BAB VII Aku dan Sesamaku
Lukas 6:27-36 Lukas 18:15-17
Pendidikan Agama Kristen dan Budi pekerti Kelas X
Tujuan Pembelajaran:
• Mengidentifikasi kesalahan yang dilakukan dalam menjalin interaksi dengan sesama
• Menguatkan tekad untuk menjalin interaksi dengan sesama seturut dengan pedoman Alkitab
Capaian Pembelajaran:
Menganalisis interaksi antarsesama manusia tanpa kehilangan identitas sebagai pengikut Kristus.
Kata Kunci: agape, eros, mengasihi musuh, philia, sesamaku
Apersepsi
Manusia adalah mahluk sosial. Artinya, dalam kehidupannya, ia akan selalu membutuhkan kehadiran orang lain. Dalam bab ini, kita akan membahas bagaimana remaja seusia kalian menjalin hubungan dengan sesama, yaitu orang yang lebih muda, sebaya, dan yang lebih tua. Pernahkah kalian berbeda pendapat dengan orang lain, mungkin dengan teman, atau bahkan dengan anggota keluarga lainnya? Tentu pernah, bukan? Apa yang biasanya kalian rasakan saat perbedaan itu terjadi? Ingin memenangkan perdebatan itu, ingin mengalah, atau ingin mencapai kesepakatan bersama? Ingin menang adalah hal yang lumrah karena tidak ada yang mau dikalahkan.
Tingkat Menjalin Hubungan
Ada lima tingkat yang bisa terjadi ketika kita menjalin hubungan dengan sesama (Rawlins, 2017; Spencer & Pahl, 2006). Mari kita kenali kekhususan masing-masing tingkat ini.
- Orang asing atau yang tidak dikenal, orang yang mungkin hanya tahu nama atau bahwa sekolahnya sama dengan sekolah kita, tetapi tidak penah saling menyapa. Pada saat ini, kesan pertama memegang peranan penting. Bila kita terkesan pada orang itu dan muncul keinginan utnuk mencari tahu lebih lanjut, terbuka kesempatan untuk maju ke langkah berikutnya.
- Berkenalan terjadi karena ada kesempatan untuk saling menyapa. Akan tetapi, bila ternyata terjalin lebih banyak percakapan, bisa berlanjut ke tahap berikutnya.
- Berteman karena ada rasa tertarik untuk mengetahui lebih lanjut, mungkin dipicu oleh kesamaan minat dan kesamaan aktivitas yang ditekuni. Akan tetapi, bila tidak bertemu juga tidak ada rasa kehilangan, tidak saling mencari.
- Berteman dekat karena sudah ada kebutuhan untuk saling memahami satu sama lain. Demikian pula, ada kesepakatan untuk saling terbuka menceritakan masalah yang sedang dihadapi.
- Bersahabat sebagai tingkat pertemanan yang tertinggi. Masing-masing pihak sama-sama mengakui bahwa mereka adalah teman terbaik, di masa suka maupun duka, dan tidak perlu berpura-pura bila memang sedang menghadapi suatu masalah. Dengan sahabat, kita bersama-sama tertawa dan menangis dan kita rela membiarkan sahabat melihat sisi rapuh yang memang ada pada kita. Kebahagiaan sahabat adalah kebahagiaan kita, dan sebaliknya.
Pertemanan pada Remaja
Ada suatu hasil kajian menarik tentang pola pertemanan antara laki-laki dan perempuan, mulai dari mereka berusia 18 tahun sampai 64 tahun (Amati dkk, 2018; Rabaglietti & Ciairano 2008).
Pada remaja, hubungan pertemanan bisa menjadi lebih akrab dibandingkan dengan hubungan terhadap anggota keluarga, terutama bila memang tidak ada kehangatan dengan orang tuanya. Selain itu, remaja memang banyak menghabiskan waktu di luar rumah, untuk ke sekolah dan berbagai aktivitas pengisian waktu luangnya. Ternyata, berteman memiliki beberapa manfaat, antara lain:
- Menguatkan pengenalan diri karena memiliki kesempatan luas untuk membandingkan diri dengan remaja yang seusia.
- Mendorong keberhasilan di bidang akademis dan melatih kepekaan emosional serta kemampuan bergaul. Mereka yang memiliki teman yang banyak adalah mereka yang dapat menyesuaikan diri dengan lebih baik. Selain itu yang lebih penting, pertemanan juga mengantar remaja memasuki usia dewasa dengan lebih siap.
- Perempuan lebih mencari kedekatan, dukungan emosional, dan empati dari teman dibandingkan dengan laki-laki.
- Perempuan juga lebih mudah membuka diri, menyatakan keadaan dirinya dibandingkan dengan laki-laki.
- Apabila seorang laki-laki diterima di lingkungan yang lebih banyak perempuan, laki-laki itu adalah seseorang yang senang kebersamaan.
- Sebaliknya, seorang perempuan yang diterima di lingkungan yang lebih banyak prianya adalah seseorang yang lebih memperhatikan status, intelektualisme, pendidikan, dan daya tarik fisik.
- Perempuan dan laki-laki sama-sama berharap ada solidaritas dalam pertemanan. Artinya, mereka berharap teman adalah orang yang dapat menghabiskan waktu bersama-sama, mengerjakan aktivitas yang sama, dan memiliki kesamaan-kesamaan lainnya.
Apakah pola ini juga kalian temukan dalam pertemanan selama ini? Bagaimana Alkitab membekali kita tentang menjalin hubungan dengan sesama? Mari kita simak!
Dasar Alkitab untuk Menjalin Interaksi dengan Sesama
Prinsip menjalin hubungan dengan sesama sebetulnya hanya satu, yaitu saling menghormati. Ketika masih kecil, tentu kita pernah mengalami bagaimana orang-orang yang lebih tua dari kita mengejek kita, menganggap kita “anak bawang”. Bahkan ketika kita bertanya pun belum tentu mereka mau mendengarkan pertanyaan kita, apalagi menjawabnya. Mengalami perlakuan seperti ini bisa membuat kita memupuk rencana untuk “membalas dendam” ketika kita sudah dewasa kelak. Sayangnya, “membalas dendam” menjadi tema yang mewarnai bagaimana seseorang menjalani kehidupannya ketika ia dewasa. Tentu tidak ada damai sejahtera bila kita mengalami kondisi seperti ini.
Akan tetapi, bukan itu yang kita teladani dari Yesus karena Ia mengajarkan bagaimana seharusnya kita memperlakukan anak-anak kecil. Kisah yang sangat terkenal adalah ketika Yesus mengajak murid-murid dan pengikut-Nya untuk menerima seorang anak kecil karena justru dalam kepolosannya, anak kecil akan memiliki Kerajaan Allah. Apa artinya?
“Maka datanglah orang-orang membawa anak-anaknya yang kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka. Melihat itu murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata: “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalanghalangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” (Lukas 18:15-17).
Sering kali orang dewasa tidak menganggap anak kecil itu penting. Namun bagi Yesus, kepolosan, ketulusan, dan kepercayaan yang dimiliki seorang anak merupakan modal untuk menyambut Kerajaan Surga. Bagi Yesus, tidak ada anak yang terlalu muda atau terlalu tidak berharga untuk tidak datang kepada-Nya. Justru sikap sebagai anak-anaklah yang diharapkan untuk kita miliki, yaitu percaya penuh pada kuasa dan kebesaran Tuhan, tidak bergantung pada kekuatan diri sendiri (Dieleman, 2005). Sikap seperti inilah yang dibutuhkan untuk bisa masuk ke dalam Kerajaan Surga.
Bagi Myers (2019), seorang anak memiliki karakteristik yang banyak tanya, ingin tahu banyak hal, kreatif, imajinatif, dan mudah mempercayai sesuatu. Ini sangatlah berbeda dengan orang dewasa. Dapat dikatakan bahwa hidup di dunia ini mengubah seorang anak yang tadinya polos dan rendah hati menjadi orang dewasa yang menganggap biasa saja semua keindahan alam yang ada di sekitarnya. Orang dewasa juga tidak tampak bersemangat ketika menjalin interaksi dengan orang lain. Mereka bisa tersinggung, bahkan menaruh dendam, tidak mau memaafkan, mengingatingat kesalahan orang padanya, tidak lagi memiliki harapan bahwa ada yang lebih baik jika menunggu, dan kehilangan imajinasi.
Yesus memberikan contoh bagaimana seharusnya kita menjalani hidup ini, yaitu mengagumi hal-hal yang menakjubkan bagi seorang anak, takjub kepada Tuhan dan karya-Nya, serta tetap memiliki harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Inilah sikap yang Tuhan harapkan dari manusia. Dengan demikian, kita sedang menyambut kerajaan Allah walaupun kita masih di dunia. Sama seperti Yesus menyambut gembira kesempatan bertemu dengan anak-anak, begitulah seharusnya kita menyambut kehadiran anakanak — yang berusia lebih muda dari kita — dalam kehidupan kita.
Ketika kita berinteraksi dengan yang sebaya dan lebih tua, apakah kita juga dapat memperlihatkan sikap menghormati dan mengasihi? Alkitab Perjanjian Baru mencatat banyak sekali kejadian ketika Yesus menyampaikan pengajaran, bahkan menunjukkan bagaimana Ia mengasihi orang lain. Kita perhatikan saja dalam Lukas 6:27-36. Secara ringkas, dapat kita bedakan dua hal, sebagai cara berinteraksi dengan mereka yang menjadi musuh kita, dan cara berinteraksi kepada sesama. Kepada yang menjadi musuh kita, Yesus meminta kita untuk mengasihi mereka, berbuat baik, memintakan berkat, mendoakan, menyodorkan pipi yang satunya bila pipi kita ditampar, membiarkan ia mengambil milik kita, memberi kepada orang yang meminta kepada kita tanpa berharap dikembalikan.
Menurut Barclay (1973), perintah Yesus ini sangatlah sulit untuk dilakukan. Ada dua makna yang dapat kita pelajari di sini. Pertama, mengasihi orang yang kita kasihi menjadi jauh lebih mudah. Akan tetapi, mengasihi musuh membutuhkan modal yang lebih banyak karena ini bukan kecenderungan yang umumya dimiliki manusia. Hanya anugerah Yesus yang memampukan kita untuk melakukan hal ini. Tentu kita tidak dapat mengasihi musuh kita seperti kita mengasihi orang yang memang kita kasihi dan mengasihi kita. Akan tetapi, paling tidak kita dapat berusaha agar orang itu mendapatkan hal-hal yang baik. Justru hal ini menunjukkan bahwa bagi pengikut Kristus, berbuat kebaikan kepada musuh sekalipun merupakan suatu tindakan yang aktif, artinya harus kita usahakan, tidak bisa hanya berharap akan muncul begitu saja. Berbuat baik bukan sekadar menahan diri untuk tidak berbuat yang jahat, melainkan harus aktif melakukan sesuatu untuk membuat orang tersebut — dalam hal ini musuh kita — mendapatkan kebaikan.
Kedua, sebagai pengikut Kristus kita juga diperintahkan untuk melakukannya dengan usaha ekstra, dan sungguh-sungguh. Bila kita menyatakan diri kita sudah berbuat baik, siapakah yang kita jadikan perbandingan? Orang lain? Bukan! Yesus mau agar kita melihat kepada Dirinya sebagai model yang memang berbuat baik tanpa batas. Dengan demikian, kita menjadi anak-anak Allah (Lukas 6:35). Sama seperti Tuhan melimpahkan anugerah-Nya sampai membawa kita ke dalam kehidupan kekal, dengan tidak memperhitungkan segala dosa dan kesalahan, Tuhan juga meminta kita untuk bersikap murah hati kepada orang lain (Lukas 6:36).
Berkali-kali Martin Luther King, Jr. berpidato tentang cara mengasihi musuh, yaitu sebagai berikut.
- Lihat dulu pada diri sendiri. Ada banyak orang yang tidak menyukai kita, karena warna kulit, rambut, penampilan fisik, cara kita bicara, atau karena kita lebih pintar dari mereka. Hanya dengan melihat kita, dan belum memulai interaksi pun, mereka sudah tidak menyukai kita. Termasuk meneropong ke diri sendiri adalah dengan mengakui kelemahan dan kekurangan kita bahwa kita bukanlah manusia yang sempurna.
- Melihat hal-hal baik yang ada pada musuh kita, artinya jangan hanya terpaku melihat kejelekan dan kejahatannya. Setiap manusia hidup dalam ketegangan antara keinginan melakukan yang baik dan melakukan apa yang diingini daging. Tepat seperti ungkapan Rasul Paulus, dalam Roma 7:18-23. Jadi, sebetulnya pada tiap orang ada keinginan untuk berbuat baik. Inilah yang seharusnya kita cari.
- Bila ada kesempatan untuk mengalahkan musuh kita atau membalas dendam kepadanya, jangan mengambil kesempatan itu. Sebaliknya, kita manfaatkan kesempatan itu untuk merekomendasikan musuh kita mendapatkan suatu pekerjaan yang baik, atau menolongnya agar lebih maju. Ini menunjukkan bahwa kasih mengalahkan kebencian. Sesungguhya kita tidak membenci orang itu secara pribadi, tetapi yang kita benci adalah bahwa ada suatu sistem yang buruk yang membuat orang menjadi bermusuhan satu sama lain.
