Translate

Selasa, 19 Agustus 2025

Orang Tua adalah Pendidik Utama

Bab 4 Orang Tua adalah Pendidik Utama

Tujuan Pembelajaran :

1. Bersyukur karena Tuhan mengatur kelahirannya melalui orang tua.

2. Mengakui bahwa orang tua adalah pendidik utama. 

3. Memahami perjuangan orang tua dalam mengasuh setiap anaknya.


Capaian Pembelajaran:

Memahami nilai-nilai iman Kristen dalam keluarga serta menjabakan peran keluarga dan orang tua sebagai pendidik utama.

Kata Kunci:

putus hubungan, rencana


Apersepsi

Apakah kalian pernah lihat iklan seperti ini?

Gambar 4.1 Iklan putus hubungan dengan anak

 
            Tuhan Pada tahun 1960-an sampai dengan tahun 1980-an cukup sering kita jumpai iklan-iklan seperti ini. Cukup sering dalam arti tiap bulan beberapa kali muncul iklan serupa di beberapa surat kabar, misalnya di surat kabar Sinar Harapan. Biasanya orang tua memasang iklan menyatakan putus hubungan dengan anaknya, dan usia anak bervariasi, mulai dari belasan tahun sampai dengan 30 tahunan.

            Namun, pernahkah kalian menemukan hal yang sebaliknya, yaitu anak yang memutuskan hubungan dengan orang tua? Hal ini terjadi baru-baru ini Gambar 4.1 Iklan putus hubungan dengan anak Apersepsi Apakah kalian pernah lihat iklan seperti ini? dan keputusan pengadilan yang jatuh pada Maret 2020 menyatakan bahwa anaklah yang bersalah.

            Kisah singkatnya, seorang anak dikuliahkan di Fakultas Kedokteran suatu universitas swasta, yang tentunya membutuhkan biaya mahal. Setelah ia lulus, ia pun menikah dengan dibiayai orangtua sebesar 750 juta di sebuah hotel mewah. Namun, orang tua tidak hadir di pernikahan itu, bahkan nama orang tua pun tidak dicantumkan dalam surat undangan pernikahannya. Yang lebih aneh, sehari setelah pernikahannya, sang anak memasang iklan menyatakan putusan hubungan dengan orang tuanya.

            Mungkin kejadian seperti ini hanya ada di kota-kota besar. Di luar itu, mungkin kejadian serupa pernah kalian temukan ketika mengetahui ada orang tua dengan anak yang masing-masing tinggal di kota atau negara yang terpisah, dan sang anak hampir tidak pernah terlihat menemui orang tuanya. Atau, mungkin saja di daerah kalian ada legenda seperti Malin Kundang yang durhaka kepada ibunya. Apakah kira-kira kalian bisa menduga mengapa terjadi pemutusan hubungan dari orang tua ke anak, dan dari anak ke orang tua? Bandingkan jawaban kalian dengan teman-teman sekelas! 


Pesan Alkitab untuk Orang Tua

Setiap orang lahir karena memiliki orang tua. Artinya, manusia sebagai ciptaan Tuhan hadir melalui keberadaan. Harap selalu diingat bahwa Tuhan adalah Maha Pencipta, karena itu apapun yang ada di dunia ini adalah milik Tuhan, termasuk setiap manusia. Walaupun secara hukum tercatat bahwa anak adalah milik orang tuanya, namun Tuhanlah yang memiliki anak (“Sungguh, semua jiwa Aku punya! Baik jiwa ayah maupun jiwa anak Aku punya!” - Yehezkiel 18:4a). Itu sebabnya semua tindakan yang dilakukan orang tua kepada anak harus diperhitungkan baik-baik, apakah memang seturut dengan kehendak Tuhan. Harus diakui, ada saja orang tua yang menganggap anak sebagai barang? Bila menguntungkan disimpan, bila tidak menguntungkan dilepaskan. Ternyata, Alkitab berisi banyak pesan kepada orang tua maupun anak. Apabila kemudian orang tua mengalami dukacita karena kelakuan anak, inipun sudah diingatkan di dalam Alkitab (“Anak yang bijak mendatangkan sukacita kepada ayahnya, tetapi anak yang bebal adalah kedukaan bagi ibunya” - Amsal 10:1). 

            Sebagai pihak yang dititipkan anak, orang tua harus memberi kesempatan kepada anak untuk bertumbuh sehingga anak menemukan apa yang Tuhan inginkan untuknya secara pribadi, bukan sekadar mengikuti keinginan orang tua. Itu sebabnya tanggung jawab mengasuh dan mendidik anak terletak pada orang tua, tidak boleh diberikan kepada orang lain, walaupun orang itu dianggap cukup terdidik, misalnya guru di sekolah.

            Dobson (2014), seorang psikolog Kristen yang mengelola Focus on the Family di California, Amerika Serikat, berpesan kepada para orang tua, khususnya ayah, bahwa hubungan orang tua dengan anak haruslah me-rupakan hubungan yang akrab dan penuh kehangatan. Anak tidak boleh ragu-ragu untuk membahas hal-hal yang membingungkan bagi mereka bersama ayah. Kesempatan untuk orang tua dalam membina kehangatan dengan anak tidaklah lama, karena saat anak memasuki usia remaja, yaitu saat menginjak bangku SMP, umumnya anak akan menjadi lebih akrab dengan teman sebaya dibandingkan dengan orang tua. Hal terindah yang dapat dilakukan orang tua bagi anak-anaknya adalah menjadi sahabat. Begitulah pesan Charlotte Priatna (2020), seorang konselor sekaligus pendiri sekolah Kristen Athalia di Jakarta.

            Sejalan dengan hal ini, ada tiga tanggung jawab orang tua bagi anakanaknya, yaitu tanggung jawab secara spiritual, emosional, dan fisik. Tanggung jawab spiritual adalah agar anak berada di jalan yang benar sehingga ia menjalani hidup yang baik ketika sudah menjadi dewasa. Setidak-tidaknya, ada dua ayat Alkitab yang dapat dijadikan rujukan untuk hal ini. “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” (Amsal 22:6) serta “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan” (Efesus 6:4).

            Ayat Alkitab tentang tanggung jawab emosional dapat ditemukan misalnya di Kolose 3:21, “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.” Kepada orang tua, Dobson (2014) berpesan agar jangan sampai orang tua melakukan hal-hal yang justru membuat anak menjadi rendah diri. Hal-hal itu misalnya, tidak menghargai usaha anak, menuntut anak untuk lebih baik dari anak-anak lain.

            Tanggung jawab fisik dapat ditemukan dari ayat berikut, “Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya, tetapi kekayaan orang berdosa disimpan bagi orang benar” (Amsal 13:22) dan “Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman” (1 Timotius 5:8).

            Dengan demikian, orang tua harus mempertimbangkan dengan sangat hati-hati, apakah mereka memiliki kemampuan yang cukup memadai untuk memiliki anak sebanyak-banyaknya. Baik itu kemampuan secara finansial, kemampuan mengasihi anak dengan utuh, dan kemampuan mendidik mereka agar terus bertumbuh secara spiritual. Dalam hal ini, kita harus mengkritisi apakah pepatah “banyak anak banyak rezeki” masih bisa diterapkan pada masa kini.

            Kini kita tahu bahwa menjadi orang tua merupakan hal yang berat. Sayangnya, belum ada sekolah untuk membekali tiap pasangan bagaimana menjadi orang tua yang baik. Meskipun ada banyak seminar untuk orang tua, belum tentu seminar itu memang membekali orang tua untuk menjadi orang tua seperti yang ditegaskan oleh Alkitab. Analisis yang dilakukan oleh Hoeve dkk. (2009) terhadap 161 hasil penelitian tentang hubungan antara perlakuan orang tua dengan kenakalan anak menemukan bahwa kenakalan anak sebagian disebabkan oleh orang tua yang menolak kehadiran anak, tidak peduli terhadap anak bahkan menunjukkan permusuhan.

            Analisis yang dilakukan oleh Pinquart (2017) terhadap 1.435 hasil penelitian tentang hubungan antara perilaku orang tua dengan masalah yang diperlihatkan oleh anak mereka menunjukkan bahwa pola asuh orang tua yang sering menghukum dan terlalu banyak memberikan aturan kepada anak serta bersikap otoriter menghasilkan anak dan remaja yang berperilaku agresif, hiperaktif, memberontak, bahkan ada juga yang mengalami gangguan kejiwaan ketika anak bertambah dewasa. Kita tidak boleh menutup mata terhadap pentingnya menjaga hubungan yang baik antara orang tua dan anak.

            Mana yang lebih berat, tugas ayah atau ibu? Tradisi sering menempatkan tugas ibu adalah di rumah, untuk mendidik serta mengasuh anak, sedangkan tugas ayah adalah di luar rumah. Ini tercermin misalnya dalam buku pelajaran di Sekolah Dasar ketika siswa disuruh memilih mana yang lebih tepat, ibu di rumah atau di kantor. Apakah pembagian tugas seperti ini dapat dibenarkan?

            Hasil penelitian memang menemukan bahwa anak-anak, baik anak laki-laki maupun perempuan, lebih dekat kepada ibunya (Koehn & Kerns, 2018). Sejumlah penelitian pada remaja di Indonesia juga menemukan hal yang serupa. Tentu hal ini tidak mengherankan karena umumnya mengasuh anak lebih dianggap lumrah bagi ibu dan bukan pada ayah. Namun, tanpa kedekatan dengan ayah, anak bisa mengalami kesulitan ketika sudah beranjak makin dewasa.

            Saat ini mulai dilakukan penelitian yang membandingkan pengaruh dari ketidakhadiran ayah dibandingkan dengan ketidakhadiran ibu: mana yang lebih memberikan pengaruh negatif bagi pertumbuhan anak. Demuth dan Brown (2004) serta Möller dkk (2016), misalnya menemukan bahwa ketidakhadiran ayah memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap kenakalan anak dibandingkan dengan ketidakhadiran ibu. Bahkan, ada satu kesaksian yang mengharukan seperti yang diceritakan oleh pendeta D. James Kennedy tentang temannya yang seorang misionaris. Misionaris ini menemukan bahwa mayoritas narapidana yang dilayaninya di suatu penjara tidak mengenal tokoh ayah dalam kehidupannya (Takooshian, 2016). Ternyata, walaupun anak hanya ‘dititipkan’ oleh Tuhan kepada orang tua, sungguh tidak mudah mengasuh dan mendidik anak agar dapat bertumbuh menjadi pribadi yang mengasihi Tuhan dan sesama. Hampir tidak mungkin untuk membiarkan orang tua menjalankan tugas sebagai pengasuh dan pendidik anak bila tidak dibekali secara memadai. Di sinilah kita dapat berharap agar gereja menggunakan kesempatan untuk membekali orang tua dengan bertanggung jawab.


Pesan Alkitab untuk Anak-anak

            Sejak kecil mungkin kita sudah belajar tentang Sepuluh Hukum Taurat, yaitu apa yang harus kita lakukan kepada Tuhan dan kepada sesama manusia. Mungkin kita juga pernah menghafal isi Sepuluh Hukum Taurat ini. Perhatikan bahwa perintah pertama yang dilakukan untuk sesama manusia adalah, “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu” (Keluaran 20: 12). Dapatkah kita katakan bahwa ini suatu kebetulan, artinya urutan penempatan tidak memegang peranan penting? Tentu tidak. Melalui orang tualah kita hadir di dunia. Melalui orang tualah kita belajar tentang berbagai hal, mulai dari belajar berjalan, belajar bicara, belajar mana yang baik dan buruk, mana yang boleh dilakukan dan mana yang harus dihindarkan. Di dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus kembali menegaskan perintah ini, “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.” (Efesus 6:1-3).


Keteladanan Orang Tua bagi Anak

            Ada satu ilustrasi yang bagus sekali tentang dua anak yang menyikapi secara berbeda kelakuan ayah mereka. Sang ayah adalah seorang pemabuk, sering memukuli istri dan anak-anak, juga sering memaki dengan kata-kata yang kotor dan tidak senonoh. Ketika ayah meninggal, dua anak ini tumbuh menjadi orang dewasa yang berbeda kelakuannya. Yang sulung menjadi pemabuk dan terlibat dalam berbagai tindakan kriminal sehingga dimasukkan ke penjara. Ketika ditanyakan mengapa begitu, ia menjawab, “Saya tidak punya teladan dalam keluarga. Ayahku memang juga pemabuk dan sering menyakiti hati ibu dan kami anak-anaknya. Sangat wajar bila saya sebagai anak sulung juga tumbuh menjadi seperti ini.” Namun, anak bungsu berbeda. Ia sukses dalam karier dan menduduki jabatan sebagai pimpinan karena memang dikenal sebagai orang yang jujur, hati-hati, dan sangat peduli kepada bawahan dan rekan kerja. Ketika ditanyakan kepadanya, mengapa ia tidak seperti ayah dan kakaknya, ia menjawab, “Ayah saya pemabuk dan sering menyakiti ibu dan kami anak-anaknya. Dia bukan ayah yang patut diteladani. Dan ini membuat saya berpikir ‘Apakah saya mau menjadi pria yang demikian? Ataukah ada pilihan lain dalam menjalani hidup dan memiliki masa depan?’ Kelakuan ayah saya mendorong saya untuk menjadi lebih baik karena tidak mau menimbulkan luka pada orang lain.”

            Anak yang mana yang menurut kalian lebih tepat untuk diteladani? Anak sulung atau anak bungsu? Tentu anak bungsu, bukan? Sayangnya, cukup banyak orang yang memilih menjadi seperti si anak sulung yang melemparkan kondisi yang dialami kepada ayah yang tidak menjadi teladan. Padahal, ada pilihan untuk menjadi lebih baik. Pilihan menjadi lebih baik ini didasari oleh kesadaran bahwa masa depan yang kita miliki ada di tangan kita; kondisi keluarga tidak perlu membuat kita hancur.

            Beberapa waktu yang lalu ada istilah ‘madesu’ yang merupakan singkatan dari masa depan suram. Istilah ini dipakai untuk menggambarkan bahwa seseorang tidak memiliki masa depan yang baik bila ia terlibat dalam berbagai tindakan kriminal, atau bila ia tidak punya bekal pendidikan, atau kekayaan yang cukup untuk membuka usaha. Namun di Kotabumi yang terletak di Lampung Utara, Sumatera Selatan, ada patung yang dinamakan Patung Madesu. Madesu disini juga merupakan singkatan, tetapi singkatan dari masa depan sukses. Kalian bisa mencari di internet bagaimana wujud patung Madesu ini. Patung ini didirikan dengan tujuan mengingatkan tiap orang, terutama kaum muda bahwa sukses bisa diraih bila kita bekerja keras bermodalkan pendidikan. Pendidikan bukan hanya dalam arti pendidikan formal yang diperoleh di bangku sekolah, tetapi juga pendidikan nonformal lainnya, termasuk pendidikan etika dan moral yang tentunya diperoleh bukan hanya di sekolah.

            Packer (1973) mengakui bahwa bila hubungan anak dan ayah tidak erat, bahkan bila ayah sering menyakiti hati anak, anak akan mengalami kesulitan untuk melihat kepada Tuhan sebagai Bapa Surgawi. Kecenderungan manusia untuk berbuat dosa menyebabkan manusia tanpa sadar melakukan hal-hal yang ternyata melukai hati Tuhan. Akan tetapi, setiap manusia tetap harus bertanggung jawab untuk apa yang telah dilakukannya karena pengadilan Allah berlaku untuk tiap manusia.

            Mereka yang memahami hal ini tentu akan berhati-hati dalam berpikir, bertindak dan berinteraksi dengan orang lain. Pengampunan Tuhan pun sempurna, berlaku bagi mereka yang mengakui dirinya berdosa di hadapan Tuhan dan sesama, “Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah” (Roma, 9:16). Allah yang digambarkan di Perjanjian Lama adalah Allah Sang Pencipta yang bertindak tegas dalam menghukum mereka yang bersalah. Untuk memberikan gambaran tentang ketegasan Allah, kita bisa lihat di Imamat 10:1-2, “Kemudian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan Tuhan api yang asing yang tidak diperintahkan-Nya kepada mereka. Maka keluarlah api dari hadapan Tuhan, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan Tuhan.”

            Allah dalam ayat-ayat Alkitab di atas adalah Allah yang menghukum apabila manusia tidak melakukan perintah-Nya. Akan tetapi, di dalam Perjanjian Baru, Allah yang sama digambarkan sebagai Allah yang dapat dihampiri oleh manusia dengan bebas tanpa rasa takut, “Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya.” (Efesus 3:12)

            Tuhan Yesus memberikan pedoman bahwa kita memandang Allah sebagai Bapa yang sangat mengasihi anak-anak-Nya. Dalam Doa Bapa Kami, kalimat pertama adalah ‘Bapa kami yang di surga’ (Matius 6:9). Hubungan sebagai seorang bapa dengan anak-anaknya inilah yang memberikan kesan kehangatan sehingga selaku pengikut Kristus kita tidak usah ragu-ragu untuk menghampiri-Nya setiap saat. Dalam hal ini Packer dengan tegas menyatakan bahwa walaupun seseorang memiliki keluarga yang hancur dan tidak harmonis, tetap ada kemungkinan untuk memiliki keluarga yang harmonis ketika ia mendapat kesempatan untuk membangun rumah tangganya.

            Menurut Packer (1973), ada tiga sikap yang bisa kita miliki terhadap Allah Bapa, tergantung dari pengalaman kita dengan ayah kita. Pertama, ketika ayah kita sudah merupakan ayah yang baik, kita akan menyatakan, “Saya sudah memiliki ayah yang baik. Ternyata, Tuhan jauh lebih baik dari ayah saya.” Kedua, “Ayah saya sangat mengecewakan, tetapi kini saya menemukan Tuhan yang tidak akan pernah mengecewakan saya.” Ketiga, “Saya tidak pernah punya pengalaman memiliki ayah. Tetapi, kini saya memiliki Tuhan sebagai Bapa yang sempurna.”

            Memang tidak ada manusia yang sempurna, tetapi ini tidak boleh menjadi halangan untuk mengenal Allah Bapa dan membina hubungan denganNya. Melalui Yesus Kristus, kita belajar bahwa hubungan Allah Bapa dengan Allah Putra adalah hubungan yang istimewa (“Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku” (Yohanes 17:23). Bahkan, sesaat setelah Yesus bangkit, kata-kata-Nya sungguh menghibur: Kata Yesus kepadanya (Maria Magdalena), “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” (Yohanes 20:17).

            Sungguh indah pesan Alkitab bagi orang tua mau pun bagi kita selaku anak. Tidakkah kita merindukan hubungan yang hangat dan akrab dengan orang tua kita? Rencana Tuhan yang indah untuk keluarga kita akan berlaku bila kita dengan sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan menaati perintahperintah-Nya. 


Rangkuman

"Melalui karya-Nya yang ajaib, Tuhan mengatur agar tiap manusia lahir di tengah keluarga melalui orang tua. Apa yang diciptakan Tuhan tidak pernah salah. Akan tetapi, untuk memahami rancangan indah-Nya bagi tiap manusia, baik orang tua maupun anak harus taat pada perintah-Nya. Orang tua diberikan kesempatan untuk mengasuh dan mendidik anak agar mengenal Tuhan dan berperilaku seperti yang Tuhan inginkan. Sebaliknya, anak pun diperintahkan untuk menghormati orang tua. Dalam hubungan mengasihi dan menghormati inilah rancangan indah Tuhan akan mulai berwujud."



Sumber:

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X Penulis: Julia Suleeman ISBN 978-602-244-465-7 (jil.1) 

Tidak ada komentar:

Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya

  BAB XI Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya  Kejadian 1:1-31 I Raja-raja 17-19, 21 II Raja-raja 1-2  Pendidikan Agama Kristen dan Budi ...