Translate

Selasa, 03 Maret 2026

Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya

 BAB XI Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya 

Kejadian 1:1-31 I Raja-raja 17-19, 21 II Raja-raja 1-2 

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti Kelas X

Tujuan Pembelajaran : 

  1. Mengakui keajaiban kuasa Allah sebagai Pencipta alam semeta dan segenap isinya.
  2. Mengakui keindahan alam ciptaan Tuhan.
  3. Menyadari bahwa keindahan alam harus dijaga dengan baik.
  4. Menilai peran diri sendiri, masyarakat dan pemerintah dalam menjaga keindahan alam di lingkungan lokal dan regional. 


Keindahan Alam Indonesia

        Indonesia sungguh istimewa karena letak geografisnya membuat negara kita kaya dengan berbagai hal yang unik. Misalnya, tumbuh-tumbuhan yang khas untuk Indonesia dan binatang-binatang yang hanya dapat ditemukan di Indonesia. Belum terhitung kekayaan bumi dalam bentuk batu bara, minyak bumi, emas, perak, nikel, dan lain-lain. Hutan dengan hasil yang khas, dan hasil laut dengan aneka binatang laut yang dapat dimakan untuk meningkatkan protein. Pernahkah kalian mensyukuri kekayaan alam yang dimiliki oleh negara kita tercinta, Indonesia?

        Di manakah kalian tinggal? Apakah di Pulau Jawa, Bali, atau Lombok? Tiga pulau ini dianggap istimewa karena dalam penilaian The 15 Best Islands in the World dari majalah Internasional Travel and Leisure, Pulau Jawa, Bali, dan Lombok masing-masing menempati urutan pertama, kedua, dan ketiga dari 15 pulau terindah yang ada di dunia dan layak dijadikan tujuan wisata. (travel.kompas.com, 2018). Pemilihan dilakukan oleh pembaca, yaitu mereka yang berwisata ke berbagai tempat di dunia. Sudah patutlah kita bangga akan hal ini, bukan? 

        Apa artinya bahwa ketiga pulau di Indonesia ini menempati rangking 1 sampai dengan 3 sebagai pemenangnya? Ini adalah bentuk pengakuan dunia terhadap keindahan ketiga pulau ini. Keindahan Pulau Jawa dapat diikuti berdasarkan tulisan berikut.

        “Jawa dengan populasi 140 juta orang, baru pertama kali muncul dalam daftar. Dibanggakan dengan kebudayaan kuno, pemandangan indah, dan UNESCO World Heritage seperti Candi Borobudur. Pulau ini juga menawarkan modernitas dengan hotel bintang 5 yang berlimpah. Air terjun, gunung berapi, taman nasional dan pantai pasir putih bisa menjadi tempat pelarian wisatawan dari keramaian,” puji Travel and Leisure (travel.kompas.com, 2018).

        


        Foto di atas menunjukkan keindahan yang ditemukan di daerah Nusa Tenggara Timur. Gambar tersebut menunjukkan komodo sebagai satwa langka yang hanya ada di Indonesia, yaitu di Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Gili Motang. Ketiga pulau tersebut dijadikan Kawasan Taman Nasional Komodo karena merupakan habitat asli satwa komodo. Komodo adalah satwa liar yang hidup di alam terbuka. Komodo termasuk salah satu binatang purba yang masih bertahan sejak ratusan juta tahun yang lalu. Tidak banyak jumlah binatang purba yang masih dapat ditemukan pada masa kini, yaitu di abad ke-21. Komodo acapkali digambarkan sebagai kerabat dari dinosaurus atau binatang raksasa lainnya.

        Kini Pulau Rinca, yang dihuni sekitar 1500 komodo, sedang ditutup dan tidak menerima wisatawan karena sedang dilakukan pembangunan hotel dan daerah wisata (travel.tempo.co, 2020). Wajar apabila terjadi penolakan dari masyarakat karena kkawatir bahwa habitat komodo dan keindahan alam di sekitarnya akan rusak. Sejauh ini, pembangunan direncanakan dengan baik dengan membatasi area yang dijadikan daerah wisata, yaitu hanya di Pulau Rinca. Gubernur Nusa Tenggara Timur, Laiskodat, yang semula menentang pembangunan ini akhirnya setuju karena dengan penataan yang baik, justru komodo dan alam di sekitar kawasan ini akan terlindungi. Selain juga ada pemasukan finansial bagi pemerintah daerah (merdeka.com, 2020).

        Foto kedua menunjukkan keindahan Danau Kelimutu yang juga disebut sebagai Telaga Tiga Warna. Mengapa dinamakan demikian? Ada legenda yang menjelaskan perubahan warna air di danau ini, yaitu dari warna biru, berubah menjadi merah, lalu berubah lagi menjadi putih, dan perubahan ini terjadi dalam waktu yang relatif cepat. Namun, penjelasan ilmiah menyatakan bahwa keberadaan mikroorganisme di dalam danau dan perubahan suhu menyebabkan terjadinya perubahan warna air danau yang justru lebih jelas terlihat ketika kita menatapnya dari lokasi yang jauh lebih tinggi dari permukaan danau (kelimutu.id, 2020). Gambar di bawah ini menunjukkan perubahan warna air danau dari tahun ke tahun.

        Keunikan berikutnya adalah tentang Danau Kelimutu yang juga disebut sebagai Telaga Tiga Warna. Mengapa dinamakan demikian? Ada legenda yang menjelaskan perubahan warna air di danau ini, yaitu dari warna biru, berubah menjadi merah, lalu berubah lagi menjadi putih, dan perubahan ini terjadi dalam waktu yang relatif cepat. Namun, penjelasan ilmiah menyatakan bahwa keberadaan mikroorganisme di dalam danau dan perubahan suhu menyebabkan terjadinya perubahan warna air danau yang justru lebih jelas terlihat ketika kita menatapnya dari lokasi yang jauh lebih tinggi dari permukaan danau (kelimutu.id, 2020).

        Ternyata warna air pada kawah berubah tanpa pola yang jelas, tetapi dapat dijadikan indikator dari aktivitas magma Gunung Kelimutu. Ketika warna hijau berubah menjadi putih, artinya terjadi peningkatan aktivitas magma. Para ilmuwan dari Wesleyan University, Connecticut, melakukan survei geokimia pada danau. Mereka menemukan bahwa air di setiap danau berbeda secara kimia sehingga menghasilkan warna yang bervariasi. Sungguh ajaib karya Tuhan, ya? Keindahan danau ini sudah beberapa kali diabadikan di dalam lembaran uang Rp 1.000,00 dan Rp 5.000,00 yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia.

        Foto di atas memperlihatkan uang Rp 5.000,00 dengan ilustrasi Danau Kelimutu yang diterbitkan padatahun 1992.

        Bila kalian tinggal di pulau lainnya di luar Pulau Jawa, Bali, dan Lombok, bukan berarti bahwa pulau yang kalian tempati tidak tergolong indah. Tidak mungkin Tuhan menciptakan sesuatu yang tidak indah. Pasti indah, tetapi mungkin tidak dikunjungi wisatawan sebanyak jumlah wisatawan yang berkunjung ke Pulau Jawa, Bali, dan Lombok. Coba kita tinjau Bunaken, Danau Toba, dan Pulau Nias yang sudah sejak lama terkenal sebagai tujuan wisata bagi wisatawan dari berbagai belahan dunia. Ada taman laut di Bunaken, Sulawesi Utara. Di Sumatera Utara, ada pemandangan indah di Danau Toba dan sekitarnya yang dikelilingi dengan rumah-rumah tradisional yang unik. Pulau Nias di sebelah barat Pulau Sumatera juga sudah terkenal dengan kesempatan berselancar dan tradisi lompat batu. Selain ketiga tujuan wisata ini, kalian bisa temukan banyak lagi tujuan wisata lainnya yang mungkin pernah kalian kunjungi atau pernah lihat foto-fotonya. Misalnya ada Raja Ampat di Papua, Maluku, atau Bangka Belitung, dan lain-lain. Selain danau, taman laut, dan satwa, kita juga mengenal keindahan pantai, gunung, gletser, air terjun, hutan, gurun pasir, ngarai/canyon, dan sebagainya. Mungkin ada di antara kalian yang pernah mengunjungi lokasilokasi yang memiliki keindahan alam ini. 

        Dalam pelajaran Geografi mungkin kalian sudah membahas bagaimana proses terjadinya gletser, air terjun, gurun pasir, gunung berapi, canyon, dan sebagainya. Dalam pelajaran ini, kita akan merenungkan bahwa semua ciptaan Tuhan adalah baik adanya.


Dasar Teologis untuk Keajaiban dan Keindahan Ciptaan Tuhan untuk Alam Semesta 

        Kitab Kejadian 1:1-31 tidak menjelaskan bagaimana dunia terjadi, seperti yang mungkin diduga sebagian orang. Tidak! Ini bukanlah sebuah buku geologi. Kisah ini bertujuan untuk menceritakan kepada kita Siapa yang ada di balik semua ciptaan itu.

        Kitab ini ditulis dengan maksud membantah pendapat sebagian masyarakat di masa itu bahwa matahari, bulan dan bintang adalah dewa-dewa yang harus ditakuti. Dari Kejadian 1:1-31, catatlah berapa kali muncul kata “baik” sebagai penjelasan terhadap hasil ciptaan Tuhan. Perhatikan juga bahwa penilaian “baik” diberikan setiap kali Allah selesai menciptakan, secara bertahap, hari demi hari. Sangatlah tepat bila kita sebut Tuhan sebagai Maha Pencipta. Tidak ada satu pun ciptaan Tuhan yang dianggap sebagai kegagalan.

        Selain itu, kisah Kejadian ini juga ingin menunjukkan bahwa Allah bekerja secara teratur dan sistematis (Theology of Work Project, 2007). Jadi, kisah ini tidak boleh dibaca dengan cara berpikir manusia masa kini yang memiliki pemahaman yang sudah lebih maju.

Hari pertama: Allah menciptakan terang, lalu memisahkannya dari gelap. Itulah siang dan malam.

Hari kedua: Allah menciptakan cakrawala untuk memisahkan air yang ada di bawahnya dengan yang di atasnya.  

Hari ketiga: Allah menciptakan kumpulan air, yaitu laut dan daratan. Tunas-tunas muda dan semua tumbuhan berbiji dan pohon yang berbiji tumbuh pada hari ini. 

Hari keempat: Allah menciptakan benda-benda penerang: matahari bulan, dan bintang-bintang. Matahari menguasai siang, bulan dan bintang-bintang di malam hari. 

Hari kelima: Allah menciptakan semua binatang laut yang besar, dan binatang air, burung-burung yang beterbangan di udara. Juga binatang-binatang laut yang besar, binatang yang berkeriapan di dalam air. 

Hari keenam: Allah membuat bumi mengeluarkan segala jenis makhluk hidup, ternak, binatang melata, dan binatang liar. Lalu Allah menciptakan manusia. 

        Gambaran tentang penciptaan ini tidak masuk akal untuk manusia modern. Bagaimana mungkin terang sudah ada, sementara matahari, bulan dan bintang baru diciptakan belakangan di hari keempat? Padahal, bukankah matahari itu sumber terang? Bulan hanya ada karena adanya matahari. Bulan hanyalah memantulkan sinar matahari.

        Bagaimana dengan pohon dan tanaman yang tidak berbiji? Siapakah penciptanya? Jamur, pakis, paku ekor kuda, kantong semar, tebu, ketela pohon — semuanya tidak berbiji.

        Bagaimana dengan manusia? Kita tahu ada manusia yang beraneka warna. Ada yang kulitnya hitam, cokelat, kuning, putih. Kita tahu bahwa mereka yang berkulit putih menurunkan anak-anak yang berkulit putih. Begitu pula dengan yang berkulit hitam. Lalu, apakah warna kulit Adam dan Hawa? Hitam atau putih?

        Jelas bahwa semua pertanyaan di atas tidak dapat kita temukan jawabannya di dalam Alkitab. Mengapa demikian? Karena Alkitab tidak bertujuan untuk menjelaskan semua itu. Akan tetapi, coba kita lihat dari urut-urutan penciptaan yang diterangkan di dalam Kitab Kejadian. Pada hari pertama hingga hari ketiga, Allah menciptakan TEMPAT untuk segala sesuatu yang akan diciptakan-Nya. Ada ruang untuk semuanya. Ada terang, ada langit, air, dan daratan.

        Pada hari keempat hingga keenam, Allah menciptakan ISI dari semuanya itu. Di hari keempat ada terang dan gelap, lalu matahari, bulan dan bintang. Di hari kelima, Allah menciptakan segala binatang di udara dan di lautan dan di dalam air tawar. Akhirnya, pada hari keenam, Allah menciptakan berbagai makhluk hidup, binatang melata dan liar, lalu akhirnya manusia.

       Tampak betapa sistematisnya Allah bekerja seperti yang digambarkan oleh manusia kuno sekitar 2.500 tahun yang lalu. Inti ceritanya ingin menyampaikan Allah bekerja dengan keteraturan. Ini berbeda dengan keadaan bumi yang masih kosong dan kacau-balau seperti yang digambarkan pada Kejadian 1:2, “Bumi belum berbentuk dan kosong gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” Gambaran “belum berbentuk dan kosong gelap gulita” itu dilukiskan sebagai keadaan "tohu wa-bohu "( yang diterjemahkan sebagai keadaan chaos, kacau-balau.

        Perhatikan bahwa apa yang Allah ciptakan adalah baik adanya. Ilmu pengetahuan berhasil menemukan bukti bahwa proses terjadinya gurun pasir, gunung berapi, ngarai yang istimewa seperti Grand Canyon di Amerika Serikat, mencakup periode sebanyak jutaan, bahkan miliaran tahun. Perhitungan tahun di sini adalah 365 atau 366 hari, dan satu hari terdiri atas 24 jam, satu jam terdiri atas 60 menit, dan satu menit terdiri atas 60 detik. Selain alam indah ciptaan Tuhan, minyak bumi dan berbagai mineral lainnya seperti emas dan perak juga mengalami proses pembentukan selama ratusan juta tahun sehingga kini menghasilkan benda yang dimanfaatkan untuk kepentingan manusia. Dari Perjanjian Lama, dapat kita baca bahwa pembangunan Bait Allah di masa pemerintahan Raja Salomo ternyata banyak menggunakan emas dan batu permata lainnya. Sedikitnya, ada 23 jenis batu permata yang disebutkan di Alkitab, tetapi memang agak sulit menemukan jenis permata dimaksud pada saat sekarang ini (alkitab.sabda.org, 2020).

        Pada bagian pembukaan Kitab Kejadian ini juga kita menemukan penugasan yang diberikan Allah kepada manusia di bumi. Manusia diberikan tugas “penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (Kejadian 1:28b). Perintah ini seringkali dipahami seolah-olah manusia boleh melakukan apa saja. Manusia diberikan kuasa penuh untuk “menaklukkan bumi”. Akibatnya, banyak orang yang bertindak sewenangwenang atas seluruh alam ini.

        Penebangan hutan terjadi di mana-mana sehingga terjadilah pemanasan bumi yang mengacaukan iklim dunia. Tambang-tambang emas, perak, tembaga, batu bara, minyak bumi, gas, semuanya dieksploitasi habis-habisan sehingga mungkin sekali dalam beberapa generasi manusia di masa yang akan datang, semua sumber bumi itu sudah semakin menipis dan bahkan musnah. Lalu, bagaimana kelanjutan hidup anak cucu kita nanti? Mungkin hanya segelintir orang saja yang masih ingat kepada mereka. Terserah mereka saja!

        Makna “kuasailah dan taklukkanlah” tidaklah seperti yang sering ditafsirkan orang yang suka berbuat sewenang-wenang atas seluruh isi bumi ciptaan Allah. Tidak demikian! Penguasa yang baik tidak sekadar “menaklukkan”, melainkan memelihara apa yang telah dipercayakan kepadanya. Dengan memberikan tugas dan kepercayaan ini kepada manusia, sesungguhnya Allah telah mengajak manusia untuk bekerja bersama-sama Dia untuk memelihara dan melindungi seluruh isi alam ini, sementara pada saat yang sama kita diberikan hak untuk menikmatinya secukupnya. Kita juga dapat mengatakan bahwa Kejadian 1:28 ini adalah mandat Allah kepada manusia, mandat yang harus dipertanggungjawabkan dengan baik. Tugas pemeliharaan ini kelak akan berkali-kali kita temukan di dalam perumpamaan-perumpamaan Yesus.

        Misalnya, dalam perumpamaan tentang talenta yang dititipkan seorang saudagar kepada hamba-hambanya. Ada yang menerima 5 talenta, ada yang menerima 2, dan ada yang 1. Kepercayaan yang diberikan kepada para hamba itu tidak berarti talenta itu bisa dipakai berfoya-foya, melainkan harus diusahakan supaya berkembang dan menghasilkan lebih banyak.

        Bagaimana kita memahami perumpamaan dalam konteks hutan yang ditebangi dan diambil kayunya? Bukankah mestinya hutan itu dikembalikan, dipulihkan, dan ditanami kembali? Dengan demikian, hutan yang kemudian dihasilkan menjadi lebih luas dan menghasilkan oksigen untuk berbagai jenis tanaman lainnya yang bermanfaat bagi manusia dan binatang hutan. Bagaimana dengan minyak bumi dan berbagai mineral lainnya? Bagaimana kita menggunakan semua itu dengan bertanggung jawab? Bagaimana dengan kemungkinan untuk menggunakan sumber-sumber energi alternatif, misalnya sinar matahari, angin, air, gelombang laut, dan lain-lain?


Rangkuman

Tuhan menciptakan alam semesta dengan penuh keajaiban, keteraturan, dan hasilnya sungguh-sungguh indah. Manusia diberi mandat oleh Allah untuk menjadi rekan kerja Allah dalam merawat bumi dan alam sehingga memberikan hasil yang baik. Sayangnya, tidak semua menyadari bahwa sengaja ataupun tidak sengaja, tindakan mereka dalam mengolah bumi dan alam ini justru merusak keindahan alam. Sebagai generasi muda, kalian harusnya menjalankan mandat untuk merawat bumi dan alam semesta ini dengan baik sehingga bumi tetap memberikan hasil yang menguntungkan manusia sampai akhir zaman. 



Sumber: KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X Penulis: Julia Suleeman ISBN 978-602-244-465-7 (jil.1)

Selasa, 10 Februari 2026

Hidup dalam Masyarakat Majemuk

BAB 10 Hidup dalam Masyarakat Majemuk

Mazmur 137:1-5 Yeremia 29:5-7 Galatia 3:28

Pendidikan Agama Kristeen dan Budi Pekerti Kelas X


Tujuan Pembelajaran    :

  1. Mensyukuri adanya keberagaman ras, etnis, budaya dan agama 
  2. Memahami dasar teologis untuk keberagaman
  3. Membangun kepekaan terhadap keberagaman 

Apakah kalian masih ingat arti peribahasa “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”? Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya berjudul Kronik Revolusi Indonesia: 1945 (1999) memberikan makna khusus untuk istilah ‘bersatu kita teguh’, yaitu menyatunya berbagai unsur dan perbedaan yang ada menjadi suatu kesatuan yang utuh dan serasi. Dengan modal bersatunya berbagai unsur yang ada di Indonesia inilah, baik dari suku, budaya, agama, golongan, maupun jenis kelamin, Indonesia dapat memiliki modal kuat untuk bangkit melawan penjajah dan memproklamasikan diri sebagai negara Indonesia yang merdeka pada tahun 1945. Bersatunya berbagai unsur ini berarti bahwa tidak ada satu unsur pun yang menganggap atau dianggap lebih tinggi atau lebih rendah dari unsur lainnya. Sebelum kita melanjutkan pembahasan tentang ini, perhatikanlah kutipan berikut!

"Diversity is having a seat at a table, inclusion is having a voice, and belonging is having that voice be heard.” (Liz Fosslien)

Diversity is the mix. Inclusion is making that mix work.” (Andres Tapia) 

Diversity: the art of thinking independently together.” (Malcolm Forbes). 

            Coba pahami ketiga kutipan di atas. Bila diterjemahkan bebas, kira-kira begini artinya: 

Keberagaman berarti berhak duduk di meja, inklusi berarti berhak mengeluarkan suara, dan merasa terhisap berarti pendapat yang diperhitungkan.

Keberagaman adalah campuran. Inklusi adalah membuat campuran itu bekerja dengan baik.


Keberagaman: seni untuk sama-sama berpikir secara independen.

            Dari ketiga kutipan ini, kutipan mana yang menurut kalian merupakan kutipan yang paling menggambarkan makna keberagaman? Tentu tidak mudah, bukan? Mengapa demikian? Karena memang banyak makna yang terkandung di balik kata yang tampaknya sederhana, namun memiliki makna mendalam, yaitu “keberagaman”. 


Keberagaman Ras, Etnis, Budaya, dan Agama

            Setiap manusia sama di hadapan Tuhan Sang Pencipta. Dalam kenyataannya, manusia memang tidak sama, baik secara fisik/penampilan maupun dari sudut aspek-aspek perkembangan. Sampai dengan abad ke-18, umumnya tiap negara hanya memiliki satu jenis ras, yaitu Mongoloid, Negroid, Kaukasoid (Britanica.com, 2020). 


            Bertambahnya jumlah ras di suatu negara terjadi ketika negara tersebut mulai didatangi oleh imigran dari ras yang berbeda. Contoh paling jelas adalah negara Amerika Serikat yang semula hanya dihuni oleh Indian, namun sejak tahun 1776 saat diproklamasikan sebagai negara, justru dikuasai oleh kaum kulit putih dan kemudian juga dihuni oleh ras negroid dan mongoloid. Dari sini timbul istilah African-American yang merujuk pada pengertian ras negroid (yang lebih lazim disebut orang kulit hitam, yaitu black people atau dulu disebut Negro atau Afro yang tinggal di Amerika dan sudah beregenerasi tinggal di situ).

            Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat beragam dari segi ras, etnis, budaya, adat istiadat, dan sebagainya. Penggalian fosil menemukan sedikitnya tiga jenis manusia purba di wilayah Indonesia yang membentang dari Sabang sampai Merauke (kompas.com, 2017), yaitu jenis Homo soloensis, Homo wajakensis, dan Homo floresiensis. Dinamakan demikian sesuai dengan lokasi fosil itu ditemukan. Homo soloensis ditemukan di lembah Bengawan Solo. Homo wajakensis ditemukan di area Tulungagung, Jawa Timur, sedangkan Homo floresiensis ditemukan di Flores.

            Anehnya, manusia purba yang ditemukan di Flores atau disebut “The Hobbit” yang ditemukan fosilnya pada tahun 2003, bukanlah hasil evolusi dari manusia Jawa (Homo erectus) (kompas.com, 2017). Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa The Hobbit ini lebih tepat dikategorikan sebagai manusia dari benua Afrika. Ini berarti bahwa sejak jutaan tahun yang lalu, di wilayah Indonesia sudah ada beberapa ras. Kalian bisa mencari di internet berbagai informasi tentang manusia purba ini.

            Bila kita perhatikan dengan saksama, mereka yang berasal dari suku Batak memang berbeda penampilan fisiknya dibandingkan dengan yang dari suku Aceh walaupun sama-sama di Sumatera Utara. Saudara-saudara kita di Maluku, Minahasa, Papua, dan Minangkabau juga memang berbeda secara fisik, bahasa, adat istiadat, dan artefak budaya lainnya. Ini justru memperkaya kita sebagai suatu bangsa dan negara yang berdaulat, lepas dari campur tangan negara lain yang ingin menguasai Indonesia.

            Merujuk pada makna peribahasa ‘Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh,’ sangatlah tepat bagi negara Indonesia untuk memiliki moto “Bhinneka Tunggal Ika”. Apa saja makna yang kalian temukan di balik moto ini? Seberapa pentingnyakah moto ini untuk kalian?

            Bukan hanya secara fisik, etnis dan budaya, penduduk di wilayah NKRI pun memiliki keberagaman dalam hal agama dan keyakinan. Sejak tahun 2000, saat pemerintahan Presiden Abdurrachman Wahid, pemerintah resmi mengakui ada enam agama, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Sejarah mengenai pengakuan enam agama ini memang cukup panjang, tetapi bukan itu fokus pembahasan kita kali ini. Pada bulan November tahun 2017, Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia mengeluarkan keputusan yang menyatakan bahwa aliran kepercayaan atau juga disebut sebagai agama asli Nusantara, diakui oleh pemerintah. Keenam agama yang disebutkan terlebih dulu memang merupakan bawaan dari mereka yang datang ke wilayah Indonesia mulai abad pertama Masehi, sedangkan agama asli Nusantara sudah terlebih dulu ada sebelumnya.

            

Dasar Teologis untuk Keberagaman

            Setelah dihancurkan oleh Imperium Babilonia, bangsa Yehuda dibuang ke negara itu pada masa pembuangan pada tahun 597, 587 dan 582 SM. Ketiga proses pembuangan ini sungguh menghancurkan kebanggaan bangsa Yehuda sebagai umat pilihan Allah. Mereka membayangkan mengapa Allah telah meninggalkan mereka. Mereka meratapi dosa mereka karena telah meninggalkan Allah, dan mengabaikan perintah-perintah-Nya. Dalam Mazmur 137 ayat 1-5, digambarkan bahwa mereka menangis.

            “Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion. Pada pohon-pohon gandarusa di tempat itu kita menggantungkan kecapi kita. Sebab di sanalah orang-orang yang menawan kita meminta kepada kita memperdengarkan nyanyian dan orang orang yang menyiksa kita meminta nyanyian sukacita, “Nyanyikanlah bagi kami nyanyian dari Sion!” Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian Tuhan di negeri asing? Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku!”

            Nabi Yeremia berusaha menghibur mereka dengan mengingatkan agar mereka bersiap-siap untuk menjadikan Babel sebagai tanah air mereka sebab mereka akan tinggal lama di sana. Dalam suratnya kepada bangsa itu di pembuangan, Yeremia berkata:

            “Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya; ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang! Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” (Yeremia 29:5-7)


            Di sini jelas bahwa Allah tidak ingin orang-orang Yehuda menjauhkan diri dari bangsa Babel. Sebaliknya, mereka diperintahkan untuk mengusahakan kesejahteraan kota itu supaya mereka bisa juga ikut menikmati kehidupan di sana.

            Pada tahun 539 SM, Babilonia dikalahkan oleh Imperium Persia dan orang-orang Yehuda diizinkan kembali ke Yerusalem oleh Raja Koresy. Banyak yang memutuskan untuk tetap tinggal di Babel, tetapi cukup banyak pula yang memutuskan untuk kembali. Kepulangan mereka dipimpin oleh Nehemia dan Imam Ezra. Saat itu, Ezra mengeluarkan dekrit yang mengharuskan setiap orang Yehuda yang beristrikan orang-orang Babel untuk menceraikan mereka (Ezra pasal 9-10). Ezra menganggap perkawinan campuran orang-orang Yehuda dengan perempuan-perempuan asing itu mencemarkan “kemurnian” darah mereka.

            Namun, dalam keadaan seperti itu, muncullah dua kitab Perjanjian Lama yang mengkritik pandangan Ezra tersebut. Pertama adalah Kitab Rut yang mengingatkan bangsa Yehuda bahwa Rut adalah seorang perempuan Moab dan dialah yang menjadi nenek moyang Daud, raja Israel yang sangat mereka hormati. Yang kedua adalah Kitab Yunus, yang mengingatkan bangsa Yehuda bahwa Allah sangat mengasihi bangsa-bangsa lain. Terbukti, Allah membatalkan hukuman-Nya atas bangsa Niniwe yang jahat ketika mereka memutuskan untuk bertobat. Kedua buku ini sesungguhnya membukakan mata bangsa Yehuda bahwa mereka harus mau terbuka dan menerima bangsa-bangsa lain. Bahkan, juga menikah dengan bangsa lain, seperti yang diperintahkan Nabi Yeremia.

            Meskipun demikian, pada masa Perjanjian Baru, bangsa Yehuda kembali menjadi sangat eksklusif. Sebetulnya, itu terjadi sejak sebagian orang-orang Yehuda (atau Yahudi) kembali ke Israel dan menemukan orang-orang Samaria di sana. Siapakah orang Samaria itu? Mereka adalah keturunan campuran bangsa Israel dengan orang-orang Asyur yang dipindahkan oleh Raja ke Israel setelah sebagian bangsa Israel dibuang ke Asyur pada tahun 701 SM.

            Sebagai bangsa campuran, orang Samaria dianggap najis sebab mereka tidak memiliki darah yang murni. Ketidaksukaan orang Yahudi terhadap orang Samaria ditunjukkan dengan ketidaksukaan mereka untuk bertemu dengan orang Samaria. Jikalau orang Yahudi ingin berkunjung ke wilayah utara, mereka rela untuk menghindari tanah Samaria yang ada di antara kedua wilayah Israel itu meskipun untuk itu mereka harus menempuh perjalanan yang lebih jauh.

            Ketidaksukaan orang Yahudi terhadap orang Samaria bisa dilihat dari kisah Yesus bertemu dengan perempuan Samaria yang pergi ke sumur pada tengah hari setelah orang-orang Yahudi lebih dahulu pergi ke sana pada pagi hari saat udara belum terlalu panas. Namun, Yesus memperlihatkan diri-Nya terbuka untuk berhubungan dan berbincang-bincang dengan perempuan itu. Yesus juga ternyata menggunakan perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati. Yesus menunjukkan bahwa justru seorang Samaria yang mampu memperlihatkan belas kasihan, bahkan kepada orang Yahudi yang memusuhinya. Tentu perumpamaan ini sangat memukul sang ahli Taurat yang mengajukan pertanyaan kepada Yesus.

            Kisah Para Rasul pasal 2 mengisahkan bagaimana orang-orang dari berbagai penjuru dunia yang berkumpul di Yerusalem kemudian menyerahkan diri mereka untuk dibaptiskan. Inilah yang menjadi model komunitas yang diharapkan Allah, komunitas yang terbuka bagi semua orang, orang yang lumpuh (Kisah Para Rasul 3:10), seseorang yang secara seksual tidak jelas sehingga disingkirkan oleh masyarakat Yahudi (sida-sida, Kisah Para Rasul 8:5-13), orang asing (Kornelius, Kisah Para Rasul 10), dan kepemimpinan perempuan (Lidia pedagang kaya, Kisah Para Rasul 16:14; Priskila, Kisah Para Rasul 18:1-7).

            Keterbukaan ini semakin dipertegas oleh pekerjaan Paulus yang memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa. Bahkan dalam Surat Galatia 3:28, Paulus mengatakan, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.

            McGonigal (2013) memberikan satu ulasan menarik tentang keberagaman, yang menurutnya sering diabaikan oleh para teolog maupun pemimpin gereja karena dianggap sebagai topik yang tidak penting, malah memiliki konotasi politik. Padahal, keberagaman adalah bagian yang tidak terpisahkan dari shalom, bahasa Ibrani yang sering diterjemahkan sebagai damai, namun mengandung makna keutuhan, sempurna, kemakmuran sebagai bagian dari sejak awal Tuhan menciptakan alam semesta beserta isinya. Secara lebih rinci, ini yang Tuhan kerjakan, mulai dari penciptaan sampai pada penyelamatan manusia.

            Saat penciptaan, ada suatu urutan yang terjadi. Tuhan menciptakan langit dan bumi dan segala isinya dari yang semula tidak ada. Dimulai dengan terang yang dipisahkan dari gelap, bumi dan langit, laut dan daratan dan tumbuh-tumbuhan, matahari, bulan dan bintang-bintang, binatang baik di darat maupun di laut dan di udara, lalu manusia. Ada berbagai tumbuhan, binatang, dan dua jenis manusia, yaitu laki-laki dan perempuan. Jadi, dari penciptaan kita sudah melihat bahwa Allah menciptakan keberagaman.

            Manusia dikhususkan sebagai ciptaan yang memiliki gambar dan rupa Tuhan, tetapi bukanlah Tuhan. Jadi, manusia memiliki unsur yang sama, tetapi juga berbeda dengan Tuhan. Antara laki-laki dan perempuan pun ada perbedaan yang dapat kita lihat secara fisik, tetapi juga dalam cara berpikir dan merasa. Namun keduanya sama-sama merupakan gambaran dari Tuhan. Baik manusia laki-laki maupun manusia perempuan diberikan tugas untuk mengolah bumi dan memelihara tumbuhan dan binatang sehingga memberikan hasil yang menguntungkan. Sebaliknya, menyalahgunakan kesempatan untuk mengolah ini semua malah akan membawa kepada kehan-curan. Dalam hal ini, manusia harus menjalankan tugasnya dengan hati-hati karena merupakan kawan sekerja Allah.

            Semua yang diciptakan Tuhan adalah baik dan indah; baik alam, tumbuhan, binatang, maupun manusia. Semuanya saling terhubung menjadi bukti bahwa ciptaan Tuhan sempurna adanya. Ada keteraturan yang kita temui di dalam ciptaan Tuhan. Ada pagi, siang, malam, dengan matahari yang selalu terbit pada waktunya. Sayangnya, kehadiran dosa merusak hubungan manusia dengan Tuhan dan merusak shalom yang dirancang Tuhan ini.

            Kitab Kejadian pasal 3 melukiskan akibat dari dosa, yaitu rusaknya hubungan antara laki-laki dan perempuan (saling menyalahkan); rusaknya hubungan antara manusia dan Tuhan (manusia takut bertemu dengan Tuhan); rusaknya hubungan antara manusia dan binatang (yang diwakilkan oleh ular), dan antara manusia dan alam (manusia harus bekerja keras agar bumi memberikan hasil yang baik).

            Namun Alkitab menyaksikan bahwa dari kejadian air bah di zaman Nuh, sampai dengan penyaliban dan kebangkitan Kristus, karya penyelamatan Allah terus berlangsung. Karya-Nya, baik dalam bentuk penciptaan, pemeliharaan, penyelamatan mau pun pembaruan, terus berlangsung sampai pada akhirnya, “… dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Filipi 2:11) dan “… mereka menyanyikan nyanyian Musa, hamba Allah, dan nyanyian Anak Domba, bunyinya, “Besar dan ajaib segala pekerjaan-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa! Adil dan benar segala jalan-Mu, ya Raja segala bangsa!” (Wahyu 15:3).

            Berdasarkan uraian di atas, jelas sekali bahwa Allah menginginkan kita hidup bersama dengan sesama kita yang berbeda-beda, baik secara etnis, suku, agama, maupun kelas sosial. Gereja diharapkan menjadi contoh bagi masyarakat seperti itu.


Membangun Kepekaan terhadap Keberagaman

            Sekolah menjadi tempat yang penting untuk membangun kepekaan siswa terhadap keberagaman. Sekolah adalah komunitas mini karena terdiri dari berbagai kelompok usia, suku, golongan, dan mungkin juga agama. Meminjam konsep pendidikan yang menekankan keberagaman dari Lee (2010), tujuan pendidikan seperti ini adalah membentuk suatu komunitas shalom sama seperti yang Tuhan perintahkan. Ini dapat dicapai melalui dua tahap. Pertama, setiap orang perlu menyadari bahwa setiap manusia diciptakan seturut dengan gambar dan citra Tuhan (imago dei) dan setiap manusia harus diperlakukan secara adil dengan penuh hormat. Pemahaman mengenai semua manusia sama didukung dalam 4 hal, yaitu:

  1. Bahwa kita harus mengasihi setiap orang seperti diri kita sendiri (Matius 22:39) 
  2. Bahwa Tuhan menginginkan agar semua bangsa datang ke hadapan-Nya (Wahyu 1:7) karena memang Tuhan mengasihi setiap ciptaan-Nya (Kisah Para Rasul 17:26) 
  3. Bahwa Tuhan menginginkan kita sungguh-sungguh saling mengasihi (Yohanes 15:12-13); dan 
  4. Mempraktikkan prinsip hidup dengan mengandalkan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5:22). 

            Sungguh sangat kaya bekal Alkitab bagi kita untuk membangun komunitas perdamaian ini. Baiklah kita belajar mempraktikkan cinta kasih ini dengan sungguh-sungguh karena ini menjadi cara untuk menghadirkan damai sejati di dunia ini. Kita bisa mulai dengan komunitas yang paling kecil, yaitu keluarga dan sekolah, sebelum semakin terampil untuk mempraktikkannya di lingkungan yang lebih besar, yaitu lingkungan masyarakat.


Ragkuman

Ternyata sejak penciptaan, Tuhan sudah menghadirkan keberagaman di dunia ini. Keberagaman juga dapat dilihat dari karya Allah dalam memelihara, menyelamatkan, dan membarui alam dan manusia. Akan tetapi, keangkuhan manusia membuat hanya orang-orang dengan karakteristik tertentu yang dianggap pantas untuk menikmati keistimewaan. Hendaklah kita memelihara keberagaman yang diciptakan Tuhan dengan menghormati dan menga-sihi mereka yang berbeda dengan kita. 


Quiz Klik disini

Sumber :

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X Penulis: Julia Suleeman ISBN 978-602-244-465-7 (jil.1) 

Minggu, 08 Februari 2026

Bahaya Kerusakan Alam

 Bab 12 Bahaya Kerusakan Alam 

Bahan Alkitab: Kejadian 1: 1–31

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti Kelas XI


Tujuan Pembelajaran 

  1. Mendeskripsikan bentuk dan bahaya kerusakan alam.
  2. Menjelaskan panggilan hidup sebagai agen pelestari lingkungan hidup.
  3. Membuat video atau tulisan singkat tentang kampanye pelestarian alam.


            Beberapa waktu belakangan ini berbagai media cetak dan elektronik mengangkat berita tentang bencana. Mulai dari bencana kecil sampai bencana besar. Dari banjir bandang karena curah hujan yang lebat, sampai banjir yang disebabkan tertutupnya saluran air oleh sampah dan sedimen lumpur di dalamnya. 

            Bencana memang terjadi karena beberapa sebab. Ada yang terjadi karena kejadian alam. Contohnya adalah patahan lempeng tanah di dalam laut yang berakibat tsunami. Contoh lain adalah gempa yang menimbulkan likuifaksi, seperti yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah, pada tahun 2018 yang mengakibatkan amblasnya tanah di wilayah tersebut. Namun, ada juga bencana yang terjadi karena ulah manusia seperti penebangan pohon secara membabi buta tanpa mempertimbangkan reboisasinya. Contohnya, hutan yang sudah gundul terutama di Papua, Kalimantan, dan Sumatera. Akibatnya, lahan menjadi rusak, hutan tidak punya kemampuan menahan arus air, juga tidak punya kemampuan menampung curah hujan. Dampaknya? Wilayahwilayah rendah terkena banjir dan akibat lainnya adalah longsor. Contohnya, banjir bandang di Wasior, Papua, atau bencana banjir dan longsor di Sumedang, Jawa Barat pada awal tahun 2021.

            Salah satu sumber bencana adalah karena eksploitasi sumber daya alam. Hal ini tentu menimbulkan dilema. Di satu sisi sumber daya alam merupakan kebutuhan manusia juga, namun di lain sisi prosesnya menimbulkan dampak serius dan kembali ke manusia. Robert P. Borrong memaparkan bahwa eksploitasi sumber daya alam seperti minyak, batu bara, gas bumi, dan logam, melalui proses penambangan, memberi sumbangan sangat besar bagi kerusakan lingkungan. Proses yang dilakukan untuk penambangan itu berdampak pada penggundulan hutan dan pencemaran lingkungan, seperti sungai yang dicemari oleh limbah kimia (Borrong 2003, 72). Tentu saja ini sangat berbahaya bagi manusia dan seluruh mahkluk hidup di bumi. Sementara itu, bentuk yang lebih kecil pun dilakukan manusia dengan membuang sampah sembarangan, termasuk membiarkan jalur sungai dipenuhi dengan potongan kayu dan bambu yang mengakibatkan banjir.

            Dalam kondisi demikian, apakah yang harus manusia lakukan? Bagaimanakah manusia seharusnya bersikap atas kondisi tersebut? Granberg M. Wesley memaparkan bahwa seharusnya manusia bersikap menghargai. Manusia adalah ciptaan Allah dengan kodrat sosial. Maka dari itu, seharusnya manusia melakukan relasi terbaik, termasuk di dalamnya membangun hubungan dengan seluruh ciptaan Tuhan serta merawatnya dalam kerja sama yang kuat bersama ciptaan yang lain itu (Wesley 1994, 85). Dalam kondisi kerja sama demikian, ekosistem akan terjaga dan terawat dengan baik. Sebagaimana dikatakan Robert Borrong, manusia memiliki kewajiban dan tanggung jawab bukan hanya terhadap sesama manusia, melainkan juga terhadap seluruh kehidupan di alam semesta ini. Di dalamnya manusia bisa terlibat secara aktif, berpartisipasi positif dengan memelihara kehidupan melalui pembersihan lingkungan seperti sungai yang bersih dari sampah, juga lingkungan sekitar yang rindang dengan pohon-pohon (Borrong 2003, 182–186).

            Jika manusia tidak memberi perhatian yang besar terhadap krisis lingkungan, bahkan membiarkan lingkungan rusak dan hancur, sebenarnya manusia sedang melakukan kerusakan pada dirinya sendiri juga. Manusia perlu menyadari sepenuhnya bahwa alam yang rusak oleh ulah manusia berdampak pada penghancuran bagi dirinya sendiri, termasuk peradabannya juga (Tristanto 2015, 78).

      Diskusikanlah Kejadian 1:1-31      

Rangkuman

Lingkungan tempat manusia dan makhluk hidup lainnya tinggal perlu dirawat dan dipelihara dengan baik. Manusia secara khusus memiliki tanggung jawab yang besar terkait perawatan lingkungan hidup, bukan hanya sekadar memanfaatkan dan mengeksploitasinya, melainkan juga melakukan perawatan agar lingkungan karya Allah memberi dampak bagi kemanusiaan.

            Manusia dipercaya Allah untuk melakukan proses pemeliharaan dalam wujud penatalayanan atas karya Allah itu. Itulah sebabnya keseimbangan ekosistem menjadi pokok yang harus diperhatikan oleh semua makhluk agar seluruh proses kehidupan berjalan dengan baik. 


Sumber :

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Penulis: Mulyadi ISBN 978-602-244-708-5 (jil.2)

Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya

  BAB XI Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya  Kejadian 1:1-31 I Raja-raja 17-19, 21 II Raja-raja 1-2  Pendidikan Agama Kristen dan Budi ...