Translate

Selasa, 03 Februari 2026

KEUGAHARIAN

 BAB XII KEUGAHARIAN

(Bahan Alkitab: Kisah Para Rasul 2:4-5)

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti Kela XII


Tujuan Pembelajaran:

  1. Siswa menjelaskan makna keugaharian dalam kehidupan sebagai orang Kristen. 
  2. Siswa Menjabarkan cara hidup ugahari.
  3. Siswa Mengkaitkan cara hidup ugahari dengan prinsip iman kristen.
  4. Siswa berkomitment untuk mempraktikkan sikap hidup ugahari dan mensosialisasikan dalam keluarganya.


            Ada sebuah media nasional yang memuat berita pada minggu yang lalu bahwa sampah sisa makanan jika dikumpulkan dalam seminggu bisa berton-ton beratnya. Sampah makanan mencemari lingkungan karena menghasilkan gas yang kalau dihirup akan mengganggu pernafasan disamping itu baunya juga tak sedap. Kebanyakan sampah itu berasal dari sisa makanan ketika orang mengabil makanan banyak tapi tidak menghabiskannya. Seandainya saja manusia menyadari bahwa pemborosan yang dilakukannya telah mengancam keselamatan bumi dan manusia karena menyebabkan pencemaran lingkungan juga pola konsumsi yang berlebihan telah menghabiskan persediaan makanan yang seharusnya tersedia untuk 1 minggu dihabiskan dalam 1-2 hari saja. Pembelajaran ini mengajarkan pada kalian untuk hidup hemat dan secukupnya. Jika kalian biasa mengambil makanan dalam jumlah yang banyak lalu tak dihabiskan kemudian sisa makanan itu dibuang, diharapkan setelah kalian mempelajari topik ini pandangan dan sikap hidup kalian akan berubah. Begitu pula jika kalian memiliki pola hidup konsumtif, diharapkan dapat mengubah pola hidup tersebut. Sebaiknya kita hidup secukupnya yang penting sehat dan bugar.


Pengertian Ugahari

                Keugaharian adalah sebuah kata yang berasal dari akar kata “ugahari” yang berarti “tengah”, “tengah”, “sederhana”. Dengan kata lain, dalam kata ini terkandung makna “tidak berlebihan”. Keugaharian diangkat menjadi tema Sidang Raya ke-16 pada tahun 2014 di Nias. Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe menjelaskan tentang tema ini dalam tulisannya, “Spiritualitas Keugaharian: Merayakan Keragaman bagi Kehidupan Kebangsaan yang Utuh” yang diterbitkan oleh PGI. Katanya, keugaharian adalah sebuah cara hidup yang siap untuk sederhana, meskipun misalnya seseorang sangat kaya raya. Cara hidupnya itu membuat orang dihormati dan dicintai oleh masyarakat, sebab ia tidak segan-segan berbagi karena ia tidak serakah.

                Yewangoe (baca: Yewangu) juga menjelaskan, hidup keugaharian bukanlah hidup dalam kepura-puraan. Pura-pura tidak punya uang, purapura tidak bisa menolong sesama seperti halnya kehidupan yang dijalani oleh Yesus, (lih. Mat. 8:20; Luk. 9:58). Contoh lain, kata Yewangoe, adalah kehidupan Yohanes Pembaptis yang lahir dari sebuah keluarga imam dan para nabi di Perjanjian Lama. Status Yohanes tidak membuat dia sombong dan hidup bermewah-mewah. Sebaliknya, ia hidup di padang gurun dengan pakaian dan makanan seadanya. Ia sadar, ada masih banyak orang yang kekurangan dalam hidupnya.


Calvinisme dan Keugaharian:

                Max Weber (1864-1920), seorang pakar sosiologi dari Jerman, pernah melakukan penelitian tentang apa yang menyebabkan negara-negara di Eropa Barat – khususnya Jerman dan Belanda – menjadi begitu kaya. Menurut Weber, ini semua dimulai dari pertanyaan orang-orang Kristen di sana, “Bagaimana saya tahu bahwa saya selamat?”

                Pertanyaan ini didasarkan pada ajaran Yohanes Calvin, yang banyak diikuti banyak orang Kristen di kedua negara itu, bahwa kita tidak pernah tahu apakah kita selamat atau tidak. Pada masa hidupnya, Calvin juga pernah menghadapi pertanyaan yang sama. Jawaban yang diberikannya adalah “predestinasi”. Katanya, tujuan akhir hidup telah ditetapkan oleh Allah apakah seseorang akan selamat atau tidak, bahkan sejak saat ia masih di dalam kandungan ibunya. Masalahnya, itu adalah rahasia Allah, dan kita tidak akan pernah mengetahuinya. Jadi, apakah ada petunjuk-petunjuk yang akan menolong kita menemukan jawabannya?

                Weber menyimpulkan bahwa orang-orang Kristen di Eropa Barat meyakini bahwa jawaban itu dapat ditemukan dalam hidup kita sendiri. Kalau kita berhasil di dalam berbagai usaha kita, maka itu tandanya Allah berkenan dengan kita. Artinya, kita selamat. Sebaliknya, bila kita terus-menerus gagal dalam usaha apapun juga, maka itu adalah tanda bahwa Allah tidak berkenan kepada kita.

                Berdasarkan pemahaman ini, maka orang-orang Kristen Protestan di kedua wilayah itu pun berlomba-lomba untuk selalu berhasil di dalam usahausaha mereka. Untuk mencapai itu semua, mereka pun berusaha untuk hidup sehemat mungkin, mengenakan pakaian yang biasa-biasa saja, dan tidak perlu membeli banyak, sebab yang penting badan tertutup dan tidak kedinginan di musim dingin. Makanan juga secukupnya, yang penting menyehatkan tubuh. Mereka juga jarang sekali membeli dan mengenakan perhiasan. Inilah yang disebut Weber sebagai “worldly asceticism” (hidup sebagai pertapa di dunia).

                Apa akibat dari semua itu? Tentu dengan usaha yang selalu sukses dan hidup yang sederhna, maka uang orang Kristen makin bertambah. Nah, uang tersebut kemudian dijadikan modal kerja untuk memperluas usahanya. Itulah yang dikatakan oleh Weber sebagai asal-usul hadirnya kapitalisme di dunia.

                Yang menarik dari penelitian Weber ini adalah kenyataan bahwa orangorang Kristen Protestan di barat terbiasa hidup sederhana dan hemat. Akibatnya, banyak orang yang sering menganggap mereka kikir. Uang seribu rupiah pun sangat diperhitungkan. Uang kembalian 1 sen pun akan mereka tuntut. Mengapa? Karena mereka percaya bahwa semua yang kita miliki adalah kepercayaan yang diberikan Tuhan, yang harus kita jaga dengan hatihati dan pertanggungjawabkan.


Ugahari dalam kehidupan sehari-hari 

                Ugahari menunjuk kepada cara hidup yang secukupnya, yang didasarkan kepada pemahaman bahwa hidup sederhana sudah cukup. Orang yang hidup dengan asas keugaharian akan berusaha hidup sederhana, tidak bermewahmewah. Andaikata uangnya berlebih, maka uang itu akan disumbangkan kepada mereka yang berkekurangan, atau digunakan untuk membangun gedung-gedung untuk melayani masyarakat, seperti sekolah, rumah sakit, dll.

                Ugahari bukanlah kehidupan yang penuh pura-pura, seperti yang kadangkadang dilakukan oleh orangtua murid yang mendaftarkan anaknya ke sekolah swasta yang mahal. Sebagian sekolah itu mengenakan uang masuk yang berbeda-beda: yang kaya harus membayar lebih mahal, sementara yang sederhana bisa membayar lebih murah.

                Tujuannya baik. Sekolah ingin supaya keluarga yang lebih mampu membantu yang kekurangan. Namun aturan ini sering disalahgunakan oleh orangtua calon murid. Supaya tidak perlu membayar mahal, walaupun mereka sesungguhnya mampu, sebagian orangtua murid datang ke sekolah dengan kendaraan umum seperti bajaj, dan sejenisnya. Pakaian mereka pun sangat sederhana, walaupun sehari-hari mereka biasa mengendarai mobil mewah dan berpakaian gemerlapan.


