Bab V Allah Pembaru Kehidupan
Ratapan 3:22-23
Pendidikan Agama Kristen dan Budhipekerti Kelas X
Tujuan Pembelajaran :
• Mengakui bahwa Allah adalah pembaru hidup manusia
• Mengidentifikasi perubahan pada diri sendiri sebagai suatu proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Apa yang kita rasakan bila melihat padang rumput luas dipenuhi bunga aneka warna seperti gambar di atas? Tentunya menyenangkan, bukan? Pemeliharaan Tuhan meliputi pemeliharaan terhadap keindahan alam yang tiap hari muncul. Sebelum kita mulai pembahasan topik ini, mari kita nyanyikan lagu “Setia-Mu, Tuhanku, Tiada Bertara” (Pelengkap Kidung Jemaat No. 138). klik Link ini https://www.youtube.com/watch?v=O-3vaaK4oxQ&list=RDO-3vaaK4oxQ&start_radio=1
Salah satu kalimat dalam lagu ini menyatakan, “Setia-Mu Tuhanku, mengharu hatiku.” Dalam Bahasa Inggris sebagai bahasa asli lagu ini, tertulis, Great is thy faithfulness! Great is thy faithfulness! Tampak agak berbeda, ya? Inilah keahlian E. L. Pohan dalam menerjemahkan lirik lagu bahasa asing ke dalam kalimat bahasa Indonesia yang sungguh menggetarkan hati. Jadi, bukan sekadar menerjemahkan kata demi kata, melainkan menuliskan ulang sesuai dengan konteksnya. Tanpa pemahaman tentang konteks di balik kalimat yang diungkapkan Nabi Yeremia dan kisah di balik penulisan lirik lagu ini, penerjemah lainnya mungkin akan menerjemahkan seperti ini, “Sungguh besar kesetiaanMu!”
Nabi Yeremia yang dianggap menjadi penulis Kitab Ratapan ini. Kini, kita kaji dulu penjelasan Alkitab tentang bagaimana Allah membaharui hidup kita.
Dasar Alkitab tentang Allah sebagai Pembaru Hidup
Kitab Ratapan adalah sebuah kumpulan puisi yang ditulis oleh Nabi Yeremia di Perjanjian Lama. Kitab ini ditulis pada saat orang Yehuda tinggal di pembuangan di Babel. Pembuangan itu dimulai oleh kehancuran Kota Yerusalem pada tahun 586 SM. Saat itu, bangsa Israel terpecah menjadi dua kerajaan, yaitu Israel di utara dan Yehuda di selatan. Israel sudah lebih dahulu dihancurkan oleh Kerajaan Asyur pada tahun 721 SM. Asyur kemudian dikalahkan oleh Babel dalam peperangan panjang pada 626-609 SM. Babel menggantikan Asyur, muncul sebagai imperium yang baru yang sangat besar kekuasaannya. Babel kemudian memperluas kekuasaannya hingga akhirnya berhasil menghancurkan Yerusalem, ibukota Yehuda. Banyak orang Yehuda yang ditangkap dan diangkut ke Babel.
Kitab Ratapan adalah sebuah kumpulan puisi yang meratapi kehancuran Yerusalem dan kerajaan Yehuda. Muncul pertanyaan, pada bangsa itu, bagaimana mungkin Yehuda dikalahkan oleh Babel, bahkan harus menderita di pembuangan di Babel? Bukankah mereka bangsa pilihan Allah? Lalu, bagaimana mungkin mereka bisa dikalahkan oleh bangsa kafir seperti Babel? Penulis Ratapan, yang diduga adalah Nabi Yeremia, berkesimpulan bahwa itu semua disebabkan oleh dosa-dosa Yehuda. Yehuda telah mengabaikan Tuhan, Allah Israel. Mereka telah berdosa besar, kata Yeremia, “Sebab itu juga engkau membiasakan segala jalanmu kepada kejahatan. Sampai-sampai pada bajumu terdapat darah orang-orang miskin yang tidak bersalah; bukan waktu mereka membongkar untuk mencuri kaudapati mereka!” (Yeremia 2:33-34)
Di atas dijelaskan kesalahan Yehuda, di mana baju mereka berlumuran darah orang miskin yang tidak bersalah, yang mereka tuduh masuk membongkar rumah untuk mencuri. Dengan kata lain, bangsa Yehuda telah menjungkirbalikkan hukum negara. Yang salah dibiarkan merampok, sementara yang tidak bersalah mereka jatuhi hukuman berat, hingga darah mereka ditumpahkan. Sungguh kejahatan yang sangat mengerikan!
Meskipun demikian, yang menarik dari Kitab Ratapan ini ialah pengakuan penulis Kitab terhadap Tuhan, Allah Israel, yang penuh kasih. Ayat yang menjadi dasar bahan ini memperjelas pemahaman penulis Kitab tentang Allah, “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmatNya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Ratapan 3:22-23). Walaupun kesengsaraan yang dialami oleh bangsa Israel adalah penghukuman Allah terhadap dosa-dosa yang telah mereka lakukan, tetap ada pengharapan bagi mereka yang mau berpaling kepada-Nya. Dyer (2004) mengingatkan bahwa walaupun Allah menghukum mereka yang berbuat dosa, pengampunan Allah yang sempurna tersedia bagi mereka yang mau mengakui dosa-dosa mereka dan kembali berbalik kepada Allah. Mengakui bahwa diri berdosa ini yang seringkali tidak dilakukan karena banyak yang tetap menganggap diri mereka benar! Kecenderungan manusia adalah untuk melupakan bahwa Allah sebagai Pencipta Semesta adalah yang tetap berkuasa.
Pembahasan Materi
Pada abad XVI, muncul sebuah pemahaman baru yang disebabkan oleh Abad Pencerahan. Pemahaman itu disebut Deisme. Deisme didasarkan pada pemahaman bahwa Allah bekerja seperti seorang tukang jam. Tukang jam membuat jam dan setelah selesai, ia akan membuat jam itu berputar. Setelah itu, ia menjualnya dan tidak berurusan lagi dengan jam karyanya itu. Begitu juga cara Allah bekerja. Ia menciptakan dunia dan segala isinya. Akan tetapi, setelah tugas-Nya selesai, Ia tidak berurusan lagi dengan dunia.
Deisme didasarkan pada perkembangan pemahaman tentang agama yang muncul pada abad XVII. Abad Pencerahan membuat manusia memandang dirinya sebagai pusat seluruh hidupnya. Ia tidak lagi memandang dirinya sebagai sosok yang sangat takut akan kekuatan alam yang mahadahsyat, yang tidak dapat ia kuasai. Revolusi Industri yang menyusul Abad Pertengahan semakin meyakinkan manusia bahwa ia berkuasa atas alam. Penyakit bukan lagi dipahami sebagai hukuman Tuhan, melainkan disebabkan oleh virus dan bakteri. Kalau manusia mengalami penderitaan di dunia, itu adalah salahnya sendiri. Kelaparan terjadi karena bencana alam yang memang di luar kendali manusia. Namun, manusia masih dapat mencegahnya apabila mereka mampu dan mau merencanakan hidupnya dengan lebih baik.
Kaum Deis juga tidak menganggap bahwa Allah masih dibutuhkan oleh manusia. Wahyu dan mukjizat dianggap tidak perlu dan tidak diyakini ada karena tidak bisa dibuktikan. Pandangan kaum Deis ini sangat berpengaruh terhadap sejumlah tokoh awal Amerika Serikat. Orang-orang seperti George Washington, Benjamin Franklin, Alexander Hamilton, dan lain-lain diakui sebagai Deis (lihat misalnya pengakuan Benjamin Franklin dalam bukunya The Authobiography of Bendyamin Franklin). Kalian dapat menemukan berbagai foto Benjamin Franklin dengan mudah di internet.
1. Harapan Pembaruan Allah di Amerika Serikat
Apa masalahnya dengan Deisme? Jelas bahwa para penganut Deisme tampak seolah-olah sebagai orang yang beragama. Akan tetapi, pada kenyataannya mereka sudah mengangkat diri mereka sebagai Tuhan. Tuhan sudah mereka singkirkan dari hidup manusia di dunia. Mari kita dalami sedikit pemahaman Thomas Jefferson, penyusun Declaration of Independence Amerika Serikat. Dalam deklarasinya itu, Jefferson mengatakan bahwa tujuan bangsa Amerika Serikat adalah kehidupan, kebebasan, dan mengejar kebahagiaan.
Sebuah catatan di Museum Jefferson mengatakan bahwa gagasan “mengejar kebahagiaan” yang ditulisnya tampaknya dipengaruhi oleh Deklarasi Hak-hak Virginia, yang ditulis George Mason yang berbunyi “kenikmatan hidup dan kebebasan, yang dicapai dengan memperoleh hak milik dan mengejar serta mendapatkan kebahagiaan dan keamanan.” Namun, Jefferson adalah seorang pemilik budak. Ada 600 orang budak yang dipeliharanya untuk mengerjakan ladangnya yang sangat luas. Setelah Abraham Lincoln mengumumkan emansipasi kaum kulit hitam, para budak tidak secara otomatis merdeka. Tidak mengherankan apabila setelah ratusan tahun merdeka, Amerika belum juga mencapai kebahagiaan itu. Semangat keunggulan orang kulit putih yang hidup dengan menindas orang kulit hitam belum sepenuhnya hilang dari jiwa mereka.
Kita baru memahami apa sebabnya ketika Dr. Martin Luther King, Jr. menuliskan kata-kata perjuangannya, “Busur moral sejagad memang panjang, tetapi lengkungannya mengarah kepada keadilan” (Smith, 2018). King menunjuk pada kenyataan yang ia hadapi di dalam hidupnya bahwa keadilan sama sekali tidak dirasakan oleh kaum kulit hitam pada masa hidupnya di tahun 1950-an hingga ia ditembak mati pada tahun 1968.
Amerika mungkin memiliki segala-galanya dan patut disebut sebagai bangsa terkaya di dunia. Namun, selama ketidakadilan dirasakan oleh sebagian bangsanya, kekayaan itu tidak akan berarti. Itulah sebabnya King berjuang bersama dengan rekan-rekannya untuk menuntut keadilan. Sampai sekarang perjuangan itu belum selesai walaupun Barack Obama dan Kamala Harris masing-masing sudah terpilih menjadi presiden (tahun 2009-2017) dan wakil presiden Amerika Serikat (terpilih pada tahun 2020). Orang kulit hitam di Amerika masih terus berseru kepada Allah menuntut keadilan supaya peristiwa seperti yang dialami George Floyd tidak terjadi lagi. George Floyd adalah seorang pria kulit hitam yang ditangkap dengan tuduhan menggunakan uang palsu saat membeli rokok pada tanggal 25 Mei 2020. Malam itu juga, ia meninggal setelah seorang polisi menindih lehernya selama hampir 9 menit. Kisah lengkapnya dapat kalian ikuti di portal kompas. com (2020) dengan tautan lengkap di Daftar Pustaka.
Tema “Allah Pembaru Kehidupan” ini didasarkan pada keyakinan yang berlawanan dengan pandangan kaum Deis tentang Allah. Allah yang kita kenal bukanlah Allah yang tidak peduli dengan hidup manusia dan seluruh alam semesta. Allah yang kita kenal bukanlah Allah yang jauh, terasing, atau tidur.
2. Peranan Allah di dalam Kemerdekaan Indonesia
Alinea ketiga Mukadimah UUD RI tahun 1945 kita berbunyi, “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia me-nyatakan dengan ini kemerdekaannya.”
Pernyataan di atas memuat sebuah pengakuan dari para pendiri negara kita tentang perjuangan bangsa kita dalam mencapai kemerdekaan dan membentuk suatu negara yang terdiri dari ratusan suku bangsa, kelompok etnis, puluhan atau ratusan agama di luar keenam agama yang diakui resmi (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu). Pada awal pembentukan negara Republik Indonesia, negara kita menghadapi berbagai pergolakan yang bahkan berulang-ulang mengancam keberlanjutan bangsa kita, antara lain DI/TII, PERMESTA, Gerakan 30 September, dan lain-lain. Tentu dari pelajaran Sejarah Indonesia kalian sudah membahas beberapa ancaman ini. Bahkan sampai saat ini, ancaman terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih terus terjadi dengan munculnya beberapa gerakan yang ingin mengubah Pancasila sebagai dasar negara menjadi lebih sesuai dengan keinginan mereka. Namun sejauh ini kita masih tetap bertahan sebagai satu bangsa. Hal ini tidak mungkin lepas dari pimpinan Tuhan di dalam kehidupan berbangsa kita. Sebagai generasi muda, kalian juga harus terlibat dalam mempertahankan keutuhan NKRI dengan mengembangkan semangat patriot (membela negara). Di Kelas XII tema ini akan dibahas kembali.
3. Karya Pembaruan Allah dalam Penyelamatan Dunia
Allah tetap bekerja menyelamatkan dunia. Alkitab memberi kesaksian bahwa karya pembaruan Allah sudah direncanakan jauh sebelum kelahiran Yesus Kristus. Ketika kita membaca Alkitab dengan menerima tema bahwa Allah menciptakan, menyelamatkan dan membarui, maka seluruh kesaksian Alkitab menjadi bukti bahwa janji Allah sungguh nyata dan berlaku, bukan hanya pada masa lalu, untuk bangsa Israel, tetapi juga pada saat ini, untuk seluruh umat manusia yang percaya kepada Kristus (Sproul, 1993). Ini dapat kita lihat dari kata-kata Rasul Paulus dalam Surat Galatia, “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak” (Galatia 4:4-5).
Paulus mengatakan bahwa kedatangan Yesus ke dunia juga terjadi karena “telah genap waktunya”. Dalam tafsirannya, Jackson (2020) mengatakan bahwa yang Paulus maksudkan genap waktunya adalah sejumlah faktor yang mendukung kelahiran Yesus di dunia. Orang-orang Yahudi sudah memperkenalkan konsep monoteisme dan Kitab Suci Ibrani yang mempersiapkan kedatangan Yesus. Berikutnya, orang-orang Yunani menyediakan bahasa yang digunakan oleh seluruh masyarakat di daerah Laut Tengah dan Palestina, tempat kelahiran Yesus. Yunani merupakan bahasa yang tepat, yang dipahami oleh semua bangsa pada saat itu. Beberapa waktu kemudian, orang-orang Romawi menciptakan perdamaian serta sarana transportasi dan komunikasi yang sangat penting saat itu. Julius Caesar, misalnya, memerintahkan pembangunan jalan-jalan raya di seluruh Eropa yang dikenal memiliki jaringan yang meluas hingga ke Palestina. Ini semua telah menjadi persiapan yang sangat tepat untuk pemberitaan Injil Kristus ke seluruh dunia yang sudah dikenal saat itu.
Penyertaan Allah atas dunia saat ini bisa kita saksikan dari berbagai upaya perdamaian yang terus diupayakan terjadi di Timur Tengah. Beberapa negara Arab telah mulai menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Kendati demikian, kita masih berharap agar masalah Palestina dapat diselesaikan juga dengan damai dan adil. Tentu kita berharap agar rakyat Palestina pun akhirnya kelak dapat menikmati hidup di dalam kemerdekaan.
Kita menyaksikan juga sejumlah negara berhasil mengatasi wabah Covid-19 dengan baik, seperti Vietnam, Taiwan, Selandia Baru, Finlandia, Jerman. Walaupun ada perdebatan tentang ukuran yang dipakai untuk menyatakan bahwa suatu negara berhasil dan negara lainnya gagal dalam mengatasi pandemik ini (https://www.bbc.com/news/world-europe-54391482). Allah memberikan hikmat kepada para pemimpin yang bekerja dengan keras dan berhasil membangun kepercayaan rakyat kepada negara.
4. Pembaruan Allah dalam Kehidupan Bangsa Indonesia
Masa Reformasi dalam kehidupan bangsa Indonesia juga kita perlu pahami dalam kaitannya dengan karya pembaruan Allah. Pada awal tahun 1990-an, Indonesia mulai membuka dirinya dengan komunikasi dunia. Saat itu, bangsa kita hanya mengenal satu stasiun televisi, yaitu TVRI. Akibatnya, kita tidak pernah tahu bagaimana kondisi bangsa kita sesungguhnya karena banyak hal yang terjadi tanpa sempat diketahui oleh masyarakat luas. Namun, kehadiran TVRI sebagai satu-satunya sumber informasi kita, tidak bisa lagi bertahan. Mulailah muncul stasiun-stasiun televisi swasta. Awalnya, semua ini dikuasai oleh orang-orang yang dekat dengan penguasa. Namun, ketika stasiun-stasiun komersial itu terancam kebangkrutan karena kekurangan pelanggan, pemerintah kemudian membuka televisi-televisi swasta itu menjadi televisi umum yang tidak lagi mengandalkan uang iuran langganan.
Pada akhir tahun 1990-an, Indonesia ikut ke dalam penggunaan internet yang sudah berkembang di negara-negara lain. Kehadiran internet membuka wawasan orang Indonesia tentang apa yang selama ini ditutup-tutupi oleh penguasa pada saat itu. Kini rakyat tahu bahwa pemerintahan Orde Baru ternyata tidak sehebat yang mereka promosikan. Ada banyak utang yang harus ditanggung pemerintah tanpa kejelasan bagaimana pengembaliannya. Akibatnya, muncul berbagai demonstrasi di seluruh Indonesia memprotes pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Semua ini dijawab dengan kekerasan oleh penguasa. Lalu jatuhlah beberapa korban yang semakin memicu kemarahan rakyat. Akhirnya, pada 21 Mei 1998, rezim Orde Baru rontok dan digantikan dengan Era Reformasi.
Yang menarik bagi orang Kristen, hari Kamis, 21 Mei 1998 itu bertepatan dengan Hari Kenaikan Yesus Kristus ke surga. Ada satu kesaksian indah dari Nancy Samola yang pada tanggal 21 Mei 1998 itu menaikkan doa syafaat saat mengikuti ibadah Kenaikan Yesus Kristus di gerejanya. Ini doanya, ”Ya Tuhan, jika Engkau menginginkan Indonesia aman kembali, ketuklah hati Presiden Soeharto, agar bersedia turun dari jabatannya. Saya serahkan doa ini kedalam tangan-Mu, ya Tuhan. Amin.” Sesampainya di rumah, ia melihat di televisi bahwa Presiden Soeharto mengundurkan diri dan kepemimpinan diambil oleh Bapak B.J. Habibie. Tidak ada pertumpahan darah, peralihan kekuasaan berlangsung dengan damai. Tak pelak lagi, orang Kristen mengakui bahwa kejadian ini merupakan campur tangan Allah di dalam kehidupan bangsa Indonesia. Masihkah kita menyangkal bahwa Allah memperbarui kehidupan bangsa kita? Kesaksian Nancy Samola dapat dibaca di kompasiana.com dengan tautan yang tertera di Daftar Pustaka.
5. Pembaruan yang Berkelanjutan
Setelah Allah memimpin bangsa kita keluar dari Orde Baru dan memasuki Era Reformasi, apakah tugas-Nya sudah selesai atas bangsa ini? Tentu saja tidak! Kita percaya bahwa Allah terus memimpin bangsa kita dalam berbagai langkah pembaruan yang terus kita jalani. Saat ini, kita bisa menyaksikan perubahan-perubahan fisik di negara yang kita yakini sebagai bagian dari karya Allah untuk memperbarui bangsa kita. Ada pembangunan infrastruktur di mana-mana, sehingga membangkitkan gairah ekonomi bangsa.
Kalian dapat mencari di internet sejumlah jalan tol yang sudah dibangun oleh pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Jalan tol Trans Sumatera, misalnya, menghubungkan Lampung di Sumatera Selatan dengan berbagai wilayah lainnya di Sumatera. Keberadaan jalan tol seperti ini sangatlah menguntungkan secara ekonomis karena aliran berbagai produk antar wilayah menjadi lebih mudah. Dengan demikian, kehidupan rakyat yang berada di daerah yang semula sulit dijangkau menjadi terangkat secara ekonomis. Pembangunan tol ini sudah dimulai sejak tahun 2015 pada saat kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan masih akan terus berlanjut di berbagai wilayah Indonesia lainnya, termasuk wilayah Papua.
Pada saat ini kita masih menyaksikan berbagai pergolakan di berbagai wilayah yang menunjukkan bahwa masih banyak orang yang belum merasa puas dengan perbaikan-perbaikan yang sudah dilakukan selama ini. Namun, kita harus jujur melihat banyaknya perubahan yang sudah terjadi dibandingkan dengan keadaan sebelum Indonesia merdeka di tahun 1945, atau bahkan sebelum mengalami reformasi di tahun 1998.
Akan tetapi, ketimpangan tetap ada di antara mereka yang kaya dengan yang miskin. Cukup banyak rakyat yang mengharapkan perlakuan yang lebih adil, kesempatan yang lebih luas untuk menikmati kekayaan wilayahnya, serta kesempatan pendidikan dan pekerjaan yang lebih setara dengan saudara-saudara sebangsa mereka di bagian lain wilayah Indonesia. Itu sebabnya kita masih mengharapkan pertolongan Allah untuk terus menciptakan kedamaian dan perdamaian dalam kehidupan berbangsa kita sehingga hak asasi manusia bagi seluruh bangsa bisa ditegakkan (BBC.com, 2019).
Sebagai warga negara yang baik, kita tidak bisa hanya bersikap pasif menunggu datangnya perubahan, tetapi kita harus mengambil peran yang lebih aktif dalam mengupayakan terjadinya perubahan menjadi lebih baik. Tanggung jawab membuat negara dan bangsa Indonesia menjadi lebih sejahtera tidak bisa diletakkan hanya kepada para pimpinan negara dan pejabat publik. Kita semua harus siap sedia untuk bekerja keras mengusahakan hal-hal yang baik itu terjadi.
Sebagai siswa kelas X hal sederhana yang dapat kalian lakukan adalah belajar dengan sebaik-baiknya untuk mendapatkan bekal sebanyak mungkin sehingga wawasan kalian semakin luas dan cara berpikir kalian pun semakin kritis dan kreatif melihat berbagai kesempatan untuk melakukan perubahan. Pada tataran praktis, kalian bisa terlibat dalam berbagai aktivitas yang membuat lingkungan sekitar kalian menjadi lebih baik. Misalnya, kalian dapat mengajak teman-teman sebaya untuk menjaga agar lingkungan tetap bersih sambil tetap memberikan pembekalan agar tumbuh kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan.
Pada hari Proklamasi tahun 2020, kita diingatkan bahwa bangsa kita terancam oleh virus Covid-19 yang sangat ganas dan berbahaya. Sudah ribuan saudara kita yang tewas karena virus ini. Di antara mereka, lebih dari 200 orang dokter dan ribuan tenaga kesehatan lain yang terserang virus dan tewas. Per tanggal 9 Januari 2021 (saat buku ini ditulis), di Indonesia ada sejumlah 808.340 penderita Covid-19, meninggal sebanyak 23.753 orang dan yang sembuh 666.883 orang. Sisanya masih dalam perawatan (worldometers, 2021). Penambahan jumlah penderita meningkat terutama pada saat liburan Natal dan Tahun baru yang baru saja kita lewati. Namun, kita percaya bahwa Allah belum dan tidak akan pernah meninggalkan kita. Ia terus bekerja melalui anak-anak-Nya yang diberikan-Nya hikmat dan kebijaksanaan untuk melindungi dan menciptakan vaksin anti-Covid-19, yang pemberiannya di Indonesia akan dilakukan dalam beberapa minggu mendatang.
Refleksi
Sebelum bertanya kepada orang lain, tanyakan kepada diri kalian sendiri, seberapa besar keyakinan kalian bahwa Allah masih tetap bekerja membarui hidup manusia saat ini dan untuk seterusnya. Nyatakan besarnya keyakinan kalian dalam skala di bawah ini.
Rangkuman
Allah sebagai Pencipta alam semesta dan segala isinya, bukanlah Allah yang kemudian lepas tangan menonton bagaimana ciptaan-Nya melewati hari demi hari. Allah terus bekerja untuk menghasilkan perubahan seperti apa yang Ia inginkan dan membawa kebaikan bagi semua. Seluruh isi Alkitab menceritakan tentang karya Allah dalam penciptaan, pemeliharaan, dan penyelamatan manusia. Baiklah kita memahami apa yang Allah inginkan sehingga kita berperan serta menghasilkan perubahan untuk menjadikan dunia ini lebih baik untuk semua manusia dan alam ciptaan.
Sumber:
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X Penulis: Julia Suleeman ISBN 978-602-244-465-7 (jil.1)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar