Bab 4 ALLAH Pengasih Memulihkan Kehidupan Bergereja
(kitab: Roma 8:28)
Tujuan Pembelajaran
1. Menjelaskan alasan gereja membutuhkan pembaharuan.
2. Menjabarkan berbagai cara yang dipakai Allah dalam membaharui gereja.
3. Membuat kolase cerita para laki-laki dan perempuan yang berperan dalam pembaharuan gereja
4. Mempresentasikan mengenai perubahan-perubahan yang terjadi dalam gereja masa kini.
Gereja adalah lembaga yang berdiri sebagai perkumpulan orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Lembaga ini berdiri pada hari Pentakosta, yaitu hari yang ke-50 setelah Tuhan Yesus naik ke surga. Namun orang-orang Kristen yang sudah ditebus oleh Yesus adalah manusia yang lemah dan tetap berulang kali jatuh ke dalam dosa. Karena itulah, kita bisa melihat bagaimana Gereja berulang kali mengalami masalah: pertengkaran dan perpecahan, kelemahan dalam tanggung jawab, korupsi, kesalahan dalam pengajaran, kelesuan dalam hidup persekutuannya, dll.
Pembahasan ini memberikan penekanan pada Allah yang membaharui gereja demi keberlangsungan gereja dalam dunia ini. Dalam membahas topik ini dikaji bagaimana Allah membaharui gereja dan bahwa Allah melakukan pembaharuan melalui berbagai cara yang terkadang juga manusia sukar untuk memahaminya. Peristiwa reformasi merupakan salah satu peristiwa penting dimana Allah Pengasih membaharui kehidupan gereja. Hingga saat ini, Allah terus bekerja membaharui gerejanya melalui orang-orang yang dipilih-Nya.
Pembahasan materi ini memberikan pencerahan bagi remaja SMA kelas XII untuk memahami persoalan-persoalan yang dihadapi gereja sebagai lembaga maupun sebagai persekutuan orang percaya. Mempelajari materi ini memotivasi siswa SMA untuk bersikap kristis terhadap gereja dan memahami bahwa gereja membutuhkan pembaharuan supaya dapat menjalankan misinya di dunia ini.
Reformasi
Reformasi adalah sebuah peristiwa yang dimulai pada abad ke XVI ketika Martin Luther memakukan 95 dalilnnya yang berisi kritik terhadap ajaran Gereja pada waktu itu. Luther mengkritik pemahaman bahwa orang bisa membeli keselamatanya dengan memberi surat keselamatannya atau membeli relikui-relikui orang kudus.
Menurut Luther, hanya imanlah yang menyelamatkan kita (Rm. 3:28 “Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat. Karena itu, kita berpendapat, bahwa manusia dibenarkan melalui iman, terlepas dari perbuatan-perbuatan berdasarkan Hukum Taurat.”)
Luther memperkenalkan istilah “evangelisch” (dalam bahasa Jerman) yang berarti “injili” yang artinya “kembali kepada Injil”. Dengan kata ini, Luther bermaksud menyatakan bahwa ajarannya didasarkan pada Alkitab, bukan pada tradisi.
Perubahan yang dilakukan oleh Luther lebih menyentuh pada ajaran Gereja, seperti soal pengampunan dosa, jumlah sakramen, pernikahan para rohaniwan, dll. Luther berprinsip, “Apa yang tidak dilarang di Alkitab, berarti tidak apa-apa.”
Reformasi Calvin melangkah lebih jauh daripada Luther. Calvin menyatakan bahwa pendeta sama kedudukannya dengan penatua dan diaken. Yang membedakannya ialah, pendeta ditahbiskan untuk pelayanan pemberitaan firman dan sakramen baptisan dan perjamuan kudus. Patungpatung yang didiamkan oleh Luther, dibuang sama sekali oleh Calvin. Ruang kebaktian menjadi kosong, selain meja perjamuan dan sebuah Alkitab yang terbuka di atasnya, sebagai lambang bahwa Alkitab terbuka dan boleh dibaca semua orang.
Calvin juga sangat menekankan pengajaran iman Kristen. Di Jenewa, setiap hari Rabu malam, Calvin mengajarkan bagian-bagian dari Alkitab. Progamnya ini banyak menarik perhatian orang dan mereka selalu hadir di kegiatan itu.
Penganiayaan atas Kaum Radikal.
Kelompok Mennonit dan kaum Anabaptis lainnya banyak mengalami penindasan dan penganiayaan karena ajarannya yang menuntut orang-orang Kristen yang mau bergabung ke dalamnya untuk dibaptiskan ulang. Tragisnya, penganiayaan ini umumnya dilakukan oleh orang-orang Kristen sendiri, yaitu Katolik maupun Protestan lainnya, khususnya oleh para pengikut Zwingli dan kemudian Calvin.
Orang-orang Mennonit dan Anabaptis dikejar-kejar dan diperangi, terutama sejak tahun 1525 hingga 1660. Dasar penganiayaan ini adalah hukum yang ditetapkan oleh Kaisar Theodius I dan Yustinianus I terhadap kaum Donatis yang mengajarkan baptisan ulang. Hukum itu menyatakan, mereka yang melakukan baptisan ulang harus dihukum mati. Puluhan ribu orang Anabaptis disiksa dan dibunuh di berbagai wilayah Eropa. Akibatnya, banyak orang Anabaptis kemudian pindah ke Amerika Utara.
Pada tahun 1648, diadakan Perjanjian Perdamaian Westfalia antara orang Katolik dan Protestan. Namun orang-orang Mennonite tidak ikut di dalamnya. Akibatnya, mereka terus dianiaya di Eropa, jauh setelah perjanjian itu ditandatangani.
Kaum Annabaptis dan Mennonit dianiaya habis-habisan, namun kita melihat tangan Tuhan terus memimpim mereka dan menyelamatkan mereka. Hingga kini ajaran pasifis mereka sering menjadi suara hati nurani mereka yang percaya bahwa perang tidak akan menghasilkan apa-apa selain kehancuran semua pihak. Tuhan tidak menginginkan manusia berperang.
Allah Menggunakan Berbagai cara Dalam
membaharui Gereja
Perang Petani Jerman (German Peasants' War) yang terjadi pada tahun 1524-1525. Thomas Müntzer adalah salah satu tokoh radikal penting dalam gerakan ini. Perang Petani Jerman adalah pemberontakan massa yang luas di Eropa Tengah, dipicu oleh ketidakpuasan para petani terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang opresif. Mereka menderita akibat pajak yang tinggi, kewajiban feodal yang berat, dan hilangnya hak-hak tradisional.
Ketika Reformasi Protestan dimulai oleh Martin Luther, ide-ide baru tentang kebebasan beragama dan perlawanan terhadap otoritas gereja dan penguasa feodal menyebar luas. Hal ini memberikan dasar teologis bagi para petani untuk menuntut perubahan.
Perang Petani Jerman adalah pemberontakan massa yang luas di Eropa Tengah, dipicu oleh ketidakpuasan para petani terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang opresif. Mereka menderita akibat pajak yang tinggi, kewajiban feodal yang berat, dan hilangnya hak-hak tradisional.
Ketika Reformasi Protestan dimulai oleh Martin Luther, ide-ide baru tentang kebebasan beragama dan perlawanan terhadap otoritas gereja dan penguasa feodal menyebar luas. Hal ini memberikan dasar teologis bagi para petani untuk menuntut perubahan.
Meskipun ide-ide Reformasi awalnya memicu gerakan ini, Martin Luther menentang keras pemberontakan petani. Luther percaya bahwa otoritas penguasa harus dihormati dan kekerasan tidak dibenarkan. Ia khawatir gerakan petani yang radikal akan merusak kredibilitas Reformasi.
Dalam tulisannya, Luther bahkan menyerukan kepada para pangeran dan bangsawan untuk "menghancurkan, membunuh, dan mencekik" para petani yang memberontak. Sikap Luther ini membuatnya kehilangan dukungan dari banyak petani yang merasa dikhianati.
Pada akhirnya, pemberontakan ini berhasil ditumpas secara brutal oleh pasukan gabungan para pangeran dan bangsawan Jerman. Perlawanan para petani yang tidak terorganisir dengan baik tidak sebanding dengan kekuatan militer penguasa. Sekitar 100.000 hingga 300.000 petani tewas dalam pertempuran.
Thomas Müntzer ditangkap setelah kekalahan pasukannya dalam Pertempuran Frankenhausen. Ia disiksa, dipaksa untuk mengakui pandangannya yang salah, dan akhirnya dieksekusi pada tahun 1525. Kekalahan ini tidak hanya mengakhiri pemberontakan, tetapi juga memperburuk kondisi para petani yang tersisa.
Perang Petani Jerman (1524-1525) dan pemberontakan Anabaptis di Münster (1534-1535) yang dipimpin oleh Anabaptis radikal yang percaya pada penggunaan kekerasan untuk mendirikan "kerajaan Allah di bumi," sangat mengguncang Menno Simons. Pemimpin seperti Thomas Müntzer dalam Perang Petani Jerman adalah contoh ekstrem dari faksi Anabaptis yang menggunakan kekerasan. Keterlibatan saudaranya sendiri dalam gerakan Anabaptis radikal yang kemudian terbunuh, sangat memengaruhi pandangannya.
Berbeda dengan Thomas Müntzer, Menno Simons meyakini bahwa kekerasan dan perlawanan bersenjata tidak sesuai dengan ajaran Kristen. Ia melihat kehancuran yang ditimbulkan oleh Perang Petani dan pemberontakan Münster dan menyimpulkan bahwa kekerasan bukanlah jalan yang benar.
Menno Simons kemudian menjadi pemimpin gerakan Anabaptis yang menekankan pasifisme, anti-kekerasan, dan pemisahan dari dunia. Pengikutnya, yang kemudian dikenal sebagai Mennonit, menganut prinsip-prinsip ini dengan ketat, menolak untuk mengangkat senjata, bergabung dengan militer, atau berpartisipasi dalam pemerintahan.
Kelompok Mennonit dan kaum Anabaptis lainnya banyak mengalami penindasan dan penganiayaan karena ajarannya yang menuntut orang-orang Kristen yang mau bergabung ke dalamnya untuk dibaptiskan ulang. Tragisnya, penganiayaan ini umumnya dilakukan oleh orang-orang Kristen sendiri.
Kaum Annabaptis dan Mennonit dianiaya habis-habisan, namun kita melihat tangan Tuhan terus memimpin mereka dan menyelamatkan mereka. Hingga kini ajaran pasifis mereka sering menjadi suara hati nurani mereka yang percaya bahwa perang tidak akan menghasilkan apa-apa selain kehancuran semua pihak. Tuhan tidak menginginkan manusia berperang.
Kisah Dirk Willems di Abad ke-16
ilustrasi yang dibuat oleh Jan Luyken untuk buku Martyrs Mirror
Dirk Willems adalah seorang yang dikejar-kejar karena keyakinan agamanya. Saat ia melarikan diri dari seorang prajurit yang mengejarnya di atas danau beku, sang prajurit tiba-tiba jatuh menembus es. Alih-alih melarikan diri dan membiarkan prajurit itu tenggelam, Dirk Willems kembali dan menolongnya. Tindakan ini menunjukkan prinsip kasih dan belas kasihan tanpa batas, bahkan terhadap musuh. Namun, setelah diselamatkan, prajurit tersebut tetap menangkap Dirk Willems, yang kemudian dihukum mati karena imannya.
Kisah heroik ini menjadi salah satu contoh paling kuat dari keyakinan Anabaptis dalam kekuatan tanpa kekerasan dan pengampunan.
Reformasi di Inggris
Di Inggris terjadi pula gerakan pembaruan gereja. Pada intinya ada dua gerakan yang terjadi. Yang pertama perpisahan dari Gereja Katolik Roma dan terbentuknya Gereja Inggris dan kedua, pembaruan oleh John Knox yang terpusat di daerah Skotlandia, di bagian utara Inggris.
Gereja Inggris (Anglikan)
Pembentukan Gereja Inggris lebih didasarkan pada masalah politik, ketika Raja Henry VIII meminta Paus mengizinkannya menceraikan istrinya, Catherine dari Aragon, yang tidak kunjung menghasilkan anak laki-laki yang bisa menjadi pewaris takhtanya. Paus tidak bersedia mengeluarkan surat pembatalan pernikahannya. Karena itu pada tahun 1534, Henry VIII memutuskan bahwa Gereja Inggris memisahkan diri dari Roma dan tidak mengakui Paus lagi sebagai pemimpin tertinggi gereja. Sebaliknya, Henry mengangkat dirinya sebagai pemimpin Gereja Inggris. Hingga sekarang, setiap raja atau ratu Inggris diakui sebagai kepala Gereja Inggris.
John Knox
John Knox (1512 –1572) adalah seorang notaris, imam gereja, dan teolog di Skotlandia. Knox ikut bergabung dan kemudian memimpin pembaruan gereja di Skotlandia yang melahirkan Gereja Presbiterian Skotlandia. Presbiterian, berarti gereja itu dipimpin oleh para penatua, bukan oleh seorang uskup atau Paus. Seorang pendeta disebut sebagai “primus inter pares”. Artinya, yang pertama di antara semua yang setara.
Karena pengaruh para reformator gereja yang lebih awal, seperti George Wishart, Knox bergabung dengan gerakan pembaruan Gereja Skotlandia. Ia terjebak dalam peristiwa-peristiwa gerejawi dan politik yang terlibat dalam pembunuhan Kardinal David Beaton pada tahun 1546 dan intervensi penguasa Maria dari Guise (baca: Gays). Knox dimasukkan ke penjara oleh tentara Prancis dan dibuang ke Inggris setelah ia dibebaskan pada tahun 1549.
Selama di pembuangan Knox diizinkan bekerja untuk Gereja Inggris. Kedudukannya meningkat hingga ia diangkat menjadi pendeta kerajaan untuk melayani Raja Edward VI dari Inggris. Namun ketika Mary I naik takhta dan mengalahkan Edward VI, Mary I mengembalikan negaranya ke Gereja. Knox dipecat dan meninggalkan Inggris. Ia pindah ke Jenewa dan kemudian ke Frankfurt.
Di Jenewa, Knox bertemu dengan Calvin dan menjadi muridnya. Semua hasil pelajarannya dibawanya pulang ke Skotlandia, dan di sana ia mendirikan Gereja Presbiterian Skotlandia yang menjadi gereja mayoritas.
Kadang-kadang memang kita tidak memahami bagaimana Allah bekerja di dalam hidup kita dan gereja. Kita tidak tahu rencana-rencana-Nya dalam pembaruan Gereja. Namun seperti yang dikatakan dalam ayat yang mendasari pelajaran ini, apapun caranya, Allah selalu mempunyai cara yang tepat untuk membuat rencanaNya terwujud.
Pembaruan melalui Gereja Methodist
John Wesley (1703 –1791) adalah seorang pendeta, teolog, dan penginjil Inggris yang memimpin gerakan kebangunan rohani di kalangan Gereja Inggris. Gerakan ini belakangan dikenal sebagai Methodisme. Kelompok ini kemudian menjadi gerakan independen yang berlanjut sampai sekarang.
Wesley ditahbiskan menjadi pendeta Anglikan pada tahun 1728. Ia memimpin sebuah “Kelab Suci”, sebuah kelompok yang ditujukan untuk membangun kehidupan saleh. Charles, saudaranya, juga ikut membentuk kelompok itu, bersama George Whitefield sebagai salah satu angotanya.
Wesley berusaha melakukan pelayanan di Savannah, Georgia, wilayah kekuasaan Inggris di benua Amerika, namun gagal. Ia kembali ke Inggris dan bergabung dalam sebuah kelompok agama yang dipimpin oleh orang-orang Kristen Moravia.
Pada tanggal 24 Mei 1738, Wesley mendapatkan sebuah pengalaman istimewa yang digambarkannya sebagai peristiwa pertobatannya. Ia mengatakan bahwa secara aneh, “hatiku terasa hangat.”
Kemudian ia meninggalkan teman-teman Moravianya dan memulai pelayanannya sendiri. Wesley mulai berkeliling dan berkhotbah di ruangruang terbuka. Wesley berkeliling di Britania Raya dan Irlandia, membentuk kelompok-kelompok Kristen kecil yang mengajarkan kemuridan dan ajaran agama. Ia mengangkat pengkhotbah-pengkhotbah keliling yang bukan pendeta untuk memelihara kelompok-kelompok ini.
Di bawah arahannya, orang-orang memimpin berbagai perubahan sosial, seperti pembaruan penjara dan penghapusan perbudakan.
Wesley terus menekankan pentingnya pertumbuhan rohani orang Kristen, sehingga ia kemudian dikenal sebagai pemimpin “Gerakan Kekudusan” (Holiness Movement) yang kelak melahirkan gerakan-gerakan Gereja Nazarin, Gereja Methodist, dan Methodist Bebas, Pentakostalisme dan Karismatik (Neo-Pentakostal).
Salah satu ajarannya yang terkenal dan diakui sampai sekarang ialah bagaimana cara menafsirkan Alkitab. Menurut Wesley ada 4 dasar yang penting untuk itu, yaitu: Alkitab, Tradisi gereja, Rasio dan Pengalaman. Keempat dasar ini perlu kita perhitungkan di dalam menafsirkan ayat-ayat Alkitab, kata Wesley.
Selama hidupnya, Wesley tidak pernah meninggalkan Gereja Inggris. Ia bahkan menjadi orang yang sangat dihormati di Britania Raya. Kelompoknya kemudian memisahkan diri setelah Wesley meninggal. Gerakan Methodisme berkembang luas di seluruh wilayah kekuasaan Britania di seluruh dunia, dan di benua Amerika, karena pekerjaan para penginjil yang sangat gigih ke berbagai tempat di dunia. Kini jumlah orang-orang Methodist di dunia diperkirakan mencapai 80 juta jiwa.
Dari pembahasan di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa John Wesley tidak pernah menginginkan bahwa gerakan Methodisme memisahkan diri dan menjadi denominasi tersendiri. Namun beberapa orang pengikutnyalah yang kemudian memimpin gerakan itu keluar dari Gereja Inggris.
Hasil kerja Wesley sungguh luar biasa. Meskipun ia bukan seorang teolog seperti Luther dan Calvin, apa yang dikerjakannya telah menghasilkan perubahan di kalangan Gereja Inggris. Perkembangan gereja karena partisipasi para pengkhotbah awam menjadikan gerakan ini sebuah gerakan besar di Amerika Serikat. Diperkirakan di negara itu sekarang jumlah anggota Methodist sekitar 20 juta jiwa. Gereja Methodist menjadi salah satu denominasi terbesar di Amerika Serikat. Karya Allah memang luar biasa.
Gerakan Pentakostal
Gerakan Pentakostal adalah gerakan yang menekankan pengalaman dengan Allah melalui baptisan Roh Kudus. Nama gerakan ini diambil dari peristiwa Pentakosta, yaitu hari pencurahan Roh Kudus atas para murid Yesus yang kemudian menjadi hari lahirnya gereja. Hal ini juga digambarkan dengan peristiwa yang menyebabkan para murid bisa berbahasa roh (Lihat Kisah Pararasul 2).
Pentakostalisme muncul pada awal abad ke-20, di antara para pengikut Gerakan Kekudusan yang disemangati oleh kebangunan rohani dan pengharapan akan segera datangnya Yesus yang kedua kali. Orang-orang itu percaya bahwa mereka hidup di zaman akhir, dan Allah akan memulihkan karunia-karunia Roh serta penginjilan di seluruh dunia.
Gerakan ini dimulai di sebuah gereja di kota Azusa di wilayah Los Angeles, Amerika Serikat. Pada tahun 1900, Charles Parham, seorang penginjil dan penyembuh rohani, mulai mengajarkan bahwa bahasa Roh adalah bukti bahwa seseorang telah mengalami baptisah Roh Kudus. Bersama William J. Seymour, seorang pengkhotbah Kekudusan-Wesleyan, ia mengajarkan bahwa ini adalah karya anugerah yang ketiga. Karya anugerah yang pertama adalah lahir baru, dan yang kedua adalah pengudusan total.
Kebangunan rohani yang diadakan selama tiga tahun di Azusa, yang didirikan oleh Seymour menghasilan penyebaran ajaran Pentkostal ke seluruh Amerika Serikat dan dunia.
Gerakan pentakostal mula-mula dianggap sebagai bidat, karena ajarannya yang terlalu banyak menekankan Roh Kudus, sehingga seolah-olah melupakan peranan kedua oknum Tritunggal lainnya, yaitu Allah Bapa dan Yesus Kristus. Namun di masa kini, tuduhan itu sudah semakin jauh berkurang. Banyak aliran gereja lainnya mengakui bahwa pentakostalisme ternyata banyak menyadarkan warga gereja tentang peranan Roh Kudus yang selama ini terlupakan. Modelmodel kebaktian kebangunan rohani yang dimulai oleh Gerakan Methodist, dan kemudian diikuti oleh pentakostalisme, kini juga banyak dilakukan oleh gereja-gereja lainnya.
Gerakan Karismatik.
Gerakan Karismatik bertumbuh dari pentakostalisme, sehingga gerakan ini juga sering disebut sebagai gerakan Karismatik. Ia muncul sebagai gerakan di kalangan gereja-gereja arus utama yang mengadopsi keyakinan dan praktik dari pentakostalisme. Yang menjadi ciri utama gerakan ini adalah penggunaan karunia-karunia roh (karismata).
Gerakan ini dimulai di Gereja Episkopal di Amerika pada sekitar tahun 1960. Yang menarik, gerakan serupa juga terjadi di kalangan Gereja Katolik Roma pada sekitar tahun 1967.
Di masa sebelum 1955, apabila seorang anggota jemaat atau pendeta dari gereja arus utama secara terbuka mengemukakan pandangan-pandangan yang positif terhadap ajaran pentakostal, maka ia akan memisahkan diri entah dengan suka rela atau paksaan dari gereja asal mereka.
Namun pada tahun 1960an, ajaran-ajaran tersebut mulai diterima di kalangan gereja-gereja Protestan arus utama. Inilah yang terjadi dengan gerakan karismatik. Mereka tidak keluar, melainkan tetap tinggal di dalam gereja mereka masing-masing dan mulai diikuti warga jemaat lainnya.
Gerakan ini semakin populer dan diterima luas khususnya oleh para pengkhotbah kebangunan rohani seperti William Branham, Oral Roberts, dan A.A. Allen. Mereka mengadakan berbagai kebaktian kebangunan rohani yang interdenominasional (terbuka terhadap aliran-aliran gereja lain).
Ajaran dan praktik pentakostal semakin luas diterima. Gereja Episkopal Amerika menjadi gereja tradisional pertama yang merasakan pengaruh gerakan baru ini. Awal mulanya biasanya diakui terjadi pada hari Minggu, 3 April 1960, ketika Dennis J. Bennett, kepala gereja Episkopal St. Mark di Van Nuys, California, mengisahkan pengalaman pentakostalnya kepada warga jemaatnya. Ia mengulanginya pada dua minggu berikutnya, termasuk hari Minggu Paskah (17 April).
Akibatnya, ia dipaksa mengundurkan diri dari jabatannya. Namun hal ini menyadarkan banyak warga jemaat akan munculnya gerakan Karismatik. Gerakan ini kemudian menyebar ke gereja-gereja lain. Para pendetanya mulai menerima dan mengumumkan pengalaman pentakostal mereka. Para pendeta ini mulai mengadakan pertemuan-pertemuan dengan mereka yang tertarik dan kebaktian-kebaktian penyembuhan, termasuk mendoakan dan mengurapi mereka yang sakit.
Gerakan Karismatik Katolik dimulai pada 1967 di Universitas Duquesne, di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat. Di Indonesia, gerakan Karismatik Katolik dipimpin oleh Rm. Sugiri yang ditugasi oleh Keuskupan Agung Jakarta. Rm. Sugiri mendampinginya pada tahun 1985-1995 sambil melayani sebagai pastor di Paroki Katedral Jakarta (1996-2005).
Bagi kalangan gereja-gereja injili di AS, gerakan ini mula-mula tidak menarik. Baru pada tahun 1985, gerakan itu masuk ke gereja-gereja injili. Perlu dicatat di sini, gereja-gereja injili di AS merujuk kepada gereja-gereja Protestan yang konservatif. Jadi istilah “injili” yang dipakai di sana tidak sama dengan apa yang dipakai oleh gereja-greja Protestan yang umumnya ada di Indonesia Timur.
Dogma Gereja Karismatik percaya bahwa karunia-karunia (bhs. Yunani: karismata) Roh Kudus yang digambarkan di dalam Perjanjian Baru, juga tersedia bagi orang Kristen sekarang apabila mereka mengalami baptisan Roh, entah dengan penumpangan tangan atau cara lainnya. Alkitab memang menyebutkan banyak karunia Allah melalui Roh Kudus. Ada 9 karunia khusus yang didaftarkan dalam 1 Korintus 12:8-10 yang sifatnya adikodrati dan mencirikan gerakan itu, yaitu:
1. Berkata-kata dengan hikmat
2. Berkata-kata dengan pengetahuan
3. Iman
4. Karunia menyembuhkan
5. Kuasa mengadakan mujizat
6. Karunia bernubuat
7. Karunia membeda-bedakan roh
8. Kemampuan berkata-kata dengan bahasa roh, dan
9. Kemampuan menafsirkan bahasa roh.
Perbedaan antara Pentakostalisme dan Karismatik
Meskipun kedua aliran ini memiliki banyak kesamaan, ada juga beberapa perbedaan di antara mereka. Banyak orang karismatik yang menjauhkan diri dari orang-orang pentakostal karena alasan budaya dan teologis.
Yang utama adalah kecenderungan kaum pentakostal yang terlalu menekankan pada kemampuan berbahasa roh sebagai tanda pertama bahwa seseorang telah menerima baptisan Roh Kudus. Orang karismatik percaya bahwa baptisan Roh terjadi pada saat seseorang lahir baru. Sementara itu, perjumpaan dengan Roh Kudus yang berikutnya disebut dengan istilah “dipenuhi oleh Roh Kudus”.
Berbeda dengan orang-orang pentakostal, orang karismatik mengakui serangkaian pengalaman adikodati (mis. bernubuat, mujizat, penyembuhan, dll.) sebagai bukti bahwa seseorang dipenuhi oleh Roh Kudus.
Perbedaan lainnya, orang pentakostal sangat mengutamakan penginjilan dan pekerjaan misi, sebaliknya orang karismatik cenderung memandang gerakan mereka sebagai penyegaran dan pembaruan di dalam tradisi gereja mereka masing-masing.
Di Indonesia, agak sulit membedakan gerakan pentakostal dengan gerakan karismatik, karena keduanya cenderung tercampur di dalam satu gereja. Sebuah gereja pentakostal, seperti GBI, bisa memiliki sifat-sifat yang sama dengan gerakan karismatik dengan minyak urapan, praktik penyembuhan rohani, dll. Mungkin gereja-gereja pentakosal yang sudah lebih dahulu lahir di Indonesia, seperti GPdI, Gereja Bethel Injil Sepenuh, Gereja Isa Almasih, dll. lebih mempertahankan tradisi pentakostal mereka, daripada gereja-gereja seperti Gereja Bethany Indonesia, Gereja Tiberias, dan Jemaat Kristen Indonesia, dll.
Gerakan Perempuan di dalam Gereja
Di banyak gereja di dunia, kaum perempuan tidak banyak diberikan peran yang berarti. Padahal di gereja perdana, perempuan telah banyak berperan. Ada Priskila yang selalu mendampingi Akwila, suaminya, dalam perjalanan pemberitaan injilnya. Ada Lidia, seorang perempuan kaya, pengusaha kain ungu, yang mendanai perjalanan-perjalanan Paulus berkeliling memberitakan Injil. Ada Yunia, seorang penatua di gereja perdana.
Namun tak lama setelah gereja berdiri, peranan perempuan sedikit demi sedikit tergeser kembali ke belakang. Baru di abad ke-19 dan ke-20 kita menyaksikan kebangkitan kaum perempuan dalam pelayanan dan misi gereja.
Ann Hasseltine Judson (1789 -1826) adalah salah satu perempuan misionaris pertama dari Amerika Serikat yang melayani bersama suaminya, Adoniram Judson, di Myanmar. Di sana suaminya dituduh sebagai matamata Inggris. Sementara itu, Ann membangun tempat tinggal di dekat penjara supaya ia mudah menjenguk dan mengantarkan makanan bagi suaminya. Di masa itu, Ann banyak menulis kisah kehidupan di tempat misi dan perjuangan yang ia hadapi. Ia menceritakan kisah-kisah tragis perkawinan anak-anak, pembunuhan atas bayi-bayi perempuan dan penderitaan kaum perempuan Myanmar yang tidak punya hak apapun, kecuali apa yang diberikan suami mereka.
Ann melahirkan tiga kali, namun semua anaknya meninggal di waktu kecil. Kesehatan Ann yang masih menyusui bayinya yang ketiga pun buruk, ditambah dengan kondisi di Myanmar yang tidak sehat. Ann meninggal pada usia 36 tahun karena cacar.
Seorang perempuan perintis lainnya adalah Mary Mitchell Slessor (1848- 1915) yang menjadi misionaris di Nigeria. Setibnya di Nigeria, Mary belajar bahasa Efik, salah satu bahasa setempat, lalu mulai mengajar.
Kefasihannya dalam Bahasa setempat dan kepribadiannya yang berani membuat Mary dipercaya dan segera diterima masyarakat. Mary berhasil menyebarkan Injil, mempromosikan kedudukan kaum perempuan dan perlindungan bagi anak-anak. Ia terkenal karena berhasil menghentikan kebiasaan membunuh bayi-bayi kembar, sebuah praktik yang didasarkan pada kepercayaan di Okoyong, di daerah Cross River State, Nigeria. Karyanya membuat Mary diberi gelar “Ibunda Agung” Nigeria.
Margareth ikut mendirikan Asian Christian of Women Conference (Konferensi Perempuan Kristen Asia) yang hingga kini aktif dalam gerakan solidaritas perempuan di Asia. Ia juga pernah menjabat sebagai perempuan pertama anggota BPH-DGI (kini Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gerejagereja di Indonesia), Margareth juga aktif mempromosikan “Fellowship of the Least Coin”, gerakan doa perempuan Asia yang sambal berdoa bersama juga mengumpulkan mata uang terkecil untuk membantu program-program kemanusiaan di Asia.
Selama bertahun-tahun Margareth melayani sebagai pendeta rumah sakit di RS PGI Cikini, untuk mendampingi para pasien dan tenaga medis di sana. Margareth meninggal pada usia yang sangat lanjut, 90 tahun. Ia menikah dengan Jahja Daniel Dharma (John Lie), yang diakui pemerintah sebagai pahlawan nasional karena jasanya dalam perang kemerdekaan. Sebuah kapal perang juga diberikan nama KRI John Lie, untuk mengenang jasa suaminya.
Rangkuman
Gerakan pembaruan yang dulu dianggap sesat, kini terbukti mampu memberikan koreksi terhadap hal-hal yang sudah dianggap mapan dan sudah seharusnya ada di gereja. Kaum perempuan yang dulu dianggap tidak bisa apa-apa, ternyata mampu membutkikan karya bakti mereka yang luar biasa. Semua membuktikan bahwa Allah bekerja dengan berbagai cara.
Di sini kita juga diingatkan oleh semboyan kaum reformator “ecclesia semper reformanda”, bahwa gereja Tuhan di muka bumi harus terus-menerus diperbarui. Hanya dengan pembaruan diri itulah gereja bisa bertahan dalam menghadapi berbagai tantangan dunia. Zaman terus berubah, dan Gereja akan terus ditantang untuk mampu memberikan jawaban atas pertanyaanpertanyaan yang muncul dari warga jemaat.
Dari semua uraian di atas kita sudah melihat bahwa ada banyak sekali cara yang digunakan Allah untuk memperbarui Gerejanya. Sejak gerakan Reformasi yang dimulai oleh Luther, Calvin, dan kemudian oleh kelompokkelompok radikal seperti Anabaptisme, kemudian pembaruan di Inggris, lalu di Amerika dalam bentuk gerakan pentakostal dan karismatik, pembaruan terus terjadi.
Refleksi
Dari semua uraian di atas kita sudah melihat bahwa ada banyak sekali cara yang digunakan Allah untuk memperbarui Gerejanya. Sejak gerakan Reformasi yang dimulai oleh Luther, Calvin, dan kemudian oleh kelompok-kelompok radikal seperti Anabaptisme, kemudian pembaruan di Inggris, lalu di Amerika dalam bentuk gerakan pentakostal dan karismatik, pembaruan terus terjadi.
Salah satu hal penting yang sering dilupakan adalah peranan perempuan dalam pelayanan gereja dan misi. Dalam bahan ini kita belajar tentang beberapa tokoh luar biasa yang merintis pekerjaan tersebut. Ann H. Judson yang melayani di Myanmar dan meninggal pada usia yang sangat muda, serta Mary Slessor yang melayani di Nigeria sampai usia yang cukup lanjut, memberikan pelananan-pelayanan yang luar biasa. Terbukti di sini, bahwa kaum perempuan sama sekali tidak kalah dibandingkan oleh laki-laki di dalam pelayan mereka di dalam gereja dan misi.
Sumber :
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SMA Kelas XII Penulis: Janse Belandina Non-Serrano
Tidak ada komentar:
Posting Komentar