- Perhatikan tiga kata yang dipakai untuk menggambarkan kasih dalam bahasa Yunani. Yang pertama adalah eros, artinya mengasihi karena ada unsur keindahan sehingga muncul keinginan untuk mendekatinya. Yang kedua adalah philia, selain ada unsur keindahan, ada ketertarikan pada kedua belah pihak. Kita menyukai seseorang karena orang itu juga menyukai kita. Kita senang bisa mengobrol berjam-jam dengan seseorang untuk suatu topik yang sama-sama kita sukai. Ketiga adalah agape yang mengandung unsur memahami, kreatif, menyelamatkan, dan menginginkan yang terbaik untuk semua orang. Kasih agape tidak mengharapkan balasan. Bila kita mengasihi seseorang dengan kasih agape, kita tidak melihat apakah orang itu menyenangkan atau tidak. Kita mengasihinya karena memang Tuhan mengasihi orang itu meskipun orang itu adalah orang terburuk di dunia.
Menerapkannya dalam Kehidupan Sehari-hari
Apakah sebagai pengikut Kristus kita dapat melakukan sesuatu untuk membuat kehidupan bermasyarakat menjadi lebih baik? Banyak kesaksian menarik tentang bagaimana mengasihi musuh membawa perubahan yang luar biasa. Ini salah satunya.
Jennifer Thompson, 22 tahun di North Carolina, Amerika Serikat, adalah mahasiswa yang pandai, anak yang berbakti pada orang tuanya, dan dikagumi di kampusnya. Namun, hidupnya berubah ketika pada suatu malam ia ditodong pisau lalu diperkosa oleh seorang pria berkulit hitam. Jennifer bertekad untuk mengingat-ingat setiap bagian dari muka pria itu untuk memastikan bahwa orang itu dipenjara seumur hidup. Ia membantu polisi membuat sketsa wajah pria itu. Ketika kepadanya dihadapkan sejumlah pria kulit hitam, dengan yakin Jennifer menunjuk Ronald Cotton. Walaupun Ronald bertahan mengatakan ia tidak bersalah, kesaksian Jennifer membawanya ke dalam penjara dengan hukuman seumur hidup. Setahun kemudian, di dalam penjara Ronald bertemu dengan Bobby Poole yang ternyata mukanya sangat mirip dengannya. Poole juga menjalani hukuman seumur hidup karena melakukan sejumlah perkosaan. Poole gembar-gembor kepada sesama narapidana lainnya bahwa Ronald menolong meringankan hukumannya karena Ronald juga menjalani hukuman yang sama walau pun sebetulnya ia — Bobby — yang memperkosa Jennifer. Cotton mengambil pisau untuk membunuh Bobby, tetapi ia ingat pesan ayahnya untuk tidak membunuh dan mempercayakan semuanya kepada Tuhan.
Persidangan yang baru dilakukan untuk Ronald Cotton. Jennifer melihat baik Ronald Cotton maupun Bobby Poole. Para juri juga mendengarkan cerita lebih lengkap dengan tambahan cerita dari Bobby Poole. Namun, sekali lagi Jennifer bersaksi bahwa yang memperkosanya adalah Ronald Cotton. Ronald harus kembali ke penjara meneruskan sisa hukumannya.
Sebelas tahun kemudian, Jennifer sudah menikah dan memiliki anak-anak. Suatu hari, ia kedatangan polisi yang menyatakan bahwa kesaksiannya terhadap Ronald adalah salah. Pemeriksaan dengan DNA membuktikan bahwa Ronald Cotton sama sekali tidak bersalah karena pemerkosa Jennifer adalah Bobby Poole. Tentu saja Jennifer sangat kaget. Ia sudah membuat seseorang yang tidak bersalah menjalani hukuman penjara selama 11 tahun. Selama dua tahun berikutnya, Jennifer hidup dalam penyesalan. Sampai akhirnya ia meminta untuk dipertemukan dengan Ronald. Akhirnya, mereka bertemu di ge-reja di desa tempat ia diperkosa. Jennifer ditemani oleh suami dan pendetanya saat bertemu dengan Ronald.
REFLEKSI dan TUGASS.... silahkan Klik!!!
Rangkuman
"Sebagai mahluk sosial, tiap manusia tidak bisa berdiri sendiri dan ia selalu membutuhkan kehadiran manusia lain. Ada lima tingkatan hubungan yang mungkin terjalin antar sesama manusia, mulai dari tidak kenal sampai dengan sahabat. Namun, hubungan yang terjalin dengan sesama haruslah merupakan hubungan yang membuahkan manfaat, bukan malah saling menghancurkan. Perintah Tuhan Yesus untuk ‘mengasihi musuh’ memang sulit untuk dipraktikkan, tetapi merupakan modal utama bila kita ingin menjadi kepanjangan tangan Tuhan dalam menghadirkan Kerajaan Surga di dunia ini."
Sumber:
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X Penulis: Julia Suleeman ISBN 978-602-244-465-7 (jil.1)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar