BAB VIII Prinsip Setia, Adil, dan Kasih
(Yesaya 30:18b Yeremia 29:11-12 Matius 22:37-39)
Tujuan Pembelajaran
- Mengakui bahwa Allah adalah setia, adil dan kasih.
- Memahami makna setia, adil dan kasih.
- Memiliki kepekaan dan bela rasa terhadap berbagai bentuk diskriminasi (ras, etnis, gender, dll.).
- Menemukan penerapan prinsip setia, adil dan kasih dalam kehidupan sehari-hari.
Dasar Teologis untuk Setia
Mari kita belajar dari Alkitab tentang makna kesetiaan. Firman Tuhan sendiri yang menyatakan bahwa Allah adalah setia. “Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa Tuhan, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang
perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan
berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan.” (Ulangan 7:9). Sebagai umat-Nya, tentu kita juga dituntut untuk setia. Kali ini kita
akan belajar dari Nabi Yeremia yang mungkin tidak terlalu sering dibahas di
dalam khotbah atau pelajaran Sekolah Minggu. Dalam Bab V sudah disinggung tentang kehidupan bangsa Yehuda, yaitu kepada siapa Nabi Yeremia
diutus. Bila kalian ingin memahami lebih baik pergumulan Nabi Yeremia,
bacalah seluruh kitab Yeremia, yang terdiri dari 52 pasal. Untuk keperluan
pembahasan kesetiaan, kita akan coba mengkajinya dalam beberapa hal.
Nabi Yeremia adalah anak seorang imam bernama Hilkia. Dalam kajian Marx (1971), Yeremia adalah satu-satunya nabi yang dipilih Tuhan sejak
dalam kandungan. “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu,
Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan,
Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi
nabi bagi bangsa-bangsa.” (Yeremia 1:5).
Ada lagi sejumlah keunikan Nabi Yeremia. Ia juga tidak dibolehkan untuk menikah. “Firman Tuhan datang kepadaku, bunyinya, “Janganlah mengambil isteri dan janganlah mempunyai anak-anak lelaki dan anak-anak
perempuan di tempat ini.” (Yeremia 16:1-2). Selama hidupnya, Nabi Yeremia
mengalami bagaimana bangsa Yahudi berperang melawan Mesir dan Babel.
Bahkan, ia juga merasakan bagaimana hidup dalam masa pembuangan ke
Babel. Ia hidup dalam pemerintahan beberapa raja, yaitu Yosia, Yoyakim,
Yoyakhin, dan Zedekia.
Usia Yosia saat menjadi raja Yehuda masih sangat muda, yaitu 8 tahun.
Pada pemerintahan Yosialah terjadi pembaharuan hidup keagamaan. Yosia
ingin hidup sesuai dengan petunjuk yang ditemukannya dalam kitab Taurat.
Kitab Taurat ini ditemukan oleh Imam Hilkia, ayah Yeremia, di Bait Allah.
Pembaharuan yang dilakukan Raja Yosia adalah dengan mengajak rakyatnya
mengikrarkan kesetiaan mengikuti Tuhan (2 Raja-raja 23).
Sejumlah hal lain yang dilakukan adalah menghancurkan berbagai
perkakas yang dipakai untuk menyembah para ilah, termasuk bukit-bukit
pengorbanan, serta membunuh para imam yang mengajak rakyat menyembah dewa Baal. Sayangnya, Raja Yosia dibunuh oleh Raja Mesir. Penggantinya, Yoyakim dan Yoyakhin, tidaklah hidup seperti Raja Yosia dalam hal
kesetiaan kepada Tuhan. Raja Babel malah menaklukkan kerajaan Yehuda
dan mengangkut perkakas Bait Allah serta penduduk Yerusalem ke Babel.
Nabi Yeremia mulai menyuarakan perintah dan pesan Tuhan sejak
zaman Raja Yosia hingga Raja Zedekia. Memang Tuhan sudah memilih
Yeremia sebagai nabi sejak Yeremia masih di dalam kandungan. Namun
Nabi Yeremia pertama kali mendengarkan firman Tuhan yang meneguhkan
dia sebagai nabi pada tahun ketiga belas pemerintahan Raja Yosia. Pada
masa pemerintahan Raja Yosia, Yoyakim, Yoyakhin, dan Zedekia, Yeremia
menyampaikan firman Tuhan yang didengarnya agar raja dan rakyat mau
sungguh-sungguh setia kepada Tuhan. Ini salah satu pernyataan Yeremia
pada zaman Raja Yosia, “Pergilah menyerukan perkataan-perkataan ini ke
utara, katakanlah: ‘Kembalilah, hai Israel, perempuan murtad, demikianlah firman Tuhan. Muka-Ku tidak akan muram terhadap kamu, sebab Aku ini
murah hati, demikianlah firman Tuhan, tidak akan murka untuk selamalamanya. Hanya akuilah kesa-lahanmu, bahwa engkau telah mendurhaka
terhadap Tuhan, Allahmu, telah melampiaskan cinta berahimu kepada orangorang asing di bawah setiap pohon yang rimbun, dan tidak mendengarkan
suara-Ku, demikianlah firman Tuhan.” (Yeremia 3:12-13).
Pada zaman Raja Yoyakim, ini salah satu pesan Tuhan yang disampaikan oleh Yeremia. “Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan, bahkan
sekalipun Konya bin Yoyakim, raja Yehuda, adalah sebagai cincin meterai
pada tangan kanan-Ku, namun Aku akan mencabut engkau! Aku akan menyerahkan engkau ke dalam tangan orang-orang yang berusaha mencabut
nyawamu, ke dalam tangan orang-orang yang engkau takuti, ke dalam tangan Nebukadnezar, raja Babel, dan ke dalam tangan orang-orang Kasdim.
Aku akan melemparkan engkau serta ibumu yang melahirkan engkau ke
negeri lain, yang bukan tempat kelahiranmu; di sanalah kamu akan mati.
Tetapi ke negeri yang mereka rindukan untuk kembali ke situ, mereka tidak
akan kembali!” (Yeremia 22:24-27).
Pada zaman Raja Zedekia, ini salah satu firman Tuhan yang disampaikan Nabi Yeremia, “Beginilah firman Tuhan, Allah Israel, Sesungguhnya, Aku
akan membalikkan senjata perang yang kamu pegang, yang kamu pakai berperang melawan raja Babel dan melawan orang-orang Kasdim yang mengepung kamu dari luar tembok; Aku akan mengumpulkannya ke dalam kota ini.
Aku sendiri akan berperang melawan kamu dengan tangan yang teracung,
dengan lengan yang kuat, dengan murka, dengan kehangatan amarah dan
dengan kegusaran yang besar. Aku akan memukul penduduk kota ini, baik
manusia maupun binatang; mereka akan mati oleh penyakit sampar yang
hebat.” (Yeremia 21:4-6).
Mengenai para nabi palsu yang banyak pada masa itu, inilah firman Tuhan yang disampaikan Yeremia, “Sesungguhnya, Aku akan menjadi lawan mereka yang menubuatkan mimpi-mimpi dusta, demikianlah firman Tuhan,
dan yang menceritakannya serta menyesatkan umat-Ku dengan dustanya
dan dengan bualnya. Aku ini tidak pernah mengutus mereka dan tidak pernah memerintahkan mereka. Mereka sama sekali tiada berguna untuk bangsa ini, demikianlah firman Tuhan.” (Yeremia 23:32).
Bagaimana reaksi mereka yang mendengarkan perkataan Tuhan yang
disampaikan oleh Yeremia ini? Sangatlah wajar bila tidak ada yang mau
men-dengarkan Yeremia. Ia bahkan dibenci dan banyak yang berusaha
membiarkannya mati. Akan tetapi, semua ancaman dan perlakuan kejam
kepada Yeremia tidak membuatnya gentar. Ia lebih takut apabila ia tidak
menyuarakan kebenaran firman Tuhan daripada tunduk pada ancaman
yang dilontarkan orang-orang kepadanya. Jika kita juga hadir pada masa itu,
suara kenabian manakah yang lebih kita pilih, yang menyampaikan damai
sejahtera bahwa semuanya akan berlangsung baik-baik saja atau suara yang
bernada ancaman dan kehancuran? Tentu suara yang pertama, bukan? Padahal itulah yang disuarakan oleh para nabi palsu. Perlu kita perhatikan
di sini bahwa menyampaikan firman Tuhan adalah suatu perbuatan yang
penuh dengan risiko, karena pada dasarnya manusia bersifat membangkang
kepada Tuhan sang Pencipta.
Namun, Yeremia menunjukkan kesetiaannya kepada Tuhan. Di balik semua ancaman yang Yeremia sampaikan, ia juga gencar menyampaikan janji
Tuhan. Salah satunya tertera sebagai berikut, “... Sebab Aku ini mengetahui
rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah
firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku
akan mendengarkan kamu.” (Yeremia 29:1-12).
Yeremia sangat mengasihi bangsa Israel dan ia sungguh-sungguh ingin
agar bangsa Israel memiliki damai sejahtera Tuhan meskipun mereka berada dalam pembuangan. Itu sebabnya Yeremia tidak jemu-jemunya menyampaikan berkali-kali pesan Tuhan kepada umat-Nya. Sikap Nabi Yeremia ini
sangatlah berbeda dengan Nabi Yunus (Yunus pasal 1-4). Setelah menolak
perintah Tuhan untuk pergi ke Niniwe, Yunus kemudian mau menyampaikan seruan Tuhan agar bangsa Niniwe bertobat. Namun, Yunus memilih untuk menunggu kapan penghukuman Tuhan berlaku kepada bangsa Niniwe.
Artinya, Nabi Yunus lebih memilih melihat bangsa Niniwe hancur dalam
kebinasaan daripada hidup selamat karena sudah bertobat kepada Tuhan.
Di sini dapat kita pelajari makna kesetiaan kepada Tuhan:
- Percaya pada apa yang Tuhan firmankan karena itu akan digenapiNya.
- Tidak perlu takut saat menyampaikan kebenaran firman Tuhan.
- Memberitakan kebenaran firman Tuhan dilandasi oleh kasih yang tulus kepada mereka yang menerima pemberitaan ini.
Dasar Teologis untuk Keadilan
Untuk menghayati makna keadilan, mari kita merasakan bagaimana rasanya
diperlakukan tidak adil. Pada saat ini, cukup banyak siswa di SD, SMP,
sampai SMA yang mengalami ketidakadilan dalam bentuk perundungan
(bullying) karena mereka dianggap berbeda oleh yang menindas mereka
secara sengaja. Akibatnya, mereka merasa sebagai orang yang sial, rendah diri, bahkan cukup banyak yang melakukan tindakan bunuh diri. Kasus
terakhir yang bunuh diri karena menjadi korban perundungan terjadi pada
tanggal 14 Januari 2020 pada N, siswa suatu SMP Negeri di Jakarta.
Analisis yang cukup menarik dari berbagai penelitian menemukan
minimal dua kesamaan antara pelaku dan korban perundungan (Kawabata
et.al, 2011; Pinquart, 2017). Pertama, pelaku perundungan juga tertekan karena mengalami tindakan tidak adil dan mereka melampiaskannya kepada
orang lain yang tampak lemah, tidak berdaya, dan berbeda. Kedua, korban
perundungan adalah mereka yang terbiasa diam saja, pasif, dan jarang menyuarakan pendapat pribadinya. Di rumah, hubungan korban dengan orang
tua biasanya tidak akrab sehingga jarang ada percakapan dari hati ke hati
dengan orang tua. Apalagi, pelaku perundungan biasanya mengancam korbannya agar tidak menceritakan perlakuan itu kepada orang lain. Dengan
demikian, untuk beberapa waktu lamanya, pelaku cukup bebas melakukan
tindakan perundungan berulang-ulang kepada korban yang sama. Sebagai
akibatnya, korban tidak tahan dan bisa sampai pada keputusan untuk mengakhiri hidupnya.
Dalam skala yang paling kecil, mungkin saja ada di antara kalian yang
merasakan ketidakadilan di dalam
lingkungan keluarga. Perbedaan
perlakuan orang tua terhadap anak
yang dianggap anak kesayangan
dibandingkan dengan anak yang
bukan kesayangan, atau membandingkan anak dengan anak lain
yang dianggap lebih berhasil merupakan tindakan tidak adil kepada
anak. Tidak ada satu pun individu
yang suka jika ia dianggap jelek,
bodoh, rendah, hina, dan berbagai label negatif lainnya. Tentu saja, setiap manusia adalah ciptaan Tuhan yang
serupa dengan-Nya. Melakukan penghinaan apalagi sampai membunuh
manusia lain sama dengan melanggar perintah Tuhan (Keluaran 20:13). Pemazmur menyatakan bahwa Allah adalah adil, “Sebab Tuhan adalah adil
dan Ia mengasihi keadilan; orang yang tulus akan memandang wajah-Nya.”
(Mazmur 11:7).
Menurut Sproul (2013), pemahaman bahwa Tuhan adalah hakim yang
adil perlu dimiliki oleh setiap manusia. Pesan Alkitab tentang keadilan cukup
banyak. Dapat dikatakan bahwa Alkitab menyajikan pemahaman yang utuh
tentang keadilan. Semua perbuatan yang dilakukan manusia diperhitungkan oleh Tuhan karena Tuhan memiliki patokan yang jelas tentang mana
yang benar dan mana yang salah. Hal ini ditegaskan oleh Rasul Paulus dalam
Roma 2:6-11. Bisa kalian duga berapa banyak jumlah kata “adil” dan berbagai turunannya (keadilan) di dalam Alkitab berbahasa Indonesia? Sedikitnya
ada 575 di Perjanjian Lama dan 217 di Perjanjian Baru. Hanya 5 kitab di Perjanjian Lama (Rut, Kidung Agung, Yunus, Nahum, dan Hagai) serta 4 kitab
di Perjanjian Baru (Galatia, Filemon, 2 Yohanes, dan 3 Yohanes) yang tidak
memiliki kata “adil” di dalamnya.
Silakan kalian mencari di dalam kitab-kitab tersebut tentang apa yang
dituliskan tentang “adil”. Di sini dicantumkan beberapa ayat yang menegaskan pesan Tuhan tentang “adil”.
- Yesaya 30:18b. “Sebab Tuhan adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!”
- Mikha 6:8. “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”
Yesaya 30 ayat 18b menegaskan bahwa Allah adalah adil. Kita manusia
diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, jadi adil seharusnya juga sifat dan sikap yang kita sudah miliki. Apa artinya adil? Mari bayangkan situasi
berikut.
Seorang ibu yang memiliki 13 anak, diwawancara oleh seorang wartawan yang ingin tahu, bagaimana cara ibu itu menerapkan kasih sayangnya.
“Tentunya Ibu melakukan segalanya dengan adil, ya? Sama rasa, sama rata,
dan membagi makanan sama banyak?” tanya wartawan. “Bukan sama rasa,
sama rata, dan sama banyak,” jawab sang ibu. “Saya menerapkan adil dengan
prinsip semua anak memiliki hak dan tanggung jawab sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Makanan tersedia dan masing-masing mengambil
sesuai dengan kebutuhannya. Mereka boleh saja mengambil sesuai dengan
“jatah” masing-masing, tetapi apa gunanya saya memberikan kepada anak
terkecil berusia 3 tahun makanan yang sama banyaknya dengan kakaknya
yang berusia 15 tahun? Bila ada anak yang sakit, maka ia berhak untuk saya
urus sampai ia sembuh kembali. Sementara itu, anak-anak lainnya akan
mengatur pembagian tugas supaya semua pekerjaan yang ada tetap dapat
diselesaikan dengan baik.” Perhatikan bahwa adil juga mencakup apa yang
diterima oleh masing-masing pihak sesuai dengan kebutuhannya.
Gardner (1995) menyatakan bahwa keadilan yang Tuhan perlihatkan
tidaklah sekadar untuk membedakan mana yang salah dari yang benar. Keadilan Tuhan terkait erat dengan sifat Tuhan sebagai Pengasih. Betul bahwa
manusia sudah berdosa karena melanggar perintah Tuhan dan karena itu
layak untuk mendapatkan hukuman. Namun, kasih Tuhan menyelamatkan
manusia yang seharusnya menanggung akibat dosa yang diperbuatnya.
Sayangnya, belum tentu sifat asli untuk adil ini dipupuk oleh keluarga
dan pendidikan. Di atas sudah dituliskan bahwa ada saja orang tua yang berlaku tidak adil terhadap anaknya sendiri dan ini tentu membekas dalam hati
anak, bahkan sampai ia dewasa. Itu sebabnya, para nabi, Tuhan Yesus dan
murid-murid Yesus termasuk Rasul Paulus, tidak bosan-bosannya berpesan
tentang bersikap adil yang harus kita usahakan. Karena tidak akan tumbuh dengan sendirinya. Ketika kita dapat melihat orang lain dalam kedudukan
yang sederajat dengan kita atau ketika kita melihat orang lain yang tidak
lebih berharga atau tidak lebih hina dari diri kita, kita dapat menerapkan
prinsip keadilan ini.
Sejumlah penelitian terhadap pelaku kriminal yang menjalani hukuman
karena membunuh (lihat Kristinawati, 2020) menemukan bahwa keluarga
yang tidak berfungsi dengan baik, terutama dalam hal menghargai anak dan
menumbuhkan rasa percaya diri pada anak akan menghasilkan individu
yang bersikap pendendam dan agresif, atau sebaliknya, memiliki sikap rendah diri dan tidak berdaya. Penghargaan kepada pendapat anak akan memupuk rasa percaya diri anak yang berakibat pada munculnya rasa menghargai
orang lain juga. Individu dapat merasakan bahwa ia sama berhar-ganya dan
sama istimewanya dengan orang-orang lain sehingga tidak sulit baginya untuk mengakui bahwa setiap orang sama berharganya di hadapan Allah.
Bukan hanya keluarga, terrnyata lingkungan pergaulan juga memupuk
ketidakberdayaan anak sejak dini. Bechtold, Cavanagh, Shulman, Cauffman
(2014), misalnya menemukan bahwa perilaku kriminal para remaja yang dimasukkan dalam penjara sudah dapat diramalkan sejak mereka masih berusia lebih muda. Orang tua, khususnya ibu, sudah memiliki kepekaan bahwa
anaknya akan bertingkah laku kriminal kelak di kemudian hari. Kepekaan
ibu ini muncul karena mendengarkan keluhan-keluhan yang dilontarkan
anaknya bahwa ia merasa diperlakukan tidak adil oleh lingkungannya, termasuk di sini perlakuan teman-teman sebaya, perlakuan guru, dan sebagainya. Mengalami ketidakadilan akan memupuk rasa dendam yang kemudian
dilampiaskan melalui perilaku kriminal ketika situasi memungkinkan. Sungguh luar biasa pengaruh dari pengalaman ketidakadilan, ya?
Sampai di sini, tentu kita semakin yakin bahwa bersikap adil harus dipupuk sejak dini. Seseorang tidak bisa dituntut untuk memiliki sikap adil jika ia
sendiri tidak pernah merasakan bagaimana rasanya diperlakukan adil. Kare na pengalaman diperlakukan tidak adil hanya memupuk rasa tidak berdaya
dan ingin membalas dendam. Sebaliknya, pengalaman diperlakukan dengan
adil akan memupuk sikap adil terhadap orang lain. Dengan demikian, bisa
kita sepakati bahwa untuk menegakkan keadilan di muka bumi ini, semua
pihak harus sungguh-sungguh mengusahakan terjadinya keadilan, mulai
dari unit yang paling kecil, yaitu keluarga, sampai ke unit yang paling besar, yaitu dunia. Membahas keadilan ternyata terkait erat dengan membahas
perdamaian.
Bagaimana Mempraktikkan Kasih dalam Hidup Sehari-hari
Untuk mendapatkan petunjuk bagaimana kita mempraktikkan kasih dalam
kehidupan kita sehari-hari, mari kita belajar lagi dari Alkitab! Tuhan Yesus
memberikan perumpamaan tentang “Anak yang Hilang” dalam Lukas 15:11-32.
Kesempatan untuk mempraktikkan kasih muncul setiap saat. Bagaimana
caranya? Kita mengingat pesan Tuhan Yesus di dalam Matius 22:37-39 yang
sering juga disebut sebagai hukum kasih. Memang tidak berlebihan bila
dikatakan bahwa ajaran Kristen adalah ajaran kasih. Seluruh pikiran kita,
rencana yang akan dilakukan dan keputusan yang kita buat harus diperhitungkan baik-baik. Apakah betul itu akan memuliakan Tuhan sebagai tanda
bahwa kita mengasihi Tuhan yang sudah lebih dulu mengasihi kita sekaligus
sebagai wujud bahwa kita mengasihi orang lain seperti diri kita sendiri?
Satu patokan yang dapat kita gunakan untuk menerapkan kasih ini adalah menerapkannya tanpa syarat (unconditional love). Sama seperti Tuhan
sudah mengasihi kita terlebih dulu, terlepas dari apa yang kita sudah lakukan untuk-Nya, inilah yang menjadi modal kita saat berinteraksi dengan
orang lain, yaitu menerima dia apa adanya, bukan karena dia sudah lebih
dulu melakukan kebaikan untuk kita atau sebaliknya, membenci seseorang
karena ia lebih dulu membenci dia. Sejujurnya, mengasihi Tuhan dan sesama
adalah dua sisi dari satu mata uang yang memang tidak bisa dipisahkan. Ketika kita mengasihi Tuhan, kita terdorong untuk mengasihi sesama, dan saat
kita mengasihi sesama, kita sedang mempraktikkan kasih kita kepada-Nya.
Belajar dari Volf (2009), seorang teolog berkebangsaan Kroasia yang
tumbuh dalam masyarakat dengan berbagai keragaman, kita diingatkan untuk hal-hal yang dapat kita praktikkan sebagai wujud kasih kita kepada Tuhan dan sesama sebagai berikut.
- Kita tidak bisa memaksakan kehendak kita, menganggap diri kita paling benar. Apabila kita melakukan hal ini, mereka yang berbeda dengan kita pun akan memaksakan kehendak mereka kepada kita.
- Kita perlu melakukan pembekalan agar mereka yang masih muda dan belum paham, dapat disiapkan untuk melakukan yang benar dan menghindarkan yang salah serta merugikan orang lain.
- Mereka yang menjadi korban dan terluka karena perlakuan orang lain yang melanggar prinsip “mengasihi sesama” ini perlu didampingi, dilindungi, dan kemudian diberdayakan agar tetap siap menjalani masa depan mereka tanpa terganggu oleh pengalaman pahit yang mereka terima sebelumnya.
Apabila ketiga hal ini dilakukan oleh setiap bagian masyarakat, kehidupan yang menghadirkan damai akan sungguh terasa. Dengan kata lain, kita
tidak perlu menunggu Tuhan melakukan sesuatu untuk membawa pemulihan dan pembebasan, kitalah yang menjadi alat-Nya untuk menghadirkan
kehidupan seperti yang Ia inginkan.
Rangkuman
Dari sekian banyak sifat yang Tuhan miliki, pada bab ini kita fokus pada
setia, adil, dan kasih. Allah adalah Allah yang setia, adil, dan penuh kasih.
Allah yang setia adalah Allah yang tidak pernah membiarkan ciptaan-Nya
mengalami kebinasaan. Allah yang adil adalah Allah yang menghukum
mereka yang melakukan kesalahan terhadap Allah dan sesama. Allah
yang penuh kasih adalah yang selalu menginginkan yang terbaik untuk
umat-Nya, sesuai dengan rancangan indah-Nya yang membawa kebaikan bagi semua. Ketiga sifat Allah ini saling terkait dan mengingatkan kita
bahwa seluruh hidup manusia ada dalam pemeliharaan Tuhan, mulai dari
kandung-an sampai pada bagaimana kita menjalani hari-hari kita saat ini,
bahkan sampai akhir nanti. Untuk membalas kebaikan Tuhan, kita pun
perlu bersikap setia, adil, dan penuh kasih, baik terhadap Allah maupun
kepada sesama kita. Oleh karena itu, jangan menyimpan ini semua untuk diri sendiri, tetapi bagikan kepada orang lain agar mereka juga dapat
merasakan dan mengakui pemeliharaan Tuhan untuk kehidupan mereka.
Sumber :
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI
REPUBLIK INDONESIA, 2021
Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti
untuk SMA/SMK Kelas X
Penulis: Julia Suleeman
ISBN 978-602-244-465-7 (jil.1)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar