Sumber gambar: diambil dari buku "the hermetic museum" karya Arthur Edward Waite, hal.264
Masyarakat atau kehidupan bersama bukan hanya individu akan tetapi keseluruhan antar manusia definisi dari sosiologi mengenai kehidupan bersama "masyarakat adalah keseluruhan dari beraneka hubungan individu dan kelompok antara manusia", bentuk dari hubungan stakeholder baik lembaga, pendidikan, sosial, politik dan setiap lini didalamnya.1. Diakonia Gereja
Lembaga-lembaga juga berpartisipasi dalam menjalankan program Diakonia dalam berbentuk membangun kehidupan manusia yang bermacam-macam di semua bidang. LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan Yayasan sosial misalnya adalah salah satu lembaga yang menyelenggarakan praktik Diakonia kepada masyarakat luas tanpa batasan-batasan agama, suku, ras dan golongan. Walau praktik Diakonia dilakukan dengan motif religius sebagai panggilan iman untuk mewujudkan dunia yang aman, damai dan bebas dari penderitaan, kejahatan, serta kelaparan. Motif Diakonia adalah menghadirkan kerajaan Allah di dunia sebagai pelayanan konkrit dari Gereja.
Berdasarkan karakteristik Diakonia dibagi menjadi Diakonia karitatif, reformatif, dan transformative:
a. Diakonia Karitatif
Bentuk Diakonia ini adalah Diakonia model tradisional dan tetap, dan masih digunakan Gereja-gereja sampai sekarang. Tindakan-tindakan karitatif (amal), teks Matius 25:31-46.
"Sebab ketika Aku lapar, kamu memberii Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberii Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberii Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberii Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberii Engkau makan, atau haus dan kami memberii Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberii Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberii Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:35-40)
Ddiakonia karitatif sering digunakan Gereja Karena mudah dan langsung bisa dirasakan, tanpa melakukan analisis sosial-politik. Bantuan yang diberikan lebih cocok untuk korban bencana alam yang hanya bersifat memberi bantuan logistik, akan tetapi model seperti ini akan menciptakan ketergantungan subjek kepada objek, sehingga hanya bersifat sementara dan tidak menjawab persoalan tentang menanggulangi masalah yang dialami secara jangka panjang dan tidak menjawab permasalahan.
b. Diakonia reformatif
Diakonia reformatif atau pembangunan lebih mengedepankan aspek pembangunan pendekatan yang dilakukan adalah community development seperti pembangunan pusat kesehatan, penyuluhan, bimas, dan usaha bersama simpan pinjam. Program ini muncul pada sidang raya gereja-gereja se-dunia IV di usppsala swedia, 1968. Supaya Gereja-gereja berpartisipasi dalam pembangunan.
Model Diakonia reformatif lebih bersifat membangun kebutuhan dalam infrastuktur dan juga kebutuhan yang diperlukan melalui analisis sosial-kultur akan tetapi hal ini menciptakan heirarki didalam masyarakat. Intinya adalah jika tidak ada lagi lahan untuk digarap dan persaingan akan semakin ketat dalam kelestarian pembangunan dan IPTEK. Sehingga tidak menjawab kebutuhan secara holistik. Praktek yang sering digunakan adalah pembinaan dan pelatihan kerja, pembangunan sekolahan, membantu permodalan (bank union) koprasi simpan pinjam dan insfratruktur kesehatan.
c. Diakonia transformatif
Model transformatif atau pembebasan muncul di Amerika latin untuk mengatasi kemiskinan. Bentuk dari Diakonia ini adalah gerakan yang terbuka bagi pembaharuan dan menjalankan visi kerajaan Allah, bukan berfokus pada pembangunan Gereja secara fisik akan tetapi mengusahakan untuk menghadirkan kerajaan Allah di Dunia. Dalam bentuk pembebasan dari penindasan dan ketidak adilan. Dalam prespektif ini Diakonia dimengerti sebagai tindakan Gereja melayani umat manusia secara multi dimensional dan multi sektoral, bukan hanya tindakan-tindakan amal yang dilakukan Gereja, melainkan tindakan transformatif yang membawa manusia kembali dengan sistem dan struktur kehidupannya, yang menandakan adanya kedamaian. Bukan hanya memberi bantuan dalam bentuk kebutuhan yang mereka butuhkan akan tetapi memberikan hak kepada mereka untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan (kontekstual).
Dalam diakonia tranformatif bukan hanya sekedar memberiikan penetrasi dan pendampingan akantetapi mengubah mindset dari dasar sehingga terjadi perubahan pola piker yang mentransformasi atau merubah dalam bentuk polapikir dan tindakan.
sebagai panggilannya Gereja sebagai pembawa damai bagai dunia sesuai dengan fungsinya sebagai terang dan garam (Matius 5:13-16) sehingga gereja harus memancarkan kasih dan memberiikan rasa damai bagi sekitarnya, sehingga Gereja membawa damai sukacita serta sehingga kehadiran Gereja menciptakan masyarakat damai sejahtera. Gereja dituntut untuk teguh menjalankan tugasnya dengan senantiasa.
Gereja pada dasarnya juga merupakan sebuah organisasi yang didalamnya merupakan persekutuan orang-orang percaya, organisme yang hidup dan saling berinteraksi. Fungsi gereja di tengah-tengah masyarakat untuk mewujudkan tri tugas Gereja (Marturia, Koinonia dan Diakonia), dalam organisasi Gereja juga memiliki sistem pemerintahan dalam sistem pemerintahan sehingga setiap denominasi Gereja memiliki otonomi sendiri sehingga segala keputusan mengikat seluruh anggotanya, bersinergi dalam menjalankan Tri tugas Gereja.
3. Mewujudkan kesejahteraan bersama
Gereja hadir membawa damai dan mewujudkan perdamaian dengan menitik beratkan pada persoalan-persoalan penegakan dan perlindungan HAM, anti kekerasan, lingkungan hidup dan isu-isu lainnya. Menurut Novembri Choeldahono yang dikutip dari Bambang Subandrio:
Gereja sebagai bagian dalam masyarakat yang bertugas untuk mewujudkan perdamaian disekitarnya, Gereja dituntut untuk bisa bekerjasama dengan instansi terkait untuk menjawab kebutuhan semua orang. Langkah Gereja haruslah teguh dan segera direalisasi sebagai upaya membawa Shaloom ke dunia.
Berdasarkan pola diakonia yang telah dipaparkan pola dan kinerja peran diakonia didalam suatu lembaga dalam pelaksanaan diakonia, sehingga menjadi pijakan bagi suatu lembaga dalam berdiakonia.
Refrensi:
Bambang Subandrio, Agama Dalam Praksis (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2003)
https://alkitab.app/v/a57a52ba49e5 (aplikasi offline)
Iskandar K. Saher, Gereja dan Transformasi Masyarakat, (Surakarta: Yayasan Arena Atma, 1999)
Tim Penyusun Pokok-Pokok Ajaran GITJ, Pokok-Pokok Ajaran Gereja Injil Di Tanah Jawa GITJ,(Pati,2007)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar