Translate

Selasa, 23 September 2025

Menjadi Pribadi yang Dewasa

 Bab 6 

Menjadi Pribadi yang Dewasa

Bahan Alkitab: Efesus 4:11–16 Pendidikan Agma Kristen dan Budhipekerti Kelas XI

Tujuan Pembelajaran :

  1. Membandingkan sedikitnya tiga sikap hidup kekanakkanakan dan sikap hidup dewasa dengan penjelasannya.
  2. Mendaftarkan sedikitnya tiga kategori tentang kedewasaan hidup.
  3. Membuat kolase tentang kedewasaan hidup. 



kedewasaan bukanlah karena usia semata. Kedewasaan juga terbentuk karena kematangan seseorang secara jasmani dan terutama kematangan pikiran, yang melahirkan kematangan pandangan dan kerohanian.


Pengantar

                Kematangan hidup seseorang ditentukan oleh banyak faktor, di antaranya adalah pendidikan, terutama pendidikan informal seperti pendidikan di rumah dan pergaulan. Teks Alkitab menekankan bahwa “Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1 Kor. 15:33). Teks tersebut hendak menegaskan tentang betapa pentingnya seseorang berada dalam lingkungan yang baik agar ia mencapai kematangan hidup dalam sikap dan tindakan yang baik tersebut.

                David W. Johnson dan Frank P. Johnson (selanjutnya ditulis Johnson & Johnson) mengungkapkan bahwa salah satu persoalan yang muncul dalam sebuah tim adalah kurang matangnya tim. Hal ini terjadi karena perilaku individu. Jadi, hal yang membuat tim tidak bisa efektif adalah perilaku individu yang merusak sehingga kualitas dan kerja sama tim tidak dapat terbentuk dengan baik (Johnson & Johnson 2012, 560–561). Jika kalian membayangkan bahwa tim adalah kesatuan anggota masyarakat yang hidup dalam ketidakmatangan, dapat dibayangkan bahwa situasi dan kondisi masyarakat tidak akan pernah menjadi dewasa.

                Salah satu bentuk kedewasaan seseorang adalah kesiapannya melaksanakan tanggung jawab kehidupan dengan penuh kesadaran. Orang yang dewasa bahkan mampu memengaruhi masyarakat dan lingkungannya untuk turut bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dihadapi oleh masyarakat tersebut. Pada sisi lain, seorang yang dewasa adalah orang yang memiliki pemahaman diri yang kuat sehingga ia mengupayakan agar dirinya menjadi pribadi yang bertanggung jawab pada berbagai hal yang dijalaninya. Dalam kondisi demikian, ia akan berusaha untuk mengembangkan diri dan membangun kualitas diri. Salah satu contoh, yang dapat dikemukakan di sini, jika seseorang merasa dirinya termasuk yang kurang cekatan, ia akan berusaha mendekatkan diri dengan orang-orang yang cekatan yang potensial membangunnya menjadi cekatan. Atau, jika seseorang menyadari dirinya mudah tersulut emosi negatif sehingga menjadi mudah marah, maka ia mengupayakan untuk bergaul dengan orang-orang yang sabar dan mampu mengendalikan diri. Dalam bahasa sederhana dapat digambarkan bahwa seseorang perlu membangun diri ke arah yang lebih baik dan berkualitas sehingga ia menjadi pribadi yang matang. Hal sebaliknya bisa terjadi. Jika seseorang terbiasa hidup serba gampang dan kekanak-kanakan, ia berpotensi untuk membiarkan dirinya hidup manja dan mengabaikan perubahan menuju kedewasaan.

                Jika kalian memahami konteks kedewasaan demikian, yang harus kalian lakukan adalah mengembangkan kedewasaan tersebut dalam praktik kehidupan di rumah, di masyarakat, dan di sekolah. Caranya? Mulailah dengan mengerjakan segala sesuatu dengan kesadaran penuh, mengerti apa yang harus dilakukan, dan mengerjakannya dengan sukacita. Contoh nyata dalam hidup sehari-hari adalah tatkala keadaan rumah berantakan. Apa yang mestinya kalian lakukan? Sebagai pribadi yang dewasa, kalian sadar akan panggilan untuk membereskan atau membenahi. Jika tidak paham atau khawatir kalau-kalau ada yang keliru, bertanyalah atau diskusikanlah hal-hal apa yang harus dikerjakan supaya sesuai dengan harapan! Demikian halnya di sekolah. Ada berbagai hal yang bisa kita lakukan di sekolah. Namun, hendaklah kita melaksanakan seluruh kewajiban kita dengan bertanggung jawab!

Berikut ini adalah sejumlah contoh sikap dewasa.

  1. Mampu memilah antara yang baik dengan yang buruk.
  2. Memiliki kesiapan diri untuk menerima kritik dan siap melakukan perbaikan, bahkan berterima kasih atas kritik yang disampaikan. Hal ini tentu membangun kehidupan baru.
  3. Siap mengakui kesalahan dan membangun kehidupan yang lebih baik sebagai wujud belajar dari kesalahan tersebut.
  4. Memandang setiap hal dari sisi yang positif. Tentu hal ini berdampak pada cara kalian menindaklanjuti pandangan dan sikap kalian terhadap setiap masalah yang dihadapi. Berpikir dan bersikap negatif justru meruntuhkan peluang untuk maju.

                Keempat hal di atas tentu masih dapat dikembangkan. Banyak teori tentang perilaku hidup dewasa yang dapat dipelajari. Dengan demikian, kalian bisa terus bertumbuh dan berkembang menuju kedewasaan yang penuh sehingga kalian menjadi pribadi yang dapat diandalkan dalam membangun kehidupan.


                Pada Bab 4 kalian telah belajar tentang Surat Efesus, yakni sebuah surat yang ditulis Paulus dari dalam penjara (silakan perhatikan dan pelajari kembali latar belakang Surat Efesus pada Bab 4 tersebut). Sebagai jemaat baru yang membutuhkan pendampingan dan pengajaran, tentu saja jemaat Efesus sangat bersyukur atas surat dari Rasul Paulus. Surat Paulus kepada jemaat di Efesus ditujukan agar masyarakat memahami makna hidup mereka dalam melaksanakan panggilan untuk menjadi dewasa dalam iman yang diwujudkan dalam tindakan.

                Salah satu sisi penting dari surat Paulus kepada jemaat di Efesus adalah agar mereka melepaskan diri dari kehidupan lama, yakni sebagai penyembah dewa-dewi dan hidup dalam kekerasan. Paulus ingin agar mereka beriman kepada Allah, dan melalui pekerjaan pelayanan mereka tumbuh menuju pada kedewasaan penuh. Untuk itulah Paulus perlu memperlengkapi warga jemaat Efesus agar mereka mampu melaksanakan pekerjaan pelayanan tersebut. Proses memperlengkapi dalam Efesus 4:12 digunakan istilah katartismon yang berarti juga ‘mempersatukan’. Dengan demikian, setiap orang di jemaat tersebut saling mengisi dan saling melengkapi sehingga terbangun kehidupan masyarakat yang matang dan dewasa.

                Untuk mewujudkan kelengkapan sebagaimana digambarkan dalam Efesus 4:12, Paulus menggunakan istilah pelayanan atau diakonia. Istilah ini menunjuk dan merujuk pada panggilan agar setiap umat bertumbuh menjadi dewasa dan saling melayani serta saling melengkapi. Di sini warga gereja awal dipersiapkan oleh Paulus agar terus bertumbuh menjadi dewasa, menyiapkan diri untuk melepaskan kebiasaan lama, dan memasuki kehidupan baru yang penuh tantangan untuk mencapai kedewasaannya.


Rangkuman

                Allah telah memanggil semua orang agar memiliki kesadaran diri. Allah juga merindukan agar semua orang bertanggung jawab terhadap dirinya dan terhadap Allah. Untuk membangun kehidupan yang makin dewasa dan berkualitas, semua orang harus rela melepaskan perilaku lama yang buruk, mengembangkan diri, dan membangun kehidupan baru.


Refleksi

                Aku telah belajar tentang kedewasaan hidup. Aku juga telah belajar tentang hidup yang diperbarui dan membangun sebuah kehidupan baru dengan melakukan segala sesuatu secara bertanggung jawab. Aku harus mampu menguasai diriku untuk membangun kesadaran diri dan menjadi pribadi yang berkualitas.


Sumber:

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Penulis: Mulyadi ISBN 978-602-244-708-5 (jil.2)

Tidak ada komentar:

Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya

  BAB XI Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya  Kejadian 1:1-31 I Raja-raja 17-19, 21 II Raja-raja 1-2  Pendidikan Agama Kristen dan Budi ...