Bab 2 Allah Menganugerahkan Talenta kepada Manusia
Bahan Alkitab: Keluaran 4:10–16; 31:1–11
Tujuan Pembelajaran
- Mendeskripsikan sedikitnya tiga cara Allah merawat hidup manusia.
- Mendaftarkan sedikitnya tiga talenta yang Tuhan anugerahkan.
- Merancang sedikitnya dua aktivitas, sesuai dengan talenta yang kalian miliki, sebagai sumbangsih bagi Indonesia.
- Mengidentifikasi talenta untuk pengembangan dan talenta yang disalahgunakan.
- Mengelola talenta yang Tuhan anugerahkan.
Talenta adalah anugerah yang Tuhan percayakan untuk dikembangkan secara bertanggung jawab. Dengan talenta, setiap orang dapat menjalani kehidupannya dengan gembira. Dengan talenta pula setiap orang dapat saling menolong dan memberdayakan.
Namun, talenta bisa juga digunakan untuk menghancurkan. Alih-alih merawat, talenta yang baik malah digunakan untuk hal yang kurang baik. Contohnya, seseorang yang memiliki talenta melukis merusak fasilitas (umum) yang tersedia dengan mencoret-coret dinding tempat umum. Contoh lain, talenta untuk orasi disalahgunakan dan mendorong orang lain bertindak anarkis sehingga terjadi pengrusakan saat demonstrasi. Dengan demikian, tujuan demonstrasi tidak tercapai dan justru berbagai fasilitas rusak karenanya. Semoga kita menjadi umat Allah yang mensyukuri talenta dan mengembangkannya untuk membangun (konstruktif), dan bukan menghancurkan (destruktif).
Pemaparan Materi
Pada masa pelayanan Yesus, talenta digunakan sebagai ukuran timbangan yang setara dengan 3.000 syikal (sekitar 34 kilogram). Nilainya menjadi sangat besar jika dikaitkan dengan hitungan uang, yakni setara dengan 6.000 dinar.
Tahukah kalian, berapakah harga 6.000 dinar itu? Satu dinar adalah upah atau harga kerja seorang tukang sehari (lihat Mat. 20:2). Jika disetarakan dengan kondisi saat ini, angkanya menjadi sangat besar. Jika upah seorang tukang saat ini di Indonesia sebesar Rp150.000 per hari, maka dengan Rp150.000 x 6.000 = Rp900.000.000. Ini merupakan angka yang sangat besar, bukan? Apalagi jika digunakan ukuran timbangan, dan timbangan itu dikenakan pada emas. betapa besarnya talenta yang Tuhan anugerahkan kepada setiap orang, tidak terkecuali kepada kalian yang tengah menjangkau masa depan yang dirintis sejak proses studi saat ini.
Berdasarkan perhitungan di atas, talenta menjadi sesuatu yang harus dihargai dan dinilai sangat tinggi. Jumlah yang sangat besar itu secara nominal menjadi lebih besar lagi jika dilekatkan pada manusia karena manusia tidak bisa dinominalkan. Manusia melebihi angka-angka. Oleh karena itu, penghargaan terhadap talenta sebagai anugerah Tuhan harus disambut gembira. Itu sebabnya manusia harus mengasah, melatih, dan mengembangkan talenta yang Tuhan anugerahkan agar menjadi optimal.
Talenta berbeda dengan ketertarikan. Bisa saja seseorang tertarik pada bidang tertentu, tetapi ia sebenarnya tidak memiliki talenta di bidang tersebut. Contohnya, seseorang yang secara alamiah tidak memiliki bakat seni, tetapi ia memiliki ketertarikan pada bidang seni tersebut sebagai penikmat semata. Maka, talentanya bukanlah pada pelaku seni tersebut. Talenta tentu bisa diasah, dilatih, dan dikembangkan.
Pada Perjanjian Baru, kata talenta ditemukan sebanyak 14 kali yang menunjuk pada satuan ukuran berat. Dalam bahasa aslinya ditulis talanton atau talanta yang kemudian digunakan untuk ukuran uang logam yang nilainya tergantung pada zaman, tempat, dan jenis logamnya (Hasan Sutanto 2002, 744). Pada Perjanjian Baru, talenta diterakan pada sejumlah ukuran dan dinilai dengan uang. Namun, dalam bahasan pada Bab 2 ini, talenta lebih dilekatkan pada potensi yang harus dikembangkan bagi kemuliaan Tuhan. Ini akan ditampakkan pada diri Musa yang cenderung menghindari potensinya—sekalipun kemudian ia bersedia juga menjalaninya—dan pada Bezaleel dan Aholiab yang telah diberikan keahlian (baca = talenta) oleh Tuhan untuk melakukan pekerjaan yang dikehendaki Tuhan.
Membaca Teks Alkitab
Bacalah Keluaran 4:10–16 dan 31:1–11!
Dua bacaan dari Kitab Keluaran tersebut menggambarkan dua posisi yang berbeda. Pertama adalah Musa. Musa menjadi pribadi yang “kehilangan” kepercayaan diri sehingga ia sulit mengembangkan kemampuannya. “Lalu kata Musa kepada Tuhan: “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah” (Kel. 4:10).
Kitab Keluaran 4:10–16 menggambarkan tentang Musa yang menolak ketika ia diperintah Tuhan untuk berangkat ke Mesir. Situasi ini demikian mencekam karena Tuhan mempercayakan kekuatan, namun Musa justru mengabaikannya. Boleh jadi hal ini karena dilandasi masa lalu Musa yang memiliki pengalaman buruk dengan Mesir (lihat Kel. 2:11–15). Sebagaimana diketahui, Musa pernah bermasalah dengan prajurit Mesir, dan dalam teks ini ia mendapat perintah untuk kembali ke Mesir.
Pernyataan Musa ini berpotensi menimbulkan gambaran negatif. Sebagaimana diketahui, Musa pernah memiliki masa lalu yang suram di Mesir, yakni pernah membunuh salah seorang pengawas pekerjaan (lihat Kel. 2:11–15). Pengalaman itu membuatnya harus bergulat dengan perasaan bersalah dan ketakutan. Ini tentu harus diatasi dengan kekuatan besar. Namun, Allah justru memilihnya untuk menjadi negosiator ketika berhadapan dengan kerajaan Mesir. Di sini pengembangan talenta benarbenar harus dikukuhkan.
Namun, yang sangat penting untuk disimak adalah respons Musa. Ia harus bergulat antara potensi yang dimilikinya dengan perasaan takut yang dihadapinya. Apalagi kepercayaan Tuhan kepadanya dengan pernyataan Tuhan, “Aku akan menyertai lidahmu”, menjadi sebuah anugerah yang sangat besar. Di sini Musa disadarkan bahwa talenta yang Tuhan anugerahkan itu tidak semestinya ditolak. Syukurlah, Musa kemudian menyambut perintah Tuhan tersebut.
Pada sisi lain, Kitab Keluaran 31 menggambarkan hal yang bertolak belakang dengan Musa. Bezaleel dan Aholiab justru melaksanakan pekerjaan besar yang dilakukan dengan komitmen kuat. Mereka mengerjakan dengan setia. Tiap hal yang dikerjakan dengan tulus berpotensi berkembang menjadi lebih besar dan lebih baik.
Situasi kedua ditunjukkan oleh Bezaleel dan Aholiab pada Keluaran 31:1– 11. Berbeda dengan Musa yang gamang dan memiliki ketakutan sehingga mengabaikan talenta yang Tuhan anugerahkan, Bezaleel dan Aholiab justru menindaklanjuti pekerjaan yang dipercayakan kepada mereka. Kisah ini tergambar juga dalam Keluaran 35:30–36:1. Kedua orang ini menerima dan mengerjakan talenta berupa keterampilan yang Tuhan anugerahkan kepada mereka.
Rangkuman
Talenta adalah anugerah Tuhan. Dengan talenta setiap orang bisa mengembangkan diri dan semakin berkualitas dalam melaksanakan peran hidupnya.
Talenta berbeda dengan minat. Talenta adalah sesuatu yang Allah lekatkan dalam diri seseorang. Namun, tentu saja talenta pun tetap harus diasah dan dilatih agar berkembang dan dapat memberi dampak pada pertumbuhan hidup seseorang.
Sumber :
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Penulis: Mulyadi ISBN 978-602-244-708-5 (jil.2)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar