Translate

Minggu, 03 Agustus 2025

Hedonisme vs Keugaharian

 Bab 3 Hedonisme vs Keugaharian

Bahan Alkitab: Matius 6:19–34; Amsal 21:17; Yesaya 5:11–13

Tujuan Pembelajaran

  1. Menyimpulkan dengan kalimat sendiri perbedaan tentang gaya hidup hedonisme dengan keugaharian.
  2. Mengemukakan pendapat tentang perubahan perilaku dari sikap hedonistik menjadi ugahari.
  3. Mendaftarkan sedikitnya tiga sikap hedonistik dan tiga sikap ugahari.
  4. Mengusulkan model gaya hidup ugahari keluarga di tengah tantangan kekinian.
Pembahasan Materi

            Tentu kita pernah membaca, mengucapkan, atau memahami secara mendalam Doa Bapa Kami. Salah satu bunyi doa tersebut adalah “berikanlah kami pada hari ini, makanan kami yang secukupnya.” Kalimat doa yang diajarkan Tuhan Yesus ini tertuang dalam Injil Matius 6:11. Apa yang menarik dalam teks ini? Tuhan Yesus mengajarkan tentang kesederhanaan, sebuah pola hidup yang membebaskan diri dari pola hidup loba (serakah, tamak, selalu ingin mendapat banyak). Sebaliknya, dalam kesederhanaan, Tuhan Yesus menghendaki agar umat yang dikasihi-Nya benar-benar mampu membawa diri dalam pengendalian hidup dan mampu mengedepankan pola hidup sederhana tanpa kehilangan tanggung jawab untuk tetap memuliakan Allah sebab kemuliaan Allah tidak serta merta diagungkan dalam kemewahan. Bukankah Yesus juga lahir dalam kesederhanaan?


            Itu sebabnya umat Allah harus mampu menata diri sehingga tidak terjebak dalam pola hidup hedonistik. Hedonisme adalah sebuah gaya hidup yang mengupayakan kesenangan semata. Biasanya kesenangan tersebut diperoleh melalui berbagai upaya seperti menikmati hiburan berlebihan, menghamburkan dan memamerkan harta kekayaan, bahkan perilaku hidup tak terpuji. Dampaknya, orang berkecenderungan memaksakan diri untuk hidup mewah, bahkan tidak jarang yang ia melakukan hal itu di luar kemampuannya.


            Dampak dari pola hidup demikian berpotensi menimbulkan persoalan ketika diperhadapkan dengan realitas sosial, terutama berhadapan dengan masyarakat yang tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pola hidup yang sama. Sebagaimana diketahui, penduduk Indonesia yang berada pada garis kemiskinan (menurut data Badan Puat Statistik/BPS tahun 2019) berada pada posisi 9,4% dari seluruh penduduk. Angka tersebut memang menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan berada di bawah 10% dari seluruh jumlah penduduk Indonesia. Namun, data tersebut menunjukkan bahwa ada sebanyak 25,14 juta orang yang berkategori miskin atau tidak mampu.


            Mempertontonkan gaya hidup loba dan hilangnya sikap empati berpotensi memupus kemungkinan untuk membangun komunikasi dengan baik dengan berbagai lapisan masyarakat. Gaya hidup seperti itu pun cenderung mengabaikan perasaan orang-orang di sekelilingnya. Situasi demikian berpotensi mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya berjalan dalam kebersamaan, saling menopang, dan saling memanusiakan. Bukan hanya itu. Sikap loba dan perilaku hidup yang mengabaikan perasaan warga masyarakat yang berada pada garis kemiskinan atau bahkan di bawah garis kemiskinan berpotensi menumbuhkan pemahaman bahwa sila kelima Pancasila, yakni “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” sulit, bahkan mustahil terwujud.


            Dalam situasi ini, keadilan, demokrasi, dan HAM bisa dipahami secara keliru akibat pola hidup yang dilakukan oleh segelintir orang tanpa mempertimbangkan situasi yang tengah berlangsung. Bahkan komunikasi antarwarga masyarakat dan dalam keluarga bisa saja tidak terbentuk karena masing-masing hidup untuk kepentingan dirinya sendiri.


            Sementara itu, gaya hidup lain sebagaimana digambarkan dalam Doa Bapa Kami adalah gaya hidup sederhana, yang dikenal dengan nama ugahari. Ugahari adalah sebuah gaya hidup sederhana dan berkecukupan. Pola atau gaya hidup ugahari jauh dari gaya hidup hedonistik. Gaya hidup ugahari benar-benar menampilkan sebuah model bersahaja yang di dalamnya spiritualitas hidup tampak dalam kesederhanaan tanpa kehilangan kualitas hidup itu sendiri. Seseorang dengan kekayaan melimpah pun bisa menjalankan hidup dengan gaya ugahari, yang penuh kesederhanaan.

            

           Benarkah kemewahan dan kekayaan dapat membuat orang bahagia? Pertanyaan ini sering terlontar bahkan menjadi semacam slogan hidup manusia. Sikap demikian digambarkan oleh para pesohor atau selebritas yang mengagungkan hidup mewah dengan menampilkan pola hidup bergelimang harta. Dampaknya? Karena para pesohor itu memiliki follower, tidak jarang sikap hidup mereka pun dikuti oleh para pengikutnya meskipun dengan cara-cara yang tidak seimbang. Jadi, ketika seorang pesohor memamerkan kekayaannya-seperti sepatu yang berjumlah ratusan pasang, atau tas dan busana mewah berharga puluhan, bahkan ratusan juta rupiah. hal itu pun menjadi cara dan pola hidup pengikutnya. 


            Tentu saja apa yang mereka tampilkan adalah hak pribadi mereka. Tidak boleh ada seorang pun yang menghakimi. Mereka telah bekerja keras, mulai dari bangun pagi untuk olah raga (para pesohor itu harus memiliki tubuh yang bugar karena kerja keras mereka harus diimbangi dengan kekuatan tubuh yang prima) dan pulang larut malam. Namun, karena itu yang menjadi pencarian hidup, tidak jarang mereka terjerumus ke dalam sikap tidak terpuji seperti mengonsumsi obat-obat berbahaya. Tantangan kerja mereka itulah yang memaksa mereka harus tetap bugar karena jika terlihat loyo, mereka tidak akan mampu memberi daya tarik bagi pengikutnya.


            Lalu, apa yang harus menjadi tujuan dan pencapaian hidup? Pada dasarnya hidup ditujukan untuk mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan diperoleh dengan bertanggung jawab atas seluruh kehidupan yang Tuhan anugerahkan. Salah satu bentuk tanggung jawab adalah juga tanggung jawab sosial terhadap orang-orang dan lingkungan di sekitar kita. Mereka adalah bagian tak terpisahkan dalam hidup kita. Sebab jika orang hanya mengarahkan diri pada sikap loba, yang muncul adalah kerakusan, dan orang tidak peduli terhadap orang lain dan menjadi egoistis. Jika hal tersebut terjadi, adakah makna hidup bermasyarakat?


            Bercermin dari pemaparan di atas, pola hidup ugahari perlu menjadi landasan bersama dalam perjalanan hidup bermasyarakat. Hidup ugahari tidak berarti kehilangan kesempatan untuk menikmati berkat yang Tuhan anugerahkan. Hidup ugahari justru memberi ruang bagi setiap orang untuk memberi kebahagiaan juga kepada yang lain, dan meneladankan hidup yang tidak bergantung kepada kekayaannya, tetapi pada interaksi sosial sebagai wujud tanggung jawab setiap individu. Bayangkanlah, jika standar kehidupan ditentukan oleh gaya hidup mewah, kebahagiaan hanya menjadi hak segelintir orang. Namun, jika pola hidup ugahari menjadi spirit bersama seluruh masyarakat, hidup akan menjadi lebih indah, bahkan setiap orang memiliki panggilan untuk saling memberi perhatian. Bukan hanya itu, setiap orang bahkan memiliki spirit untuk menjadi teladan bagi yang lainnya. Persaingan yang ditimbulkan bukan lagi menyangkut berapa banyak harta yang dimiliki, melainkan berapa banyak orang yang telah belajar dari teladan hidup ugahari kita.


Membaca Teks Alkitab

Yesaya 5:11–13

5:11 Celakalah mereka yang bangun pagi-pagi dan terus mencari minuman keras, dan duduk-duduk sampai malam hari, sedang badannya dihangatkan anggur! 5:12 Kecapi dan gambus, rebana dan suling, serta anggur terdapat dalam perjamuan-perjamuan mereka, tetapi perbuatan TUHAN tidak dipandangnya dan pekerjaan TUHAN tidak dilihatnya. 5:13 Sebab itu umat-Ku harus pergi ke dalam pembuangan, oleh sebab mereka tidak mengerti apa-apa; orang-orang yang mulia akan mati kelaparan, dan khalayak ramai akan menderita kehausan.


Amsal 21:17

Orang yang suka bersenang-senang akan berkekurangan, orang yang gemar kepada minyak dan anggur tidak akan menjadi kaya.


Matius 6:19–21

6:19 "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya  dan pencuri membongkar serta mencurinya. 6:20 Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga;  di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. 6:21 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.6:22 Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; 6:23 jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.


Matius 6:22–24

6:22Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; 6:23 jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu. 6:24Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.


Matius 6:25–34

6:25 "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? 6:26Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan  oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? 6:27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? 6:28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, 6:29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. 6:30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? 6:31  Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? 6:32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. 6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.  6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."

            Teks Alkitab yang baru saja kalian baca menggambarkan tentang arahan Allah terkait gaya atau pola hidup. Injil Matius 6:19–34 menegaskan tentang gaya hidup sederhana. Tentu saja Injil Matius 6:19–34 ini tidak melarang manusia untuk memiliki kekayaan atau bekerja agar mendapat upah. Justru sebaliknya, teks Alkitab menegaskan tentang tanggung jawab manusia untuk bekerja dan menghasilkan. Amsal 6:6–11 bahkan menegaskan agar manusia keluar dari sikap hidup sebagai pemalas. Manusia diperintahkan untuk belajar dari semut yang bekerja untuk lumbung hidupnya, yakni menyediakan makanan. Lalu, apa yang dimaksudkan teks Injil tersebut? 

            Jika kita menyimak maksud teks tersebut, sebenarnya manusia tidak diperkenankan untuk mencari kekayaan atau harta demi harta itu sendiri, atau diperbudak oleh harta. Sebaliknya, harta justru harus menjadi sarana untuk memuliakan Allah. Harta yang seseorang miliki itu harus ditujukan untuk mengungkapkan syukur. Harta itu pun semestinya dinikmati sebagai anugerah dan berkat Allah. Harta kekayaan itu mestilah disambut sebagai sesuatu yang dipercayakan Allah untuk dipertanggungjawabkan. Itulah sebabnya Injil Matius 6:24 menegaskan bahwa manusia tidak bisa mengabdi kepada dua tuan. Kata “tuan” dalam teks tersebut merujuk pada kata kurios dalam bahasa Yunani, yang dapat berarti ‘pemilik’. Manusia tidak dapat mengabdi kepada dua pemilik karena penghambaan kepada harta menjadikan manusia hidup loba, serakah, dan jauh dari perilaku sederhana sebagaimana dimaksudkan oleh Tuhan Yesus.

            Sejalan dengan itu, Kitab Yesaya dan Amsal menyerukan hal serupa dalam bentuk yang berbeda. Kitab Yesaya mengkritik perilaku masyarakat yang hidup dalam pesta pora dan mengabaikan karya Tuhan dalam hidup mereka. “Kecapi dan gambus, rebana  dan suling,  serta anggur terdapat dalam perjamuan-perjamuan mereka, tetapi perbuatan Tuhan tidak dipandangnya  dan pekerjaan  Tuhan tidak dilihatnya” (Yes. 5:12). Sikap demikian sangat jauh dari pola hidup yang Tuhan kehendaki, yakni merawat kehidupan dalam kesederhanaan dan kesucian, memperhatikan anugerah dan kasih Allah, dan bukan membiarkan diri dikuasai nafsu. Itulah sebabnya Kitab Amsal 21:17 menggambarkan bahwa orang yang hidupnya hanya dikuasai kesenangan justru akan kekurangan, dan mereka yang hidup berfoya-foya tidak akan menjadi kaya. Dalam teks Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) kalimat tersebut berbunyi, “Orang yang gemar bersenang-senang akan tetap berkekurangan; orang yang suka berfoya-foya tidak akan menjadi kaya.” Itu artinya kekayaan diperkenan Tuhan, hanya saja hidup berfoya-foya sangat bertentangan dengan kehendak-Nya.


Rangkuman

            Antara hedonisme dan keugaharian terpisah jurang yang lebar. Keduanya tidak bisa dipertemukan. Hedonisme bertumpu pada kemewahan dan sikap loba, sedangkan keugaharian bertumpu pada sikap bersahaja dan mementingkan kesederhanaan tanpa kehilangan kualitas hidup di dalamnya. Namun, bukan berarti dalam keugaharian tidak diperkenankan memiliki kekayaan. Justru kekayaan pada sikap ugahari menampilkan peluang memanfaatkan berkat Tuhan tersebut sebagai sarana bagi kemuliaan-Nya. 

            Kalian diajak untuk belajar mendalami panggilan hidup yang di dalamnya teladan Kristus tampak dengan jelas sehingga makin banyak orang mengenali kehidupan ugahari dalam seluruh sepak terjang hidup kalian.


Sumber : 

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Penulis: Mulyadi ISBN 978-602-244-708-5 (jil.2)

Tidak ada komentar:

Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya

  BAB XI Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya  Kejadian 1:1-31 I Raja-raja 17-19, 21 II Raja-raja 1-2  Pendidikan Agama Kristen dan Budi ...