Sumber gambar : diambil dari buku "The hermetic museum" karya Arthur Edward Waite, hal.151
Damai merupakan keselarasan antara seluruh hubungan tidak ada konflik dan perselisihan damai digambarkan sebagai keindahan (mazmur 133:1) seperti kidung ziarah Daud. Damai sendiri digambarkan sebagai Shaloom dalam bahasa Ibrani dan eirene dalam bahasa Yunani, yang berarti damai sejahtera tidak ada permusuhan ataupun perselisihan semua hidup dengan rukun tanpa ada yang menindas atau yang tertindas semua hidup dengan harmonis, sehingga perdamaian merujuk pada upaya untuk menjaga atau memperbaiki bahkan merekonsiliasi dari hubungan antara ciptaan (manusia) dengan pencipta (Allah) dan seluruh karya pencipta (Kosmo).
1. Mandat Ilahi Sebagai Imagodei
Pemahaman ulang tentang kitab Kejadian 1:26 merupakan sebuah representasi dari Allah untuk dunia, sering ayat ini digunakan sebagai sarana pembenaran untuk mengeksploitasi bumi sebagai gambaran yang berkuasa atas segala ikan dan burung, serta binatang yang merayap di bumi.
Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." (Kejadian 1:26 Terjemahan Baru)
Kata kerja yang digunakan "gambar" adalah "Slm" dalam bahasa Ibrani yang berarti "gambar yang konkret, lebih mengarah ke sebuah objek patung atau figur citraan", sedangkan kata "serupa" menggunakan kata "demut" dalam bahasa Ibrani berarti "salinan, copy, gambar), sedangkan kata berkuasa adalah "rdh" dan "kbs", rdh dalam bahas Ibrani yang berarti "menguasai, memimpin sesuai dengan konteksnya", sedangkan kbs berarti "menguasai, menuntut atau meminta, melindungi".
Menurut arti kata serupa dan segambar merupakan menunjukan hubungan Allah kepada manusia dengan semua ciptaan dalam transenden Allah, sehingga manusia menjadi pengusa yang mengelola dan merawat atau memelihara (Kejadian 2:15) sebagai wakil Allah di bumi, manusia dapat mengetahui akan Allah melalui hubungan antara Kosmo atau dunia, ataupun dalam diri manusia itu sendiri melalui Wahyu, ataupun kombinasi keduanya. Gambaran dari taman Eden adalah refleksi damai dalam relasi Allah, manusia dan ciptaan. Gambaran tentang perdamaian Allah dengan dunia juga direfleksikan dalam nubuat Yesaya tentang langit baru dan bumi baru (Yesaya 65:25).
"Serigala dan anak domba akan bersama-sama makan rumput, singa akan makan jerami seperti lembu dan ular akan hidup dari debu. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di segenap gunung-Ku yang kudus," firman TUHAN. (Yesaya 65:25 Terjemahan Baru)
Langit baru dan bumi baru merupakan pengharapan tentang perubahan yang di impikan oleh bangsa Israel didalam penjajah dan penggambaran akan dunia yang akan dipulihkan, yang tidak lagi mengalami kutuk sebagai mana yang di Sandakan Allah dalam Kejadian 3:23-24.
Melalui Kristus manusia didamaikan dan merekonsiliasi hubungan antara manusia dengan Allah bahkan dengan seluruh ciptaan Roma 5:15.
"Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus." (Roma 5:15 Terjemahan Baru)
Rekonsiliasi Yesus mendamaikan relasi antara Allah dan seluruh ciptaan Roma 8:18-23, karena setiap mahluk menantikan pengharapan akan kedatangan anak Allah. Karya Allah merupakan tugas manusia untuk mendatangkan damai sejahtera sebagai misio dei untuk menghadirkan kerajaan Allah di bumi serta menghadirkan Shaloom.
2. Mandat Cultur Manusia dengan Interdependensi
Kemajemukan merupakan heterogen nitas dari sebuah lingkungan seperti halnya di Indonesia ada lebih dari 300 suku, yang masing-masing dengan bahasa dan budayanya. Seperti halnya kebudayaan yang beraga, berbanding denga agama. Agama menjadi sebuah pemisah dalam perdamaian didalam kemajemukan hal ini diperkuat dengan kepentingan masing-masing dengan isu-isu sarah didalamnya yang menyebabkan perpecahan. Semua agama mengajarkan kasih dan kasih sayang, hal itu memacu untuk hidup berdampingan dengan toleransi.
Mengingat kedudukan antara umat manusia di dunia sama, pada akhirnya kekuatan moral jauh lebih menonjol ketimbang kekuatan fisik. Sehingga lebih mengutamakan pemikiran. Keindahan bertoleransi juga tertuang didalam kitab Perjanjian lama dalam 1 Raja-raja 5:12
"Dan TUHAN memberikan hikmat kepada Salomo seperti yang dijanjikan-Nya kepadanya; maka damai pun ada antara Hiram dan Salomo, lalu mereka berdua mengadakan perjanjian."
Dalam hubungan kerjasama dengan Hiram raja Tirus dengan Salom, meneruskan pembangunan Bait Allah. Tirus terkenal dengan Dewi Asyera (Dewi tumbuh-tumbuhan berhala pasangan Baal). Tirus yang terkenal akan seniman-senimannya dan terkenal sebagai industri logam dan pelabuhan perdagangan. Perbedaan tidak membuat hubungan bisnis dan kerjasama antara Hiram dan Salom menjadi rusak mengingat hukum Israel tidak memperbolehkan orang-orang Israel bergaul dengan bangsa lain. Hal ini dilakukan Salomo mengingat Salomo lebih mengutamakan hikmatnya dan kekuatan moral.
3. Mandat Ilahi Tanggung Jawab untuk Menciptakan Harmoni
Manusia sebagai ciptaan yang dipilih Allah sebagai representasi dari Allah di dunia, hal ini mengindikasikan bahwa manusia merupakan ciptaan yang dapat berfikir serta memiliki moral sehingga dapat memikirkan keberlangsungan hidup. Berangkat dari realitas yang terjadi manusia mendominasi dan mengembangkan IPTEK.
Dengan pesatnya pembangunan memunculkan paradigma baru tentang Ekologi, pebangunan yang pesat juga harus disertai dengan pengelolaan dan dampak jangka panjang pembangunan. Pemanfaatan alam sekitar sudah berlangsung sejak zaman neolitik hubungan antara manusia dan bumi, hal ini tidak berdampak serius pada dunia sebagai tempat tinggal manusia, hanya saja persoalan-persolan tentang pemenuhan kesejahteraannya dengan mengorbankan alam sekitar nya sebagai pendukung kehidupannya.
Alam menopang kehidupan manusia sebagai bentuk perdamaian antara manusia dan alam, mengingat manusia tinggal dan bertahan hidup melalui bumi, setidaknya manusia perlu mengkaji lagi tentang keputusan untuk pembangunan dan juga kemajuan IPTEK yang ramah lingkungan green building.
4. Mandat Ilahi untuk Mengelola Kehidupan
Mandat Ilahi kepada manusia untuk mengelola taman Eden sebagai mandate Ilahi manusia utuk mengelola kehidupan, mandat Allah bukahanya mengelola bumi akantetapi mandat Alla juga memerintahkan untuk memberiinama kepada setiap mahluk dan ciptaan.
Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. Manusia itu memberii nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. (Kejadian 2:19-20, Terjemahan Baru)
Pemberian nama kepada seluruh ciptaan merupakan representasi dari pengelolaan yang dilakukan manusia, bukan nhanya manusia bagian dari kosmos akantetapi keseluruhan dari ciptaan, sehingg manusia bukan hanya berperan sebagai mahluk sosial, tetapi juga sebagai mahluk ekologis atau kosmologis. Terhindar dari Antroposentrisme, bahwa nilai etika bukanhanya dimiliki manusia akantetapi setiap mahluk memiliki nilai Interistik dalam setiap unsur alam semesta (hewan, Tumbuhan dan matrial lainnya). Biosentris merupakam sebuah etika lingkungan yang memperhatikan Bios bahwa setiap kehidupan, bahwa setiap kehidupan memiliki nilai moral sehingga sehingga harus dilindungi dan diselamatkan, bahwa setiap mahluk memiliki hak yang sama untuk hidup sehingga Biosentris menolak penggolongan jenis atau antispesimen, yang menolak bahwa penindasan kepada mahluk yang lebih rendah secara deskriminatif dan eksploitatif, sehingga setiap mahluk memiliki kehidupannya sendiri.
Teori yang sama dengan Biosentris adlalh ekosentrisme yang menekankan bahwa bukanhanya moral akan tetapi lebih luas dari itu yang mencakup komunitas ekologi seluruhnya. Dengan teori deep-ecologi yang bukanhanya berbicara tentang relasi organisme dengan lingkungan akan tetapi keterkaitan antara keduannya. Baik Biosentris dan ekosentrisme menolak tegas gagasan tentang paham Antroposentrisme, Menempatkan Bios (hidup, kehidupan) dan oikos (rumah, lingkungan) sebagai pusat seluruh ciptaan.
Sudah menjadi tanggung jawab manusia sebagai penerima mandat Allah untuk mengelola dan memiliki tanggung jawab sebagai bagian kehidupan alam semesta.
Keberlangsungan seluruh ciptaan setidaknya dimulai dari inti perdamain sebagai persahabatan manusia dengan alam mengindikasikan bahwa manusia sebagai mahluk Biosentris dan ekosentrisme. Sehingga keberlangsungan seluruh ciptaan merupakan wujud perdamaiaan, menurut Fr. Silverster Manca:
"Manusia hidup bersahabat dengan alam, dan alam serta lingkungan menjadi sahabat manusia, manusia sesama kita adalah sahabat kita, binatang dan tumbuh-tumbuhan adalah sahabat kita, demikianpun benda-benda dan hutan, sungai dan isi dunia adalah sahabat kita."
Harmonisasi alam dan manusia bahkan dengan alam semesta merupakan bagian dari perdamaiaan dan keadilan yang bertentangan dengan ketidakadilan, penindasan serta eksploitasi pandangan Silverster Manca mendorong manusia untuk menempatkan alam sebagai sahabat yang memiliki hak yang sama dengan dirimya khususnya hak untuk hidup. Alam ditempatkan pada posisi yang sejajar dengan manusia sebagai sesama mahluk yang saling membutuhkan oleh karena itu manusia patut untuk saling mehargai dan menghormati dengan alam, menciptakan perdamaan dan juga harmonisasi sebagai wujud perdamaan dengan alam.
Refrensi :
Abidin Wakano dkk, "Teologi Tanah: Prespektif Kristen Terhadap Ketidakadilan Sosio-Ekologi di Indonesia", (Makasar:Oase Intim, 2015).
Daniel Stefanus, "Pendidikan Agama Kristen Kemajemukan", (Bandung:Bina Media Informasi, 2009).
Djoko Priyatno, " Damai Indonesiaku", (Semarang:Sarana Gracia, 2019).
Fr. Silverster Manca, "Biduk Majalah Seminar Tinggi ST. Petrus: kesadaran Ecologi", (Maumere:Paniraindonesia, 2011).
Larry L. Rasmussen dkk, "Agama Filsafat dan Lingkungan Hidup",(Yogyakarta:Kanisius, 2003).
Thomas Hidya Tjaya, "Kosmos: Tanda Keagungan Allah refleksi menurut Louis Bouyer",( Yogyakarta:Kanisius, 2002).
Timpal L. Tobing, "Krisis Ekologi: Tantangan, Keprihatinan, dan Harapan",(Yogyakarta:GKMI Cabang Yogyakarta, 1996).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar