Bab IX Spirit Perdamaian dalam Budaya Indonesia
Mazmur 145
Pendidikan Agama Kristen dan Budhipekerti kelas XI
Tujuan Pembelajaran :
- Mengorelasikan perdamaian dalam berbagai budaya di Indonesia.
- Mendeskripsikan arti masyarakat majemuk dalam kebudayaan Indonesia.
- Membuat karangan singkat tentang perdamaian dalam kebudayaan daerah masing-masing.
- Menuliskan keunggulan proses perdamaian dalam budaya Indonesia.
Pemaparan Materi
Setiap negara memiliki kisah-kisah unik terkait dengan kehidupan bermasyarakat. Di Afrika Selatan dikenal budaya Ubuntu, yakni sebuah filosofi
yang mengangkat harkat kemanusiaan pada nilai manusia sesungguhnya.
Tentu saja, berbagai negara memiliki filosofi yang bermacam-macam.
Di Indonesia yang sangat beragam pun terdapat filosofi kemanusiaan.
Berikut ini adalah beberapa contoh yang dapat kalian dalami.
1. Pela Gandong
Salah satu kearifan lokal yang ada di Maluku adalah Pela Gandong yang
menekankan aspek kekerabatan dan kebersamaan. Relasi yang terjalin
dalam Pela Gandong dibangun sedemikian rupa yang mengembangkan
pola kekerabatan yang sangat kuat.
Pela Gandong terjadi karena beberapa hal, di antaranya karena
ikatan persaudaraan antarnegeri yang diterima oleh keturunan anakcucu dari para orang tua mereka. Pela merupakan suatu relasi perjanjian
persaudaraan antara satu negeri dengan negeri lain yang berada di pulau
lain atau dalam satu pulau dan terkadang juga di antara penduduk negeri
yang menganut agama yang berbeda. Istilah gandong memiliki makna ‘saudara’.
Perjanjian ini kemudian diangkat dalam sumpah yang tidak
boleh dilanggar.
Pemahaman ini muncul karena konsep berpikir bahwa mereka
satu keluarga dan harus terus-menerus menjaga dan merawat
kehidupan bersama. Ikatan ini demikian kuatnya sampai terjadi prosesi
pembangunan bersama tanpa memandang latar belakang agama, suku,
maupun ekonomi. Prinsipnya hanya satu, “Kita semua bersaudara, satu
hati, satu gandong.”
2. Dalihan na Tolu
Kearifan lokal lain adalah Dalihan na Tolu dari Sumatera Utara (Tapanuli
Utara, Batak Toba). Dalihan na Tolu adalah sebuah filosofi kekerabatan
yang menekankan hubungan-hubungan kekerabatan itu. Ikatan sedarah
dan hubungan perkawinan membuat terbentuknya kekerabatan
dimaksud (Ihromi-Simatupang 2004, x – xi).
Dalihan na Tolu merupakan sebuah penjabaran dan penjelasan dari
tungku yang terbuat dari tiga batu yang digunakan untuk memasak.
Ketiganya memberi makna yang sangat kuat, yakni sikap hormat kepada
keluarga semarga, sikap hormat kepada pihak pemberi istri, dan kasih
sayang kepada anak perempuan (Gultom 2010, 34–61). Pada kondisi
ini, Dalihan na Tolu mengedepankan kesetaraan, kesederajatan, sama
pentingnya satu sama lain. Pada satu kesempatan, marga tertentu menjadi
raja, tetapi pada kesempatan lain menjadi pelayan juga, bergantung pada
kondisi apa yang sedang berlangsung.
3. Seren Taun
Kearifan lokal lainnya adalah acara dan pesta Seren Taun yang
diselenggarakan pada 22 Rayagung penanggalan Jawa. Budaya ini
muncul di Jawa Barat dan dikembangkan oleh Kiai Madrais Alibasya.
Acara ini merupakan sebuah pesta panen (terutama padi) masyarakat
Sunda.
Upacara atau pesta ini dilaksanakan di desa Cigugur, Kabupaten
Kuningan, Jawa Barat, yang dipusatkan di pendopo Paseban Tri Panca
Tunggal. Tempat ini dikenal sebagai keraton sebagai tempat tinggal Kiai
Madrais, dan sekarang ditinggali oleh keturunannya, yakni Pangeran
Djatikusuma.
Spirit dari Seren Taun adalah sebuah ungkapan syukur atas hasil
panen yang dikerjakan bersama seluruh masyarakat. Pada acara itu
berlangsung gotong royong masyarakat yang membawa hasil panen
ke paseban dan dibagikan kembali untuk masyarakat. Rangkaian acara
ini dimeriahkan dengan berbagai pementasan tarian remaja-pemuda
yang turut bersyukur atas panen tersebut. Akhir-akhir ini, acara Seren
Taun diisi juga dengan dialog antarumat beragama yang semangatnya
membangun kebersamaan dan toleransi di antara pemeluk agama yang
bermacam-macam itu.
Ketiga contoh kearifan lokal di atas menunjukkan kemajemukan
Indonesia dari sisi budaya serta filosofi kehidupannya. Kemajemukan
Indonesia merupakan realitas yang Tuhan anugerahkan. Berbagai suku,
agama, dan budaya yang ada di Indonesia merupakan kemajemukan yang
harus dirayakan dan disyukuri. Ini adalah kekayaan yang sangat besar. Benarlah ungkapan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi semboyan kehidupan
Indonesia, sekalipun kita berbeda-beda, kita tetap harus memiliki kesatuan.
Berbeda bukan berarti bersikap saling menjauhkan. Berbeda justru memberi
peluang pada tumbuhnya sikap toleransi serta memberi diri diperkaya oleh
kekayaan yang dimiliki budaya lain.
Tentu kalian bisa saling mengisi dengan berbagai perbedaan yang kalian
miliki. Budaya yang berbeda merupakan ruang pengenalan antara yang satu
dengan yang lain. Demikian juga kesempatan berkenalan dengan teman yang
berbeda keyakinan agama merupakan kekayaan untuk memperteguh iman
kalian. Belajar beriman melalui iman orang lain merupakan salah satu cara
untuk menghadirkan iman sendiri kepada orang lain juga. Dengan demikian,
yang dilakukan adalah saling mengungkapkan tindakan yang baik sebagai
wujud dan sikap toleransi secara positif untuk saling memperkaya, dan bukan
saling memperdebatkan keistimewaan iman dan keyakinan sendiri. Di sini
kalian belajar memahami kualitas iman sendiri, turut memberi warna pada
perjalanan kebersamaan dengan yang lain, serta belajar memahami kualitas
kehidupan teman kalian sehingga kalian bisa memperkaya kehidupan kalian
juga.
Dengan melakukan tindakan toleransi secara positif serta belajar saling
melengkapi, kalian dapat menjadi agen perdamaian, baik di lingkungan
sekolah maupun di masyarakat di mana kalian tinggal dan berada.
Rangkuman
Kekayaan budaya Indonesia lahir dari semangat kebersamaan dan
perdamaian. Pela Gandong di Maluku, Dalihan na Tolu di Tapanuli Utara,
juga Seren Taun di Jawa Barat merupakan contoh dari spirit perdamaian dan
kebersamaan dalam budaya Indonesia.
Spirit perdamaian dan kebersamaan itu ditampilkan juga oleh pemazmur
yang memperlihatkan Allah yang pengasih dan penyayang, panjang sabar,
dan berlimpah kasih setia-Nya. Mazmur 145 mengungkapkan hal tersebut dan mengumandangkan sebuah syair pujian dengan penegasan bahwa Allah
adalah Allah bagi semua, dan bukan Allah sekelompok komunitas yang
terkungkung dan terkurung dalam ruang terbatas. Allah adalah Allah bagi
semua dan karenanya Allah itu bebas dan harus diagungkan oleh semua
orang di seluruh bangsa.
Refleksi
Aku telah belajar tentang spirit perdamaian dalam budaya Indonesia yang
sarat dengan kebersamaan dan perdamaian. Aku semakin memahami
budaya Indonesia dan berkomitmen untuk menghormati budaya tersebut
dalam perjalanan hidupku.
Sumber:
KEMENTERIAN PENDIDIKAN,
KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI
REPUBLIK INDONESIA, 2021
Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti
untuk SMA/SMK Kelas XI
Penulis: Mulyadi
ISBN 978-602-244-708-5 (jil.2)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar