Translate

Selasa, 22 Juli 2025

Menjadi Dewasa dalam Segala Aspek

Bab I Menjadi Dewasa dalam Segala Aspek

Ayat Alkitab: Lukas 2:52



Tujuan Pembelajaran :

  1. Menjelaskan arti dewasa dalam keenam aspek perkembangan 
  2. Memahami pentingnya menjadi dewasa dalam tiap aspek perkembangan 
  3. Menganalisis pertumbuhan diri dalam tiap aspek perkembangan 
  4. Mengkritik perilaku yang tidak mencermikan kedewasaan 
  5. Memiliki rencana untuk bertumbuh menjadi semakin dewasa

Aresepsi

        Kapan terakhir kamu berulang tahun? Apakah ada perayaan untuk itu? Kalaupun bukan perayaan besar-besaran, mungkin ada masakan istimewa yang disajikan, ada hadah, atau ada doa syukur yang dinaikkan? Mengapa perlu berdoa syukur? Tanggal kelahiran adalah semacam tonggak yang membuat kita bisa melihat pada hari-hari yang telah kita lewati dalam setahun terakhir, lalu membuat penilaian, apakah betul kita sudah melewati saat itu dengan bergantung kepada Tuhan sepenuhnya, atau ternyata ada saat-saat kita merasakan Tuhan jauh dari kita. Apa pun juga pengalaman kita, tiap kali berulang tahun, kita bertambah usia menjadi semakin dewasa. Mungkin pada saat kita masih kecil dan belum bersekolah, kita begitu ingin cepat menjadi besar agar bisa bersekolah, memakai seragam, menyandang tas sekolah berisi bukubuku, alat tulis dan bekal makanan, sama seperti kakak-kakak yang sudah lebih dulu bersekolah.

        Pada saat ini kalian sudah jauh lebih dewasa dibandingkan dengan saat pertama kali bersekolah di usia 5-6 tahun. Namun, keinginan menjadi lebih dewasa tetap ada, malah mungkin semakin kuat karena ada keinginan yang dapat dipenuhi ketika kamu bertambah dewasa. Mungkin ada yang sudah mendapatkan izin untuk menuju ke sekolah dan pulang sekolah sendiri, tidak perlu diantar oleh orang tua, atau ada yang sudah boleh mengendarai sepeda motor sendiri, bahkan mungkin sudah ada yang mulai berani mengenal lebih dekat lawan jenis!

Enam Aspek Perkembangan

        Umumnya, para ahli psikologi memahami perkembangan manusia dalam enam aspek, yaitu fisik, intelektual atau kognitif, emosi, sosial, moral/spiritual, dan identitas diri (Lewis & Garnic, 2002; McLean & Syed, 2015; Sigelman & Rider, 2008). Mari kita pahami pengertian kedewasaan untuk tiap aspek ini. 

        Dewasa secara fisik merujuk pada tercapainya tinggi badan dan berat badan yang cocok untuk tiap tahapan usia. Ini dapat diperoleh bila kita makan dengan gizi yang cukup, tidak terlalu kurang atau tidak berlebihan. Hal penting lainnya adalah mampu menyalurkan dorongan seksual ke arah yang positif, sehat, dan tepat. Kesehatan diperoleh bila ada keseimbangan antara kerja dan olahraga serta istirahat yang cukup. Ternyata banyak orang yang menderita penyakit tertentu karena memiliki pola hidup yang salah. Misalnya, penyakit diabetes melitus tipe 2, yaitu yang diderita ketika seseorang sudah berusia dewasa. Penyebabnya antara lain karena yang bersangkutan memiliki pola makan yang salah, terlalu banyak memakan yang manis-manis dan unsur lainnya yang mengandung glukosa, kurang gerak, selain memiliki riwayat penyakit diabetes di dalam keluarga.

        Dewasa secara kognitif merujuk pada memiliki kemampuan untuk membuat keputusan yang logis dan memahami apa yamg terjadi di lingkungan nya. Untuk itu, bekal pendidikan menjadi penting karena individu disiapkan untuk mengembangkan kemandirian, menjadi kritis, dan kreatif.

        Dewasa secara emosional merujuk pada kemampuan menyatakan emosi, baik positif maupun negatif, dengan alasan yang tepat, cara yang tepat, dalam situasi yang tepat, dan terhadap orang yang tepat. Ini dapat diperoleh bila sejak kecil seorang anak diberikan kesempatan menyatakan emosinya, tidak memendam sendiri apa yang ia rasakan, apalagi bila perasaan itu negatif, seperti sedih, takut, atau khawatir. Peran orang tua penting agar anak dapat merasakan bahwa ia dikasihi, dilindungi, dan dihargai sehingga dapat tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri.

        Dewasa secara sosial merujuk pada kemampuan seseorang yang dapat berinteraksi dengan orang lain (lebih muda, sebaya, dan lebih tua) tanpa memanipulasi atau dimanipulasi. Manipulasi artinya dimanfaatkan. Jadi, pengertian dewasa secara sosial dikenakan pada orang yang tidak memanfaatkan orang lain untuk keuntungannya sendiri, dan juga tidak dimanfaatkan oleh orang lain untuk kepentingan orang tersebut. Hal penting lainnya dalam dewasa secara sosial adalah mengambil peran positif untuk memberi sumbangsih berarti bagi lingkungannya. Tidak ada orang yang bisa hidup sendirian; ia selalu membutuhkan keberadaan orang lain dan mengambil bagian untuk saling berbagi. 

        Dewasa secara moral atau spiritual merujuk pada pengertian mampu menjalin hubungan dengan Tuhan dan sesama, menggunakan standar nilai yang berlaku universal dan konsisten. Ia mengakui bahwa ia membutuhkan Tuhan, merasa dikasihi Tuhan, bahkan bergantung pada Tuhan dan mengasihi-Nya. Dengan modal kedekatan hubungan dengan Tuhan ini, ia memiliki idealisme atau cita-cita luhur untuk memberikan sumbangsih positif bagi kehidupan masyarakat yang lebih baik, terutama mereka yang hidup dalam keadaan kurang menguntungkan, misalnya karena miskin, terbatasnya akses untuk mendapatkan air yang cukup agar bisa hidup bersih, terbatasnya akses untuk mendapatkan pendidikan, dan sebagainya.

        Dewasa dalam identitas diri merujuk pada kesadaran tentang keberadaan diri, bahwa dirinya memiliki beberapa kekuatan, tetapi juga sejumlah kelemahan. Kekuatan dan kelemahan ini merujuk pada sifat, bukan penampilan fisik. Harus diakui bahwa orang tua lebih sering memberikan komentar negatif daripada komentar positif terhadap anak. Bila demikian halnya, sulit bagi anak untuk menemukan apa kekuatan yang dimilikinya. Orang yang menyadari keberadaan dirinya juga diharapkan bertanggung jawab untuk konsekuensi dari tindakan atau perbuatannya, dan tidak malah berbalik menyalahkan orang lain.

        Ternyata cukup banyak yang harus disiapkan untuk menjadi orang yang dewasa dalam keenam aspek ini, ya? Akan tetapi, ini bukan pergumulan kamu sendiri saat ini. Tiap orang menghadapi pergumulan yang sama, yaitu bagaimana dewasa bukan hanya secara usia yang otomatis terjadi ketika kita berulang tahun, melainkan dewasa dalam aspek-aspek perkembangan lainnya. Mari kita melihat kepada pesan Alkitab tentang menjadi dewasa. 

Pesan Alkitab tentang Menjadi Dewasa

        Kisah yang diceritakan dalam Lukas 2:42-52 adalah tentang Yesus yang sudah berusia 12 tahun. Untuk pertama kalinya Ia ikut orang tua-Nya beribadah ke Bait Allah di Yerusalem. Akan tetapi, ketika dalam perjalanan kembali ke Nazaret, orangtua Yesus tidak menemukan Yesus. Ini membuat orang tuaNya kembali ke Yerusalem dan mereka menemukan Yesus sedang bercakapcakap dengan para alim ulama di Bait Allah. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan-Nya membuat para alim ulama terheran-heran akan kecerdasan Yesus. Memang pada usia 12 tahun, seorang anak laki-laki sudah mendapatkan cukup banyak pembekalan untuk menyiapkannya menjadi dewasa. Akan tetapi, bahwa Yesus mampu bertanya jawab tentang hal-hal yang membuat para alim ulama terkagum-kagum menunjukkan bahwa Yesus memang sedang menjalani persiapan untuk kemudian memasuki pelayanan-Nya yang hanya berlangsung selama 3 tahun.  

        Dari usia 12 tahun hingga ke usia 30 tahun — saat Yesus memulai pelayanan-Nya dengan mengumpulkan sejumlah murid — bukanlah waktu yang pendek. Dalam Alkitab juga tidak ada cerita tentang kehidupan Yesus pada masa-masa itu. Meskipun demikian, saat ini kita cukup mehami bahwa Yesus menggunakan kesempatan yang ada untuk menyiapkan diri. Perhatikan ayat ke-52, “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” Dari ayat ini kita dapat mengenali bahwa Yesus bertumbuh dalam aspek fisik (bertambah besar), kognitif (bertambah hikmat), emosi (tidak marah kepada orang tua-Nya ketika orangtua menegur), sosial (dikasihi oleh manusia), spiritual (dikasihi oleh Allah), dan identitas diri (perhatikan ayat ke-49), “Jawab-Nya kepada mereka, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” 

        Rasul Paulus memberikan pesan di dalam 1 Korintus 14:20 tentang perlunya pertumbuhan menjadi semakin dewasa secara spiritual. Secara ringkas, dapat dikatakan bahwa bertumbuh menjadi dewasa secara spiritual hanyalah dapat diperoleh bila seseorang menjaga hubungan yang akrab dengan Tuhan melalui doa dan pembacaan firman (Sproul, 1998). Dengan kata lain, dewasa secara spiritual akan diperoleh bila kita menjadikan Tuhan sebagai prioritas dalam kehidupan kita. Tidak pernah seseorang terlalu muda untuk mulai mengenal Tuhan secara pribadi. Seluruh pembahasan materi di Kelas X ini membekali kalian untuk melihat karya Tuhan dalam berbagai isu kehidupan yang kalian sudah, sedang, dan akan jalani.

Rangkuman

        Bertumbuh menjadi dewasa adalah tugas tiap orang. Sebagai pengikut Kristus, kita memaknai pertumbuhan ini seturut dengan teladan yang sudah diperlihatkan oleh Tuhan Yesus sendiri. Janganlah puas bila kita masih bertahan pada sikap kekanak-kanakan.

Sumber :

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021 Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X Penulis: Julia Suleeman ISBN 978-602-244-467-1 (jil.1)

Tidak ada komentar:

Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya

  BAB XI Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya  Kejadian 1:1-31 I Raja-raja 17-19, 21 II Raja-raja 1-2  Pendidikan Agama Kristen dan Budi ...