Translate

Rabu, 08 Oktober 2025

DAMAI SEJAHTERA MENURUT ALKITAB

 BAB VII  DAMAI SEJAHTERA MENURUT ALKITAB 

(Injil Yohanes 14:23-31)

Pendidikan Agama Kristen dan Budhi Pekerti Kelas XII Gasal

Tujuan Pembelajaran :

  1. Menjelaskan arti damai sejahtera menurut Alkitab. 
  2. Menggambarkan ciri-ciri kehidupan masyarakat yang diliputi oleh damai sejahtera yang dikehendaki oleh Allah.
  3. Menyebutkan contoh-contoh perilaku pembawa damai sejahtera Allah.
  4. Menjadi pembawa damai sejahtera

            Damai sejahtera dalam beberapa dekade terakhir ini menjadi semakin populer, namun konteksnya adalah keadaan damai sejahtera yang dikontraskan dengan situasi konflik. Sejumlah universitas dan lembaga lainnya juga menawarkan pendidikan khusus bagi mereka yang ingin berperan sebagai pembawa damai sejahtera. Tetapi, yang ditawarkan adalah pandangan sekularisme tanpa mengaitkannya dengan sudut pandang agama-agama.

            Tentu hal ini dapat dipahami karena setiap agama akan memiliki sudut pandangnya yang khas tentang damai sejahtera. Berkaitan dengan kepentingan remaja SMA kelas XII mereka adalah kelas ujian yang kelak setelah selesai SMA siap untuk menjadi manusia dewasa yang melangkah ke Perguruan Tinggi atau jika tidak memasuki perguruan tinggi maka mereka akan bekerja. Dunia luas yang menanti mereka adalah dunia masa kini yang penuh dengan tantangan kehidupan. Tantangan persaingan untuk menjadi yang terbaik dan terutama terkadang cenderung mengabaikan kemanusiaan, keadilan dan perdamaian. 

            Generasi masa kini seolah-olah dibentuk oleh budaya percepatan teknologi yang serba instan, cepat dan menuntut keunggulan personal yang sangat kental oleh individualistik, tak jarang dalam persaingan itu orang menggunakan segala cara demi mencapai tujuan. Pada sisi lain, berbagai kepentingan yang ada kerap melahirkan konflik dan permusuhan. Oleh karena itu, remaja SMA perlu dibekali oleh prinsip-prinsip perdamaian dalam ajaran iman kristen. Bekal ini diharapkan dapat menjadi pegangan hidup mereka ditengah masyarakat, bangsa, gereja maupun keluarga. Dalam pergaulan antar pribadi maupun dalam kelompok yang lebih luas.

             Misi utama orang Kristen, adalah mempromosikan “damai sejahtera” dalam kehidupan di mana pun mereka berada. Damai sejahtera menjadi pegangan utama bagi orang kristen dalam kehidupan pribadi dan sosial. Kehadiran orang Kristen hendaknya membawa berkat bagi dirinya maupun bagi sesama. Pembahasan pertama adalah mengkaji prinsip-prinsip Alkitab mengenai damai sejahtera, pada pelajaran berikut barulah dijabarkan mengenai peran remaja Kristen sebagai pembawa damai sejahtera.


Pengertian Damai Sejahtera Menurut Alkitab

            Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, menyajikan pemahaman yang utuh tentang damai sejahtera. Begitu banyak tokoh-tokoh Alkitab yang bisa dijadikan teladan tentang bagaimana menjadi pribadi yang membawakan damai sejahtera, di tengah-tengah keadaan yang sulit atau dalam peperangan sekali pun. Tuhan Yesus selalu menjalankan perannya selaku pembawa damai sejahtera dengan sangat sempurna. Kecuali mereka yang berpikiran picik dan berhati licik, semua yang bertemu muka dengan Tuhan Yesus mengalami “cipratan” damai sejahtera yang dipancarkannya. Artinya, pertemuan dengan Tuhan Yesus menjadi kesempatan mengalami damai sejahtera yang sesungguhnya, bukan yang sifatnya sementara atau bahkan yang palsu. Inilah pesan yang ingin disampaikan kepada peserta didik: bahwa menjadi pembawa damai sejahtera adalah tugas khusus sebagai murid Kristus yang harus dijalankan dengan baik dimana pun kita berada. 

            Para penulis Alkitab menulis bahwa kesejahteraan (syalom) Israel berkaitan erat dengan ketaatan hidup mereka kepada Allah dan perintahperintah-Nya. Apabila Israel tidak setia, maka Allah tidak segan-segan akan menghukum mereka, menyerahkan mereka kepada musuh-musuh mereka, membuat tanah Israel menjadi tidak subur dan sulit ditanami (“langit di atasmu sebagai besi dan tanahmu sebagai tembaga”). Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa damai sejahtera Allah itu hanya dapat terwujud apabila ada kesetiaan kepada Allah yang disertai kerelaan untuk menjalani perintahperintah dan hukum-hukum-Nya.

            Dalam Injil Yohanes 14:23-31, kita menemukan janji Tuhan Yesus untuk memberikan damai-Nya kepada kita. Janji ini diucapkan-Nya menjelang kematian-Nya di kayu salib. Yesus sadar bahwa sebentar lagi Ia akan meninggalkan dunia dan murid-murid-Nya. Karena itu Ia menjanjikan Roh Penghibur yang akan menyertai para murid dan semua orang percaya. Tugas Roh ini adalah “mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan ... mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (ayat 27)

            Apakah yang Tuhan Yesus perintahkan untuk kita lakukan? Hal itu tidak lain daripada mengasihi Dia yang harus kita buktikan lewat ketaatan kita untuk menuruti firman-Nya dan Bapa-Nya (ayat 27). Ketaatan kita itulah yang akan memberikan kepada kita damai sejahtera-Nya (ayat 28).


Memahami Makna Damai Sejahtera Menurut Alkitab

            Orang Kristen selalu mengucap salam “Syalom” ketika berjumpa ataupun berkomunikasi dengan sesama orang beriman. Ungkapan “syalom” sudah merupakan sapaan yang lazim di kalangan orang Kristen. Apakah arti kata “syalom” yang sesungguhnya, dan apa artinya bila kita mengucapkan kata itu kepada sesama kita? Kata syalom diambil dari dalam Alkitab, dalam bahasa Ibrani “syalom” biasanya diterjemahkan menjadi ”damai” atau ”damai sejahtera”. Dalam bahasa Yunani, bahasa yang digunakan dalam penulisan Perjanjian Baru, kata ini diterjemahkan menjadi "eirene". Kata syalom atau “damai sejahtera” sering dipergunakan untuk memberikan salam kepada sesama. Dalam bahasa Ibrani orang mengucapkan syalom aleikhem, yang artinya “damai sejahtera bagimu”. Ucapan ini dijawab dengan kata-kata aleikhem syalom. Kata ini mirip sekali dengan kata “salam alaikum” atau “assalamu alaikum” dan “wa alaikum salam” dalam bahasa Arab, bukan? Kita tidak perlu heran. Bahasa Arab memang berasal dari rumpun yang sama dengan bahasa Ibrani dalam bahasa Ibrani juga dikelan Salam "Shalom besem hamasiah" yang berati "Damai didalam Nama Yesus Kristeus" dan  dibalas "El Aleikhem shalom besem hamsiah" – seperti halnya bahasa Tagalog dengan bahasa Indonesia. Dalam bahasa Arab kata syalom diterjemahkan menjadi salam, kata yang sama yang dipergunakan dalam bahasa Indonesia yang sangat diperkaya oleh kosakata dari bahasa Arab karena pengaruh agama Islam. Kata ini dapat kita bandingkan dengan salam Horas! di kalangan masyarakat Batak; Ya’ahowu! di dalam masyarakat Nias. Ucapan salam ini juga ada dalam tradisi masyarakat kita di Indonesia.

            Di kalangan masyarakat Yahudi, kebiasaan memberi salam seperti ini sangat lazim. Dalam Lukas 10:5 Tuhan Yesus memerintahkan murid-muridNya untuk memberikan salam ini apabila mereka mengunjungi rumah seseorang. “Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini.” (Lukas 10:15). Salam ini juga diucapkan oleh Tuhan Yesus ketika Ia menampakkan diri-Nya ke tengah-tengah muridmurid-Nya setelah kebangkitan-Nya: “Dan sementara mereka bercakapcakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: “Damai sejahtera bagi kamu!” (Lukas 24:36) Dalam ungkapan kata syalom aleikhem memang terkandung sebuah doa yaitu “kiranya damai sejahtera menyertaimu.” 

            Sejauh ini kita sudah membahas bagaimana kata “damai sejahtera” digunakan dalam kehidupan sehari-hari orang Yahudi. Tetapi, apakah arti “damai sejahtera” itu sendiri? Alkitab menerjemahkan kata “syalom” menjadi “damai sejahtera”. Bukan semata-mata “damai” saja, meskipun kata syalom itu sendiri memang berarti “damai” atau “perdamaian”. Arti kata “syalom” memang jauh lebih luas daripada sekadar “damai” saja. Berikut ini adalah sejumlah kata dan konsep yang digunakan untuk menerjemahkan kata “syalom”, sehingga kita dapat membayangkan kekayaan makna yang dikandungnya.

            

Berikut Ini Makna Syalom yang bersumber Dari Alkitab

Persahabatan

                Dalam Zakharia 6:13 tertulis, Syalom antara sahabat berkaitan dengan hubungan yang akrab. Dalam Mazmur 28:3 orang diingatkan akan sahabat yang mulutnya manis, tetapi niatnya jahat:“Janganlah menyeret aku bersamasama dengan orang fasik ataupun dengan orang yang melakukan kejahatan, yang ramah dengan teman-temannya, tetapi yang hatinya penuh kejahatan.” Kata “ramah” di sini merujuk kepada ucapan yang penuh syalom. Dalam versi bahasa Inggris penggunaan kata ini menjadi lebih jelas:

"Do not drag me away with the wicked, with those who are workers of evil, who speak peace with their neighbours, while mischief is in their hearts. jangan menyeretku pergi dengan orang jahat, dengan mereka yang pekerja jahat, yang berbicara damai dengan tetangga mereka, sementara kerusakan ada di hati mereka. (New Revised Standard Version) Do not take me away with the wicked and with the workers of iniquity, who speak peace to their neighbors, but evil [is] in their hearts.. Jangan membawaku pergi dengan orang fasik dan dengan pekerja jahat, yang berbicara damai kepada sesamanya, tetapi kejahatan [ada] di dalam hati mereka" (New King James Version).

                Dalam 1 Raja-raja 2:13 dikisahkan pula tentang Adonia yang menghadap kepada Batsyeba, ibu Salomo, dan ditanyai, “Apakah engkau datang dengan maksud damai?” Ia menjawab,“Ya, damai!” Namun pada kenyataannya tidak demikian. Ia datang dengan niat jahat. 


Kesejahteraan

                Kata syalom juga berarti kesejahteraan yang menyeluruh, termasuk kesehatan dan kemakmuran yang semuanya berasal dari Tuhan. Hal ini dapat kita temukan dalam 2 Raja-raja 4:26 ketika hamba Elisa bertanya kepada perempuan Sunem dalam cerita ini, “Selamatkah engkau, selamatkah suamimu, selamatkah anak itu?”Dalam bahasa aslinya, bahasa Ibrani, pertanyaan ini berbunyi, “Apakah engkau memiliki damai [sejahtera]?” Maksud pertanyaan ini mirip dengan menanyakan kesejahteraan orang lain seperti dalam pertanyaan, “Apa kabar?” Maksudnya tentu bukan hanya sekadar menanyakan berita tentang orang yang dimaksudkan, melainkan menanyakan keberadaan menyeluruh orang tersebut.

                Hal serupa diungkapkan oleh pemazmur dalam Mazmur 38:4 ketika ia meratap: “Tidak ada yang sehat pada dagingku oleh karena amarah-Mu, tidak ada yang selamat pada tulang-tulangku oleh karena dosaku”.Maksud pemazmur, dosa-dosanya telah mengganggu dirinya sehingga ia tidak memiliki syalom, kedamaian, di dalam dirinya. Karena itulah ia mengatakan, “tidak ada yang sehat pada dagingku”, karena syalom memang mempengaruhi kesejahteraan bahkan juga kesehatan dan kedamaian dalam diri seseorang.

Keamanan

Dalam Hakim-hakim 11:31, Yefta mengucapkan kaulnya bahwa bila ia kembali dari medan perang “dengan selamat” (dengan aman, dalam syalom), maka makhluk pertama yang keluar dari pintu rumahnya untuk menemuinya akan dipersembahkannya kepada TUHAN sebagai korban bakaran. 

                Dalam Yesaya 41:3, TUHAN berbicara tentang utusan-Nya yang akan mengalahkan lawan-lawannya. “Ia akan mengejar mereka dan dengan selamat (dengan syalom) ia melalui jalan yang belum pernah diinjak kakinya.”

                Dalam kitab yang sama, Yesaya juga melukiskan hubungan antara hidup yang benar di hadapan Allah yang akan menghasilkan keamanan dan ketenteraman. Yesaya melukiskan demikian, “ Dimana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya. Bangsaku akan diam di tempat yang damai, di tempat tinggal yang tenteram di tempat peristirahatan yang aman. (Yesaya 32: 17-18)

                Dalam Perjanjian Baru, Yesus mengatakan, “Apabila seorang yang kuat dan yang lengkap bersenjata menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah [en eirene – bhs. Yunani]segala miliknya.” (Lukas 11:21)

Keselamatan

                Akhirnya kata syalom juga digunakan dalam kaitan dengan “keselamatan”. Dalam Yesaya 57:19 dikatakan, “Aku akan menciptakan puji-pujian. Damai, damai sejahtera bagi mereka yang jauh dan bagi mereka yang dekat -- firman TUHAN -- Aku akan menyembuhkan dia!” Berita “damai sejahtera” yang diberitakan berkaitan erat dengan kesembuhan yang TUHAN janjikan. Keselamatan yang utuh dapat dilihat dari penggunaan kata “damai sejahtera” dalam hubungannya dengan “keadilan” (Yesaya 60:17) atau seperti dalam Mazmur 85:11 yang menyatakan “Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman.

Hubungan antara keselamatan dan perdamaian menjadi lebih jelas lagi apabila kita melihat bagaimana Perjanjian Baru memaknai karya keselamatan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus,


Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu “jauh”, sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus. Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan matiNya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang “jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang “dekat”, karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.(Efesus 2: 13 – 18)


                Di sini jelas bahwa keselamatan yang diberikan oleh Tuhan Yesus bagi kita telah menciptakan juga pendamaian antara orang-orang yang dahulunya “jauh” dan saling terasing serta bermusuhan. Keselamatan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus adalah keselamatan yang utuh, yang meliputi kehidupan jasmani dan rohani, yang mencakup masa depan tetapi juga berlaku di masa kini dan sekarang juga.  

                Uraian di atas telah menggambarkan secara lebih luas dan mendalam apa yang dimaksudkan dengan memberlakukan apa yang Allah kehendaki di dalam hidup kita seperti yang telah kita lihat dalam Kitab Ulangan dan Injil Yohanes. Kita sudah melihat bahwa damai sejahtera bukanlah sesuatu yang akan hadir secara otomatis di dalam hidup kita, melainkan harus kita upayakan dengan kerja keras dan kesungguhan.

                Pemberian salam dan pengucapan “salam damai” atau “damai Kristus besertamu” adalah sebuah tindakan yang menggambarkan hasil pendamaian yang telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus Kristus bagi manusia. Setelah kita menerima berita pengampunan dan pendamaian dari Tuhan, hubungan kita dengan sesama kita pun dipulihkan kembali. Karena itulah kita saling mengucapkan “salam damai” atau “damai Kristus besertamu”.

                Ucapan “salam damai” atau “damai Kristus besertamu” juga mengandung doa dan pengharapan bahwa kita dan sesama orang percaya boleh ikut serta di dalam karya pendamaian yang telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus. Karena itulah, dalam Kolose 3:15 dikatakan: “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh.” 

                Kristus telah memperdamaikan kita dengan sesama kita. Karena dosa, kita hidup dalam permusuhan dengan sesama kita. Dosa telah membuat kita hidup egois, mementingkan diri sendiri dan tidak peduli akan orang lain. Melalui pendamaian-Nya, Kristus mengajarkan agar kita hidup dalam satu tubuh yang disebut gereja. Inilah panggilan kita sebagai gereja Tuhan. gereja diharapkan oleh Tuhannya untuk hidup dalam kesatuan. Sayangnya, gereja justru seringkali hidup dalam perpecahan. Karena itulah, Kolose 3:15 mengingatkan kita agar kita terus hidup dalam satu tubuh, sehingga sebagai gereja kita bisa terus menjadi saksi bagi damai sejahtera Yesus Kristus.

                Menurut penjelasan di atas, makna syalom bukan hanya sekadar kata salam yang menjadi ciri khas orang kristen, namun mengandung makna: persahabatan, sejahtera, tenteram, persahabatan dan keselamatan. Beberapa aspek tersebut amat dibutuhkan oleh umat manusia dimasa kini ketika manusia masa kini hidup dalam berbagai tantangan yang mengancam hadirnya damai sejahtera dalam hidupnya, syalom menjadi ucapan dan realitas yang amat dibutuhkan bukan hanya oleh orang Kristen tetapi juga oleh seluruh umat manusia. Ketika buku ini ditulis pada akhir November 2020, dunia tengah menghadapi bencana besar yang dapat disebut bencana kemanusiaan sejak akhir Desember 2019 ketika ditemukan serangan virus corona di kota “Wuhan”, Cina. Sejak itu, hampir seluruh dunia terinfeksi oleh virus jahat ini yang menghancurkan berbagai sendi-sendi kehidupan masyarakat dunia. Banyak korban jiwa berjatuhan di hampir seluruh dunia. Manusia hidup dalam kekatukan dan kekhawatiran, damai sejahtera hilang dari kehidupan. Oleh karena itu, mempelajari makna “syalom” atau damai sejahtera dalam Alkitab memberikan pengharapan pada kita bahwa Tuhan, Allah yang kita sembah tidak meninggalkan kita sendirian, Ia terus bekerja dan menopang kita. Pada waktunya nanti virus ini akan dapat diatasi oleh kerja keras para ahli yang mengabdikan hidupnya bagi kemanusiaan dan dunia serta manusia akan kembali pulih. Pada saat itu terjadi, syalom atau damai sejahtera akan ada di tengah kehidupan kita.


Refleksi

                Memahami arti damai sejahtera akan menolong kita untuk lebih mengerti bagaimana caranya mengukur apakah suatu komunitas atau jemaat memiliki damai sejahtera dan memberlakukannya di dalam hidupnya sehari-hari. Bila kita memberlakukan kehendak Allah maka damai sejahtera Allah akan hadir di dalam hidup kita. Orang beriman mewarisi damai sejahtera yang diberikan oleh Yesus bagi anak-anak-Nya. Betapa pentingnya damai sejahtera bagi hidup manusia apalagi ditengah-tengah zaman kini yang penuh dengan berbagai tantangan, persoalan dan beban hidup. Tiap orang beriman terpanggil untuk hidup dalam damai sejahtera, betapapun sulit untuk mewujudkannya namun tiap orang harus berjuang untuk hidup dalam damai dan mewujudkan damai dengan sesama. Kehadiran orang beriman dimanapun seharusnya membawa kesejukan dan damai sejahtera.


Penutup

Dengarkan Lagu berikut : Lagu 1 Nyanyian Kemenangan Iman, No.: 178:1

                                          Lagu 2 Kuberoleh Berkat

                                          Lagu 3 Damai yang Padaku





Sumber :

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XII Penulis: Janse Belandina Non-Serrano ISBN: 978-602-244-702-3 (jil.3)

Tidak ada komentar:

Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya

  BAB XI Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya  Kejadian 1:1-31 I Raja-raja 17-19, 21 II Raja-raja 1-2  Pendidikan Agama Kristen dan Budi ...