Hedonisme

Hedonisme adalah lawan kata dari keugaharian. Kita perlu memahami perbandingan ini, supaya kita lebih mengerti apa yang dimaksudkan dengan keugaharian.

                Menurut Stanford Encyclopedia of Philosophy, kata ‘hedonisme’ berasal dari kata Yunani kuno yang berarti ‘kesenangan’. Hedonisme, secara psikologis atau motivasional, menyatakan bahwa hanya kebahagiaan dan rasa sakit yang memotivasi kita. Hanya kebahagiaan yang berharga atau bernilai, dan hanya rasa senang akan mendorong seseorang untuk bekerja keras, sementara penderitaan atau ketidaksenangan akan membuat seseorang untuk malas berusaha dan berjuang.

                Dengan pemahaman itu, maka banyak orang menganggap bahwa mengejar kebahagiaan adalah tujuan hidupnya satu-satunya. Hidupnya penuh dengan pesta, penghamburan uang untuk membeli berbagai barang mewah, perjalanan-perjalananan liburan ke luar negeri, dll.

                Lihatlah orang-orang di sekitar kita yang gemar menghamburkan uang dengan makan-makan di restoran mahal atau berpesta pora setiap akhir minggu. Kalau ada hari libur dari hari Jumat hingga Minggu, sebagian dari mereka suka pergi ke Singapura, Jepang, atau Australia untuk liburan sejenak. Mereka suka memamerkan barang-barang mewah, seperti jam tangan mewah, tas-tas bermerek, pakaian mahal luar biasa, mobil-mobil yang mahal, dsb.

                Hidup mewah seperti ini juga dilakukan oleh para pejabat, artis serta orang-orang yang disebut dalam media sebagai “cracy rich” . Untuk pejabat negara yang hanya hidup dari gaji, amat mengherankan jika hidup mewah karena kita tahu berapa gaji seorang abdi negara. Bahkan justeru abdi negara seharusnya menjadi teladan hidup hemat.

                Lebih parah lagi, gaya hidup ini juga terjadi di kalangan sejumlah pendeta. Beberapa waktu yang lalu, internet dihebohkan oleh artikel tentang “pastor in style” atau pendeta gaya hidupnya mewah. Ada dari mereka yang beranggapan bahwa kita tidak boleh iri dengan orang lain, “… termasuk dengan pendeta kita sendiri. Kalau ada pendeta yang pakai barang branded, dengan jam yang harganya puluhan juta, mobil sport milyaran, sepatu, dengan dandanan yang mahal, ya kita nggak boleh iri dengan mereka. Sebab Alkitab mengatakan demikian,” katanya. Lalu ia mengutip ayat dari Amsal 10:22, yang berbunyi, “Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” (Jawaban.com. 1 Okt. 2019). Pendeta itu melanjutkan, “… saya katakan, itu berkat bagi pendeta itu sendiri dan saya bangga dengan pendeta itu. Karena pendeta itu bisa pakai barang bagus, bisa pakai baju bagus, mobil bagus, dia mendapatkan anugerah dari Tuhan.” . Apakah kalian setuju dengan pernyataan seperti itu? Coba kalian bandingkan dengan cara hidup Yesus, Rasul Paulus dan Yohanes Pembaptis?. Pendeta yang adalah “hamba Tuhan” adalah teladan bagi jemaatnya, khususnya dalam hal hidup hemat. Di daerah-daerah masih banyak pendeta yang hidup berkekurangan namun mereka suka cita melayani dan jemaat berupaya sebisa mungkin unutk menopang kehidupan finansial pendetanya.


Latar Belakang Alkitab

                Alkitab penuh dengan anjuran untuk hidup sederhana. Pembelaan terhadap orang-orang miskin juga dikaitkan dengan sikap bijaksana. Kitab Amsal 29:8 mengatakan, “Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak mengertinya.” Ada banyak sekali ayat di dalam Alkitab yang bicara tentang orang-orang miskin, orang lemah dan tertindas. Melalui Alkitab kita tahu bahwa Allah ingin supaya kita memperhatikan, membela, dan kemudian mengangkat harkat mereka agar tidak lagi menderita di dalam kemiskinannya.

                Dalam Keluaran 22:22 muncul larangan agar bangsa Israel tidak menindas para janda dan anak yatim. Bila mereka melakukan itu, TUHAN Allah mengancam mereka semua mati, hingga istri dan anak-anak mereka akan menjadi janda dan anak yatim. Kata-kata dalam Keluaran ini digaungkan kembali dalam Mazmur 109:9-15 kutukan yang sangat mengerikan.

                Dalam Kitab Ulangan pun kita menemukan peringatan atas bangsa Israel agar mereka tidak mengabaikan para janda dan anak yatim, “Terkutuklah orang yang memperkosa hak orang asing, anak yatim dan janda. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!” (Ul. 27:19) Begitulah hebatnya hukuman yang dijatuhkan oleh TUHAN kepada orang-orang yang tidak memperhatikan hidup para janda dan anak yatim, yang hanya bisa terjadi ketika orang banyak hidup bermewah-mewah dan tidak peduli terhadap mereka.

                Tuhan Yesus merujuk kepada janda dalam ajaran-Nya. Dalam Markus 12, Yesus mengecam orang-orang Farisi yang suka menelan rumah dari para janda (ay. 40) dan memuji seorang janda yang hanya memberikan persembahan 2 peser atau 1 duit ke dalam kotak persembahan. Kata-Nya, “… janda ini memberi dari kekurangannya, sementara yang lain memberi dari kelebihannya (21:4)”. Uang dua peser di masa Yesus itu, nilainya kira-kira Rp. 1.600 di masa kini. Jumlah ini sangat sedikit. Tapi hanya itu yang sanggup ia berikan. Mungkin sekali, ia tidak tahu apa yang akan dimakannya besok, namun kepasrahannya kepada Allah membuat ia rela memberikan sebagian hartanya yang sangat sedikit. Itulah sebabnya Yesus sangat memuji dia.

                Dalam Lukas 16:19-31, Yesus menceritakan perumpamaan tentang orang kaya yang pakaiannya sangat mewah dan selalu berpesta pora. Sementara itu, di depan rumahnya ada Lazarus yang miskin. Setiap hari ia duduk di depan rumah si kaya yang selalu berpesta-pora, tanpa peduli dengan si miskin yang hanya mengharapkan remah-reman makanan yang jatuh di situ. Ketika kedua orang ini meninggal, Lazarus berada bersama Abraham, sementara orang kaya itu menderita di alam maut dan menderita karena panasnya api di sana. Si kaya meminta agar Lazarus meneteskan sedikit air saja, untuk mengurangi panas dan hausnya, tapi di antara mereka ada celah yang tidak terjembatani.

                Kehidupan Yesus sendiri sangat sederhana. Seperti yang dikatakan Yewangoe, Yesus mengatakan bahwa, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat. 8:20). Ia hidup sebagai seorang guru atau pengkhotbah yang tidak dibayar satu sen pun di masa hidup-Nya.

                Di sini jelas kita bisa melihat bahwa Tuhan Yesus tidak mengajarkan kehidupan bermewah-mewah. Bahkan Ia sendiri selama masa pelayanan-Nya di dunia tampaknya hidup dengan sangat sederhana. Ia kemungkinan sekali tidak mempunyai rumah, sehingga Ia harus berkelana dan hidup dari rumah ke rumah yang lain. Bagaimana sikap Yesus terhadap orang-orang miskin? Dalam Lukas 6:20- 23, Yesus mengatakan bahwa Allah berpihak kepada orang-orang yang miskin dan tertindas:

6:20 “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. 6:21 Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis 7 , karena kamu akan tertawa. 6:22 Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. 6:23 Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.

                    Yesus juga mengajarkan, “… apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta” (Luk. 14:13). Maksudnya jelas. Di tengah-tengah kebahagiaan dan suka cita, kita diajarkan untuk tidak pernah melupakan orang-orang yang kekurangan. Melengkapi kajian tersebut diatas, Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami dimana salah satu rumusannya adalah “berikanlah kami makanan kami yang secukupnya”. Ungkapan ini mau mengajarkan pada manusia untuk selalu “merasa cukup” dalam hidupnya. Doa Bapa kami sudah dibahas secara mendalam di jenjang SMP jadi tidak akan diulangi lagi dalam pembahasan di SMA. Ketika Israel di padang gurun, Allah menurunkan manna hanya untuk dimakan pada hari itu saja. Ada yang mencoba menyimpannya tapi menjadi busuk. Kedua hal ini menunjukkan pada kita bahwa manusia harus memiliki rasa “cukup” dalam hidupnya. Jika manusia tidak pernah merasa cukup, tidak pernah merasa puas, maka ia akan jatuh kedalam keserakahan.

                    Pada awal gereja berdiri, orang-orang Kristen perdana malah menjual seluruh harta miliknya, dan membagi-bagikannya kepada orang-orang miskin (Kis. 2:44-45). Kemudian para rasul mengangkat 7 orang diaken yang diberi tugas antara lain untuk memberikan perhatian khusus kepada para janda dari mereka yang tidak berbahasa Ibrani (Kis. 6).

                    Mengapa para janda dan anak yatim mendapatkan perhatian besar? Pada zaman dahulu memang laki-laki adalah kepala keluarga yang sangat diandalkan. Ketika sang suami meninggal, maka kehiduspan para janda dan anak yatim akan menjadi sangat menderita. (Bdk. kisah Naomi dan Rut dalam Kitab Rut). Bila masyarakat atau keluarga terdekat mereka tidak memberikan perhatian kepada mereka, maka mereka tidak akan bisa bertahan hidup.


Konteks Masa Kini  

            Di Amerika Serikat ada keluarga-keluarga kaya yang terlibat dalam usahausaha sosial. Contohnya, Rockefeller dengan Yayasan Rockefellernya yang banyak bergerak dalam bisnis perminyakan, dan keluarga Ford, pemilik pabrik mobil Ford, dengan Yayasan Fordnya. Ada lagi yang lebih baru seperti Bill and Melinda Gates Foundation dan George Soros Open Society Foundation. Semua yayasan ini bergerak dalam isu pendidikan, kesehatan, hubungan internasional, penelitian ilmiah, pengembangan ekonomi masyarakat ekonomi lemah, dll.  

            Di Indonesia ada Taher Foundation, yang bergerak dalam dunia business dan perbankan, yang menyumbangkan truk sampah, bus TransJakarta, peralatan kesehatan di masa COVID-19, bea siswa pendidikan, dll. Ada Djarum Foundation, sebuah perusahaan industri rokok, terkenal karena banyak memberikan sumbangan untuk memajukan olahraga bulutangkis di Indonesia. Selain itu, yayasan ini juga bergerak dalam bidang-bidang sosial, kebudayaan, pendidikan dan lingkungan hidup.

            Sebuah yayasan lainnya yang bernama Putera Sampoerna Foundation, juga dari industry rokok, bergarak dalam isu memberikan pendidikan yang berkualitas bagi siswa Indonesia berprestasi terutama dari keluarga prasejahtera, menciptakan lapangan kerja, pemberdayaan kaum perempuan, serta penyedian penyaluran bantuan dan rehabilitasi bencana.

            Memang, mereka semua berbagi dari kelebihan mereka. Mereka umumnya adalah keluarga-keluarga yang sangat kaya, sehingga dana yang mereka sisihkan mungkin tidak seberapa jumlahnya. Sementara itu banyak orangorang lain sering mengatakan, “Ah, kan hidup saya sendiri masih kekurangan. Masakan saya harus menyumbang juga untuk masyarakat luas?” Benar, tapi ingatlah tentang pujian Tuhan Yesus kepada janda miskin yang memberikan dari kekurangannya.

            Kita sudah lihat ada banyak pihak, di luar maupun di dalam negeri, yang berusaha memberikan bantuan kepada orang-orang yang kekurangan dan membutuhkan agar mereka bisa maju dan meninggalkan kemiskinan. Sebagian besar bangsa kita masih hidup dalam kekurangn, bahkan di bawah garis kemiskinan. Mereka sangat membutuhkan kepedulian kita.

            Kini kita perlu bertanya apakah orang-orang Kristen dan gereja-gereja Kristen sudah ikut memberikan bantuan kepada para janda dan anak yatim di dalam gereja maupun di tengah masyarakat? Harus diakui bahwa pada umumnya warga jemaat kita masih kurang memberikan perhatian kepada mereka. Baru pada hari Natal dan Paskah gereja-gereja memberikan sumbangan sekadarnya kepada panti-panti asuhan dan panti jompo yang banyak diisi oleh para janda. Tapi dalam kehidupan sehari-hari, hidup mereka sering dilupakan.

            Ini adalah foto seorang janda, Tamini, di Kudus yang merana selama 15 tahun. Ia hidup hanya dari mengumpulkan barang-barang rongsokan. Baru-baru ini dia mendapatkan bantuan sosial tunai dari Kementerian Sosial pusat. Tapi bagaimana kelanjutan hidupnya? Akankah ia kembali ke dalam kehidupannya yang susah dan kekurangan?

            Uripah, seorang buruh colet batik, dirumahkan karena wabah COVID-19. Akibatnya, kedua anaknya harus merantau ke Jakarta mencari nafkah. Upahnya sebagai buruh collet batik pun hanya antara 10.000-20.000 per hari. Sangat kecil untuk dirinya dan ketiga anaknya. (DetikNews 12 Mei 2020). Kalau sebagian orang mendapatkan bantuan pemerintah pada masa COVID-19 ini, Uripah tidak. Entah mengapa, namanya luput dari catatan pemerintah.

            Bagaimana perhatian perhatian kelompok-kelompok agama? Memang sangat banyak sekali orang yang menderita di masa-masa ketika bangsa kita menghadapi tantangan berat seperti bencana COVID-19, atau bencana alam lainnya. Namun perhatian dari pihak keagamaan, dan gereja khususnya masih sangat sedikit.

            Sebuah jemaat Kristen di Jakarta Selatan punya perhatian yang besar untuk membantu orang-orang yang kekurangan. Kabarnya, mereka bertekad untuk menyisihkan 50% dari uang persembahan yang diberikan jemaat – yang mestinya cukup besar – untuk digunakan untuk bantuan sosial ke masyarakat. Mereka menggunakannya untuk membantu orang-orang miskin, pelayanan kesehatan umum, bea siswa untuk anak-anak yang bersekolah teologi, dll.

            Sebuah jemaat lain di Jakarta mengumpulkan uang dan kemudian membeli sejumlah sembako untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat di sekitar yang membutuhkan. Pemberian ini dilakukan pada masa pandemi COVID-19, ketika banyak sekali warga masyarakat yang sangat menderita karena kehilangan pekerjaan, dll. Tindakan-tindakan seperti ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat luas yang seringkali tiba-tiba menjadi merana karena kehilangan rumah dan seluruh harta mereka karena adanya bencana alam.

            Namun demikian, harus diakui bahwa banyak gereja dan orang Kristen yang lebih tertarik menyumbang untuk rumah-rumah ibadah yang megah, karena persembahannya lebih kelihatan hasil fisiknya. Sementara itu, menyumbang kepada orang miskin seperti janda dan para anak yatim dianggap tidak memperlihatkan hasil yang konkret.


Refleksi

            Semangat keugaharian dalam hidup kita tidak lain daripada semangat berbagi di dalam berbagai aspek kehidupan. Hal itu dilakukan dengan kesadaran bahwa kita tidak hidup sendirian, dan tiap orang memilik hak untuk hidup. Sebagai orang beragama, dalam seluruh aspek hidup, manusia beragama harus mempertimbangkan aspek keadilan dalam hidup, termasuk kepentingan sesama. Manusia beragama juga harus hidup sesuai dengan pendapatan, jangan hidup seperti “pasak dari pada tiang” artinya pengeluaran melebih pendapatan.



Sumber :

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XII Penulis: Janse Belandina Non-Serrano ISBN: 978-602-244-702-3 (jil.3)


Tidak ada komentar:

Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya

  BAB XI Allah Menciptakan Alam dan Keindahannya  Kejadian 1:1-31 I Raja-raja 17-19, 21 II Raja-raja 1-2  Pendidikan Agama Kristen dan Budi ...