Translate

Selasa, 13 Januari 2026

Prinsip Setia, Adil, dan Kasih

 BAB VIII Prinsip Setia, Adil, dan Kasih

(Yesaya 30:18b Yeremia 29:11-12 Matius 22:37-39)


Tujuan Pembelajaran

  1. Mengakui bahwa Allah adalah setia, adil dan kasih.
  2. Memahami makna setia, adil dan kasih.
  3. Memiliki kepekaan dan bela rasa terhadap berbagai bentuk diskriminasi (ras, etnis, gender, dll.).
  4. Menemukan penerapan prinsip setia, adil dan kasih dalam kehidupan sehari-hari. 

Dasar Teologis untuk Setia

            Mari kita belajar dari Alkitab tentang makna kesetiaan. Firman Tuhan sendiri yang menyatakan bahwa Allah adalah setia. “Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa Tuhan, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan.” (Ulangan 7:9). Sebagai umat-Nya, tentu kita juga dituntut untuk setia. Kali ini kita akan belajar dari Nabi Yeremia yang mungkin tidak terlalu sering dibahas di dalam khotbah atau pelajaran Sekolah Minggu. Dalam Bab V sudah disinggung tentang kehidupan bangsa Yehuda, yaitu kepada siapa Nabi Yeremia diutus. Bila kalian ingin memahami lebih baik pergumulan Nabi Yeremia, bacalah seluruh kitab Yeremia, yang terdiri dari 52 pasal. Untuk keperluan pembahasan kesetiaan, kita akan coba mengkajinya dalam beberapa hal.

            Nabi Yeremia adalah anak seorang imam bernama Hilkia. Dalam kajian Marx (1971), Yeremia adalah satu-satunya nabi yang dipilih Tuhan sejak dalam kandungan. “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” (Yeremia 1:5). 

            Ada lagi sejumlah keunikan Nabi Yeremia. Ia juga tidak dibolehkan untuk menikah. “Firman Tuhan datang kepadaku, bunyinya, “Janganlah mengambil isteri dan janganlah mempunyai anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan di tempat ini.” (Yeremia 16:1-2). Selama hidupnya, Nabi Yeremia mengalami bagaimana bangsa Yahudi berperang melawan Mesir dan Babel. Bahkan, ia juga merasakan bagaimana hidup dalam masa pembuangan ke Babel. Ia hidup dalam pemerintahan beberapa raja, yaitu Yosia, Yoyakim, Yoyakhin, dan Zedekia.

            Usia Yosia saat menjadi raja Yehuda masih sangat muda, yaitu 8 tahun. Pada pemerintahan Yosialah terjadi pembaharuan hidup keagamaan. Yosia ingin hidup sesuai dengan petunjuk yang ditemukannya dalam kitab Taurat. Kitab Taurat ini ditemukan oleh Imam Hilkia, ayah Yeremia, di Bait Allah. Pembaharuan yang dilakukan Raja Yosia adalah dengan mengajak rakyatnya mengikrarkan kesetiaan mengikuti Tuhan (2 Raja-raja 23).

            Sejumlah hal lain yang dilakukan adalah menghancurkan berbagai perkakas yang dipakai untuk menyembah para ilah, termasuk bukit-bukit pengorbanan, serta membunuh para imam yang mengajak rakyat menyembah dewa Baal. Sayangnya, Raja Yosia dibunuh oleh Raja Mesir. Penggantinya, Yoyakim dan Yoyakhin, tidaklah hidup seperti Raja Yosia dalam hal kesetiaan kepada Tuhan. Raja Babel malah menaklukkan kerajaan Yehuda dan mengangkut perkakas Bait Allah serta penduduk Yerusalem ke Babel.

            Nabi Yeremia mulai menyuarakan perintah dan pesan Tuhan sejak zaman Raja Yosia hingga Raja Zedekia. Memang Tuhan sudah memilih Yeremia sebagai nabi sejak Yeremia masih di dalam kandungan. Namun Nabi Yeremia pertama kali mendengarkan firman Tuhan yang meneguhkan dia sebagai nabi pada tahun ketiga belas pemerintahan Raja Yosia. Pada masa pemerintahan Raja Yosia, Yoyakim, Yoyakhin, dan Zedekia, Yeremia menyampaikan firman Tuhan yang didengarnya agar raja dan rakyat mau sungguh-sungguh setia kepada Tuhan. Ini salah satu pernyataan Yeremia pada zaman Raja Yosia, “Pergilah menyerukan perkataan-perkataan ini ke utara, katakanlah: ‘Kembalilah, hai Israel, perempuan murtad, demikianlah firman Tuhan. Muka-Ku tidak akan muram terhadap kamu, sebab Aku ini murah hati, demikianlah firman Tuhan, tidak akan murka untuk selamalamanya. Hanya akuilah kesa-lahanmu, bahwa engkau telah mendurhaka terhadap Tuhan, Allahmu, telah melampiaskan cinta berahimu kepada orangorang asing di bawah setiap pohon yang rimbun, dan tidak mendengarkan suara-Ku, demikianlah firman Tuhan.” (Yeremia 3:12-13).

            Pada zaman Raja Yoyakim, ini salah satu pesan Tuhan yang disampaikan oleh Yeremia. “Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan, bahkan sekalipun Konya bin Yoyakim, raja Yehuda, adalah sebagai cincin meterai pada tangan kanan-Ku, namun Aku akan mencabut engkau! Aku akan menyerahkan engkau ke dalam tangan orang-orang yang berusaha mencabut nyawamu, ke dalam tangan orang-orang yang engkau takuti, ke dalam tangan Nebukadnezar, raja Babel, dan ke dalam tangan orang-orang Kasdim. Aku akan melemparkan engkau serta ibumu yang melahirkan engkau ke negeri lain, yang bukan tempat kelahiranmu; di sanalah kamu akan mati. Tetapi ke negeri yang mereka rindukan untuk kembali ke situ, mereka tidak akan kembali!” (Yeremia 22:24-27).

            Pada zaman Raja Zedekia, ini salah satu firman Tuhan yang disampaikan Nabi Yeremia, “Beginilah firman Tuhan, Allah Israel, Sesungguhnya, Aku akan membalikkan senjata perang yang kamu pegang, yang kamu pakai berperang melawan raja Babel dan melawan orang-orang Kasdim yang mengepung kamu dari luar tembok; Aku akan mengumpulkannya ke dalam kota ini. Aku sendiri akan berperang melawan kamu dengan tangan yang teracung, dengan lengan yang kuat, dengan murka, dengan kehangatan amarah dan dengan kegusaran yang besar. Aku akan memukul penduduk kota ini, baik manusia maupun binatang; mereka akan mati oleh penyakit sampar yang hebat.” (Yeremia 21:4-6).

            Mengenai para nabi palsu yang banyak pada masa itu, inilah firman Tuhan yang disampaikan Yeremia, “Sesungguhnya, Aku akan menjadi lawan mereka yang menubuatkan mimpi-mimpi dusta, demikianlah firman Tuhan, dan yang menceritakannya serta menyesatkan umat-Ku dengan dustanya dan dengan bualnya. Aku ini tidak pernah mengutus mereka dan tidak pernah memerintahkan mereka. Mereka sama sekali tiada berguna untuk bangsa ini, demikianlah firman Tuhan.” (Yeremia 23:32).

            Bagaimana reaksi mereka yang mendengarkan perkataan Tuhan yang disampaikan oleh Yeremia ini? Sangatlah wajar bila tidak ada yang mau men-dengarkan Yeremia. Ia bahkan dibenci dan banyak yang berusaha membiarkannya mati. Akan tetapi, semua ancaman dan perlakuan kejam kepada Yeremia tidak membuatnya gentar. Ia lebih takut apabila ia tidak menyuarakan kebenaran firman Tuhan daripada tunduk pada ancaman yang dilontarkan orang-orang kepadanya. Jika kita juga hadir pada masa itu, suara kenabian manakah yang lebih kita pilih, yang menyampaikan damai sejahtera bahwa semuanya akan berlangsung baik-baik saja atau suara yang bernada ancaman dan kehancuran? Tentu suara yang pertama, bukan? Padahal itulah yang disuarakan oleh para nabi palsu. Perlu kita perhatikan di sini bahwa menyampaikan firman Tuhan adalah suatu perbuatan yang penuh dengan risiko, karena pada dasarnya manusia bersifat membangkang kepada Tuhan sang Pencipta.

            Namun, Yeremia menunjukkan kesetiaannya kepada Tuhan. Di balik semua ancaman yang Yeremia sampaikan, ia juga gencar menyampaikan janji Tuhan. Salah satunya tertera sebagai berikut, “... Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu.” (Yeremia 29:1-12).

            Yeremia sangat mengasihi bangsa Israel dan ia sungguh-sungguh ingin agar bangsa Israel memiliki damai sejahtera Tuhan meskipun mereka berada dalam pembuangan. Itu sebabnya Yeremia tidak jemu-jemunya menyampaikan berkali-kali pesan Tuhan kepada umat-Nya. Sikap Nabi Yeremia ini sangatlah berbeda dengan Nabi Yunus (Yunus pasal 1-4). Setelah menolak perintah Tuhan untuk pergi ke Niniwe, Yunus kemudian mau menyampaikan seruan Tuhan agar bangsa Niniwe bertobat. Namun, Yunus memilih untuk menunggu kapan penghukuman Tuhan berlaku kepada bangsa Niniwe. Artinya, Nabi Yunus lebih memilih melihat bangsa Niniwe hancur dalam kebinasaan daripada hidup selamat karena sudah bertobat kepada Tuhan.

            Di sini dapat kita pelajari makna kesetiaan kepada Tuhan:
  1. Percaya pada apa yang Tuhan firmankan karena itu akan digenapiNya.
  2. Tidak perlu takut saat menyampaikan kebenaran firman Tuhan. 
  3. Memberitakan kebenaran firman Tuhan dilandasi oleh kasih yang tulus kepada mereka yang menerima pemberitaan ini. 

Dasar Teologis untuk Keadilan

            Untuk menghayati makna keadilan, mari kita merasakan bagaimana rasanya diperlakukan tidak adil. Pada saat ini, cukup banyak siswa di SD, SMP, sampai SMA yang mengalami ketidakadilan dalam bentuk perundungan (bullying) karena mereka dianggap berbeda oleh yang menindas mereka secara sengaja. Akibatnya, mereka merasa sebagai orang yang sial, rendah diri, bahkan cukup banyak yang melakukan tindakan bunuh diri. Kasus terakhir yang bunuh diri karena menjadi korban perundungan terjadi pada tanggal 14 Januari 2020 pada N, siswa suatu SMP Negeri di Jakarta.  

            Analisis yang cukup menarik dari berbagai penelitian menemukan minimal dua kesamaan antara pelaku dan korban perundungan (Kawabata et.al, 2011; Pinquart, 2017). Pertama, pelaku perundungan juga tertekan karena mengalami tindakan tidak adil dan mereka melampiaskannya kepada orang lain yang tampak lemah, tidak berdaya, dan berbeda. Kedua, korban perundungan adalah mereka yang terbiasa diam saja, pasif, dan jarang menyuarakan pendapat pribadinya. Di rumah, hubungan korban dengan orang tua biasanya tidak akrab sehingga jarang ada percakapan dari hati ke hati dengan orang tua. Apalagi, pelaku perundungan biasanya mengancam korbannya agar tidak menceritakan perlakuan itu kepada orang lain. Dengan demikian, untuk beberapa waktu lamanya, pelaku cukup bebas melakukan tindakan perundungan berulang-ulang kepada korban yang sama. Sebagai akibatnya, korban tidak tahan dan bisa sampai pada keputusan untuk mengakhiri hidupnya.

            Dalam skala yang paling kecil, mungkin saja ada di antara kalian yang merasakan ketidakadilan di dalam lingkungan keluarga. Perbedaan perlakuan orang tua terhadap anak yang dianggap anak kesayangan dibandingkan dengan anak yang bukan kesayangan, atau membandingkan anak dengan anak lain yang dianggap lebih berhasil merupakan tindakan tidak adil kepada anak. Tidak ada satu pun individu yang suka jika ia dianggap jelek, bodoh, rendah, hina, dan berbagai label negatif lainnya. Tentu saja, setiap manusia adalah ciptaan Tuhan yang serupa dengan-Nya. Melakukan penghinaan apalagi sampai membunuh manusia lain sama dengan melanggar perintah Tuhan (Keluaran 20:13). Pemazmur menyatakan bahwa Allah adalah adil, “Sebab Tuhan adalah adil dan Ia mengasihi keadilan; orang yang tulus akan memandang wajah-Nya.” (Mazmur 11:7).

            Menurut Sproul (2013), pemahaman bahwa Tuhan adalah hakim yang adil perlu dimiliki oleh setiap manusia. Pesan Alkitab tentang keadilan cukup banyak. Dapat dikatakan bahwa Alkitab menyajikan pemahaman yang utuh tentang keadilan. Semua perbuatan yang dilakukan manusia diperhitungkan oleh Tuhan karena Tuhan memiliki patokan yang jelas tentang mana yang benar dan mana yang salah. Hal ini ditegaskan oleh Rasul Paulus dalam Roma 2:6-11. Bisa kalian duga berapa banyak jumlah kata “adil” dan berbagai turunannya (keadilan) di dalam Alkitab berbahasa Indonesia? Sedikitnya ada 575 di Perjanjian Lama dan 217 di Perjanjian Baru. Hanya 5 kitab di Perjanjian Lama (Rut, Kidung Agung, Yunus, Nahum, dan Hagai) serta 4 kitab di Perjanjian Baru (Galatia, Filemon, 2 Yohanes, dan 3 Yohanes) yang tidak memiliki kata “adil” di dalamnya.

            Silakan kalian mencari di dalam kitab-kitab tersebut tentang apa yang dituliskan tentang “adil”. Di sini dicantumkan beberapa ayat yang menegaskan pesan Tuhan tentang “adil”.
  1. Yesaya 30:18b. “Sebab Tuhan adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!” 
  2. Mikha 6:8. “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” 
            Yesaya 30 ayat 18b menegaskan bahwa Allah adalah adil. Kita manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, jadi adil seharusnya juga sifat dan sikap yang kita sudah miliki. Apa artinya adil? Mari bayangkan situasi berikut.

            Seorang ibu yang memiliki 13 anak, diwawancara oleh seorang wartawan yang ingin tahu, bagaimana cara ibu itu menerapkan kasih sayangnya. “Tentunya Ibu melakukan segalanya dengan adil, ya? Sama rasa, sama rata, dan membagi makanan sama banyak?” tanya wartawan. “Bukan sama rasa, sama rata, dan sama banyak,” jawab sang ibu. “Saya menerapkan adil dengan prinsip semua anak memiliki hak dan tanggung jawab sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Makanan tersedia dan masing-masing mengambil sesuai dengan kebutuhannya. Mereka boleh saja mengambil sesuai dengan “jatah” masing-masing, tetapi apa gunanya saya memberikan kepada anak terkecil berusia 3 tahun makanan yang sama banyaknya dengan kakaknya yang berusia 15 tahun? Bila ada anak yang sakit, maka ia berhak untuk saya urus sampai ia sembuh kembali. Sementara itu, anak-anak lainnya akan mengatur pembagian tugas supaya semua pekerjaan yang ada tetap dapat diselesaikan dengan baik.” Perhatikan bahwa adil juga mencakup apa yang diterima oleh masing-masing pihak sesuai dengan kebutuhannya.

                Gardner (1995) menyatakan bahwa keadilan yang Tuhan perlihatkan tidaklah sekadar untuk membedakan mana yang salah dari yang benar. Keadilan Tuhan terkait erat dengan sifat Tuhan sebagai Pengasih. Betul bahwa manusia sudah berdosa karena melanggar perintah Tuhan dan karena itu layak untuk mendapatkan hukuman. Namun, kasih Tuhan menyelamatkan manusia yang seharusnya menanggung akibat dosa yang diperbuatnya.

                Sayangnya, belum tentu sifat asli untuk adil ini dipupuk oleh keluarga dan pendidikan. Di atas sudah dituliskan bahwa ada saja orang tua yang berlaku tidak adil terhadap anaknya sendiri dan ini tentu membekas dalam hati anak, bahkan sampai ia dewasa. Itu sebabnya, para nabi, Tuhan Yesus dan murid-murid Yesus termasuk Rasul Paulus, tidak bosan-bosannya berpesan tentang bersikap adil yang harus kita usahakan. Karena tidak akan tumbuh dengan sendirinya. Ketika kita dapat melihat orang lain dalam kedudukan yang sederajat dengan kita atau ketika kita melihat orang lain yang tidak lebih berharga atau tidak lebih hina dari diri kita, kita dapat menerapkan prinsip keadilan ini.

                Sejumlah penelitian terhadap pelaku kriminal yang menjalani hukuman karena membunuh (lihat Kristinawati, 2020) menemukan bahwa keluarga yang tidak berfungsi dengan baik, terutama dalam hal menghargai anak dan menumbuhkan rasa percaya diri pada anak akan menghasilkan individu yang bersikap pendendam dan agresif, atau sebaliknya, memiliki sikap rendah diri dan tidak berdaya. Penghargaan kepada pendapat anak akan memupuk rasa percaya diri anak yang berakibat pada munculnya rasa menghargai orang lain juga. Individu dapat merasakan bahwa ia sama berhar-ganya dan sama istimewanya dengan orang-orang lain sehingga tidak sulit baginya untuk mengakui bahwa setiap orang sama berharganya di hadapan Allah.

                Bukan hanya keluarga, terrnyata lingkungan pergaulan juga memupuk ketidakberdayaan anak sejak dini. Bechtold, Cavanagh, Shulman, Cauffman (2014), misalnya menemukan bahwa perilaku kriminal para remaja yang dimasukkan dalam penjara sudah dapat diramalkan sejak mereka masih berusia lebih muda. Orang tua, khususnya ibu, sudah memiliki kepekaan bahwa anaknya akan bertingkah laku kriminal kelak di kemudian hari. Kepekaan ibu ini muncul karena mendengarkan keluhan-keluhan yang dilontarkan anaknya bahwa ia merasa diperlakukan tidak adil oleh lingkungannya, termasuk di sini perlakuan teman-teman sebaya, perlakuan guru, dan sebagainya. Mengalami ketidakadilan akan memupuk rasa dendam yang kemudian dilampiaskan melalui perilaku kriminal ketika situasi memungkinkan. Sungguh luar biasa pengaruh dari pengalaman ketidakadilan, ya?

                Sampai di sini, tentu kita semakin yakin bahwa bersikap adil harus dipupuk sejak dini. Seseorang tidak bisa dituntut untuk memiliki sikap adil jika ia sendiri tidak pernah merasakan bagaimana rasanya diperlakukan adil. Kare na pengalaman diperlakukan tidak adil hanya memupuk rasa tidak berdaya dan ingin membalas dendam. Sebaliknya, pengalaman diperlakukan dengan adil akan memupuk sikap adil terhadap orang lain. Dengan demikian, bisa kita sepakati bahwa untuk menegakkan keadilan di muka bumi ini, semua pihak harus sungguh-sungguh mengusahakan terjadinya keadilan, mulai dari unit yang paling kecil, yaitu keluarga, sampai ke unit yang paling besar, yaitu dunia. Membahas keadilan ternyata terkait erat dengan membahas perdamaian.

                
Bagaimana Mempraktikkan Kasih dalam Hidup Sehari-hari 

                Untuk mendapatkan petunjuk bagaimana kita mempraktikkan kasih dalam kehidupan kita sehari-hari, mari kita belajar lagi dari Alkitab! Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang “Anak yang Hilang” dalam Lukas 15:11-32.

                Kesempatan untuk mempraktikkan kasih muncul setiap saat. Bagaimana caranya? Kita mengingat pesan Tuhan Yesus di dalam Matius 22:37-39 yang sering juga disebut sebagai hukum kasih. Memang tidak berlebihan bila dikatakan bahwa ajaran Kristen adalah ajaran kasih. Seluruh pikiran kita, rencana yang akan dilakukan dan keputusan yang kita buat harus diperhitungkan baik-baik. Apakah betul itu akan memuliakan Tuhan sebagai tanda bahwa kita mengasihi Tuhan yang sudah lebih dulu mengasihi kita sekaligus sebagai wujud bahwa kita mengasihi orang lain seperti diri kita sendiri?

                Satu patokan yang dapat kita gunakan untuk menerapkan kasih ini adalah menerapkannya tanpa syarat (unconditional love). Sama seperti Tuhan sudah mengasihi kita terlebih dulu, terlepas dari apa yang kita sudah lakukan untuk-Nya, inilah yang menjadi modal kita saat berinteraksi dengan orang lain, yaitu menerima dia apa adanya, bukan karena dia sudah lebih dulu melakukan kebaikan untuk kita atau sebaliknya, membenci seseorang karena ia lebih dulu membenci dia. Sejujurnya, mengasihi Tuhan dan sesama adalah dua sisi dari satu mata uang yang memang tidak bisa dipisahkan. Ketika kita mengasihi Tuhan, kita terdorong untuk mengasihi sesama, dan saat kita mengasihi sesama, kita sedang mempraktikkan kasih kita kepada-Nya.

                Belajar dari Volf (2009), seorang teolog berkebangsaan Kroasia yang tumbuh dalam masyarakat dengan berbagai keragaman, kita diingatkan untuk hal-hal yang dapat kita praktikkan sebagai wujud kasih kita kepada Tuhan dan sesama sebagai berikut.
  1. Kita tidak bisa memaksakan kehendak kita, menganggap diri kita paling benar. Apabila kita melakukan hal ini, mereka yang berbeda dengan kita pun akan memaksakan kehendak mereka kepada kita.
  2. Kita perlu melakukan pembekalan agar mereka yang masih muda dan belum paham, dapat disiapkan untuk melakukan yang benar dan menghindarkan yang salah serta merugikan orang lain.
  3. Mereka yang menjadi korban dan terluka karena perlakuan orang lain yang melanggar prinsip “mengasihi sesama” ini perlu didampingi, dilindungi, dan kemudian diberdayakan agar tetap siap menjalani masa depan mereka tanpa terganggu oleh pengalaman pahit yang mereka terima sebelumnya. 
            Apabila ketiga hal ini dilakukan oleh setiap bagian masyarakat, kehidupan yang menghadirkan damai akan sungguh terasa. Dengan kata lain, kita tidak perlu menunggu Tuhan melakukan sesuatu untuk membawa pemulihan dan pembebasan, kitalah yang menjadi alat-Nya untuk menghadirkan kehidupan seperti yang Ia inginkan.


Rangkuman

            Dari sekian banyak sifat yang Tuhan miliki, pada bab ini kita fokus pada setia, adil, dan kasih. Allah adalah Allah yang setia, adil, dan penuh kasih. Allah yang setia adalah Allah yang tidak pernah membiarkan ciptaan-Nya mengalami kebinasaan. Allah yang adil adalah Allah yang menghukum mereka yang melakukan kesalahan terhadap Allah dan sesama. Allah yang penuh kasih adalah yang selalu menginginkan yang terbaik untuk umat-Nya, sesuai dengan rancangan indah-Nya yang membawa kebaikan bagi semua. Ketiga sifat Allah ini saling terkait dan mengingatkan kita bahwa seluruh hidup manusia ada dalam pemeliharaan Tuhan, mulai dari kandung-an sampai pada bagaimana kita menjalani hari-hari kita saat ini, bahkan sampai akhir nanti. Untuk membalas kebaikan Tuhan, kita pun perlu bersikap setia, adil, dan penuh kasih, baik terhadap Allah maupun kepada sesama kita. Oleh karena itu, jangan menyimpan ini semua untuk diri sendiri, tetapi bagikan kepada orang lain agar mereka juga dapat merasakan dan mengakui pemeliharaan Tuhan untuk kehidupan mereka.

Sumber :
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X Penulis: Julia Suleeman ISBN 978-602-244-465-7 (jil.1)

Tidak ada komentar:

Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya

  BAB XI Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya  Kejadian 1:1-31 I Raja-raja 17-19, 21 II Raja-raja 1-2  Pendidikan Agama Kristen dan Budi ...