Translate

Selasa, 20 Januari 2026

Allah Menolak Diskriminasi

 BAB IX Allah Menolak Diskriminasi (Yohanes 4:4-39)

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti, Kelas X

Tujuan Pembelajaran: 

  • Memahami pengertian diskriminasi, prasangka, stigma dan stereotip.
  • Menemukan bukti adanya perlakuan diskriminatif, baik di lingkungan lokal, nasional, maupun internasional, terhadap mereka yang berbeda ras/etnis, gender, budaya, dan lain-lain.
  • Mengakui bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan diskriminasi antarsatu dengan yang lain.


 4:4 Ia harus melintasi daerah Samaria. 4:5 Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. 4:6 Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. 4:7 Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: "Berilah Aku minum.  " 4:8 Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. 4:9 Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria? " (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) 4:10 Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup. " 4:11 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? 4:12 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini k  kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?" 4:13 Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, 4:14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus  untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air  di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal. " 4:15 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air." 4:16 Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini." 4:17 Kata perempuan itu: "Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, 4:18 sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar." 4:19 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.  4:20 Nenek moyang kami menyembah di atas gunung  ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah." 4:21 Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba,  bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.  4:22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal,  kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.  4:23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba  sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh  dan kebenaran ; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. 4:24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." 4:25 Jawab perempuan itu kepada-Nya: "Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami." 4:26 Kata Yesus kepadanya: "Akulah Dia,  yang sedang berkata-kata dengan engkau." 4:27 Pada waktu itu datanglah  murid-murid-Nya dan mereka heran, bahwa Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan. Tetapi tidak seorangpun yang berkata: "Apa yang Engkau kehendaki? Atau: Apa yang Engkau percakapkan dengan dia?" 4:28 Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ: 4:29 "Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus  itu?" 4:30 Maka merekapun pergi ke luar kota lalu datang kepada Yesus. 4:31 Sementara itu murid-murid-Nya mengajak Dia, katanya: "Rabi, makanlah." 4:32 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Pada-Ku ada makanan  yang tidak kamu kenal." 4:33 Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain: "Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepada-Nya untuk dimakan?" 4:34 Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak  Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.  4:35 Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang  yang sudah menguning dan matang untuk dituai.  4:36 Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita. 4:37 Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai. 4:38 Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka." 4:39 Dan banyak orang Samaria dari kota  itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: "Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.4:40 Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Ia tinggal pada mereka; dan Ia

(Yohanes 4:4-39)


KBBI mengartikan diskriminasi sebagai pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dan sebagainya. Beberapa pembedaan didasarkan pada hal berikut:

  • Kelamin, pembedaan sikap dan perlakuan terhadap sesama manusia berdasarkan perbedaan jenis kelamin.
  • Ras, anggapan segolongan ras tertentu bahwa rasnya itulah yang paling unggul dibandingkan dengan golongan ras lain; rasisme,
  • Rasial, pembedaan sikap dan perlakuan terhadap kelompok masyarakat tertentu karena perbedaan warna kulit.
  • Sosial, pembedaan sikap dan perlakuan terhadap sesama manusia berdasarkan kedudukan sosialnya.  

            Sementara itu, diskriminasi ras dan etnis adalah segala bentuk pembedaan, pengecualian, pembatasan, atau pemilihan berdasarkan pada ras dan etnis, yang mengakibatkan pencabutan atau pengurangan pengakuan, perolehan, atau pelaksanaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam suatu kesetaraan di bidang sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya (Undangundang Nomor 40 Tahun 2009). 

            Perhatikan kata “pembedaan” yang mengandung arti ‘sengaja membedakan’, bukan sesuatu yang awalnya sudah ada. Ini merujuk pada pengertian bahwa diskriminasi adalah tindakan yang disengaja untuk membuat pihak yang dibedakan itu menjadi lebih rendah kedudukannya.

            Sementara itu, Cambridge Dictionary memberikan definisi diskriminasi sebagai perlakuan yang berbeda, biasanya yang bersifat merendahkan, kepada orang lain yang berbeda dalam warna kulit, jenis kelamin, seksualitas, dsb (dictionary.cambridge.org, 2020).

            Diakui atau tidak, sampai sekarang masih banyak tindak diskriminatif yang dilakukan oleh suatu kelompok orang terhadap kelompok orang lainnya, berdasarkan jenis kelamin, ras atau etnis, status sosial, dan sebagainya. Dapat kita amati bahwa pada prinsipnya, baik KBBI maupun Cambridge Dictionary memberikan pengertian yang sama kepada istilah “diskriminasi.” Namun, yang menarik adalah memperhatikan hal-hal apa saja yang dianggap sebagai hal yang didiskriminasikan.

            KBBI menyebutkan hal pertama adalah jenis kelamin, baru kemudian diikuti oleh ras, rasial, dan sosial. Cambridge Dictionary menyebutkan warna kulit terlebih dulu, baru kemudian jenis kelamin, seksualitas, dan sebagainya. Barangkali, perbedaan urutan untuk hal-hal yang didiskriminasikan dapat dianggap sebagai perbedaan mengenai hal-hal yang dianggap lebih nyata dalam konteks masyarakat di mana kamus dan dictionary ini ditujukan. Untuk masyarakat Indonesia, cukup banyak hal yang diberlakukan secara berbeda antara laki-laki dan perempuan. Kita akan melihat lebih detil tentang hal ini.


Diskriminasi dalam Kehidupan Masyarakat

            Mari kita lihat lebih rinci bagaimana diskriminasi bertahan dalam kehidupan masyarakat. Secara khusus, kita akan melihat diskriminasi berdasarkan ras, etnis, dan gender. Kita akan mulai dengan membahas diskriminasi berdasarkan gender terlebih dulu.

            Untuk negara dan masyarakat Indonesia, ada beberapa hasil penelitian tentang keberadaan diskriminasi gender yang memperlihatkan, bahwa diskriminasi seperti ini menjadi penyebab masih tingginya angka kemiskinan di Indonesia. Yarrow dan Afkar (2020) melaporkan bahwa pada tahun 2019 ditemukan bukti yang menunjukkan bahwa baik anak laki-laki maupun anak perempuan berusia 7-12 tahun ternyata sama-sama bersekolah. Padahal pada tahun 1970an, lebih banyak anak-anak laki yang bersekolah dibandingkan dengan anak perempuan. Akan tetapi, untuk yang berusia 16-18 tahun, komposisi yang tetap bersekolah antara laki-laki dan perempuan tidaklah sama. Kebanyakan wilayah, terutama wilayah desa, memiliki lebih banyak lakilaki yang bersekolah daripada perempuan, dan hanya sedikit sekali wilayah yang memiliki lebih banyak perempuan yang bersekolah daripada laki-laki. Penyebab paling utama mengapa perempuan tidak bersekolah ketika mereka sudah berusia di atas 12 tahun adalah karena mereka sudah menikah, atau kalau pun belum menikah, mereka repot mengurus rumah tangga. Penyebab lainnya adalah karena mereka yang sangat miskin merasa malu dengan kondisi mereka, dan karena itu memilih untuk keluar dari sekolah.

            Suatu analisis tentang peranan pendidikan terhadap pemberdayaan perempuan disajikan oleh Samarakoon dan Parinduri (2015). Mereka mengumpulkan data dari 22,197 perempuan yang lahir antara tahun 1960 sampai 1987. Lamanya perempuan ini menyelesaikan pendidikan dikaitkan dengan apa saja tindakan yang mereka lakukan dalam keseharian, yang dibedakan menjadi empat hal sebagai berikut:

  1. Berapa jumlah anak yang mereka sudah miliki dan masih ingin miliki, dan seberapa jauh mereka mengerti tentang bagaimana memelihara kesehatan reproduksi khusus sebagai perempuan (misalnya meminum pil yang mengandung zat besi selama hamil, menyusui anak dengan air susu ibu, menggunakan kontrasepsi untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, dan seterusnya.). 
  2. Apa saja cakupan dan jenis pengambilan keputusan yang mereka lakukan sendiri dan bersama suami. 
  3. Apa saja harta yang mereka miliki. 
  4. Aktivitas apa yang mereka ikuti di masyarakat. 

            Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan yang berhasil menyelesaikan pendidikan sampai dengan jenjang SMA, menunjukkan perbedaan dengan perempuan lainnya yang memiliki jumlah tahun yang lebih sedikit dalam bersekolah. Perbedaan itu adalah dalam hal-hal sebagai berikut:

  1. Mereka memiliki jumlah anak yang lebih sedikit.
  2. Mereka lebih mau memakai metode kontraseptif untuk mengurangi jarak kelahiran antar anak dan mengurangi jumlah anak.
  3. Mereka lebih mengerti apa yang harus dilakukan bila hamil dan melahirkan: meminum pil yang menolong mereka memiliki zat besi yang cukup, serta mau menyusui anak dengan ASI bukan sekedar menggunakan susu formula, mau menerima suntikan tetanus sebelum kehamilan terjadi. 
  4. Mereka lebih banyak memiliki barang-barang keperluan rumah tangga (alat memasak, misalnya) dan tidak semata-mata membelanjakan uang untuk membeli perhiasan. 
  5. Mereka lebih mampu menghemat pengeluaran untuk belanja keperluan rumah tangga sebanyak 26%. 

            Walaupun hasil penelitian ini nampaknya sederhana, tetapi dampak yang dihasilkan tidaklah sederhana. Bertambah tingginya jenjang pendidikan yang dimiliki oleh perempuan ternyata memegang peran penting untuk menghasilkan anak-anak yang memiliki kualitas hidup yang baik selain juga membuat diri sendiri lebih mampu menata kehidupan yang lebih baik. Temuan ini sebetulnya sama dengan temuan yang ditemukan oleh peneliti-peneliti lain yang melakukannya pada perempuan dari negara-negara berkembang lainnya, misalnya pada perempuan di Bangladesh (Hashemi, Shuler, & Riley, 1996) dan Nigeria (Osili & Long, 2008).

            Perempuan juga lebih banyak menjadi korban kekerasan (Komnas Perempuan, 2020). Tahun 2019 tercatat jumlah korban tertinggi dihitung sejak tahun 2008. Apabila pada tahun 2008 tercatat sebanyak 54,425 kasus, pada tahun 2019 tercatat sebanyak 432,471 kasus, naik dibandingkan dengan tahun 2018 yang mencatat sebanyak 406,178 kasus. Kenaikan ini belum tentu langsung dapat diartikan sebagai bertambahnya jumlah kasus, tetapi paling tidak menunjukkan bahwa semakin banyak kasus yng dilaporkan karena semakin bertambahnya kesadaran masyarakat dan juga penyintas kekerasan untuk tidak berlama-lama mendiamkan kekerasan yang dilihat atau dialaminya. Hal lain yang cukup menyedihkan adalah bahwa kekerasan terhadap pe-rempuan, terutama kekerasan seksual, paling banyak terjadi di dalam ling-kungan keluarga; istri yang mengalaminya dari suami, anak perempuan yang mengalaminya dari ayah kandung, ayah tiri, atau paman. Apa yang menjadi penyebab meningkatnya kasus kekerasan pada perempuan ini masih terus diteliti sehingga belum diperoleh jawaban yang pasti. Memang tidak mudah untuk melakukan hal seperti ini karena merupakan isu yang sensitif, yang dianggap tabu untuk dibahas secara terbuka.

            Untuk diskriminasi tentang etnis dan ras, hasil survei yang dilakukan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) pada tahun 2018 (www.komnasham.go.id, 2019) menunjukkan bahwa primordialisme sangat perlu untuk dijunjung dan dipertahankan oleh lebih dari 80% responden pengisi survei. Ini terwujud dalam keinginan untuk hidup berdampingan dengan orang-orang dari suku yang sama. Padahal, Indonesia terdiri dari beragam etnis dan ras. Primordialisme menghalangi orang untuk berinteraksi dengan nyaman bila bertemu orang yang berbeda etnis dan ras.

            Kita dapat mengaitkan pembahasan diskriminasi dengan prasangka, stigma, dan stereotip karena keempatnya saling terkait erat. Penjelasan tentang keterkaitan keempat hal ini dapat kita pahami dari uraian berikut (lumenlearning, 2020).


1. Stereotip 

            Stereotip adalah pembuatan kesimpulan sederhana tentang sekelompok orang berdasarkan ras, etnis, usia, gender, orientasi seksual, atau karakteristik apa pun. Apabila dikenakan kepada in-group atau kelompoknya (termasuk pemberi stereotip itu), sifatnya adalah positif. 

            Misalnya, orang bersuku Jawa akan mengatakan bahwa orang bersuku Jawa memiliki perilaku “sabar”, tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan. Akan tetapi, apabila stereotip ini dikenakan oleh out-group atau kelompok di luar mereka yang dikenakan stereotip itu, sifatnya menjadi negatif. Tentang tingkah laku “sabar” yang tadi disebutkan oleh orang dari suku Jawa, oleh orang dari suku lain, misalnya Batak Toba, akan dikategorikan sebagai “lamban” (Suleeman, 2013). 

            Jadi, stereotip tidak memperhitungkan bahwa ada perbedaan individu pada karakteristik yang disebutkan itu. Dari mana stereotip berawal? Pada umumnya diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, bahkan dari satu kelompok kepada kelompok lainnya. Contohnya, stereotip yang dikenakan kepada mereka yang tergolong berkulit hitam di Amerika Serikat adalah stereotip yang semula dikenakan kepada imigran yang datang dari Eropa, khususnya dari Irlandia dan Eropa Timur.


2. Prasangka 

            Prasangka merujuk pada keyakinan, pikiran, perasaan dan sikap yang dimiliki seseorang terhadap suatu kelompok. Disebut prasangka karena memang tidak dibentuk berdasarkan pengalaman pribadi, melainkan karena dugaan semata-mata. Jadi, sifatnya sangatlah subjektif (Major & Dover, 2016). Satu eksperimen yang baik tentang bagaimana prasangka berkembang digambarkan melalui film dokumenter berjudul Eye of the Storm (dipublikasikan pada tahun 1970). Dalam film itu, seorang guru sekolah dasar yang mengajar di kelas III bernama Jane Elliot memisahkan murid-murid di kelasnya berdasarkan warna mata mereka. Murid yang bermata biru diperlakukan sebagai murid yang lebih hebat, lebih pintar dibandingkan dengan murid-murid yang warna matanya bukan biru. Akibatnya, murid-murid yang bermata biru memiliki prasangka terhadap murid lain di luar kelompok mereka. 

            Prasangka banyak dikenakan berdasarkan ras atau etnis seseorang. Di Amerika Serikat, mereka yang berkulit putih menganggap bahwa orang yang kulitnya berbeda pantas untuk direndahkan, bahkan bila perlu dibunuh. Beberapa waktu yang lalu, Ku Klux Klan berperan besar sebagai organisasi yang anggotanya dirahasiakan dan mengklaim bahwa orang kulit putih dan Protestan adalah pemegang supremasi. Itu sebabnya mereka membenci orang yang berkulit lain, terutama kulit hitam, dan juga mereka yang tergolong Yahudi, Katolik, komunis. Untuk mencapai tujuannya, mereka sering melakukan teror terhadap kelompok-kelompok di luar kaum mereka.


3. Prasangka berbentuk keyakinan, pikiran, perasaan dan kecenderungan bersikap

            Apabila prasangka berbentuk keyakinan, pikiran, perasaan dan kecenderungan bersikap, maka diskriminasi adalah tindakan yang membedakan satu kelompok dengan kelompok lainnya. Ini sudah kita bahas di awal bab ini.


4. Stigma 

            Stigma diartikan sebagai prasangka yang dikenakan kepada mereka yang memiliki karakteristik khusus dari etnis yang tergolong minoritas atau dari karakteristik kesehatan termasuk kesehatan mental (Parker, 2012). Parker dengan tegas menyatakan bahwa akar dari prasangka, stigma, diskriminasi adalah pada ketidakseimbangan dari sudut kekuasaan. Di mana pihak yang lebih berkuasa dengan leluasa menekan pihak lain yang berbeda karakteristiknya agar tidak mendapatkan kesempatan yang sama seperti yang mereka miliki. Untuk Indonesia, ada beberapa konflik antaretnis dan agama yang pernah terjadi. Misalnya, di Ambon, Nangroe Aceh Darussalam, Poso, Kalimantan Barat, dan di berbagai daerah lainnya.



                Dalam kajian Harahap (2018), konflik ini muncul karena perbedaan budaya yang dapat menimbulkan kesalahpahaman. Namun, konflik juga dapat timbul karena ada kesenjangan terhadap akses ekonomi yang merata antaretnis, suku, budaya, golongan, dan agama. Secara khusus, konflik antaragama diduga dipengaruhi oleh orientasi agama yang ekstrinsik, yaitu yang berasal dari perilaku agama sebagai sekadar ritual dan tidak cukup menghayati ajaran agama. Jadi, agama justru dipakai sebagai alat mencapai tujuan untuk menguntungkan diri sendiri atau golongannya demi mendapatkan kedudukan sosial dan kekuasaan.

                Dari berbagai studi tentang prasangka, stereotip, dan diskriminasi, Stangor (2016), seorang peneliti di bidang psikologi sosial, menemukan bahwa seseorang cenderung untuk melakukan pengelompokan terhadap orang lain berdasarkan karakteristik mereka. Pengelompokan yang paling sering terjadi adalah berdasarkan ras, etnis, agama, status sosial ekonomi, dan jenis kelamin. Manfaat dari adanya pengelompokan ini adalah adanya rasa kebersamaan yang memperkuat perasaan bahwa saya berharga. Sebaliknya, perasaan bahwa saya adalah golongan minoritas yang tidak disukai oleh golongan mayoritas menimbulkan perasaan terluka, bahkan marah. Tanpa kita sadari, stereotip kita gunakan ketika menghadapi situasi yang tidak begitu kita kenali, misalnya, saat berhadapan dengan orang yang baru dikenal. Sejumlah karakteristik tentang orang itu biasanya sudah muncul dalam benak kita yang kemudian mengatur bagaimana cara kita menghadapi orang tersebut.


Pesan Alkitab tentang Menolak Diskriminasi

                Kisah menarik tentang stereotip dan diskriminasi dapat kita temukan dalam Yohanes 4 ayat 1-42, tentang percakapan Tuhan Yesus dengan perempuan Samaria. Kemungkinan besar kalian pernah mendengar kisah ini atau malah sudah membacanya di dalam Alkitab. Bila memang kalian belum pernah mengetahui tentang kisah ini, silakan baca perikop tersebut. Dalam catatan Hagelberg (2010), orang Yahudi biasanya menghindari daerah Samaria ini. Mereka lebih rela melakukan perjalanan ke Galilea dengan menyusuri lembah Yordan yang membuat jarak ke Galilea menjadi lebih jauh. 

                Yesus sengaja memilih melewati daerah Samaria karena memang jaraknya menjadi lebih dekat. Yesus tahu bahwa ada satu tugas besar yang akan dilakukan-Nya di situ. Apakah tugas yang menanti Yesus? Mari teruskan membaca ke ayat-ayat berikutnya. Yesus merasa haus dan berjumpa dengan seorang perempuan Samaria di Sumur Yakub. Perempuan itu terkejut, karena ada laki-laki Yahudi yang mau bertegur sapa dengannya. Bukankah orang Yahudi biasanya menghindar dan menjauhkan diri dari orang Samaria yang dianggapnya kotor dan menjijikkan karena darah mereka tercampur dengan darah orang-orang Asyur, yang menjajah negeri itu pada tahun 733 SM.Yesus sengaja memilih melewati daerah Samaria karena memang jaraknya menjadi lebih dekat. Yesus tahu bahwa ada satu tugas besar yang akan dilakukan-Nya di situ. Apakah tugas yang menanti Yesus? Mari teruskan membaca ke ayat-ayat berikutnya. Yesus merasa haus dan berjumpa dengan seorang perempuan Samaria di Sumur Yakub. Perempuan itu terkejut, karena ada laki-laki Yahudi yang mau bertegur sapa dengannya. Bukankah orang Yahudi biasanya menghindar dan menjauhkan diri dari orang Samaria yang dianggapnya kotor dan menjijikkan karena darah mereka tercampur dengan darah orang-orang Asyur, yang menjajah negeri itu pada tahun 733 SM.

                Ayat 9 menyatakan, “Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya, “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria).”

                Apa yang dikatakan oleh perempuan Samaria itu adalah stereotip yang berlaku di masa itu. Di mana bagi orang Yahudi, orang Samaria adalah orang yang tidak perlu diperhitungkan. Bahkan, orang Yahudi tidak mau memakai peralatan makan yang telah dipakai sebelumnya oleh orang Samaria. Jadi bagi perempuan itu, sangatlah aneh bahwa Yesus, yang jelas-jelas pria Yahudi, mau meminta air kepadanya. Namun, kita lihat bahwa Yesus melewati dua batasan budaya yang ada, yaitu orang Yahudi menyapa bahkan meminta pertolongan dari orang Samaria, dan secara batas sosial, yaitu seorang lakilaki yang bercakap-cakap dengan seorang perempuan.

                Yesus tidak peduli dengan kebiasaan orang Yahudi pada masa itu. Ia bersedia berbicara dengan perempuan Samaria itu. Dari percakapan-Nya dengan perempuan itu, Yesus menemukan masalah-masalah yang digumulinya. Dari situlah, perempuan itu kemudian menyadari bahwa yang ia jumpai bukan orang biasa. Dengan sukacita, perempuan itu kemudian memberitakan kabar baik perjumpaannya dengan Yesus kepada sanak saudaranya.

                Percakapan yang terjadi antara Yesus dan perempuan Samaria ini mulai membuka mata murid-murid-Nya bahwa misi Yesus adalah menyelamatkan bukan hanya orang Yahudi, melainkan juga bangsa-bangsa lain. Perempuan Samaria ini yang begitu tersentuh dengan perkataan dan penerimaan Yesus kepadanya, bahkan mengajak orang-orang Samaria lainnya di kota itu untuk ikut menemui Yesus. Bahkan atas undangan mereka, Yesus tinggal bersama mereka selama dua hari (ayat 40).

                Percakapan ini menunjukkan perubahan besar yang terjadi pada perempuan Samaria yang malah tidak disebutkan namanya sama sekali. Perubahan apa sajakah? Perubahan dari melihat Yesus sekadar sebagai laki-laki Yahudi yang begitu hausnya, sehingga mau meminta air dari seorang perempuan Samaria (ayat 9), berubah melalui percakapan dengan Yesus, ia melihat Yesus sebagai seorang rabi (ayat 11), kemudian nabi (ayat 19, dan akhirnya Mesias (ayat 29) yang dalam kepercayaan orang Samaria juga berasal dari suku Israel.

                Secara sederhana, kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa ketika satu pihak sudah melepaskan stereotipnya saat berinteraksi dengan pihak yang berbeda jenis kelamin, etnis, kepercayaan, maka pihak yang satu pun akan melepaskan stereotip yang dimilikinya. Sebaliknya, bila individu merasa positif terhadap karakteristik yang dimilikinya — ras, etnis, agama, dan gender — ia tidak akan terlalu terganggu dengan berbagai stereotip dan stigma yang dikenakan orang lain terhadap dirinya. Ia tetap dapat produktif, menghasikan karya-karya yang memang ia ingin hasilkan sebagai suatu bukti bahwa dirinya adalah manusia yang memiliki manfaat bagi sesamanya.

                Orang Samaria kemudian dijadikan pahlawan dalam perumpamaan Yesus tentang orang yang mau peduli dan menjadi sesama bagi orang lain. Bahkan, terhadap orang yang memusuhi dan menjauhkan diri daripadanya (Lukas 10:25-7).

                Kelak, ketika gereja perdana berdiri, pemberitaan Injil juga dilakukan oleh Filipus kepada orang-orang Samaria (Kisah Para Rasul 8:12-17). Dari sini kita melihat dengan jelas bahwa sejak pelayanan Yesus kepada orangorang Samaria, gereja perdana pun mengikuti jejak-Nya dan memberitakan Injil kepada mereka. Dengan demikian, gereja perdana tidak mempraktikkan diskriminasi. Tidak ada seorang pun yang ditolak untuk menjadi pengikut Yesus dan bergabung ke dalam gereja Tuhan di muka bumi.

                Sayangnya di kemudian hari, memang terjadi diskriminasi di kalangan gereja. Ketika Mohandas Gandhi — yang kelak dikenal dengan sapaan Mahatma — tinggal di Afrika Selatan. Ia ingin sekali pergi ke gereja. Gandhi telah lama mempelajari Alkitab dan ia ingin mengenal Yesus lebih dalam dengan ikut kebaktian di gereja. Namun apa daya sang pengacara muda itu ditolak oleh satu gereja kulit putih di Capetown. Gandhi berkata, “I do not like your Christians. Your Christians are so unlike your Christ.” (Aku tidak suka orang-orang Kristen seperti kalian. Orang-orang Kristen begitu berbeda dengan Kristus). Kata-kata yang sungguh menerpa orang-orang Kristen yang menolak seseorang untuk datang kepada Kristus dan menjadi bagian dari gereja.


Petunjuk Praktis untuk Membangun Kepekaan dan Berempati terhadap Korban Diskriminasi 

                Temuan ilmiah tentang menghilangkan prasangka dan diskriminasi ternyata sejalan dengan prinsip yang diterapkan Yesus saat berhadapan dengan perempuan Samaria ini. Ini tentu menguatkan keyakinan kita bahwa Alkitab betul-betul menyajikan bekal bagaimana kita menjalani hidup seperti yang Tuhan inginkan. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah (Kite & Whitley, 2016; Strangor, 2016) sebagai berikut.

  1. Berinteraksilah dengan mereka yang berbeda dan buktikan sendiri bahwa prasangka dan stereotip yang kita miliki tentang mereka ternyata salah. Sayangnya, belum tentu usaha ini berhasil menghilangkan prasangka sepenuhnya karena memang tidak mudah untuk membuang konsep-konsep yang sudah terlanjur terbentuk dalam benak kita dan benak mereka yang berbeda dengan kita. 
  2. Melihat individu sebagai pribadi yang unik, yang berdiri utuh, bukan sekadar sebagai bagian dari kategori sosial tempat ia tergabung. Misalnya, ketika melihat seorang berkulit hitam, kita tidak menganggap orang itu pencuri, penipu (seperti biasanya stereotip yang dikenakan oleh orang kulit putih kepada orang hitam), melainkan sebagai pribadi yang perlu kita kenali sifat dan kecenderungannya. 
  3. Memiliki pandangan bahwa semua orang adalah sama di hadapan Tuhan, tidak ada yang dianggap lebih istimewa daripada yang lainnya. Sejumlah hasil penelitian menemukan bahwa pandangan seperti ini justru harus ditanamkan sejak dini di dalam lingkungan keluarga (oleh orang tua kepada anak) dan lingkungan sekolah (pendidik dan seluruh perangkat pendidikan termasuk kurikulum dan pendekatan yang dilakukan). Cara ini dianggap merupakan cara yang paling jitu karena sejak kecil, anak sudah dibiasakan untuk berpikir bahwa semua orang adalah sama dan dengan demikian mereka akan memperlakukan setiap orang tanpa membeda-bedakan etnis, agama, status, dan jenis kelamin. 

            Kita juga mendapatkan pesan Alkitab tentang memperlakukan semua orang secara sama. Di dalam Matius 7 ayat 12 Yesus mengatakan, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

            Teks ini disebut sebagai golden rule, yaitu pepatah atau prinsip yang menekankan bagaimana kita harus memperlakukan semua orang sebagai sama tinggi, sama rendah, alias sederajat. Dalam hal ini, kita dituntut untuk proaktif melakukan kepada orang lain terlebih dulu apa yang kita ingin orang itu lakukan terhadap kita. Tentu saja, tidak ada orang yang menginginkan orang lain melakukan hal yang buruk pada dirinya. Ketika kita mengharapkan yang baik terjadi pada orang lain, sebetulnya hal baik itu kita harapkan terjadi juga pada diri kita sendiri. Jadi ini berperan sebagai suatu etika yang timbal balik.

            Prinsip ini ternyata ditemukan dalam berbagai ajaran agama. Dalam catatan Spooner (1914), prinsip ini juga ditemukan di ajaran Konghucu (551-479 SM), Buddha, Yudaisme, Islam, Taoisme, Zoroastrianism, dan lain sebagainya. Bahkan, prinsip ini juga menjadi dasar bagi deklarasi etika yang diberlakukan bagi seluruh dunia (global ethics) (Parliaments of the World Religions, 2013). Bornstein (2002) menegaskan bahwa prinsip ini menjadi dasar bagi penerapan hak-hak asasi manusia dan orang tua harus mengajarkan prinsip ini kepada anak-anak sejak usia dini.

            Dari perjalanan misi yang dilakukan oleh Joni Eareckson Tada, seorang penderita quadriplegia (orang yang tidak bisa menggerakkan anggota tubuh bagian lengan dan kaki), ada sejumlah pertemuan yang membuatnya menjadi lebih peka terhadap perubahan yang kita — sebagai anak-anak Tuhan — dapat lakukan untuk membuat orang-orang lain hidup dengan lebih sejahtera. Ia pernah bertemu dengan seorang anak perempuan disabilitas di India yang mengatakan padanya, “Bibi saya mengatakan bahwa saya harus mengalami delapan kali reinkarnasi sebelum saya dapat menjadi manusia yang normal (anggota tubuh lengkap) kembali.” Kemudian, Joni bertemu dengan seorang dokter, juga di India yang mengatakan, “Pada umumnya, orang tidak menganggap anak-anak penderita autis sebagai manusia.” Ketika ke Afrika, Joni bertemu dengan sekelompok ibu yang dipukuli karena mereka melahirkan anak yang buta atau mengalami cacat lainnya. Demikian pula, ada seorang pria yang menyampaikan kepadanya bahwa saudara perempuannya yang mengalami cerebral palsy ditinggalkan di hutan agar mati dimakan binatang buas. Bahkan di Asia Tenggara, Joni bertemu dengan sejumlah penderita disabilitas yang diberikan stigma sebagai kena kutuk dari dukun di desa mereka.

                Di Indonesia, cukup banyak penderita gangguan jiwa yang dipasung oleh keluarganya dan diasingkan jauh dari rumah keluarga. Apakah kita dapat merasakan kesedihan yang diderita oleh orang-orang yang ditolak secara sengaja? Ini sama seperti kondisi yang digambarkan oleh nabi Yesaya di dalam kitab Yesaya 59 ayat 15-16 sebagai berikut, “Dengan demikian kebenaran telah hilang, dan siapa yang menjauhi kejahatan, ia menjadi korban rampasan. Tetapi Tuhan melihatnya, dan adalah jahat di mata-Nya bahwa tidak ada hukum. Ia melihat bahwa tidak seorang pun yang tampil, dan Ia tertegun karena tidak ada yang membela. Maka tangan-Nya sendiri memberi Dia pertolongan, dan keadilan-Nyalah yang membantu Dia.

                Di luar Kristus, banyak orang menciptakan keamanan dan kenyamanan diri sendiri dengan menolak orang-orang yang berbeda dengan mereka. Dapatkah kita merasakan kerinduan Tuhan untuk meraih mereka yang tertolak, bahkan oleh keluarga mereka sendiri dan mendekap mereka erat-erat dalam cinta kasih-Nya yang menghangatkan? Biarlah kita menjadi kepanjangan tangan-Nya untuk menyampaikan kabar baik dari-Nya bahwa semua orang sama di hadapan-Nya.

Rangkuman

Ternyata Tuhan menciptakan manusia tanpa membeda-bedakan mana yang lebih tinggi derajatnya. Akan tetapi, manusia merusak ciptaan Tuhan ini dengan membuat dirinya lebih tinggi dari orang lain. Ada beragam bentuk membeda-bedakan, yaitu stereotip, prasangka, diskriminasi, dan stigma. Semuanya ini memiliki kesamaan, yaitu perilaku yang dengan sengaja membedakan antara diri sendiri dengan orang lain yang berbeda jenis kelamin, suku, etnis, ras, agama, golongan, dan sebagainya. Perilaku membedakan ini menjadi pemicu bagi tumbuhnya konflik antarkelompok yang berbeda jenis kelamin, etnis, agama, atau golongan. Sebagai murid Kristus, kita semua terpanggil untuk mengikis perbedaan yang ada, dan harus melihat semua manusia adalah sama berharganya di hadapan Allah. Ini menjadi satu kunci penting bagi tercapainya kedamaian di dunia ini. 



Sumber:

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X Penulis: Julia Suleeman ISBN 978-602-244-465-7 (jil.1) 

Tidak ada komentar:

Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya

  BAB XI Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya  Kejadian 1:1-31 I Raja-raja 17-19, 21 II Raja-raja 1-2  Pendidikan Agama Kristen dan Budi ...