Bab 12 Bahaya Kerusakan Alam
Bahan Alkitab: Kejadian 1: 1–31
Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti Kelas XI
Tujuan Pembelajaran
- Mendeskripsikan bentuk dan bahaya kerusakan alam.
- Menjelaskan panggilan hidup sebagai agen pelestari lingkungan hidup.
- Membuat video atau tulisan singkat tentang kampanye pelestarian alam.
Beberapa waktu belakangan ini berbagai media cetak dan elektronik mengangkat berita tentang bencana. Mulai dari bencana kecil sampai bencana besar. Dari banjir bandang karena curah hujan yang lebat, sampai banjir yang disebabkan tertutupnya saluran air oleh sampah dan sedimen lumpur di dalamnya.
Bencana memang terjadi karena beberapa sebab. Ada yang terjadi karena kejadian alam. Contohnya adalah patahan lempeng tanah di dalam laut yang berakibat tsunami. Contoh lain adalah gempa yang menimbulkan likuifaksi, seperti yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah, pada tahun 2018 yang mengakibatkan amblasnya tanah di wilayah tersebut. Namun, ada juga bencana yang terjadi karena ulah manusia seperti penebangan pohon secara membabi buta tanpa mempertimbangkan reboisasinya. Contohnya, hutan yang sudah gundul terutama di Papua, Kalimantan, dan Sumatera. Akibatnya, lahan menjadi rusak, hutan tidak punya kemampuan menahan arus air, juga tidak punya kemampuan menampung curah hujan. Dampaknya? Wilayahwilayah rendah terkena banjir dan akibat lainnya adalah longsor. Contohnya, banjir bandang di Wasior, Papua, atau bencana banjir dan longsor di Sumedang, Jawa Barat pada awal tahun 2021.
Salah satu sumber bencana adalah karena eksploitasi sumber daya alam. Hal ini tentu menimbulkan dilema. Di satu sisi sumber daya alam merupakan kebutuhan manusia juga, namun di lain sisi prosesnya menimbulkan dampak serius dan kembali ke manusia. Robert P. Borrong memaparkan bahwa eksploitasi sumber daya alam seperti minyak, batu bara, gas bumi, dan logam, melalui proses penambangan, memberi sumbangan sangat besar bagi kerusakan lingkungan. Proses yang dilakukan untuk penambangan itu berdampak pada penggundulan hutan dan pencemaran lingkungan, seperti sungai yang dicemari oleh limbah kimia (Borrong 2003, 72). Tentu saja ini sangat berbahaya bagi manusia dan seluruh mahkluk hidup di bumi. Sementara itu, bentuk yang lebih kecil pun dilakukan manusia dengan membuang sampah sembarangan, termasuk membiarkan jalur sungai dipenuhi dengan potongan kayu dan bambu yang mengakibatkan banjir.
Dalam kondisi demikian, apakah yang harus manusia lakukan? Bagaimanakah manusia seharusnya bersikap atas kondisi tersebut? Granberg M. Wesley memaparkan bahwa seharusnya manusia bersikap menghargai. Manusia adalah ciptaan Allah dengan kodrat sosial. Maka dari itu, seharusnya manusia melakukan relasi terbaik, termasuk di dalamnya membangun hubungan dengan seluruh ciptaan Tuhan serta merawatnya dalam kerja sama yang kuat bersama ciptaan yang lain itu (Wesley 1994, 85). Dalam kondisi kerja sama demikian, ekosistem akan terjaga dan terawat dengan baik. Sebagaimana dikatakan Robert Borrong, manusia memiliki kewajiban dan tanggung jawab bukan hanya terhadap sesama manusia, melainkan juga terhadap seluruh kehidupan di alam semesta ini. Di dalamnya manusia bisa terlibat secara aktif, berpartisipasi positif dengan memelihara kehidupan melalui pembersihan lingkungan seperti sungai yang bersih dari sampah, juga lingkungan sekitar yang rindang dengan pohon-pohon (Borrong 2003, 182–186).
Jika manusia tidak memberi perhatian yang besar terhadap krisis lingkungan, bahkan membiarkan lingkungan rusak dan hancur, sebenarnya manusia sedang melakukan kerusakan pada dirinya sendiri juga. Manusia perlu menyadari sepenuhnya bahwa alam yang rusak oleh ulah manusia berdampak pada penghancuran bagi dirinya sendiri, termasuk peradabannya juga (Tristanto 2015, 78).
Diskusikanlah Kejadian 1:1-31
Rangkuman
Lingkungan tempat manusia dan makhluk hidup lainnya tinggal perlu dirawat dan dipelihara dengan baik. Manusia secara khusus memiliki tanggung jawab yang besar terkait perawatan lingkungan hidup, bukan hanya sekadar memanfaatkan dan mengeksploitasinya, melainkan juga melakukan perawatan agar lingkungan karya Allah memberi dampak bagi kemanusiaan.
Manusia dipercaya Allah untuk melakukan proses pemeliharaan dalam wujud penatalayanan atas karya Allah itu. Itulah sebabnya keseimbangan ekosistem menjadi pokok yang harus diperhatikan oleh semua makhluk agar seluruh proses kehidupan berjalan dengan baik.
Sumber :
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Penulis: Mulyadi ISBN 978-602-244-708-5 (jil.2)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar