Bab 7 Kucinta Keluarga Tuhan
Bahan Alkitab: Ulangan 6:4–9
Pendidikan Agama Kristen Dan Budi Pekerti Kelas XI Gasal
Tujuan Pembelajaran:
- Mendeskripsikan kehidupan keluarga Kristen.
- Membuat gambar karikatur tentang keluarga Kristen.
- Memperjelas arti keluarga dalam perspektif kristiani.
Keluarga inti terdiri dari ibu, ayah, dan anak. Bisa juga keluarga inti atau keluarga batih itu terdiri dari hanya seorang ayah atau seorang ibu dengan anaknya karena salah satu dari orang tua telah meninggal. Di samping keluarga inti, ada yang disebut keluarga besar. Yang dimaksudkan dengan keluarga besar adalah keluarga yang jangkauannya lebih luas, terikat dengan garis keturunan ke kiri dan ke kanan dari pihak ayah maupun ibu.
Keluarga Kristen yang di dalamnya setiap anggotanya terikat untuk saling menampakkan ikatan yang kuat berdasarkan kasih Allah. Melalui perjalanan kehidupan keluarga berdasarkan konteks Ulangan 6:4–9 yang menekankan pada pentingnya pendidikan keluarga yang diajarkan sejak awal. Model pendidikan Yahudi yang menekankan pada pentingnya ikatan keluarga menjadi gambaran Keluarga Allah.
Kehidupan keluarga Yahudi diisi dengan pokok penting yang berlandaskan pada pendidikan agama dan nilai-nilai spiritual dari pengalaman mereka, yang mengungkapkan diri sebagai bangsa pilihan Allah melalui Abraham. Ini merupakan dasar teologis bangsa Yahudi bahwa kehadirannya sebagai bangsa yang terpilih melalui Abraham itu dinyatakan secara kuat dan diyakini oleh para teolog pertengahan abad ke-7 SM sebagai anugerah Tuhan semata (Boehlke 2013, 19–20). Sekalipun pengalaman Abram (Abraham) itu sangat personal, para pemimpin Yahudi memandang perlu melihat hal ini sebagai kesempatan untuk memperkenalkan warisan besar bangsa Yahudi kepada generasi di bawahnya. Untuk itu, para orang tua dipanggil untuk melakukan pengajaran penting kepada anak-anak mereka mengenai keyakinan iman Yahudi itu sebagaimana tertuang dalam Ulangan 6:4–9.
Proses pada praktik pendidikan keluarga Yahudi yang berlandaskan atas Ulangan 6:4–9 ini merupakan upaya sengaja dan berkualitas yang harus menjadi spirit umat Yahudi, khususnya pendidikan iman dan relasi keluarga, dan menjadi langkah kehidupan sehari-hari keluarga (Boehlke 20–21).
Keluarga adalah sebuah komunitas kecil yang terdiri dari dua atau lebih pribadi yang terkait hubungan darah karena ikatan perkawinan atau karena proses adopsi. Menurut Baron dan Byrne (2018, 6–7), sebagian besar interaksi orang tua–anak memiliki implikasi masa depan karena keluarga adalah tempat bagi tiap anggotanya untuk belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain. Mereka mengikatkan diri dalam sebuah ikatan rumah tangga dan membangun sebuah kultur dengan perannya masing-masing. Di sini terlihat bahwa keluarga adalah komunitas yang berinteraksi dan mengikatkan diri antara yang satu dengan yang lain. Dengan mengutip pernyataan Dissanayake, Baron dan Byrne (2018, 6) mengungkapkan bahwa ketika seseorang datang ke dunia, ia sudah siap untuk berinteraksi dengan manusia lainnya.
Baron dan Byrne, dengan mengutip pemikiran Dissanayake, mengungkapkan bahwa ketika seseorang datang ke dunia, ia sudah siap untuk berinteraksi dengan manusia lainnya (Baron & Byrne, 6). Pernyataan Dissanayake di atas tentu perlu mendapat perhatian karena interaksi dengan siapa pun selalu memberi pengaruh, entah kuat, entah ringan. Tentu saja pengaruh keluarga besar perlu mendapat ruang besar mengingat ikatan keluarga tidak bisa dilepaskan dari kesatuan keluarga besar tersebut. Namun, yang juga perlu disimak di sini adalah pembagian keluarga dan bagaimana keluarga tersebut mengikatkan diri dalam tanggung jawab bersama.
Sebagaimana telah disampaikan di awal, keluarga terbagi dalam dua kategori besar, yakni keluarga inti atau batih dan keluarga besar. Keluarga inti yang terdiri dari ibu, ayah, anak, dan/atau salah satu orang tua dengan anak. Mengingat keluarga inti hanyalah orang tua dan anak, maka kerangka berpikir dan bertindak semata-mata hanya berada dalam keluarga tersebut. Seluruh tanggung jawab kehidupan hanya ada dalam keluarga tersebut. Cara kelola dan cara berpikir demikian adalah model atau cara berkeluarga versi Barat. Di dunia modern, keluarga adalah keluarga inti sehingga setelah anak menikah, mereka harus keluar dari rumah orang tua dan membangun sebuah kehidupan sendiri. Boleh jadi semangat ini diinspirasi oleh pola berpikir Alkitab yang menegaskan bahwa “laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya, dan bersatu dengan isterinya” (Mat. 19:5).
Lalu, bagaimana dengan keluarga besar? Bagi dunia Timur, pemahaman tentang keluarga agak berbeda. Di samping keluarga inti, di dunia Timur, khususnya Indonesia, dikenal juga keluarga besar. Keluarga besar bisa melibatkan kakek, nenek, paman, bibi, keponakan, sepupu. Dalam ikatan gerejawi, bahkan biasa juga dikenal orang tua baptis atau orang tua serani yang memiliki fungsi pembinaan iman bagi anak seraninya. Ikatan ini terjalin dengan sangat kuat, bahkan tidak jarang orang tua serani melakukan peran yang sangat besar bagi anak-anak seraninya. Dapatkah kalian bayangkan jika satu orang tua memiliki banyak anak serani?
Apa yang harus dilakukan keluarga Kristen dalam kehidupannya? Ini yang sangat penting untuk kalian perhatikan. Sesuai dengan panggilannya, keluarga kristiani berkewajiban untuk merawat keluarga bukan hanya secara fisik dan mental, melainkan juga secara spiritual, menunjukkan nilai-nilai kristiani.
Dalam kaitan interaksi dengan banyak orang di luar keluarga, penting bagi keluarga untuk membangun sebuah relasi berkualitas. Hal ini mencuat mengingat banyaknya pengaruh di luar yang tidak selalu bisa dikendalikan. Penelitian yang dilakukan oleh Bilangan Research Center terhadap kehidupan kaum muda menunjukkan bahwa kekuatan persahabatan di kalangan remaja terbangun demikian kuatnya. Mereka bisa menghabiskan waktu hampir 10 jam per minggu, yang berarti hampir 2 jam per hari (Arthanto 2018, 145). Jika relasi yang dibangun dalam persahabatan itu dilangsungkan secara positif, tentu keluarga akan menuai hasil yang baik. Persoalannya, jika persahabatan itu berlangsung dalam konteks yang negatif, situasinya tentu akan sangat buruk. Dampak lain dari kualitas persahabatan adalah hilang atau kurangnya interaksi dalam keluarga. Padahal keluarga seharusnya dan semestinya menjadi ruang kehidupan utama untuk membangun komunitas dan relasi berkualitas.
Salah satu kebutuhan besar dalam kualitas relasi keluarga Kristen adalah membangun kehidupan spiritual yang kuat. Keluarga perlu mempertimbangkan bukan hanya sekadar ikatan darah, melainkan juga kualitas iman dan bangunan spiritual di dalamnya. Hal ini mesti ditampilkan, pertama sekali tentu oleh para orang tua. Spiritualitas orang tua sangat berpengaruh pada perkembangan spiritualitas anak dan keluarga. Para remaja dan pemuda yang orang tuanya menjadi pengikut Kristus yang sungguh-sungguh cenderung memiliki daya tahan iman yang lebih kuat dan lebih tidak mudah putus asa dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang mengatakan bahwa hanya salah satu orang tua mereka yang menjadi pengikut Kristus (Tanbunaan 2018, 66–67). Tentu saja kondisi ini menjadi modal besar bagi para orang tua dan keluarga untuk membangun kehidupan spiritual keluarga dalam membangun interaksi dan relasi berkualitas dalam keluarga tersebut.
Hal utama dalam bangunan spiritualitas keluarga kristiani adalah menghadirkan nilai-nilai kristiani dalam kehidupan mereka. Nilai-nilai kristiani adalah sikap hidup yang menunjukkan kebenaran, yang ditampakkan dalam kejujuran dan integritas. Dalam hidup kristiani, sikap hidup seseorang harus menampakkan keselarasan antara perkataan dan tindakan. Hal lainnya yang juga harus diperhatikan dalam perwujudan nilai-nilai kristiani adalah kesalehan hidup. Kesalehan hidup dilakukan bukan hanya dalam ibadah, melainkan juga terlihat dari tata krama kehidupan. Sikap ini berkait erat juga dengan kekudusan hidup, yakni bersedia untuk hidup dalam anugerah Allah, menolak segala bentuk pencemaran seperti berkata dusta, mempercakapkan kehidupan orang lain (gosip), dan sejenisnya.
Nilai-nilai kristiani dalam keluarga Kristen di antaranya adalah pola hidup yang didasarkan pada kebenaran yang ditampakkan dalam kejujuran dan integritas. Bentuknya adalah menampilkan keselarasan antara perkataan dan tindakan. Nilai-nilai kristiani pun harus tampak dalam kesalehan hidup. Kesalehan hidup bukan hanya ditampakkan dalam ibadah, melainkan ditampakkan juga dalam tata krama kehidupan. Yang juga harus diperhatikan dalam nilainilai kristiani adalah kesetiaan. Kesetiaan ditampakkan dengan pola hidup yang berpadanan dengan panggilan Allah yang membuat setiap umat Allah menjalankan hidupnya dengan berpegang pada anugerah Allah.
Sikap hidup dalam nilai-nilai kristiani lainnya adalah kesetiaan. Apa yang dimaksudkan dengan kesetiaan adalah hidup yang berpadanan dengan panggilan Allah sehingga setiap langkah hidup kalian didasarkan pada aturan atau norma kehidupan yang Allah kehendaki. Inilah hal-hal yang harus kalian perhatikan dalam kehidupan keluarga Kristen dengan landasan nilai-nilai kristiani. Itulah sebabnya Ulangan 6:4–9 menegaskan tentang panggilan para orang tua untuk mengajarkan teladan iman kepada anak-anaknya (lihat penjelasan teks Alkitab di bawah). Ini harus menjadi spirit hidup beriman keluarga Kristen. Perjalanan iman selalu membutuhkan kesempatan untuk saling menguatkan sehingga ikatan kasih dalam kehidupan keluarga menjadi makin kuat.
Tugas : Klik Download
Bacalah Ulangan 6:4–9!
6:4 Dengarlah, hai orang Israel
Dalam kehidupan umat Allah Perjanjian Lama, nilai hidup iman menjadi sisi yang sangat penting. Nilai iman ini menjadi semacam pegangan bagi umat mengingat perjalanan hidup umat Allah Perjanjian Lama itu yang selalu berada dalam gangguan iman, termasuk gangguan budaya setempat. Ini perlu kalian ketahui karena umat Israel saat itu hidup berpindah-pindah (nomaden). Akibatnya, mereka potensial terpengaruh oleh budaya dan agama setempat.
Salah satu modal penting kecintaan terhadap keluarga adalah nilai kehidupan keluarga tersebut. Hal ini terpancar dari kualitas interaksi keluarga, yang belakangan ini mengalami pergumulan serius sehubungan dengan maraknya penggunaan alat komunikasi seluler berupa telepon genggam atau handphone, yang telah “menguasai” kehidupan manusia begitu rupa. Penggunaan alat komunikasi dalam dunia modern tanpa batas ini telah menghilangkan interaksi antarpribadi termasuk di dalam rumah. Akibatnya? Manusia lebih memilih untuk membangun relasi melalui telepon genggam tersebut ketimbang interaksi fisik.
Berbeda dengan narasi di atas, pola hidup keluarga dalam Perjanjian Lama justru menekankan pada pentingnya relasi antara orang tua dengan anak dan relasi dalam keluarga. Kehidupan umat dan keluarga dalam Perjanjian Lama menekankan pada kualitas iman yang dilandasi oleh pengalaman perjalanan umat dalam pengembaraan yang panjang. Kehidupan umat yang berpindah-pindah (nomaden) yang di dalamnya berpotensi dipengaruhi oleh budaya tempat mereka tinggal membuat umat Perjanjian Lama harus memiliki keteguhan iman dalam menghadapi berbagai tantangan budaya setempat tersebut.
Bagi umat Israel Perjanjian Lama, Syema (artinya ‘dengarlah’) yang menjadi pegangan dalam menjalankan hidup beriman dan interaksi keluarga sungguh-sungguh menjadi landasan bagi mereka. Kata dengarlah dalam Ulangan 6:4–9 ditekankan agar umat membuka diri untuk menerima pengajaran dan menindaklanjutinya dalam kehidupan mereka, terutama dalam ruang pendidikan bagi anak-anak, dan tentu kepada para orang tua juga.
Bagi umat Perjanjian Lama, interaksi menjadi benar-benar penting dan berharga. Itulah sebabnya pengajaran ini dimaksudkan Allah agar para orang tua dan anak-anak sungguh-sungguh belajar tentang nilai-nilai hidup, berinteraksi dengan baik, dan membangun relasi berkualitas sehingga seluruh anggota keluarga benar-benar membangun hidup yang saling mencintai.
Refleksi
Aku telah belajar tentang kehidupan keluarga kristiani. Sekarang aku terpanggil untuk menjalankan hidup kristiani dengan lebih baik.
Sumber:
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Penulis: Mulyadi ISBN 978-602-244-708-5 (jil.2)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar