Translate

Sabtu, 06 September 2025

ALLAH MEMULIHKAN KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA

 BAB V ALLAH MEMULIHKAN KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA

(Galatia 3:28 , Kolose 3: 11)

Pendidikan Agama Kristen dan Budhipekerti Kelas XII


Tujuan Pembelajaran : 

  1. Menjabarkan makna pembaharuan Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. 
  2. Menjelaskan alasan Indonesia membutuhkan pembaharuan Kehidupan berbangsa dan bernegara.
  3. Mendaftarkan persoalan-persoalan yang ada dalam kehidupan bernegara dan berbangsa kemudian mendiskusikan jalan keluarnya.
  4. Mendaftarkan sikap dan kontribusi remaja kristen dalam turut serta menanggulangi berbagai persoalan yang ada. 

            Pada tahun 2025 negara kita memasuki usianya yang ke-80 tahun. Ini adalah usia yang cukup panjang. Namun kalau kita perhatikan, selama perjalanan bangsa kita yang sedemikian panjang, kita masih terus mengalami berbagai pergolakan yang ditimbulkan oleh berbagai hal. Ada praktik korupsi yang terjadi selama berpuluh tahun di masa Orde Baru, bahkan sampai sekarang pun kita masih menyaksikan perbuatan sejumlah pejabat yang tidak bertanggung jawab dan hanya ingin memperkaya diri sendiri. Ada masalah yang timbul karena keberagaman suku bangsa dan agama, yang kadang-kadang menimbulkan gesekan-gesekan di antara sesama warga bangsa. Ada masalah kesenjangan ekonomi antara pusat dan daerah, ketidaksetaraan perlakuan antara laki-laki dan perempuan (gender), ada berbagai peristiwa yang dapat dinilai diskriminatif terhadap kelompok-kelompok minoritas, dll.  

            Pembelajaran ini akan mendorong pemiikiran kritis remaja Kristen untuk memahami persoalan-persoalan yang dihadapi oleh bangsanya dan muncul kecintaan serta tekad untuk turut serta menggumuli masalah-masalah tersebut. Pembahasan ini juga memotivasi remaja untuk menyadari tanggung-jawabnya sebagai warga negara dalam turut serta berperan dalam menanggulangi persoalan yang ada. Paling tidak melalui berbagai kegiatan yang ada dalam sekolah maupun di luar sekolah.

A. Persoalan-persoalan yang Dihadapi oleh Bangsa Kita

 1. Kemiskinan dan korupsi

            Tingkat kemiskinan di negara kita sesungguhnya masih sangat tinggi. Ketika bahan ini ditulis, Indonesia mengalami krisis yang hebat yang disebabkan oleh merebaknya virus COVID-19 yang menyebabkan bukan hanya kematian banyak orang, tetapi juga kematian kehidupan ekonomi baik di kalangan perusahaan-perusahaan besar dan mereka yang bergerak di aktivitas ekonomi UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah). 

            Kesenjangan ekonomi di negara kita masih terlihat lebar sekali. Ada orangorang yang sangat kaya, sehingga mereka bisa dengan mudah melakukan wisata ke negara-negara Eropa, Amerika Serikat, Jepang, dll. Kelas pesawat terbang yang mereka tumpangi pun adalah kelas yang mahal, bukan kelas ekonomi yang murah. Uang tidak menjadi masalah bagi mereka. 

            Sementara itu, masih banyak sekali orang yang miskin. Bahkan untuk makan besok pagi pun mereka mungkin tidak punya uang. Kalau mereka sakit, mereka tidak mau ke dokter, atau ke puskesmas, karena anggapannya pasti harus keluar uang banyak untuk beli obat, dll. Akibatnya, kondisi mereka semakin buruk: makan seadanya, kadang-kadang hanya nasi dengan garam atau kecap saja. Akibatnya, kesehatan tidak dirawat dan kondisi tubuh melemah. Tidak heran kalau harapan hidup mereka lebih rendah. 

            Kesenjangan ekonomi ini juga terlibat dari ketersediaan lapangan kerja. Lapangan kerja paling banyak tersedia di P. Jawa. Yang lainnya mungkin harus bekerja di kebun-kebun sawit, pabrik-pabrik di luar Pulau Jawa.

2. Keberagamaan Beragama 

            Bangsa Indonesia terdiri dari ribuan suku dan banyak agama. Menurut sensus penduduk oleh BPS 2010 ada sekitar 1340 suku bangsa di Indonesia dengan 718 bahasa, dan 6 agama resmi, serta mungkin puluhan atau ratusan agama lokal. Masalah pengakuan terhadap 6 agama resmi ini, Islam, Kristen, Katolik, Buddhisme, Hindu, dan Konfusianisme, menimbulkan masalah sebab, jumlah pengikut agama-agama itu tidak sama. Islam adalah agama yang paling banyak pengikutnya (85%). 

            Namun demikian, di luar itu kita harus mengakui bahwa ada daerah-daerah tertentu di Indonesia yang dihuni oleh agama-agama yang minoritas, tetapi menjadi mayoritas di wilayahnya. Misalnya, di Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat dan Papua, kita menemukan kantong-kantong Kristen. Di Bali ada komunitas Hindu yang sangat besar jumlahnya (sekitar 3,6 juta). 

            Kemudian ada sejumlah agama setempat (mis. Parmalim di daerah Batak, Kaharingan di Kalimantan, Sunda Wiwitan di Jawa Barat, Aluk Todolo di Toraja, Marapu di Sumba, berbagai aliran kebatinan di hampir semua wilayah Indonesia, dll.) yang seringkali dianggap bukan agama. 


B. Tekanan dan Persekusi 

            Persekusi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pemburuan sewenang-wenang terhadap seseorang atau sejumlah warga. Okunum atau kelompok disakiti, ditumpas dianiaya. Sejak tahun 1993 persekusi diakui sebagai salah satu bentuk kejahatan kemanusiaan dan pelakunya diproses hukum. Berbagai Tindakan persekusi terjadi di Indonesia berkaitan dengan berbagai perbedaan yang ada. Kita dapat menyaksikannya diberbagai media. 

            Dalam menghadapi persekusi, mungkin kita bisa belajar dari Nadirsyah Hosen, seorang dosen Indonesia yang mengajar di sebuah univesitas di Australia. Ia menceritakan pengalamannya, bahwa memang tidak mudah mendirikan masjid di Australia. Rencana pembangunan gedung ibadah apapun di Australia harus mengikuti rencana kota. Apabila rencana yang diajukan sesuai, dengan pertimbangan jumlah umat, jumlah kendaraan dan tempat parkir memadai dan dampak suara yang dijamin tidak akan mengganggu masyarakat sekitar, kemungkinan rencana itu bisa disetujui. 

            Keberatan yang mungkin timbul dari masyarakat sekitar adalah apabila gedung itu diperkirakan akan menimbulkan gangguan kehidupan masyarakat di sana, dengan pengeras suara yang besar. Apalagi kemudian muncul kecenderungan para imigran – yang umumnya beragama berbeda dengan masyarakat penghuni di daerah itu – kemudian pindah ke sekitar tempat ibadah itu. Hal itu dianggap akan mengganggu keseimbangan jumlah penduduk di situ dan mengganggu homogenitasnya. (Hosein, 2019). 

C. Radikalisme Agama-agama 

            Kita juga menyaksikan tumbuhnya radikalisme agama-agama di berbagai tempat. Seringkali hal ini dimulai di kalangan anak-anak SMA yang dididik oleh guru-guru agama yang juga sudah terpengaruh oleh doktrin radikal. Itu sebabnya dalam berbagai unjuk rasa kita sering menyaksikan kehadiran remaja-remaja yang menyerukan berbagai semboyan radikal. Mereka pun tidak jarang ikut melakukan perusakan terhadap berbagai fasilitas umum, atas nama agama dan perjuangan iman. 

            Gejala ini kita bisa saksikan dari berbagai tempat hunian, tempat cuci pakaian, bahkan label-label makanan binatang dan benda-benda tertentu yang dikhususkan hanya untuk kelompok agama tertentu saja. Akibatnya terjadilah sekat-sekat di antara masyarakat umum, yang mempersulit masyarakat untuk hidup bersama dalam damai. Orang semakin dijauhkan satu sama lain, hanya karena adanya perbedaan iman di antara mereka. 

            Yang semakin meresahkan adalah terbentuknya laskar-laskar di kalangan berbagai agama yang ikut memperparah hubungan antar-sesama, dan menajamkan gerakan radikal tersebut. Suasana kehidupan masyarakat yang tenang bisa saja tiba-tiba berubah menjadi panas apabila ada sedikit saja api yang menyulut. Laskar-laskar ini juga seringkali dimanfaatkan ketika menjelang hari-hari raya keagamaan dan ketika suasana memanas di masamasa menjelang pemilihan umum atau pilkada sebagai kelompok-kelompok penekan untuk menghasilkan suara bagi partai-partai tertentu. 

            Bagaimana sebenarnya pandangan Alkitab tentang keberagaman ini? Orang-orang Yahudi di masa Yesus cenderung hidup eksklusif dan menjauhkan diri dari bangsa-bangsa lain yang mereka sebut goyim atau bangsa-bangsa. Mereka menganggap diri lebih unggul dan bersih daripada orang Samaria yang darahnya bercampur dengan darah bangsa Asyur yang menduduki tanah Israel utara sejak masa pembuangan pada sekitar tahun 700an seb.M. 

            Sebaliknya, Yesus bertindak berbeda. Ia berbicara ramah dengan perempuan Samaria di sumur Yakub (Yoh. 4:4-26). Bahkan Yesus sengaja mengangkat tokoh seorang Samaria yang dijadikannya pahlawan dalam perumpamaannya ketika seorang pedagang Yahudi dirampok habis-habisan sampai hampir mati (Luk. 10: 25-37). Saat itu Yesus ditanyai oleh seorang ahli Taurat, siapakah yang layak disebut sebagai sesama kita.

            Dengan perumpamaan-Nya, Yesus seolah-olah menampar sang ahli Taurat, ketika Ia bertanya, “Siapakah yang telah menjadi sesama bagi orang yang malang itu?” Yesus menyuruh sang ahli Taurat untuk memilih dari tiga tokoh sebelumnya, yaitu seorang Farisi, orang Lewi, dan kemudian orang Samaria. Dalam keterdesakan, si ahli Taurat dipaksa Yesus secara halus untuk menjawab, “orang yang telah menolong orang yang malang itu.” Perhatikan, ia bahkan tidak mau menyebut nama etnis orang Samaria itu karena nama itu terlalu najis baginya!

            Yesus menolak radikalisme agama-agama. Ia meruntuhkan temboktembok yang memisahkan masyarakat dan tidak membeda-bedakannya berdasarkan agama, suku, ras, kelas sosial, dll. Dalam Galatia 3:28, Paulus mengatakan, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Ini diwujudkan dalam gereja perdana yang terbuka bagi semua orang, kelas, bangsa, jenis kelamin. Bahkan seorang sida-sida dari Etiopia, yang jenis kelaminnya tidak jelas dibaptiskan oleh Filipus (Kis. 8:27-39). Padahal di masa itu, orang Yahudi sama sekali tidak menerima orang seperti ini, baik di masyarakat maupun di dalam ruang ibadah.

            Bagaimana pandangan Kristen terhadap kehadiran agama-agama lain? Apakah kita bisa menemukan kebenaran di dalam agama-agama itu? Ada tiga pendekatan terhadap masalah ini, yaitu eksklusif, inklusif dan pluralis.

            Pendekatan eksklusif menyatakan bahwa agama Kristen adalah satusatunya agama yang benar, sementara yang lainnya salah. Bahkan sebagian orang menyebutnya sebagai ciptaan kuasa jahat. Pendekatan ini seringkali menggunakan ayat dari Yohanes 14:6 yang mengutip kata-kata Yesus, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

            Pendekatan inklusif menyatakan bahwa agama Kristen adalah yang benar dan paling sempurna. Namun, kebenaran juga dapat ditemukan di dalam agama-agama lain. Dalam Surat Ibrani 1:1-2, kita menemukan kata-kata ini:

“Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabinabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.

            Kedua ayat di atas menunjukkan bahwa Allah tidak membiarkan bangsabangsa berjalan di dalam kegelapan. Allah mengangkat nabi-nabi dan utusanutusan-Nya untuk menyampaikan perintah-perintah-Nya supaya setiap orang bisa berjalan di dalam terang.

            Pendekatan pluralis menyatakan bahwa ada puluhan ribu agama di dunia yang sama-sama sah dan benar, apabila dilihat dari budaya mereka masingmasing. Untuk pendekatan terakhir ini, kita tidak bisa menemukan ayat-ayat Alkitab yang mendukungnya. Namun demikian, para pendukung pendekatan ini cenderung mengatakan bahwa mereka sudah lelah dengan pertikaian yang mempertentangkan mana agama yang benar. Sudah terlalu banyak peperangan yang dilakukan atas nama agama. Jadi, dasar pendekatan ini lebih bersifat kemanusiaan.

            Di sini dapat dikutip pandangan Dalai Lama, seorang pemimpin agama dari Tibet. Suatu kali beliau ditanyai demikian, “Bukankah semua agama mengajarkan hal yang sama? Mungkinkah kita mempersatukan semuanya?” Dalai Lama menjawab:

“Orang dari berbagai tradisi harus mempertahankan tradisinya masingmasing dan bukan menukarnya. Namun, sebagian orang Tibet memilih Islam, jadi ikutilah. Sebagian orang Spanyol memilih agama Buddha, jadi ikutilah. Tetapi, pertimbangkanlah dengan hati-hati. Jangan lakukan itu hanya karena ikut-ikutan. Ada orang yang awalnya Kristen, lalu pindah menjadi Muslim, lalu pindah menjadi Buddhis, lalu tidak beragama. Di Amerika saya bertemu dengan orang-orang yang memeluk agama Buddha, lalu mengganti pakaiannya! Seperti penganut Zaman Baru. Ambil sedikit dari ajaran Hindu, ambil lagi dari Buddha, sedikit, sedikit… Itu tidak sehat. Bagi masing-masing pemeluk, menganut satu kebenaran, satu agama, sangat penting. Beberapa kebenaran, beberapa agama, itu kontradikitf. Saya Buddhis. Karena itu agama Buddha adalah satu-satunya kebenaran dan agama untuk saya. Untuk teman Kristen saya, agama Kristen adalah satusatunya kebenaran dan agama. Untuk teman Muslim saya, Islam adalah satu-satunya kebenaran dan agama Saya menghormati dan mengagumi teman-teman Kristen dan Muslim saya. Bila kita mempersatukan dalam arti mencampur-adukkan, itu tidak mungkin. Sia-sia.”

            Nah, bagaimana pendapat kamu? Coba diskusikan dengan teman sebangkumu, lalu diskusikan juga bersama seluruh kelas dan gurumu. Yang penting kita lakukan adalah bagaimana kita belajar untuk terbuka dan menerima sesama kita. Dengan demikian, radikalisme agama seperti di atas tentu tidak akan terjadi.

D. Patriarki 

Kata patriarki berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu “pater” (ayah) dan “arkhe” (kepemimpinan). Dari sini jelas bahwa kata patriarki bermakna bahwa kepemimpinan dan kekuasaaan berada di tangan sang ayah, atau lakilaki. Dalam keadaan ini, ayah atau pihak laki-lakilah yang menentukan segalagalanya dalam kehidupan ini. Pihak perempuan menduduki posisi kelas dua. Merek diharapkan diam di dalam rumah saja, tidak usah ikut-ikutan mengatur masyarakat. Apalagi menjadi pemimpin di masyarakat. 

            Ada ungkapan yang mengatakan bahwa tempat perempuan itu hanyalah “di dapur, sumur dan kasur”. Artinya, peranannya hanyalah memasak, mencuci piring, pakaian, dll. dan melayani suami dalam kebutuhan seksnya dan melahirkan anak. Benarkah demikian?

            Tokoh-tokoh perempuan pemimpin di negara kita telah menunjukkan bahwa perempuan layak terjun ke masyarakat. Di Minahasa kita mengenal Ny. Maria Walanda Maramis yang merintis pendidikan di Minahasa dan bahkan sampai ke Jawa dengan organisasi PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak dan Temurunannya) untuk mengembangkan pendidikan untuk perempuan supaya mereka bisa bergaul dan berani mengemukakan pemikiran-pemikirannya. 

            Di Jawa Barat, ada Dewi Sartika yang juga mendirikan “Sekolah Raden Dewi” yang menyebar ke seluruh Jawa Barat. Di kota Jepara ada R.A. Kartini yang fasih berbahasa Belanda dan melakukan surat-menyurat dengan temannya di Belanda, Ny. Abendanon. Di dalam surat-suratnya Kartini menunjukkan keprihatinannya akan kedudukan perempuan saat itu, dan kurangnya pendidikan yang bisa mereka nikmati.


Ny. Maria Walanda Maramis dalam Perangko.
Sumber: Domain publik

            Para tokoh perempuan di atas hanyalah sebagian kecil dari tokoh-tokoh perempuan Indonesia yang bisa bahas di sini. Merekalah orang-orang yang berani bertindak untuk mengangkat derajat kaum perempuan Indonesia supaya menjadi setara dengan kaum laki-laki. Patriarki perlu dihancurkan, supaya perempuan tidak lagi ditempatkan di garis belakang, melainkan bisa diberikan peran sebesar-besarnya sesuai dengan kemampuan mereka.

            Di masa modern, kita melihat sejumlah perempuan hebat yang menduduki jabatan-jabatan penting di pemerintahan. Sebut saja Megawati Soekarno Puteri yang menjadi Presiden RI yang ke-5. Sri Mulyani yang menduduki jabatan menteri keuangan dan berkali-kali terpilih sebagai menteri keuangan terbaik di Asia. Ada pula Susi Pudjiastuti yang tidak sampai lulus SMA, namun berhasil luar biasa dalam bisnis perikanannya. Ia kemudian diangkat menjadi menteri kelautan dan perikanan yang terkenal sangat berani dalam menenggelamkan kapal-kapal pencuri ikan di perairan Indonesia. Nama yang layak juga disebut adalah Susi Susanti, pahlawan bulutangkis yang pertama kali merebut medali emas dalam Olimpiade.

            Dengan uraian di atas kita bisa melihat bahwa kaum perempuan Indonesia sudah banyak mengalami kemajuan, sehingga kedudukannya cukup lumayan untuk tingkat Asia. Namun di balik itu, kita masih harus mencatat beberapa hal yang masih sangat kurang. Kita masih sangat kurang melihat kepemimpinan perempuan di sinode-sinode gereja kita.

            Selain itu, di masyarakat masih ada kasus-kasus keluarga yang lebih mengutamakan anak laki-laki dalam menempuh pendidikan. Anak perempuan kurang didorong untuk sekolah tinggi-tinggi karena adanya anggapan bahwa akhirnya mereka akan ke dapur juga.

            Di dunia kerja kita masih menemukan perempuan yang dibayar lebih rendah daripada laki-laki. Padahal jenis pekerjaan yang mereka lakukan sama. Mengapa ini bisa terjadi? Meskipun banyak persoalan yang dihadapi oleh perempuan, berkaitan dengan keadilan namun ada juga kabar baik. Pada Bulan April 2022 ada berita gembira bagi kaum perempuan, Tanggal 12 April DPR RI telah mensahkan UU kekerasan seksual yang seringkali menjadikan perempuan sebagai korban. UU ini memberikan perlindungan hukum bagi kaum perempuan yang menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual. Hal ini menunjukkan perhatian pemerintah terhadap perjuangan kaum perempuan di Indonesia.


E. Kesenjangan Gender 

Di sini kita harus mencatat bahwa masalah patriarki tidak bisa dilepaskan dari masalah kesenjangan gender. Selama patriarki masih bertahan, kesenjangan gender masih akan terus hadir di masyarakat kita. Kesenjangan gender sudah disinggung di atas dengan contoh-contoh perbedaan gaji di antara laki-laki dan perempuan, kesempatan kerja yang lebih mengutamakan laki-laki, sehingga muncul kesan tentang adanya pekerjaan laki-laki dan perempuan. Ada beberapa jenis pekerjaan yang dianggap lebih cocok untuk perempuan mis.: desainer, sekretaris, perawat, apoteker, pelayan toko, kasir, dll. Padahal sebetulnya laki-laki juga bisa mengerjakan semua itu. Bahkan tugas-tugas kerumahtanggaan pun bisa dikerjakan laki-laki. Namun masyarakat pada umumnya masih menganggap aneh kalau seorang laki-laki tinggal di rumah dan menjaga anak, membersihkan rumah, memasak, dll. sementara istrinya bekerja di kantor. Bagaimana pendapat kamu mengenai hal ini? 

            Untuk mengatasi berbagai prasangka buruk tentang semua itu, memang dibutuhkan keberanian untuk mengubah cara berpikir. Di sejumlah negara kita menyaksikan bagaimana rakyatnya telah berani memilih perempuan sebagai pemimpin mereka. Saat ini ada sembilan perempuan pemimpin yang berhasil memimpin negaranya hingga bebas COVID-19, virus yang sangat berbahaya dan mematikan. Dari ke-9 tokoh itu, ada satu orang presiden, dan ia adalah seorang perempuan Asia, dari Taiwan. Namanya Tsai Ing-wen.

Tsai Ing-Wen

F. Penjelasan Bahan Alkitab 

1. Galatia 3:28 

            Perbedaan yang ditekankan kaum Yudais mengenai perbedaan latar belakang, sekarang setelah kedatangan Yesus dihapus. Di dalam Kristus kita menjadi satu. Tidak ada hambatan bagi siapa saja untuk menjadi seorang Kristen. Arogansi Yahudi terhadap bangsa-bangsa lain, budak, dan wanita telah benarbenar dihapus. Perbedaan ini tidak berlaku untuk keselamatan (Roma 3:22; 1 Korintus 12:13; dan Kolose 3:11), namun ini tidak berarti bahwa kita tidak lagi merupakan laki-laki atau perempuan, budak atau orang merdeka, Yahudi atau Yunani. Perbedaan-perbedaan itu tetap ada dan ada bagian yang berbicara tentang perbedaan-perbedaan ini, namun dalam hal menjadi seorang Kristen tidak ada hambatan. Setiap penghalang yang didirikan oleh manusia yang membenarkan diri sendiri, legalistik atau bias, telah dirobohkan oleh Kristus sekali dan untuk selamanya. Sikap eksklusif kaum Yahudi telah dikoreksi oleh Paulus bahwa di dalam Kristus semua orang sama. Tidak ada yang superior dan inferior, hanya Kristus yang dimuliakan.  

2. Kolose 3: 11 

            Pada ayat sebelumnya Rasul Paulus mengucap syukur kepada Allah sehubungan dengan kehidupan jemaat Kolose yang semakin mengalami kemajuan dalam iman dan kasih. Paulus meyakinkan orang-orang percaya di Kolose dalam Kitab Kolose 2:6-7, bahwa karena mereka telah menerima Kristus maka mereka harus tetap hidup di dalam Dia, berakar di dalam Dia, dibangun di atas Dia dan tetap bertambah teguh dalam iman kepada Dia. Jikalau kita memperhatikan dengan saksama keseluruhan surat kolose dari pasal 1 sampai dengan pasal 4, maka salah satu hal yang ditegaskan oleh rasul Paulus ialah berkenaan dengan tuntutan Allah kepada setiap orang percaya untuk senantiasa hidup baru dan menjadi manusia baru. Untuk itu setiap orang percaya yang telah diselamatkan oleh Allah seharusnya hidup dalam kebaruan sejati. 

            Dalam Roma 8:13, Rasul Paulus mengungkapkan sebuah kebenaran penting tentang upaya setiap orang percaya untuk menanggalkan manusia lamanya, yaitu dengan cara hidup senantiasa dalam Roh. Hal ini sangat beralasan karena tidak mungkin “daging dapat meyelesaikan masalah daging” tetapi sebaliknya hanya “Rohlah yang dapat menyelesaikan masalah daging” sehingga oleh karenanya maka Paulus katakan “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup” (Roma 8:13). Setiap orang percaya yang hidup dalam kebaruan sejati tidak hanya menanggalkan manusia lama tetapi juga harus siap untuk mengenakan manusia baru. Manusia baru yang dimaksud menunjuk pada cara berpikir serta cara bertindak yang berbeda dengan kehidupan lama yang pernah dihidupi. Paulus mengungkapkan model manusia baru yang harus dikenakan, yaitu manusia baru yang penuh dengan belas kasihan, penuh dengan kemurahan, penuh dengan kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Mengenakan manusia baru merupakan sebuah kewajiban dari setiap orang yang hidupnya telah diselamatkan dan diperbaharui oleh Allah sehingga bukan sebuah pilihan mau atau tidak mau (suka tidak suka). Penegasan Rasul Paulus tentang mengenakan manusia baru menunjuk pada tindakan untuk mengenakan ”pakaian” manusia baru secara utuh dan bukan sepenggalsepenggal (sebagian). Termasuk di dalamnya pakaian lama yang harus ditanggalkan adalah budaya superioritas yang menempatkan yang lain sebagai inferior. Misalnya, memandang orang lain yang berbeda latar belakang dengan kita sebagai orang “rendah”. Semua manusia tanpa kecuali memiliki harkat dan martabat.


G. Refleksi 

            Allah berkuasa memulihkan kehidupan manusia. Allah sanggup memulihkan kehidupan suatu bangsa dan negara. Pemulihan itu selalu diikuti dengan pembaharuan. Pembaharuan yang terjadi itu merupakan Kehidupan dalam kebaruan sejati dan hal itu ditandai dengan adanya tindakan untuk menanggalkan kehidupan lama/cara hidup lama yang dikuasai oleh dosa. Tindakan menanggalkan manusia lama ini beranjak dari sebuah kenyataan bahwa Yesus Kristus telah mematahkan kuasa dosa serta membebaskan kita dari kekuatan dosa yang membelenggu kita sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menanggalkan manusia lama tersebut. Pembaharuan hidup diwujudkan melalui karya Roh Kudus yang adalah Roh kebenran.


Sumber :

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XII Penulis: Janse Belandina Non-Serrano ISBN: 978-602-244-702-3 (jil.3)

Tidak ada komentar:

Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya

  BAB XI Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya  Kejadian 1:1-31 I Raja-raja 17-19, 21 II Raja-raja 1-2  Pendidikan Agama Kristen dan Budi ...