo yang tergolong berukuran besar, buaya, sampai pada jenis serangga yang eksotis. Perhatikan beberapa gambar di bawah ini yang menunjukkan rupa dari para satwa itu.

        Sayangnya, wilayah Indonesia juga tiada hentinya ditimpa bencana karena banyaknya jumlah gunung berapi dan posisi pulau serta kepulauan Indonesia yang terletak di antara tiga lempengan bumi, yaitu Indo-Australia dari selatan, Eurasia dari utara, dan Pasifik dari timur. Akibatnya, banyak terjadi erupsi gunung berapi, gempa bumi, tsunami, dan tanah longsor.

        Gunung Merapi yang terletak di Jawa Tengah termasuk salah satu gunung yang sering meletus dan mengganggu kehidupan penduduk di kaki gunung dan sekitarnya dalam radius 15 km. Selain gunung Merapi, gunung Sinabung di Sumatera Utara dan Gunung Lokon di Sulawesi Utara juga sering meletus sejak tahun 2010 dan 2011 yang lalu. Dari berbagai sumber, mungkin kalian juga tahu gunung-gunung berapi lainnya yang sering meletus.  

        Namun, letusan yang dianggap paling dahsyat adalah dari Gunung Krakatau yang terletak di Selat Sunda, yaitu antara Pulau Sumatera bagian selatan dan Pulau Jawa wilayah Barat yang terjadi pada tahun 1883. Mengapa dikatakan dahsyat? Karena dentuman letusan itu terdengar sampai ke Benua Australia yang berjarak ratusan kilometer jauhnya dan getaran karena bergoncangnya bumi (yang biasa kita sebut gempa bumi) terasa sampai ribuan kilometer jauhnya.

        Tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 dianggap berdampak paling besar bagi masyarakat di Sumatera Utara, khususnya Banda Aceh dan sekitarnya. Tsunami ini melanda juga Srilanka dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya, namun jumlah korban jiwa di Indonesia termasuk yang paling besar, yaitu lebih dari 100.000 orang.

        Pada umumnya, bencana seperti ini memang terjadi di luar kontrol manusia. Ini sungguh-sungguh menunjukkan bahwa ada yang mengatur dinamika perubahan alam semesta. Sebagai manusia, yang kita dapat lakukan adalah menghindar bila memang ada bencana yang akan menimpa kita. Badan Meteorologi dan Geofisika mengeluarkan peringatan apabila memang akan terjadi bencana tsunami dan letusan gunung berapi. Mereka yang tinggal di radius tertentu dari bencana yang akan muncul diimbau untuk pindah ke tempat yang lebih aman.

        Untuk wilayah negara Indonesia, bencana alam akibat ulah manusia cukup sering terjadi. Contoh paling nyata adalah banjir yang terjadi sejak puluhan tahun lamanya di berbagai tempat. Penyebabnya jelas, karena mendangkalnya sungai akibat bertumpuknya sampah. Cukup banyak penduduk di bantaran sungai yang menjadikan sungai sebagai tempat akhir pembuangan sampah. Pada tanggal 10 November 2020, Walikota Bogor, Bima Arya, mengarungi Sungai Ciliwung dari Kota Bogor sampai ke Jakarta di pintu air Manggarai dan menemukan puluhan lokasi pembuangan sampah secara liar di sepanjang sungai itu (metro.tempo.co, 2020).

        Selain banjir, bencana alam lainnya karena ulah manusia adalah kebakaran hutan yang tersulut oleh api. Memang betul bahwa kebakaran hutan disebabkan juga oleh kemarau panjang yang membuat tanaman menjadi sangat kering dan mudah terbakar bila terkena percikan api. Api itu bisa terjadi karena ada percikan batubara. Namun, yang juga sering terjadi adalah api yang berasal dari pembakaran hutan yang dilakukan secara sengaja karena lahan mau dimanfaatkan untuk fungsi pertanian, perkebunan, pemukiman, ataupun fungsi lainnya.

        Indonesia terkenal sebagai negara yang memproduksi minyak dari kelapa sawit. Ada periode ketika perkebunan kelapa sawit tiba-tiba dibuka dengan mengubah hutan menjadi lahan kelapa sawit. Beberapa kali negara Indonesia mendapat teguran dari negara-negara Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam karena asap dari kebakaran hutan di wilayah Indonesia yang berlangsung berminggu-minggu sampai berbulan-bulan lamanya sungguh mengganggu penerbangan dan kehidupan masyarakat yang terkena. Sejak tahun 2015, telah terjadi kebakaran hutan yang menghanguskan lebih dari 2 juta hektar hutan dan lahan (tirto.id). Dari catatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sepanjang tahun 2020 hingga bulan September, kebakaran serupa terjadi di 32 provinsi mencakup luas 120 ribu hektar. Apakah hal ini dapat dibiarkan saja karena kita cenderung menyalahkan cuaca dan iklim panas dan kering? Tentunya tidak!


Dasar Teologis untuk Memelihara Lingkungan

        Kejadian 2:15 berisi perintah Tuhan Allah kepada manusia. Ada dua perintah utama yang diberikan-Nya di sini, yaitu mengusahakan dan memelihara Taman Eden. Perintah ini merupakan kelanjutan dari apa yang ditugaskan kepada manusia dalam Kejadian 1:28. Di situ dikatakan, “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu.” Sebagaimana yang sudah dibahas dalam Bab XI, kata “taklukkanlah” di sini seringkali menimbulkan salah pemahaman. Kalau kita perhatikan edisi terjemahan Alkitab Yang Terbuka (AYT) terbitan 2014, kita menemukan penjelasan yang lebih ramah, yaitu “Beranakcuculah dan berlipatgandalah, dan penuhilah bumi, dan kuasailah itu.” Perintah “taklukkanlah” cenderung bernada negatif, sementara kata “kuasailah” lebih netral.

        Dalam tafsirannya, Keil dan Delitzsch (2020) mengatakan, “...manusia ditempatkan di Taman Eden untuk menghiasinya dan menjaganya.” Kata ditempatkan dalam kalimat tersebut bermakna bahwa manusia dipanggil untuk melakukan tugasnya yang khusus. Ini sangat berbeda dengan masalah dan kegelisahan karena kerja keras yang kelak harus dilakukan setelah manusia jatuh ke dalam dosa 

        Di surga, kata Keil dan Delitzsch, manusia bertugas mendandani (colere) taman. Perlu kita ketahui bahwa kata colere di sini adalah akar dari kata culture yang kita kenal sekarang sebagai upaya pembudidayaan. Ini misalnya dapat kita lihat dalam upaya manusia membudidayakan berbagai varietas tanaman yang akan merosot dan tumbuh liar karena tidak dibudidayakan. Oleh karena itu, menanam dan melestarikan (רמשׁ”menjaga”) kebun ilahi, bukan hanya untuk menghindari perusakannya oleh kekuatan jahat apa pun, melainkan juga mencegahnya menjadi liar melalui kemerosotan alam. Karena alam diciptakan untuk manusia, panggilannya tidak hanya untuk memuliakannya dengan pekerjaannya, membuatnya tunduk kepada dirinya sendiri, tetapi juga mengangkatnya ke dalam lingkup roh dan memuliakannya lebih jauh.

        Dari penjelasan di atas nyata bahwa tugas manusia di dunia sungguh penting dan mulia. Tugas kita bukanlah mengolah taman yang diberikan Allah dengan sewenang-wenang, melainkan menjaganya dengan penuh tanggung jawab. Kita tidak bisa sembarangan menebangi hutan untuk mengambil dan menjual kayunya tanpa upaya untuk melestarikannya kembali. Dengan demikian, hutan tetap bisa menjadi sumber kehidupan bagi manusia dan berbagai hewan yang hidup di dalamnya.

        Begitu pula dengan laut dan segala isinya. Sayangnya, banyak orang yang mengabaikannya. Upaya pelestarian lobster dengan memelihara dan membesarkannya diabaikan dengan cara menjual bibitnya ke negara lain. Keuntungan yang dinikmati segera oleh segelintir orang akan menyebabkan Indonesia kehabisan lobster dan kelak kita tidak akan mampu lagi menikmatinya.

        Imamat 25 memuat hukum-hukum Israel yang berkaitan dengan pemeliharaan alam dan keadilan bagi semua. Masyarakat Israel memiliki aturan Sabat. Pada setiap hari Sabat, mereka dilarang melakukan kegiatan apa pun karena Allah ingin memberikan kesempatan untuk beristirahat bagi semua. Mari kita lihat bagaimana pemahaman tentang hukum Sabat itu berkembang terus. Kita lihat perbandingannya dalam Keluaran 20:8-11, Ulangan 5:12-15, dan Imamat 25:2-7. Dari ketiga perikop ini, kita bisa melihat bagaimana aturan itu diterapkan (Schafer, 2013). 

        Dalam Keluaran dikatakan bahwa pada hari Sabat binatang-binatang pun harus diberikan istirahat, seperti juga manusia. Sabat diberikan karena Tuhan juga beristirahat pada hari ketujuh.

        Dalam Ulangan, kesempatan istirahat itu diperluas kepada semua pekerja, buruh, dan hamba, serta semua binatang peliharaan harus diberikan istirahat. Sabat diberikan sebagai pembebasan bagi semua yang harus bekerja karena dasarnya adalah keadilan. Tuhan membebaskan bangsa Israel dari perhambaan di Mesir. Kini mereka pun diingatkan untuk tidak menindas orang lain maupun binatang-binatang peliharaan yang biasanya digunakan untuk membantu kerja mereka.

        Dalam Imamat, ada juga aturan hukum Sabat, yaitu tahun ketujuh, yang berlaku untuk tanah garapan bangsa Israel dan untuk binatang-binatang liar juga. Tanah yang tidak digarap harus dibiarkan tidak dituai. Hasil tanaman di tanah garapan itulah yang akan menjadi sumber makanan bangsa itu selama satu tahun Sabat itu. Demikian pula para budak, orang upahan, orang asing, binatang ternak dan liar, semuanya diizinkan untuk memakan semua hasil tanah itu.

        Pemahaman tentang Sabat ini semakin diperluas di dalam Imamat 25. Di dalam bagian kitab itu dikatakan bahwa pada Tahun Yobel, yaitu pada tahun ketujuh dari tahun Sabat, artinya 7 x tahun Sabat (tahun ke-49 atau tahun ke-50), seluruh tanah harus diistirahatkan. Kemudian, masyarakat Israel akan menjalankan pembagian ulang tanah garapan dan perumahan mereka. Orang-orang yang selama ini miskin karena terpaksa menjual atau menggadaikan tanah mereka karena berbagai alasan, kini akan mendapatkan tanah kembali. Mereka yang sudah menjadi terlalu kaya karena terus-menerus berhasil membeli tanah berkali-kali, kini akan menjadi sama dengan rekanrekan sebangsanya. Tanah milik mereka akan dijadikan sama luasnya dengan para buruh tani dan hamba yang sebelumnya tidak punya tanah.

        Mengapa aturan Sabat ini penting? Aturan ini penting karena ternya-ta alam juga membutuhkan waktu istirahat untuk memulihkan kembali kondisinya. Apabila tanah terus-menerus ditanami dan digarap, tanpa istirahat, tanah itu pun akan kehabisan zat haranya yang sangat dibutuhkan untuk menjadi sumber makanan bagi tanaman-tanaman yang tumbuh di situ. Kehabisan zat hara akan membuat tanah berubah menjadi padang gurun.

        Dalam tradisi beberapa suku di Indonesia pun kita menemukan tradisi yang sama. Di kalangan suku Dayak di Kalimantan, ada kebiasaan untuk berladang berpindah-pindah. Mengapa praktik ini dilakukan? Alasannya jelas. Setelah tanah digarap beberapa tahun, kesuburannya akan semakin berkurang. Yang terbaik yang harus mereka lakukan adalah pindah ke tanah yang lain dan meninggalkan tanah yang lama untuk beristirahat. Setelah beberapa tahun kemudian, mereka bisa kembali ke tanah itu dan kini kondisinya akan menjadi lebih subur daripada sebelumnya. 

        Di Maluku ada tradisi “sasi” (jelajah.kompas.id, 2019), yaitu masa-masa larangan untuk masyarakat di sana untuk menangkap binatang-binatang tertentu. Ada sasi ikan lompa, sasi penyu, dan sasi burung gosong (Eulipoa wallacei), yang berstatus vulnerable (terancam). Semua ini adalah bagian dari kearifan lokal yang berkembang untuk memelihara dan melestarikan bagian-bagian dari alam yang terancam kelanjutannya.


Tanggung Jawab Manusia untuk Memelihara Alam

        Akan sangat mudah bila kita memilih untuk tidak peduli dengan bersikap bahwa bencana alam yang terjadi menunjukkan kuasa Allah terhadap alam semesta. Namun, ada jenis bencana yang sebetulnya disebabkan oleh ulah manusia. Artinya, justru manusia yang berperan penting dalam timbulnya bencana yang menyebabkan kerugian jiwa dan berbagai material lainnya. Contoh-contoh di bawah ini menunjukkan betapa dahsyatnya bencana karena ulah manusia. 

        Tragedi Minamata ini berupa pencemaran merkuri (Hg) atau air raksa di Kota Minamata, Jepang. Sebuah perusahaan batu baterei, Chisso, membuang limbah kimia ke Teluk Minamata selama bertahun-tahun (tahuan 1932—1949 saat mulai ditemukan korban) dalam jumlah yang sangat besar (200—600 ton). Penduduk Jepang sangat gemar memakan ikan, bisa sampai 410 gram per hari. Tanpa curiga, mereka memakan ikan yang sebetulnya sudah tercemar limbah merkuri tersebut. Akibatnya, ratusan orang meninggal. Memang betul pabrik sudah ditutup, tetapi penderita cacat fisik dalam bentuk kelumpuhan syaraf masih ditemukan pada tahun 1958. Bertahun-tahun setelah pabrik ditutup pencemaran merkuri pun berhenti.

        Ternyata, kejadian serupa — limbah merkuri yang merusak lingkungan — dengan penyebab yang lain juga ditemukan di Indonesia. Penyebabnya antara lain, penambangan emas secara liar dengan menggunakan merkuri yang limbahnya dialirkan ke sungai atau dibuang ke tanah di sekitar lubang galian. Suatu penelitian menemukan bahwa kadar merkuri yang ditemukan di wilayah Ambon berpuluh kali lipat lebih tinggi dari kadar merkuri yang ditemukan di Teluk Minamata. Dari catatan Kementerian Lingkungan Hidup pada tahun 2017, ada 850 titik penambangan emas skala kecil yang tersebar di 197 kabupaten/kota di 32 provinsi di Indonesia, melibatkan sekitar 250 ribu penambang. “Dampak pengolahan emas menggunakan merkuri merugikan baik dari segi lingkungan, kesehatan, ekonomi, dan sosial,” kata Karliansyah di Jakarta (bisnis.tempo.co, 2017).

        Untuk mengatasi hal ini, masyarakat perlu mendapatkan edukasi yang bertujuan menyadarkan mereka akan bahaya yang sedang menunggu, baik bahaya untuk kerusakan alam maupun yang membahayakan manusia. Kegiatan edukatif seperti ini pernah dan masih dilakukan untuk kelompok nelayan dan pembudidaya ikan skala kecil yang masih melakukan dengan cara yang tradisional. Pembekalan seperti ini akan meningkatkan pemahaman mereka untuk memahami informasi yang disampaikan oleh BMKG tentang prakiraan cuaca. Selain itu juga, akan meningkatkan keterampilan mengelola budidaya perikanan sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomi dari produk yang dihasilkan. Program Pengelolaan Akses Area Perikanan (PAAP) adalah salah satu contoh program edukasi yang dilalukan sebagai bentuk kerja sama Pemerintah Indonesia dengan Rare Indonesia, salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang fokus pada isu konservasi alam.

        Pada bulan Juni 2020, Indonesia juga menegaskan komitmennya untuk menjaga wilayah laut sesuai dengan sistem ekonomi kelautan berkelanjutan (sustainable ocean economy) (mongabay, 2020). Sebagai negara kepulauan, laut menjadi bernilai penting untuk Indonesia. Secara global, lautan dunia memegang peranan penting karena menyumbang lebih dari 2,5 triliun USD per tahun dalam bentuk memberi makan dan mata pencaharian bagi lebih dari tiga miliar orang, serta mengangkut sekitar 90 persen perdagangan dunia. Lautan juga dianggap sebagai sumber energi terbarukan dan bahanbahan utama untuk memerangi penyakit. 

        Ada beberapa tragedi lain yang terjadi, misalnya tragedi Nuklir Chernobyl yang diperkirakan memakan korban sekitar 4000-an orang meninggal. Dampak dari radiasi masih ditemukan sampai saat ini walaupun tragedi itu terjadi pada tahun 1986. Kalian dapat mencari dari sumber-sumber lain tentang tragedi apa saja yang terjadi karena ulah manusia.

        Studi yang dilakukan oleh Gkargkavouzi, Halkos, dan Matsiori (2019) menemukan bahwa perilaku terkait dengan kepedulian dan pemeliharaan kelestarian alam didasari antara lain oleh sikap egois atau altruistik seseorang. Altruistik adalah sifat yang mendahulukan kepentingan orang lain, rela berbuat sesuatu yang mendatangkan kebaikan kepada orang lain (KBBI, 2013).

        Orang yang egois hanya berpikir dari sudut kepentingannya sendiri. Ia ingin hidupnya nyaman tanpa mempedulikan bagaimana kehidupan orangorang lain yang mengalami dampak dari tingkah lakunya. Yang termasuk dalam kategori orang-orang seperti ini adalah orang yang membuang sampah sembarangan, orang yang membakar hutan untuk membangun perumahan, dan sebagainya.

        Sebaliknya, orang yang altruistik berpikir tentang apakah tingkah lakunya memberikan dampak negatif kepada orang lain dan lingkungan. Orang yang altruistik ternyata memiliki rasa bersatu dengan alam. Mereka tidak rela bila melihat alam dan lingkungan menderita, bahkan hancur akibat kelakuan tidak bertanggung jawab dari orang-orang yang mementingkan diri sendiri. Penggolongan ini tampak terlalu menyederhanakan, tetapi cukup memberikan gambaran kepada kita tentang prinsip hidup yang ternyata berperan erat dalam pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari.


Refleksi

Menurut kalian, mengapa ada orang yang memilih untuk memikirkan kepentingannya sendiri dan tidak peduli kepada kepentingan orang banyak?

        Upaya untuk menyelamatkan bumi dan isinya tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah. Mengapa? Justru rakyat banyak yang tidak tahu bahwa tindakan mereka secara tidak sengaja malah merusak lingkungan. Ada satu gerakan yang patut diteladani oleh banyak pemerhati lingkungan. Hanafi Guciano, fasilitator nasional Interfaith Rainforest Initiatives Indonesia menyatakan bahwa kearifan masyarakat adat menjadi kunci untuk menyelamatkan hutan. Ternyata, wilayah-wilayah di mana hutan tropis masih dikuasai masyarakat adat, hampir 80% keragaman hayatinya masih terjaga. (mongabay, September 2020). Sayangnya, kepentingan pengusaha justru sering diutamakan dengan mengorbankan kepentingan kelestarian hutan.

        Salah satu tokoh masyarakat yang dianggap berperan banyak adalah Eliza Kissya, Kepala Kewang Haruku di Maluku Tengah, Kecamatan Pulau Haruku, Maluku. Eliza Kissya mengajak masyarakat setempat untuk menanam bakau di sepanjang pantai. Ia juga membantu proses penetasan telur dan penangkaran maleo, menyelamatkan penyu, dan merawat terumbu karang.

         Ajakan memelihara kelestarian alam ini ditindaklanjuti oleh Gereja Kristen Indonesia Jayapura yang mengajak jemaat terutama yang tinggal di Lereng Cyclop untuk menjaga wilayah ini. Lereng Cyclop merupakan wilayah Pegunungan Cagar Alam Cyclop, tempat beradanya Danau Sentani, danau terluas di tanah Papua. Di danau seluas 9.360 hektar ini, ada sekitar 21 pulau. Ternyata, nama “Sentani” diberikan oleh pendeta Kristen, yaitu BL Bin, yang menjadi misionaris di wilayah ini pada tahun 1898. Kata “Sentani” berarti “di sini kami tinggal dengan damai”. Apakah kalian setuju ada rasa damai yang muncul ketika melihat foto-foto di bawah ini?

        Namun, apa yang kalian rasakan ketika mendengar tentang bencana yang timbul karena ulah manusia? Misalnya saja, tentang penggundulan hutan di Papua, Kalimantan, dan Sumatera, banjir bandang, abrasi pantai, menumpuknya sampah plastik yang justru merusak keindahan alam. Silakan kalian mencari foto-foto yang menunjukkan kondisi hutan yang gundul, abrasi pantai, sampah plastik yang bertebaran di mana-mana, banjir, dan lain-lain yang terjadi karena ulah manusia.

Sedikitnya ada tiga sikap yang muncul sebagai berikut:

  1. Membiarkan saja, karena tidak mungkin melakukan sesuatu untuk mencegah ini terjadi. Lagi pula, hal tersebut sudah terjadi untuk waktu yang lama. Yang penting adalah saya tidak melakukan hal-hal merusak seperti itu. 
  2. Prihatin, sampai berapa lama hal tersebut dapat dibiarkan terjadi terus karena semakin lama, bumi dan segala isinya menjadi semakin tercemar dan rusak. Namun, di sisi lain, juga merasa tidak berdaya karena tidak mungkin melakukan upaya pencegahan mengingat terbatasnya kapasitas untuk melakukan perubahan. 
  3. Bertindak aktif untuk mencegah kerusakan bumi semakin parah. Tindakan ini didasari oleh kesadaran untuk hidup sebagai manusia yang bertanggung jawab terhadap alam pemberian Tuhan. Tanpa menunggu apa tindakan yang akan dilakukan oleh orang lain, tindakan aktif bahkan proaktif adalah membuat tindakan langsung, baik sendiri maupun bersama-sama dengan teman-teman yang juga memiliki kepedulian serupa, untuk membuat tindakan melindungi dan memelihara alam.

        Contoh-contoh keterlibatan yang dapat dilakukan oleh remaja seusia kalian adalah ACT (Aksi Cepat Tanggap) di Yogyakarta yang bertujuan melakukan upaya pemulihan bagi mereka yang terkena bencana. Contoh lainnya adalah di Sulawesi Selatan. Di sana ada Lembaga swadaya masyarakat untuk memberi kesempatan remaja berkarya memelihara lingkungan, yaitu Makassar Berkebun, Mangrove Action Project — Indonesia. Usaha-usaha seperti itu menunjukkan bahwa remaja seusia kalian pun dapat terlibat aktif memelihara kelestarian lingkungan sebagai wujud tanggung jawab kepada Tuhan Sang Pencipta.

        Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) memilih untuk berperan aktif menyiapkan kader jemaat gereja yang mencintai alam. Contohnya, PGI bekerja sama dengan Badan Restorasi Gambut (BRG) mengadakan program Green School Gereja Sahabat Alam 2020 yang berisi pembekalan pendeta di wilayah kerja restorasi gambut untuk menyebarluaskan pesan spiritual perlindungan alam kepada jemaat. Penekanan pada aspek moral spiritual ini menjadi penting karena manusia perlu bertobat setelah menyadari adanya perusakan alam oleh tangan mereka sendiri.

        Apakah di gereja atau di wilayah kalian juga ada program seperti Gereja Sahabat Alam ini? Secara sederhana dapat dikatakan bahwa bencana alam karena ulah manusia tidak perlu terjadi apabila manusia hati-hati dalam menjaga lingkungan. Apakah kalian bisa diharapkan untuk berperan aktif sebagai duta untuk memelihara dan melestarikan lingkungan dan alam?

        Sebetulnya, di setiap budaya dan wilayah, dapat kita temukan usaha masyarakat memelihara kelestarian alam. Misalnya, warga di Kampung Kalaodi, kota Tidore, Maluku Utara, memiliki ritual Paca Goya dan Bobeto (mongabay.co.id, 2016). Paca Goya adalah kegiatan membersihkan daerah yang dianggap keramat, berlangsung selama 3 hari penuh, tanpa diselingi aktivitas lainnya. Kegiatan tersebut meupakan upacara menjaga alam. Warga juga tidak boleh menebang kayu ataupun pohon karena bukit atau gunung diyakini sebagai tempat keramat yang paling hijau. Bobeto adalah sumpah bahwa warga tidak akan merusak atau menebang pohon sembarangan. Dalam bahasa Tidore, bobeto adalah nage dahe so jira alam, ge domaha alam yang golaha so jira se ngon. Artinya, siapa merusak alam, nanti dirusak alam.

        Dalam masyarakat Baduy, Banten, ada tradisi pikukuh yang memastikan masyarakat hidup berdampingan dengan alam (idntimes.com, 2020). Beberapa aturan yang ditetapkan dan tidak boleh dilanggar adalah warga tidak boleh menggunakan teknologi kimia untuk pertanian. Mereka juga dilarang meracuni ikan di sungai, tidak boleh memakai sabun bila mandi di sungai, tidak boleh menggunakan pasta gigi ketika menggosok gigi di sungai, dan sebagainya.

        Andaikan saja seluruh warga dunia mempraktikkan hidup berdampingan dengan alam, niscaya bumi dan isinya terpelihara dengan baik. Mari kita bersikap proaktif melestarikan lingkungan kita.

Sumber :

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X Penulis: Julia Suleeman ISBN 978-602-244-465-7 (jil.1) 

Selasa, 03 Maret 2026

Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya

 BAB XI Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya 

Kejadian 1:1-31 I Raja-raja 17-19, 21 II Raja-raja 1-2 

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti Kelas X

Tujuan Pembelajaran : 

  1. Mengakui keajaiban kuasa Allah sebagai Pencipta alam semeta dan segenap isinya.
  2. Mengakui keindahan alam ciptaan Tuhan.
  3. Menyadari bahwa keindahan alam harus dijaga dengan baik.
  4. Menilai peran diri sendiri, masyarakat dan pemerintah dalam menjaga keindahan alam di lingkungan lokal dan regional. 


Keindahan Alam Indonesia

        Indonesia sungguh istimewa karena letak geografisnya membuat negara kita kaya dengan berbagai hal yang unik. Misalnya, tumbuh-tumbuhan yang khas untuk Indonesia dan binatang-binatang yang hanya dapat ditemukan di Indonesia. Belum terhitung kekayaan bumi dalam bentuk batu bara, minyak bumi, emas, perak, nikel, dan lain-lain. Hutan dengan hasil yang khas, dan hasil laut dengan aneka binatang laut yang dapat dimakan untuk meningkatkan protein. Pernahkah kalian mensyukuri kekayaan alam yang dimiliki oleh negara kita tercinta, Indonesia?

        Di manakah kalian tinggal? Apakah di Pulau Jawa, Bali, atau Lombok? Tiga pulau ini dianggap istimewa karena dalam penilaian The 15 Best Islands in the World dari majalah Internasional Travel and Leisure, Pulau Jawa, Bali, dan Lombok masing-masing menempati urutan pertama, kedua, dan ketiga dari 15 pulau terindah yang ada di dunia dan layak dijadikan tujuan wisata. (travel.kompas.com, 2018). Pemilihan dilakukan oleh pembaca, yaitu mereka yang berwisata ke berbagai tempat di dunia. Sudah patutlah kita bangga akan hal ini, bukan? 

        Apa artinya bahwa ketiga pulau di Indonesia ini menempati rangking 1 sampai dengan 3 sebagai pemenangnya? Ini adalah bentuk pengakuan dunia terhadap keindahan ketiga pulau ini. Keindahan Pulau Jawa dapat diikuti berdasarkan tulisan berikut.

        “Jawa dengan populasi 140 juta orang, baru pertama kali muncul dalam daftar. Dibanggakan dengan kebudayaan kuno, pemandangan indah, dan UNESCO World Heritage seperti Candi Borobudur. Pulau ini juga menawarkan modernitas dengan hotel bintang 5 yang berlimpah. Air terjun, gunung berapi, taman nasional dan pantai pasir putih bisa menjadi tempat pelarian wisatawan dari keramaian,” puji Travel and Leisure (travel.kompas.com, 2018).

        


        Foto di atas menunjukkan keindahan yang ditemukan di daerah Nusa Tenggara Timur. Gambar tersebut menunjukkan komodo sebagai satwa langka yang hanya ada di Indonesia, yaitu di Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Gili Motang. Ketiga pulau tersebut dijadikan Kawasan Taman Nasional Komodo karena merupakan habitat asli satwa komodo. Komodo adalah satwa liar yang hidup di alam terbuka. Komodo termasuk salah satu binatang purba yang masih bertahan sejak ratusan juta tahun yang lalu. Tidak banyak jumlah binatang purba yang masih dapat ditemukan pada masa kini, yaitu di abad ke-21. Komodo acapkali digambarkan sebagai kerabat dari dinosaurus atau binatang raksasa lainnya.

        Kini Pulau Rinca, yang dihuni sekitar 1500 komodo, sedang ditutup dan tidak menerima wisatawan karena sedang dilakukan pembangunan hotel dan daerah wisata (travel.tempo.co, 2020). Wajar apabila terjadi penolakan dari masyarakat karena kkawatir bahwa habitat komodo dan keindahan alam di sekitarnya akan rusak. Sejauh ini, pembangunan direncanakan dengan baik dengan membatasi area yang dijadikan daerah wisata, yaitu hanya di Pulau Rinca. Gubernur Nusa Tenggara Timur, Laiskodat, yang semula menentang pembangunan ini akhirnya setuju karena dengan penataan yang baik, justru komodo dan alam di sekitar kawasan ini akan terlindungi. Selain juga ada pemasukan finansial bagi pemerintah daerah (merdeka.com, 2020).

        Foto kedua menunjukkan keindahan Danau Kelimutu yang juga disebut sebagai Telaga Tiga Warna. Mengapa dinamakan demikian? Ada legenda yang menjelaskan perubahan warna air di danau ini, yaitu dari warna biru, berubah menjadi merah, lalu berubah lagi menjadi putih, dan perubahan ini terjadi dalam waktu yang relatif cepat. Namun, penjelasan ilmiah menyatakan bahwa keberadaan mikroorganisme di dalam danau dan perubahan suhu menyebabkan terjadinya perubahan warna air danau yang justru lebih jelas terlihat ketika kita menatapnya dari lokasi yang jauh lebih tinggi dari permukaan danau (kelimutu.id, 2020). Gambar di bawah ini menunjukkan perubahan warna air danau dari tahun ke tahun.

        Keunikan berikutnya adalah tentang Danau Kelimutu yang juga disebut sebagai Telaga Tiga Warna. Mengapa dinamakan demikian? Ada legenda yang menjelaskan perubahan warna air di danau ini, yaitu dari warna biru, berubah menjadi merah, lalu berubah lagi menjadi putih, dan perubahan ini terjadi dalam waktu yang relatif cepat. Namun, penjelasan ilmiah menyatakan bahwa keberadaan mikroorganisme di dalam danau dan perubahan suhu menyebabkan terjadinya perubahan warna air danau yang justru lebih jelas terlihat ketika kita menatapnya dari lokasi yang jauh lebih tinggi dari permukaan danau (kelimutu.id, 2020).

        Ternyata warna air pada kawah berubah tanpa pola yang jelas, tetapi dapat dijadikan indikator dari aktivitas magma Gunung Kelimutu. Ketika warna hijau berubah menjadi putih, artinya terjadi peningkatan aktivitas magma. Para ilmuwan dari Wesleyan University, Connecticut, melakukan survei geokimia pada danau. Mereka menemukan bahwa air di setiap danau berbeda secara kimia sehingga menghasilkan warna yang bervariasi. Sungguh ajaib karya Tuhan, ya? Keindahan danau ini sudah beberapa kali diabadikan di dalam lembaran uang Rp 1.000,00 dan Rp 5.000,00 yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia.

        Foto di atas memperlihatkan uang Rp 5.000,00 dengan ilustrasi Danau Kelimutu yang diterbitkan padatahun 1992.

        Bila kalian tinggal di pulau lainnya di luar Pulau Jawa, Bali, dan Lombok, bukan berarti bahwa pulau yang kalian tempati tidak tergolong indah. Tidak mungkin Tuhan menciptakan sesuatu yang tidak indah. Pasti indah, tetapi mungkin tidak dikunjungi wisatawan sebanyak jumlah wisatawan yang berkunjung ke Pulau Jawa, Bali, dan Lombok. Coba kita tinjau Bunaken, Danau Toba, dan Pulau Nias yang sudah sejak lama terkenal sebagai tujuan wisata bagi wisatawan dari berbagai belahan dunia. Ada taman laut di Bunaken, Sulawesi Utara. Di Sumatera Utara, ada pemandangan indah di Danau Toba dan sekitarnya yang dikelilingi dengan rumah-rumah tradisional yang unik. Pulau Nias di sebelah barat Pulau Sumatera juga sudah terkenal dengan kesempatan berselancar dan tradisi lompat batu. Selain ketiga tujuan wisata ini, kalian bisa temukan banyak lagi tujuan wisata lainnya yang mungkin pernah kalian kunjungi atau pernah lihat foto-fotonya. Misalnya ada Raja Ampat di Papua, Maluku, atau Bangka Belitung, dan lain-lain. Selain danau, taman laut, dan satwa, kita juga mengenal keindahan pantai, gunung, gletser, air terjun, hutan, gurun pasir, ngarai/canyon, dan sebagainya. Mungkin ada di antara kalian yang pernah mengunjungi lokasilokasi yang memiliki keindahan alam ini. 

        Dalam pelajaran Geografi mungkin kalian sudah membahas bagaimana proses terjadinya gletser, air terjun, gurun pasir, gunung berapi, canyon, dan sebagainya. Dalam pelajaran ini, kita akan merenungkan bahwa semua ciptaan Tuhan adalah baik adanya.


Dasar Teologis untuk Keajaiban dan Keindahan Ciptaan Tuhan untuk Alam Semesta 

        Kitab Kejadian 1:1-31 tidak menjelaskan bagaimana dunia terjadi, seperti yang mungkin diduga sebagian orang. Tidak! Ini bukanlah sebuah buku geologi. Kisah ini bertujuan untuk menceritakan kepada kita Siapa yang ada di balik semua ciptaan itu.

        Kitab ini ditulis dengan maksud membantah pendapat sebagian masyarakat di masa itu bahwa matahari, bulan dan bintang adalah dewa-dewa yang harus ditakuti. Dari Kejadian 1:1-31, catatlah berapa kali muncul kata “baik” sebagai penjelasan terhadap hasil ciptaan Tuhan. Perhatikan juga bahwa penilaian “baik” diberikan setiap kali Allah selesai menciptakan, secara bertahap, hari demi hari. Sangatlah tepat bila kita sebut Tuhan sebagai Maha Pencipta. Tidak ada satu pun ciptaan Tuhan yang dianggap sebagai kegagalan.

        Selain itu, kisah Kejadian ini juga ingin menunjukkan bahwa Allah bekerja secara teratur dan sistematis (Theology of Work Project, 2007). Jadi, kisah ini tidak boleh dibaca dengan cara berpikir manusia masa kini yang memiliki pemahaman yang sudah lebih maju.

Hari pertama: Allah menciptakan terang, lalu memisahkannya dari gelap. Itulah siang dan malam.

Hari kedua: Allah menciptakan cakrawala untuk memisahkan air yang ada di bawahnya dengan yang di atasnya.  

Hari ketiga: Allah menciptakan kumpulan air, yaitu laut dan daratan. Tunas-tunas muda dan semua tumbuhan berbiji dan pohon yang berbiji tumbuh pada hari ini. 

Hari keempat: Allah menciptakan benda-benda penerang: matahari bulan, dan bintang-bintang. Matahari menguasai siang, bulan dan bintang-bintang di malam hari. 

Hari kelima: Allah menciptakan semua binatang laut yang besar, dan binatang air, burung-burung yang beterbangan di udara. Juga binatang-binatang laut yang besar, binatang yang berkeriapan di dalam air. 

Hari keenam: Allah membuat bumi mengeluarkan segala jenis makhluk hidup, ternak, binatang melata, dan binatang liar. Lalu Allah menciptakan manusia. 

        Gambaran tentang penciptaan ini tidak masuk akal untuk manusia modern. Bagaimana mungkin terang sudah ada, sementara matahari, bulan dan bintang baru diciptakan belakangan di hari keempat? Padahal, bukankah matahari itu sumber terang? Bulan hanya ada karena adanya matahari. Bulan hanyalah memantulkan sinar matahari.

        Bagaimana dengan pohon dan tanaman yang tidak berbiji? Siapakah penciptanya? Jamur, pakis, paku ekor kuda, kantong semar, tebu, ketela pohon — semuanya tidak berbiji.

        Bagaimana dengan manusia? Kita tahu ada manusia yang beraneka warna. Ada yang kulitnya hitam, cokelat, kuning, putih. Kita tahu bahwa mereka yang berkulit putih menurunkan anak-anak yang berkulit putih. Begitu pula dengan yang berkulit hitam. Lalu, apakah warna kulit Adam dan Hawa? Hitam atau putih?

        Jelas bahwa semua pertanyaan di atas tidak dapat kita temukan jawabannya di dalam Alkitab. Mengapa demikian? Karena Alkitab tidak bertujuan untuk menjelaskan semua itu. Akan tetapi, coba kita lihat dari urut-urutan penciptaan yang diterangkan di dalam Kitab Kejadian. Pada hari pertama hingga hari ketiga, Allah menciptakan TEMPAT untuk segala sesuatu yang akan diciptakan-Nya. Ada ruang untuk semuanya. Ada terang, ada langit, air, dan daratan.

        Pada hari keempat hingga keenam, Allah menciptakan ISI dari semuanya itu. Di hari keempat ada terang dan gelap, lalu matahari, bulan dan bintang. Di hari kelima, Allah menciptakan segala binatang di udara dan di lautan dan di dalam air tawar. Akhirnya, pada hari keenam, Allah menciptakan berbagai makhluk hidup, binatang melata dan liar, lalu akhirnya manusia.

       Tampak betapa sistematisnya Allah bekerja seperti yang digambarkan oleh manusia kuno sekitar 2.500 tahun yang lalu. Inti ceritanya ingin menyampaikan Allah bekerja dengan keteraturan. Ini berbeda dengan keadaan bumi yang masih kosong dan kacau-balau seperti yang digambarkan pada Kejadian 1:2, “Bumi belum berbentuk dan kosong gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” Gambaran “belum berbentuk dan kosong gelap gulita” itu dilukiskan sebagai keadaan "tohu wa-bohu "( yang diterjemahkan sebagai keadaan chaos, kacau-balau.

        Perhatikan bahwa apa yang Allah ciptakan adalah baik adanya. Ilmu pengetahuan berhasil menemukan bukti bahwa proses terjadinya gurun pasir, gunung berapi, ngarai yang istimewa seperti Grand Canyon di Amerika Serikat, mencakup periode sebanyak jutaan, bahkan miliaran tahun. Perhitungan tahun di sini adalah 365 atau 366 hari, dan satu hari terdiri atas 24 jam, satu jam terdiri atas 60 menit, dan satu menit terdiri atas 60 detik. Selain alam indah ciptaan Tuhan, minyak bumi dan berbagai mineral lainnya seperti emas dan perak juga mengalami proses pembentukan selama ratusan juta tahun sehingga kini menghasilkan benda yang dimanfaatkan untuk kepentingan manusia. Dari Perjanjian Lama, dapat kita baca bahwa pembangunan Bait Allah di masa pemerintahan Raja Salomo ternyata banyak menggunakan emas dan batu permata lainnya. Sedikitnya, ada 23 jenis batu permata yang disebutkan di Alkitab, tetapi memang agak sulit menemukan jenis permata dimaksud pada saat sekarang ini (alkitab.sabda.org, 2020).

        Pada bagian pembukaan Kitab Kejadian ini juga kita menemukan penugasan yang diberikan Allah kepada manusia di bumi. Manusia diberikan tugas “penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (Kejadian 1:28b). Perintah ini seringkali dipahami seolah-olah manusia boleh melakukan apa saja. Manusia diberikan kuasa penuh untuk “menaklukkan bumi”. Akibatnya, banyak orang yang bertindak sewenangwenang atas seluruh alam ini.

        Penebangan hutan terjadi di mana-mana sehingga terjadilah pemanasan bumi yang mengacaukan iklim dunia. Tambang-tambang emas, perak, tembaga, batu bara, minyak bumi, gas, semuanya dieksploitasi habis-habisan sehingga mungkin sekali dalam beberapa generasi manusia di masa yang akan datang, semua sumber bumi itu sudah semakin menipis dan bahkan musnah. Lalu, bagaimana kelanjutan hidup anak cucu kita nanti? Mungkin hanya segelintir orang saja yang masih ingat kepada mereka. Terserah mereka saja!

        Makna “kuasailah dan taklukkanlah” tidaklah seperti yang sering ditafsirkan orang yang suka berbuat sewenang-wenang atas seluruh isi bumi ciptaan Allah. Tidak demikian! Penguasa yang baik tidak sekadar “menaklukkan”, melainkan memelihara apa yang telah dipercayakan kepadanya. Dengan memberikan tugas dan kepercayaan ini kepada manusia, sesungguhnya Allah telah mengajak manusia untuk bekerja bersama-sama Dia untuk memelihara dan melindungi seluruh isi alam ini, sementara pada saat yang sama kita diberikan hak untuk menikmatinya secukupnya. Kita juga dapat mengatakan bahwa Kejadian 1:28 ini adalah mandat Allah kepada manusia, mandat yang harus dipertanggungjawabkan dengan baik. Tugas pemeliharaan ini kelak akan berkali-kali kita temukan di dalam perumpamaan-perumpamaan Yesus.

        Misalnya, dalam perumpamaan tentang talenta yang dititipkan seorang saudagar kepada hamba-hambanya. Ada yang menerima 5 talenta, ada yang menerima 2, dan ada yang 1. Kepercayaan yang diberikan kepada para hamba itu tidak berarti talenta itu bisa dipakai berfoya-foya, melainkan harus diusahakan supaya berkembang dan menghasilkan lebih banyak.

        Bagaimana kita memahami perumpamaan dalam konteks hutan yang ditebangi dan diambil kayunya? Bukankah mestinya hutan itu dikembalikan, dipulihkan, dan ditanami kembali? Dengan demikian, hutan yang kemudian dihasilkan menjadi lebih luas dan menghasilkan oksigen untuk berbagai jenis tanaman lainnya yang bermanfaat bagi manusia dan binatang hutan. Bagaimana dengan minyak bumi dan berbagai mineral lainnya? Bagaimana kita menggunakan semua itu dengan bertanggung jawab? Bagaimana dengan kemungkinan untuk menggunakan sumber-sumber energi alternatif, misalnya sinar matahari, angin, air, gelombang laut, dan lain-lain?


Rangkuman

Tuhan menciptakan alam semesta dengan penuh keajaiban, keteraturan, dan hasilnya sungguh-sungguh indah. Manusia diberi mandat oleh Allah untuk menjadi rekan kerja Allah dalam merawat bumi dan alam sehingga memberikan hasil yang baik. Sayangnya, tidak semua menyadari bahwa sengaja ataupun tidak sengaja, tindakan mereka dalam mengolah bumi dan alam ini justru merusak keindahan alam. Sebagai generasi muda, kalian harusnya menjalankan mandat untuk merawat bumi dan alam semesta ini dengan baik sehingga bumi tetap memberikan hasil yang menguntungkan manusia sampai akhir zaman. 



Sumber: KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X Penulis: Julia Suleeman ISBN 978-602-244-465-7 (jil.1)

Selasa, 10 Februari 2026

Hidup dalam Masyarakat Majemuk

BAB 10 Hidup dalam Masyarakat Majemuk

Mazmur 137:1-5 Yeremia 29:5-7 Galatia 3:28

Pendidikan Agama Kristeen dan Budi Pekerti Kelas X


Tujuan Pembelajaran    :

  1. Mensyukuri adanya keberagaman ras, etnis, budaya dan agama 
  2. Memahami dasar teologis untuk keberagaman
  3. Membangun kepekaan terhadap keberagaman 

Apakah kalian masih ingat arti peribahasa “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”? Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya berjudul Kronik Revolusi Indonesia: 1945 (1999) memberikan makna khusus untuk istilah ‘bersatu kita teguh’, yaitu menyatunya berbagai unsur dan perbedaan yang ada menjadi suatu kesatuan yang utuh dan serasi. Dengan modal bersatunya berbagai unsur yang ada di Indonesia inilah, baik dari suku, budaya, agama, golongan, maupun jenis kelamin, Indonesia dapat memiliki modal kuat untuk bangkit melawan penjajah dan memproklamasikan diri sebagai negara Indonesia yang merdeka pada tahun 1945. Bersatunya berbagai unsur ini berarti bahwa tidak ada satu unsur pun yang menganggap atau dianggap lebih tinggi atau lebih rendah dari unsur lainnya. Sebelum kita melanjutkan pembahasan tentang ini, perhatikanlah kutipan berikut!

"Diversity is having a seat at a table, inclusion is having a voice, and belonging is having that voice be heard.” (Liz Fosslien)

Diversity is the mix. Inclusion is making that mix work.” (Andres Tapia) 

Diversity: the art of thinking independently together.” (Malcolm Forbes). 

            Coba pahami ketiga kutipan di atas. Bila diterjemahkan bebas, kira-kira begini artinya: 

Keberagaman berarti berhak duduk di meja, inklusi berarti berhak mengeluarkan suara, dan merasa terhisap berarti pendapat yang diperhitungkan.

Keberagaman adalah campuran. Inklusi adalah membuat campuran itu bekerja dengan baik.


Keberagaman: seni untuk sama-sama berpikir secara independen.

            Dari ketiga kutipan ini, kutipan mana yang menurut kalian merupakan kutipan yang paling menggambarkan makna keberagaman? Tentu tidak mudah, bukan? Mengapa demikian? Karena memang banyak makna yang terkandung di balik kata yang tampaknya sederhana, namun memiliki makna mendalam, yaitu “keberagaman”. 


Keberagaman Ras, Etnis, Budaya, dan Agama

            Setiap manusia sama di hadapan Tuhan Sang Pencipta. Dalam kenyataannya, manusia memang tidak sama, baik secara fisik/penampilan maupun dari sudut aspek-aspek perkembangan. Sampai dengan abad ke-18, umumnya tiap negara hanya memiliki satu jenis ras, yaitu Mongoloid, Negroid, Kaukasoid (Britanica.com, 2020). 


            Bertambahnya jumlah ras di suatu negara terjadi ketika negara tersebut mulai didatangi oleh imigran dari ras yang berbeda. Contoh paling jelas adalah negara Amerika Serikat yang semula hanya dihuni oleh Indian, namun sejak tahun 1776 saat diproklamasikan sebagai negara, justru dikuasai oleh kaum kulit putih dan kemudian juga dihuni oleh ras negroid dan mongoloid. Dari sini timbul istilah African-American yang merujuk pada pengertian ras negroid (yang lebih lazim disebut orang kulit hitam, yaitu black people atau dulu disebut Negro atau Afro yang tinggal di Amerika dan sudah beregenerasi tinggal di situ).

            Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat beragam dari segi ras, etnis, budaya, adat istiadat, dan sebagainya. Penggalian fosil menemukan sedikitnya tiga jenis manusia purba di wilayah Indonesia yang membentang dari Sabang sampai Merauke (kompas.com, 2017), yaitu jenis Homo soloensis, Homo wajakensis, dan Homo floresiensis. Dinamakan demikian sesuai dengan lokasi fosil itu ditemukan. Homo soloensis ditemukan di lembah Bengawan Solo. Homo wajakensis ditemukan di area Tulungagung, Jawa Timur, sedangkan Homo floresiensis ditemukan di Flores.

            Anehnya, manusia purba yang ditemukan di Flores atau disebut “The Hobbit” yang ditemukan fosilnya pada tahun 2003, bukanlah hasil evolusi dari manusia Jawa (Homo erectus) (kompas.com, 2017). Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa The Hobbit ini lebih tepat dikategorikan sebagai manusia dari benua Afrika. Ini berarti bahwa sejak jutaan tahun yang lalu, di wilayah Indonesia sudah ada beberapa ras. Kalian bisa mencari di internet berbagai informasi tentang manusia purba ini.

            Bila kita perhatikan dengan saksama, mereka yang berasal dari suku Batak memang berbeda penampilan fisiknya dibandingkan dengan yang dari suku Aceh walaupun sama-sama di Sumatera Utara. Saudara-saudara kita di Maluku, Minahasa, Papua, dan Minangkabau juga memang berbeda secara fisik, bahasa, adat istiadat, dan artefak budaya lainnya. Ini justru memperkaya kita sebagai suatu bangsa dan negara yang berdaulat, lepas dari campur tangan negara lain yang ingin menguasai Indonesia.

            Merujuk pada makna peribahasa ‘Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh,’ sangatlah tepat bagi negara Indonesia untuk memiliki moto “Bhinneka Tunggal Ika”. Apa saja makna yang kalian temukan di balik moto ini? Seberapa pentingnyakah moto ini untuk kalian?

            Bukan hanya secara fisik, etnis dan budaya, penduduk di wilayah NKRI pun memiliki keberagaman dalam hal agama dan keyakinan. Sejak tahun 2000, saat pemerintahan Presiden Abdurrachman Wahid, pemerintah resmi mengakui ada enam agama, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Sejarah mengenai pengakuan enam agama ini memang cukup panjang, tetapi bukan itu fokus pembahasan kita kali ini. Pada bulan November tahun 2017, Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia mengeluarkan keputusan yang menyatakan bahwa aliran kepercayaan atau juga disebut sebagai agama asli Nusantara, diakui oleh pemerintah. Keenam agama yang disebutkan terlebih dulu memang merupakan bawaan dari mereka yang datang ke wilayah Indonesia mulai abad pertama Masehi, sedangkan agama asli Nusantara sudah terlebih dulu ada sebelumnya.

            

Dasar Teologis untuk Keberagaman

            Setelah dihancurkan oleh Imperium Babilonia, bangsa Yehuda dibuang ke negara itu pada masa pembuangan pada tahun 597, 587 dan 582 SM. Ketiga proses pembuangan ini sungguh menghancurkan kebanggaan bangsa Yehuda sebagai umat pilihan Allah. Mereka membayangkan mengapa Allah telah meninggalkan mereka. Mereka meratapi dosa mereka karena telah meninggalkan Allah, dan mengabaikan perintah-perintah-Nya. Dalam Mazmur 137 ayat 1-5, digambarkan bahwa mereka menangis.

            “Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion. Pada pohon-pohon gandarusa di tempat itu kita menggantungkan kecapi kita. Sebab di sanalah orang-orang yang menawan kita meminta kepada kita memperdengarkan nyanyian dan orang orang yang menyiksa kita meminta nyanyian sukacita, “Nyanyikanlah bagi kami nyanyian dari Sion!” Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian Tuhan di negeri asing? Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku!”

            Nabi Yeremia berusaha menghibur mereka dengan mengingatkan agar mereka bersiap-siap untuk menjadikan Babel sebagai tanah air mereka sebab mereka akan tinggal lama di sana. Dalam suratnya kepada bangsa itu di pembuangan, Yeremia berkata:

            “Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya; ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang! Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” (Yeremia 29:5-7)


            Di sini jelas bahwa Allah tidak ingin orang-orang Yehuda menjauhkan diri dari bangsa Babel. Sebaliknya, mereka diperintahkan untuk mengusahakan kesejahteraan kota itu supaya mereka bisa juga ikut menikmati kehidupan di sana.

            Pada tahun 539 SM, Babilonia dikalahkan oleh Imperium Persia dan orang-orang Yehuda diizinkan kembali ke Yerusalem oleh Raja Koresy. Banyak yang memutuskan untuk tetap tinggal di Babel, tetapi cukup banyak pula yang memutuskan untuk kembali. Kepulangan mereka dipimpin oleh Nehemia dan Imam Ezra. Saat itu, Ezra mengeluarkan dekrit yang mengharuskan setiap orang Yehuda yang beristrikan orang-orang Babel untuk menceraikan mereka (Ezra pasal 9-10). Ezra menganggap perkawinan campuran orang-orang Yehuda dengan perempuan-perempuan asing itu mencemarkan “kemurnian” darah mereka.

            Namun, dalam keadaan seperti itu, muncullah dua kitab Perjanjian Lama yang mengkritik pandangan Ezra tersebut. Pertama adalah Kitab Rut yang mengingatkan bangsa Yehuda bahwa Rut adalah seorang perempuan Moab dan dialah yang menjadi nenek moyang Daud, raja Israel yang sangat mereka hormati. Yang kedua adalah Kitab Yunus, yang mengingatkan bangsa Yehuda bahwa Allah sangat mengasihi bangsa-bangsa lain. Terbukti, Allah membatalkan hukuman-Nya atas bangsa Niniwe yang jahat ketika mereka memutuskan untuk bertobat. Kedua buku ini sesungguhnya membukakan mata bangsa Yehuda bahwa mereka harus mau terbuka dan menerima bangsa-bangsa lain. Bahkan, juga menikah dengan bangsa lain, seperti yang diperintahkan Nabi Yeremia.

            Meskipun demikian, pada masa Perjanjian Baru, bangsa Yehuda kembali menjadi sangat eksklusif. Sebetulnya, itu terjadi sejak sebagian orang-orang Yehuda (atau Yahudi) kembali ke Israel dan menemukan orang-orang Samaria di sana. Siapakah orang Samaria itu? Mereka adalah keturunan campuran bangsa Israel dengan orang-orang Asyur yang dipindahkan oleh Raja ke Israel setelah sebagian bangsa Israel dibuang ke Asyur pada tahun 701 SM.

            Sebagai bangsa campuran, orang Samaria dianggap najis sebab mereka tidak memiliki darah yang murni. Ketidaksukaan orang Yahudi terhadap orang Samaria ditunjukkan dengan ketidaksukaan mereka untuk bertemu dengan orang Samaria. Jikalau orang Yahudi ingin berkunjung ke wilayah utara, mereka rela untuk menghindari tanah Samaria yang ada di antara kedua wilayah Israel itu meskipun untuk itu mereka harus menempuh perjalanan yang lebih jauh.

            Ketidaksukaan orang Yahudi terhadap orang Samaria bisa dilihat dari kisah Yesus bertemu dengan perempuan Samaria yang pergi ke sumur pada tengah hari setelah orang-orang Yahudi lebih dahulu pergi ke sana pada pagi hari saat udara belum terlalu panas. Namun, Yesus memperlihatkan diri-Nya terbuka untuk berhubungan dan berbincang-bincang dengan perempuan itu. Yesus juga ternyata menggunakan perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati. Yesus menunjukkan bahwa justru seorang Samaria yang mampu memperlihatkan belas kasihan, bahkan kepada orang Yahudi yang memusuhinya. Tentu perumpamaan ini sangat memukul sang ahli Taurat yang mengajukan pertanyaan kepada Yesus.

            Kisah Para Rasul pasal 2 mengisahkan bagaimana orang-orang dari berbagai penjuru dunia yang berkumpul di Yerusalem kemudian menyerahkan diri mereka untuk dibaptiskan. Inilah yang menjadi model komunitas yang diharapkan Allah, komunitas yang terbuka bagi semua orang, orang yang lumpuh (Kisah Para Rasul 3:10), seseorang yang secara seksual tidak jelas sehingga disingkirkan oleh masyarakat Yahudi (sida-sida, Kisah Para Rasul 8:5-13), orang asing (Kornelius, Kisah Para Rasul 10), dan kepemimpinan perempuan (Lidia pedagang kaya, Kisah Para Rasul 16:14; Priskila, Kisah Para Rasul 18:1-7).

            Keterbukaan ini semakin dipertegas oleh pekerjaan Paulus yang memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa. Bahkan dalam Surat Galatia 3:28, Paulus mengatakan, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.

            McGonigal (2013) memberikan satu ulasan menarik tentang keberagaman, yang menurutnya sering diabaikan oleh para teolog maupun pemimpin gereja karena dianggap sebagai topik yang tidak penting, malah memiliki konotasi politik. Padahal, keberagaman adalah bagian yang tidak terpisahkan dari shalom, bahasa Ibrani yang sering diterjemahkan sebagai damai, namun mengandung makna keutuhan, sempurna, kemakmuran sebagai bagian dari sejak awal Tuhan menciptakan alam semesta beserta isinya. Secara lebih rinci, ini yang Tuhan kerjakan, mulai dari penciptaan sampai pada penyelamatan manusia.

            Saat penciptaan, ada suatu urutan yang terjadi. Tuhan menciptakan langit dan bumi dan segala isinya dari yang semula tidak ada. Dimulai dengan terang yang dipisahkan dari gelap, bumi dan langit, laut dan daratan dan tumbuh-tumbuhan, matahari, bulan dan bintang-bintang, binatang baik di darat maupun di laut dan di udara, lalu manusia. Ada berbagai tumbuhan, binatang, dan dua jenis manusia, yaitu laki-laki dan perempuan. Jadi, dari penciptaan kita sudah melihat bahwa Allah menciptakan keberagaman.

            Manusia dikhususkan sebagai ciptaan yang memiliki gambar dan rupa Tuhan, tetapi bukanlah Tuhan. Jadi, manusia memiliki unsur yang sama, tetapi juga berbeda dengan Tuhan. Antara laki-laki dan perempuan pun ada perbedaan yang dapat kita lihat secara fisik, tetapi juga dalam cara berpikir dan merasa. Namun keduanya sama-sama merupakan gambaran dari Tuhan. Baik manusia laki-laki maupun manusia perempuan diberikan tugas untuk mengolah bumi dan memelihara tumbuhan dan binatang sehingga memberikan hasil yang menguntungkan. Sebaliknya, menyalahgunakan kesempatan untuk mengolah ini semua malah akan membawa kepada kehan-curan. Dalam hal ini, manusia harus menjalankan tugasnya dengan hati-hati karena merupakan kawan sekerja Allah.

            Semua yang diciptakan Tuhan adalah baik dan indah; baik alam, tumbuhan, binatang, maupun manusia. Semuanya saling terhubung menjadi bukti bahwa ciptaan Tuhan sempurna adanya. Ada keteraturan yang kita temui di dalam ciptaan Tuhan. Ada pagi, siang, malam, dengan matahari yang selalu terbit pada waktunya. Sayangnya, kehadiran dosa merusak hubungan manusia dengan Tuhan dan merusak shalom yang dirancang Tuhan ini.

            Kitab Kejadian pasal 3 melukiskan akibat dari dosa, yaitu rusaknya hubungan antara laki-laki dan perempuan (saling menyalahkan); rusaknya hubungan antara manusia dan Tuhan (manusia takut bertemu dengan Tuhan); rusaknya hubungan antara manusia dan binatang (yang diwakilkan oleh ular), dan antara manusia dan alam (manusia harus bekerja keras agar bumi memberikan hasil yang baik).

            Namun Alkitab menyaksikan bahwa dari kejadian air bah di zaman Nuh, sampai dengan penyaliban dan kebangkitan Kristus, karya penyelamatan Allah terus berlangsung. Karya-Nya, baik dalam bentuk penciptaan, pemeliharaan, penyelamatan mau pun pembaruan, terus berlangsung sampai pada akhirnya, “… dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Filipi 2:11) dan “… mereka menyanyikan nyanyian Musa, hamba Allah, dan nyanyian Anak Domba, bunyinya, “Besar dan ajaib segala pekerjaan-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa! Adil dan benar segala jalan-Mu, ya Raja segala bangsa!” (Wahyu 15:3).

            Berdasarkan uraian di atas, jelas sekali bahwa Allah menginginkan kita hidup bersama dengan sesama kita yang berbeda-beda, baik secara etnis, suku, agama, maupun kelas sosial. Gereja diharapkan menjadi contoh bagi masyarakat seperti itu.


Membangun Kepekaan terhadap Keberagaman

            Sekolah menjadi tempat yang penting untuk membangun kepekaan siswa terhadap keberagaman. Sekolah adalah komunitas mini karena terdiri dari berbagai kelompok usia, suku, golongan, dan mungkin juga agama. Meminjam konsep pendidikan yang menekankan keberagaman dari Lee (2010), tujuan pendidikan seperti ini adalah membentuk suatu komunitas shalom sama seperti yang Tuhan perintahkan. Ini dapat dicapai melalui dua tahap. Pertama, setiap orang perlu menyadari bahwa setiap manusia diciptakan seturut dengan gambar dan citra Tuhan (imago dei) dan setiap manusia harus diperlakukan secara adil dengan penuh hormat. Pemahaman mengenai semua manusia sama didukung dalam 4 hal, yaitu:

  1. Bahwa kita harus mengasihi setiap orang seperti diri kita sendiri (Matius 22:39) 
  2. Bahwa Tuhan menginginkan agar semua bangsa datang ke hadapan-Nya (Wahyu 1:7) karena memang Tuhan mengasihi setiap ciptaan-Nya (Kisah Para Rasul 17:26) 
  3. Bahwa Tuhan menginginkan kita sungguh-sungguh saling mengasihi (Yohanes 15:12-13); dan 
  4. Mempraktikkan prinsip hidup dengan mengandalkan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5:22). 

            Sungguh sangat kaya bekal Alkitab bagi kita untuk membangun komunitas perdamaian ini. Baiklah kita belajar mempraktikkan cinta kasih ini dengan sungguh-sungguh karena ini menjadi cara untuk menghadirkan damai sejati di dunia ini. Kita bisa mulai dengan komunitas yang paling kecil, yaitu keluarga dan sekolah, sebelum semakin terampil untuk mempraktikkannya di lingkungan yang lebih besar, yaitu lingkungan masyarakat.


Ragkuman

Ternyata sejak penciptaan, Tuhan sudah menghadirkan keberagaman di dunia ini. Keberagaman juga dapat dilihat dari karya Allah dalam memelihara, menyelamatkan, dan membarui alam dan manusia. Akan tetapi, keangkuhan manusia membuat hanya orang-orang dengan karakteristik tertentu yang dianggap pantas untuk menikmati keistimewaan. Hendaklah kita memelihara keberagaman yang diciptakan Tuhan dengan menghormati dan menga-sihi mereka yang berbeda dengan kita. 


Quiz Klik disini

Sumber :

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X Penulis: Julia Suleeman ISBN 978-602-244-465-7 (jil.1) 

Berperan Aktif Mencegah Perusakan Alam

BAB XII  Berperan Aktif Mencegah Perusakan Alam Kejadian 2:15 Imamat 25:2-7 Tujuan Pembelajaran : Memahami pesan Alkitab untuk memelihara al...